<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765</id><updated>2009-12-19T16:26:04.263+07:00</updated><title type='text'>SUNNI-SYIAH</title><subtitle type='html'>Mencari titik temu antara Sunni dan Syiah</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default?orderby=updated'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;orderby=updated'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-3401031389509197450</id><published>2009-04-20T06:50:00.002+07:00</published><updated>2009-12-01T21:55:22.639+07:00</updated><title type='text'>Beberapa Pertanyaan untuk Sunni tentang kebenaran Syiah Ali.</title><content type='html'>Upaya pendekatan antara Syiah dan Suni sudah sering kali diadakan. Namun masih saja sebagian golongan Sunni yang masih menganggap Syiah sebagai umat yang lain. Sebenarnya upaya pendekatan tidak perlu dilakukan jika semua golongan mau belajar dan memahami sejarah Islam dari ribuan riwayat sahih yang beredar. Jika saja sebagian Sunni tersebut mau mempelajari dan memahami sejarah tersebut, mereka pasti paham dan mengenal baik akan keberadaan golongan Syiah sejak Nabi saw masih hidup, bukan setelah beliau wafat. Coba anda cari di Jagad Internet yang luas ini tentang jawaban persoalan di bawah ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakr dipandang sebagai sahabat terdekat Nabi saw oleh mayoritas Sunni, Lalu mengapa pada waktu "hari persaudaraan" saat pertama kali datang di Madinah, Nabi saw lebih memilih Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya dengan mengatakan "Kamu adalah saudaraku di dunia ini dan di akhirat nanti". Atas dasar apa golongan Sunni menganggap Abu Bakr sahabat terdekat Nabi saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kaum muslim sepakat bahwa ajaran Islam mencakup dan menormai dalam segala aspek kehidupan, dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang amat besar. Kaum Sunni mengatakan masalah Imamah tidak dijelaskan oleh Qur'an dan sunnah, jadi sahabat berijtihad dalam masalah imamah. Jika benar Nabi saw wafat tanpa memberikan petunjuk apapun tentang Imamah pada umatnya, lalu mengapa Abu Bakr menyebutkan hadits "al-aimmah min al-Quraish" Para imam berasal dari kaum Quraish di Saqifah Bani Saidah. Apa Abu Bakr memalsukan riwayat Nabi saw? dan mengapa Abu Bakr memilih Umar sebagai penggantinya, dengan menyalahi sunnah Nabi saw yang tidak menjelaskan apapun tentang imamah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadis-hadis sahih (Bukhari, Muslim, dll) Nabi saw menyatakan bahwa ”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.” atau "Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Sa'ah (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy”. Bandingkan susunan 12 imam yang disusun golongan sunni dan Syiah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuat mana derajat kesahihan antara riwayat yang menyebutkan wasiat Nabi saw (biasa disebut hadits al-Thaqalain) untuk berpegangan pada al-Qur'an dan Sunnah dengan hadis yang memerintah kita semua berpegangan pada al-Qur'an dan Itrahnya (keturunannya)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah mengutus 124.000 utusan ke dunia ini, apa ada bukti bahwa semua peninggalan mereka akan menjadi sedekah bagi para pengikutnya? Jika Sunni menganggap demikian mengapa para Umm al-Mukminin tidak memberikan seluruh kepunyaan Rasulullah ke Pemerintahan Islam? Setelah wafatnya Rasulullah saw, Sayyidah Fatimah bertengkar dengan Abu Bakr mengenai Fadak, yang seharusnya menjadi miliknya dari warisan Nabi saw, Fatimah marah dan tidak akan berbicara dengan Abu Bakr sampai akhir hayatnya karena Abu Bakr tidak memberikan Fadak kepadanya. Kenapa Abu Bakr tidak memberikan tanah Fadak tersebut sedangkan Umar bin Abd Aziz saat menjabat sebagai khalifah mengembalikan kembali tanah Fadak ke keturunan Sayyidah Fatimah as?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda melihat denah pemakaman Baqi', anda akan mengetahui bahwa kuburan Uthman bin Affan terpencil dari makam sahabat lainnya. Bagaimana proses pemakaman khalifah ketiga Uthman bin Affan di luar Baqi' (dulu)? Siapa saja sahabat besar yang bermusuhan dengan Uthman? dan siapa pemicu sebenarnya yang akhirnya membunuh Khalifah Uthman bin Affan? Aisyah bahkan menyebut Uthman sebagai Natsal, seseorang kafir yang harus dibunuh. Jika Sunni mengganggap Aisyah seorang yang benar berarti menerima julukan yang diberikan pada Uthman, dan jika Aisyah berkata dusta mengapa Sunni menganggap dia benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan telah berfirman bahwa barang siapa yang membunuh seorang muslim dengan sengaja, hukumannya adalah laknat Tuhan dan balasan Neraka selamanya. Sejarah mencatat selama perang Shiffin dan Jamal, 70.800 kaum muslim telah terbunuh. Dimana posisi pembunuh saat itu? apakah ayat tersebut berlaku bagi mereka? Jika kaum muslim melawan khalifah yang sah dan menyebabkan kekacauan dan terbunuhnya ribuan nyawa kaum muslim, dimana posisi mereka saat Hari Pembalasan? Neraka karena Pembunuh atau Surga karena "Mujtahid Teroris"? ... Yang pasti salah satunya salah, bukan benar semuanya. Jika anda jawab benar semuanya, APA KATA DUNIA!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya arti dari kata "Mu'awiyah", dan siapa sebenarnya ayah dari Muawiyah dan cerita sebelum kelahirannya, dan menurut al-Nasai, hanya ada satu hadis sahih yang menceritakan keutamaan Muawiyah, hadis apakah itu? Baca juga kisah menyedihkan wafatnya al-Nasa'i karena hadith tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya Golongan Sunni menuduh bahwa Syiahlah yang membantai Imam Husayn as beserta para pengikutnya, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mayoritas Sunni yang jumlahnya lebih banyak dari Syiah tidak menolong Imam Husain as? Dimana posisi Sunni ketika terjadi pembantaian cucu Nabi saw, Imam Husayn as? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, kebenaran itu harus dicari dan dipertahankan, bukan sesuatu yang dijejalkan langsung ke akal kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-3401031389509197450?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/3401031389509197450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/04/beberapa-pertanyaan-untuk-sunni-tentang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/3401031389509197450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/3401031389509197450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/04/beberapa-pertanyaan-untuk-sunni-tentang.html' title='Beberapa Pertanyaan untuk Sunni tentang kebenaran Syiah Ali.'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-2475371948704750470</id><published>2009-11-13T19:15:00.006+07:00</published><updated>2009-12-01T21:26:33.441+07:00</updated><title type='text'>Khutbah Keren Imam Ali</title><content type='html'>Khutbah tanpa Huruf Alif (tanpa persiapan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abi Saleh bahwa duduk sekelompok dari sahabat Rasulullah saw. Mereka saling berbincang hingga mereka teringat akan huruf hujaiyah. Mereka sepakat bahwa huruf “alif” adalah huruf yang paling banyak terpakai dalam setiap perkataan. Oleh karena itu, berdirilah Ali bin Abi Thalib Amirul Mu'minin ra dan memulai bicara (tanpa persiapan). Khotbah ini tidak memakai huruf alif. Khotbah tersebut terdiri atas 700 kata, 2745 huruf, selain yang dibaca olehnya dari ayat Al-Qur'anul Karim setelah khotbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{Tentang Allah}&lt;br /&gt;Allah Maha Mengetahui dan kepada-Nya tempat kembali dan berlindung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memuji dan mengagungkan kepada yang melimpah pemberian-Nya, yang meliputi nikmat-nikmat-Nya, yang kemurkaan-Nya diiringi dengan rahmat-Nya, berkesudahan kalimat-Nya, terlaksana kehendak-Nya, dan yang tercapai segala urusan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memuji-Nya, pujian seseorang yang mengakui keesaan-Nya, yang mengharapkan ampunan dari Tuhannya yang akan menyelamatkan dirinya pada hari dimana manusia disibukkan oleh sanak saudara dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memohon pertolongan-Nya, meminta petunjuk-Nya, bersaksi atas-Nya. Kami beriman kepada-Nya dan pasrah atas-Nya, bersaksi bagi-Nya dengan persaksian yang tulus dan meyakinkan, serta kokoh tiada taranya. Kami mengesakan-Nya dengan keesaan seorang hamba yang tunduk, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya dan tidak ada teman penolong bagi-Nya dalam penciptaan-Nya. Dia tidak membutuhkan seorang menteri dan konsultan, tidak pula pertolongan dari seorang penolong dan pemikir. Bilamana dia mengetahui (kesalahan hamba-Nya) dia menutupi; bilamana Dia melihat, Dia mengganti, bilamana memiliki, Dia memaksa, bilamana didurhakai (oleh hamba-Nya), Dia mengampuni, bilamana Dia menghakimi Dia berbuat sangat adil. Tidak akan musnah dan tidak pernah akan dimusnahkan, tidak ada seorangpun yang menyerupai-Nya, Dia ada sebelum segala sesuatu, dan Dia ada setelah segala sesuatu. Tuhan yang tunggal dengan kemuliaan-Nya, tidak akan sampai mata untuk mengetahui-Nya, dan tidak akan bisa penglihatan seseorang hamba untuk menjangkau-Nya. Maha kuat lagi Pencegah, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, tidak ada seorang hamba-pun yang mampu untuk menggambarkan-Nya, sampai kepada-Nya dari nikmat-nikmat-Nya bagi hamba yang mengetahui-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dekat, tetapi jauh; jauh, tetapi dekat; penjawab seruan hamba yang menyeru-Nya, memberi rezeki dan hadiah bagi hamba-Nya, Yang Mahalembut lagi tersembunyi, Penyiksa yang kejam, luas nikmat-Nya, menyakitkan balasan-Nya. Rahmat-Nya adalah surga yang terbentang lebar meyakinkan keberadan-Nya, adapun balasan-Nya adalah neraka terpampang luas yang dapat dipercaya adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{Tentang Nabi Saw}&lt;br /&gt;Saya bersaksi atas pengutusan Muhammad saw sebagai hamba-Nya dan utusan-Nya, sahabat karib-Nya, dan kekasih-Nya, pertalian yang memberi-Nya kehormatan, kedekatan yang memuliakannya, kedekatan yang menjadikan diri-Nya rendah dihadapan-Nya. Muhammad Saw diutus pada sebaik-baik masa, ketika kekafiran merajalela, rahmat bagi hamba-hamba-Nya, sebagai pemberian atas karunia-Nya, sebagai penutup para Nabi-Nya. Dan, menjelaskan dalih-dalih kepada hamba-hamba-Nya, memberi pelajaran dan nasihat, menyampaikan tugasnya dari Allah dan bekerja keras, mengasihani dengan segala keyakinan belas kasihan, perela, penolong, suci (dari dosa), baginya rahmat dan salam, berkah dan kemuliaan, dari Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang Mahadekat menjawab hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{Menggunakan kesempatan hidup yang ada sebaik-baiknya}&lt;br /&gt;Saya penasihat kamu sekalian yang datang kepadaku dengan wasiat Tuhanmu dan mengingatkanmu dengan jalan Nabimu. Maka dari itu, hendaklah ketakutan yang menempati hati-hatimu dan rasa takut yang mengalirkan air matamu dan menyelamatkanmu, sebelum datang hari yang menghilangkan ingatanmu dan membingungkanmu, hari (dimana orang) yang berat timbangan kebaikannya dan ringan timbangan kejahatannya sebagai pemenang. Hendaklah permohonanmu (kepada Allah) adalah permintaan kerendahan dan ketundukan, kesyukuran dan kekhusyuan, tobat dan pencabutan (terhadap perbuatan keji), penyesalan dan kembali (ke jalan yang lurus). Hendaklah untuk menggunakan kesempatan bagi semua orang yang hidup diantaramu, sehatnya sebelum datang sakitnya, masa mudanya sebelum datang masa tuanya, lanjut usianya dan datang sakitnya, masa lapangnya dan senggang sebelum datang masa sibuknya, masa kayanya sebelum datang masa melaratnya, dan masa hadirnya sebelum datang masa perginya, masa tuanya, lanjut usianya, sakit dan merananya, yang akan membosankan dokternya dan menjadikan berpaling kekasihnya, membuat terputus kehidupannya dan membuat berubah akalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum perkataan mereka bahwa dia mulia, dimana tubuhnya termakan usia dan sebelum keberadaannya dalam pencabutan yang amat pedih, kedatangan semua kerabat dekat dan jauh, sebelum tertutup penglihatannya, terpejam pemandangannya, keluar keringat dahinya, yang akan merenggut akarnya (nyawa), diam janinnya, pembicaraan dirinya, lubang kuburannya, tangisan istrinya, menjadi yatim karenanya anak-anaknya, berpisah darinya musuh dan teman-temannya, dan dibagi-bagi apa yang dikumpulkannya, hilang penglihatan dan pendengarannya, ditemukan (dengan kematian) dan dibentangkan, dihadapkan dan dilepaskan (pakaian dunia), ditelanjangi dan dimandikan, dikeringkan dan dibentangkan, dilapangkan dan dipersiapkan kafannya, ditalinya dagunya, diletakkan (tangannya diatas tangannya) diantarkan dan diberi salam terakhir untuknya, dibawa ke atas pembaringannya dan dishalati, dipindahkan dari rumahnya yang indah, istana yang megah, kamarnya yang tertata rapi dan diletakkan dalam liang kubur, tanah sempit yang tertutup oleh susunan batu merah dan dikelilingi batu-batu keras, di atasnya ditaburi tanah yang gembur dan dijejali dengan lumpur yang menekan dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lagi kedudukannya dan jabatannya, penolongnya, sahabat karibnya, dan semua yang dia cintai dan kerabatnya pergi meninggalkannya – sekarang dia sebagai pengisi dari liang kubur, menjadi makhluk yang menakutkan dan tanah tandus, dimana ulat kuburan mengerumuni badannya , di atas dadanya nanah mengalir yang melumatkan dagingnya, mengeringkan darahnya meremukkan tulang-tulangnya, hingga hari dikumpulkan dan dibangkitkannya. Pada hari itu, dia dibangkitkan dari kuburnya, ditiupkan roh pada jiwanya lalu diseru untuk berkumpul dan bangkit. Maka akan terbuka semua dalam kubur itu kemuliannya, terungkap rahasia-rahasia yang tersimpan dalam dadanya, didatangkan semua bukti yang benar dan dapat melihat dan berbicara. Sedangkan, Allah Yang Mahakuasa tidak menjelaskan kepada hamba-Nya, padahal Dialah yang Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak dengusan napas panjang yang melelahkannya, penyesalan yang tak berguna dalam keadan yang menakutkan, di hadapan zat yang Mahaagung, Mahamulia, Yang Mahatahu atas segala hal yang kecil dan yang besar. Ketika itu seluruh yang dikerjakannya di dunia dikumpulkan (untuk dihitung amal perbuatannya), dimana ratapannya tidak dikasihani lagi, teriakannya tidak didengar, segala dalih alasannya tidak diterima karena buku catatan amalnya telah dibentangkan di hadapannya, yang menjelaskan segala dosa dosanya. Saat itu, dia dapat melihat perbuatan jahatnya di dunia, matanya bersaksi denganpenglihatannya, tangannya dengan tindakannya, kakinya dengan langkahnya, kemaluannya dengan sentuhannya, kulitnya dengan perabaannya. Dan bersaksi pula malaikat Mungkar dan Nakir, yang akan terungkap baginya kemana dia mau menuju (surga atau neraka) dan dibelengu tangannya oleh malaikat (yang akan menggiringnya ke neraka). Digiring dan ditarik seorang diri hinga menemui neraka jahanam dengan kesusahan dan kepedihan, dan masih disiksa dalam neraka jahim. Diberi minum dari air yang panas mendidih, dipanggang mukanya, dikelupasi kulitnya, dipukul lehernya dengan alat pemukul yang terbuat dari besi, lalu kembali kulitnya setelah matang (terpanggang) dengan kulit baru. Dia meminta pertolongan, tetapi malah dihamparkannya perbendaharaan neraka jahannam, dan dia berteriak, tetapi tidak menghasilkan penyesalan dan tak berguna penyesalan baginya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berlindung kepada Tuhan Yang Mahakuasa dari segala kejahatan dan bahaya, dan memohon maaf dan ampunan dari dia yang rela untuk memberi ampunan karena Dia adalah pengabul permohonanku dan pemberi permintaanku. Barang siapa yang dijauhkan dari siksa Tuhannya, dia akan ditempatkan dalam surga dekat-Nya, kekal dalam istana yang megah, diberi bidadari cantik yang dijanjikan-Nya, dikelilingi dengan gelas-gelas, dan berdiam di lingkungan surga Firdaus, dan berbalik ke surga Na'im, dan diberi minum dengan air tasnim, dan minuman dari mata air salsabila yang telah dicampuri dengan jahe-jahe surga, disemproti dengan minyak wangi kasturi, yang kekal (bau harumnya) untuk dimiliki, yangmendatangkan pemakainya kebahagiaan, diberi minum dari arak di dalam kebun surga yang melimpah, bukan hanya sementara, tapi kekal selamanya. Itu adalah rumah bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan yang waspada akan dosa dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataannya adalah perkataan yang tidak bisa diganggu gugat, hukumannya adalah hukuman yang adil, sebagai kisah dari kisah-kisah yang riil, pelajaran dan nasihat, dengan perolehan dari Yang Mahabijaksana dan Maha Terpuji, yang diturunkan melalui roh suci (malaikat) yang kuat dan berpegang teguh, sebagai penerang dari Tuhan Yang Maha Mulia, kepada Nabi sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh orang-orang yang beriman, dan tuan pembawa kitab suci. Dengan demikian, mereka dapat kemuliaan yang bersih dari noda dosa. Aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, Kuasa lagi Penyayang darikejahatan permusuhan yang jelas-jelas, laknat dan kutukan. Maka dari itu, hendaklah untuk merendahkan diri kepada Allah dari setiap hamba di antara kalian, dan berdoa setiap orang di antaramu, dan memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa-dosaku dan dosa-dosamu. (selesailah kotbahnya) dan Allahlah yang Maha Tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{Kemudian beliau membaca firman Allah Swt}&lt;br /&gt;“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan, kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”&lt;br /&gt;(Al-Qashash : 83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Kumpulan Khotbah Ali bin Abi Thalib, Sayyid Ahmad Asy-SyulaImi, Gema Insani Press&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حمدت وعظمت من عظمت منته , وسبغت نعمته , وسبقت غضبه رحمته , وتمت كلمته , ونفذت مشيئته , وبلغت قضيته . حمدته حمد مقر بتوحيده , ومؤمن من ربه مغفرة تنجيه , يوم يشغل عن فصيلته وبنيه . ونستعينه ونسترشده ونشهد به , ونؤمن به , ونتوكل عليه , ونشهد له تشهد مخلص موقن , وتفريد ممتن , ونوحده توحيد عبد مذعن , ليس له شريك في ملكه , ولم يكن له ولي في صنعه , جل عن وزير ومشير , وعون ومعين ونظير , علم فستر , ونظر فجبر , وملك فقهر , وعصي فغفر, وحكم فعدل , لم يزل ولم يزول , ليس كمثله شئ , وهو قبل كل شئ , وبعد كل شئ , رب متفرد بعزته , متمكن بقوته , متقدس بعلوه , متكبر بسموه , ليس يدركه بصر , وليس يحيطه نظر , قوي منيع , رؤوف رحيم , عجز عن وصفه من يصفه , وصل به من نعمته من يعرفه , قرب فبعد , وبعد فقرب , مجيب دعوة من يدعوه , ويرزقه ويحبوه , ذو لطف خفي , وبطش قوي , ورحمته موسعه , وعقوبته موجعة , رحمته جنة عريضة مونقة , وعقوبته جحيم ممدودة موثقة . وشهدت ببعث محمد عبده ورسوله , وصفيه ونبيه وحبيبه وخليله , صلة تحظيه , وتزلفه وتعليه , وتقربه وتدنيه , بعثه في خير عصر , وحين فترة كفر, رحمة لعبيده , ومنة لمزيده , ختم به نبوته , ووضح به حجته فوعظ ونصح , وبلغ وكدح , رؤوف بكل مؤمن رحيم , رضي ولي زكي عليه رحمة وتسليم , وبركة وتكريم , من رب رؤوف رحيم , قريب مجيب . موصيكم جميع من حضر , بوصية ربكم , ومذكركم بسنة نبيكم , فعليكم برهبة تسكن قلوبكم ,وخشية تذرف دموعكم وتنجيكم , قبل يوم تذهلكم وتبلدكم , يوم يفوز فيه من ثقل وزن حسنته , وخف وزن سيئته , وليكن سؤلكم سؤل ذلة وخضوع , وشكر وخشوع , وتوبة ونزوع , وندم ورجوع , وليغتنم كل مغتنم منكم صحته قبل سقمه , وشبيبته قبل هرمه فكبره ومرضه , وسعته وفرغته قبل شغله وثروته قبل فقره , وحضره قبل سفره , من قبل يكبر ويهرم ويمرض ويسقم ويمله طبيبه ويعرض عنه حبيبه , وينقطع عمره ويتغير عقله . قبل قولهم هو معلوم , وجسمه مكهول , وقبل وجوده في نزع شديد , وحضور كل قريب وبعيد , وقلب شخوص بصره , وطموح نظره , ورشح جبينه , وخطف عرينه , وسكون حنينه , وحديث نفسه , وحفر رمسه , وبكي عرسه , ويتم منه ولده , وتفرق عنه عدوه وصديقه , وقسم جمعه , وذهب بصره وسمعه , ولقي ومدد , ووجه وجرد , وعري وغسل , وجفف وسجى , وبسط له وهيئ , ونشر عليه كفنه , وشد منه ذقنه , وقبض وودع وسلم عليه , وحمل فوق سريره وصلي عليه , ونقل من دور مزخرفة وقصور مشيدة , وحجر متحدة , فجعل في طريح ملحود , ضيق موصود , بلبن منضود , مسعف بجلمود , وهيل عليه عفره , وحشي عليه مدره , وتخفق صدره , ونسي خبره , ورجع عنه وليه وصفيه ونديمه ونسيبه , وتبدل به قريبه وحبيبه , فهو حشو قبر , ورهين قفر , يسعى في جسمه دود قبره , ويسيل صديده على صدره ونحره , يسحق تربه لحمه , وينشف دمه ويرم عظمه , حتى يوم محشرة ونشره , فينشر من قبره وينفخ في صوره , ويدعى لحشره ونشوره , فتلم بعزه قبور , وتحصل سريرة صدور , وجئ بكل صديق , وشهيد ونطيق , وقعد للفصل قدير , بعبده خبير بصير , فكم من زفرة تعنيه , وحسرة تقصيه في موقف مهيل ومشهد جليل بين يدي ملك عظيم بكل صغيرة وكبيرة عليم , حينئذ يجمعه عرفه ومصيره , قلعة عبرته غير مرحومة , وصرخته غير مسموعة , وحجته غير مقبولة , تنشر صحيفته , وتبين جريرته , حين نطر في سور عمله , وشهدت عينه بنظره , ويده ببطشه , ورجله بخطوه , وفرجه بلمسه , وجلده بمسه , وشهد منكر ونكير , وكشف له من حيث يصير , وغلل ملكه يده , وسيق وسحب وحده , فورد جهنم بكرب وشده , فظل يعذب في جحيم , ويسقى شربة من حميم , يشوى وجهه , ويسلخ جلده , ويضربه زبينه بمقمعة من حديد , يعود جلده بعد نضجه وهو جلد جديد , يستغيث فيعرض عنه خزنة جهنم , ويستصرخ فلم يجده ندم , ولم ينفعه حينئذ ندمه . نعوذ برب قدير من شر كل مضير , ونطلب منه عفو من رضي عنه , ومغفرة من قبل منه , فهو ولي سؤلي , ومنجح طلبتي , فمن زحزح عن تعذيب ربه , جعل في جنة قربه , خلد في قصور مشيده , وملك حور عين وعده , وطيف عليه بكؤوس , وسكن في جنة فردوس , وتقلب في نعيم , وسقي من تسنيم , وشرب من عين سلسبيل قد مزج بزنجبيل , ختم بمسك , مستديم للملك , مستشعر بسرور , يشرب من خمور , في روض مغدق , ليس يبرق , فهذه منزلة من خشي ربه , وحذر ذنبه ونفسه , قوله قول فصل , وحكمه حكم عدل , قص قصص , ووعظ نص , بتنزيل من حكيم حميد , نزل به روح قدس متين , مبين من عند رب كريم , على نبي مهدي رحمة للمؤمنين , وسيد حلت عليه سفره ,مكرمون برره , وعذت برب عليم حكيم , قدير رحيم , من شر عدو ولعين رجيم , يتضرع متضرع كل منكم , ويبتهل مبتهلكم , ويستغفر رب كل مذنوب لي ولكم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثم قرأ بعدها قوله تعالى, تلك الدار الآخرة نجعلها للذين لا يريدون علوا في الأرض ولا فسادا والعاقبة للمتقين&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1VBnH_gcI/AAAAAAAABT0/uKcG1rsxMk8/s1600-h/noa1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 262px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1VBnH_gcI/AAAAAAAABT0/uKcG1rsxMk8/s400/noa1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403568614085198274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1V7AUn2TI/AAAAAAAABT8/kQdu7jCi3RU/s1600-h/noa2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 271px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1V7AUn2TI/AAAAAAAABT8/kQdu7jCi3RU/s400/noa2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403569600101603634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1VBKhKLfI/AAAAAAAABTk/VwC8YRc_oZU/s1600-h/noa3.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 290px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1VBKhKLfI/AAAAAAAABTk/VwC8YRc_oZU/s400/noa3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403568606406127090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khutbah Tanpa Huruf Bertitik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله الملك المحمود ، المالك الودود مصور كل مولود ، مآل كل مطرود ساطع المهاد وموطد الأوطاد ومرسل الأمطار ، ومسهل الأوطار وعالم الأسرار ومدركها ومدمر الأملاك ومهلكها ومكور الدهور ومكررها ومورد الأمور ومصدرها عم سماحه وكمل ركامه وهمل وطاوع السؤال والأمل أوسع الرمل وأرمل أحمده حمدا ممدودا وأوحده كما وحد الأواه وهو الله لا إله للأمم سواه ولا صادع لما عدله وسواه ، أرسل محمدا علما للإسلام ، وإماما للحكام ، ومسددا للرعاع ومعطل أحكام ود وسواع أعلم وعلم ، وحكم وأحكم ، واصل الأصول (أصل الأصول) ومهد وأكد الموعود وأوعد ، أوصل الله له الإكرام ، وأودع روحه السلام ورحم آله واهله الكرام ، ما لمع رائل وملع دال ، وطلع هلال وسمع إهلال إعملوا رعاكم الله أصلح الأعمال ، وإسلكوا مسالك الحلال واطرحوا الحرام ودعوه ، واسمعوا أمر الله وعوه وصلوا الأرحام وراعوها وعاصوا الأهواء واردعوها وصاهروا أهل الصلاح والورع وصارموا رهط اللهو والطمع ، ومصاهركم أطهر الأحرار مولدا ، وأسراهم سؤددا وأحلاهم موردا وها هو أمكم وحل حرمكم ، مملكا عروسكم المكرمة وماهر لها كما مهر رسول الله أم سلمة وهو أكرم صهر أودع الأولاد ، وملك ما أراد ، وما سها مملكه ولا وهم ولا وكس ملاحمه ولا وصم أسأل الله لكم احماد وصاله ودوام إسعاده ، وألهم كلا إصلاح حاله والإعداد لمآله ومعاده وله الحمد السرمد والمدح لرسوله أحمد صلى الله عليه وآله وسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1VAoIJIcI/AAAAAAAABTc/bFa3RItV46U/s1600-h/nodot.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 379px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1VAoIJIcI/AAAAAAAABTc/bFa3RItV46U/s400/nodot.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403568597174395330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-2475371948704750470?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/2475371948704750470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/11/khutbah-keren-imam-ali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/2475371948704750470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/2475371948704750470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/11/khutbah-keren-imam-ali.html' title='Khutbah Keren Imam Ali'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wBItxVfbwhg/Sv1VBnH_gcI/AAAAAAAABT0/uKcG1rsxMk8/s72-c/noa1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-5656239018099377245</id><published>2009-03-09T10:24:00.001+07:00</published><updated>2009-11-04T16:53:39.340+07:00</updated><title type='text'>Kesaksian Ghadir</title><content type='html'>Tanggal 18 Zulhijjah adalah hari yang amat bersejarah dalam Islam. Pada hari itu, ketika kafilah haji Rasulullah saw dalam perjalanan pulang ke Madinah, yaitu pada tahun 11 Hijriyah, tiba-tiba Rasulullah saw memerintahkan kafilah berhenti dan membangun mimbar untuk pidato beliau di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum atau Oase Khum. Rupanya ada hal amat penting yang akan disampaikan Rasulullah saw kepada seluruh kaum Muslimin. Bahkan Rasulullah saw memerintahkan agar seluruh jamaah yang telah berpisah dari kafilah Rasulullah saw, agar segera bergabung kembali supaya dapat mendengarkan pesan penting yang akan disampaikan Rasulullah saw. Setelah semuanya berkumpul, dan sesudah shalat zhuhur berjamaah yang dipimpin Rasulullah saw sendiri, Rasulullah saw naik mimbar dan berpidato. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pidatonya Rasulullah saw berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Segala puji hanya bagi Allah. Kita memuja-Nya, beriman, dan bertawakkal kepada-Nya. Kita mohon perlindungan kepada Allah atas keburukan-keburukan diri kita sendiri dan perbuatan-perbuatan kita yang, tiada petunjuk bagi yang sesat dan tiada yang dapat menyesatkan bagi yang diberi petunjuk oleh-Nya. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Selanjutnya, kaum Muslimin! Sesungguhnya Allah Yang Mahasuci lagi Maha Mengetahui memberitahuku bahwa usia yang dapat dicapai seorang nabi hanya separuh dari usia nabi sebelumnya. Aku merasa bahwa ajalku telah dekat. Aku bertanggung jawab sebagaimana kamu juga bertanggung jawab. Bagaimana menurut kamu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata: "Kami bersaksi bahwa engkau ya Rasulullah, telah melaksanakan tugasmu, memberi peringatan dan berjuang. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan." Rasulullah saw berkata: "Tidakkah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya? Sorga adalah pasti. Neraka adalah pasti. Mati adalah pasti. Hari kiamat pasti datang, tiada keraguan padanya, dan Allah akan membangkitkan manusia dari kubur." Mereka menjawab: "Betul ya Rasulullah, kami bersaksi atas semua itu." Rasulullah saw berkata: "Allahumma fasyhad, ya Allah saksikanlah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah saw menyeru: "Kaum Muslimin! Tidakkah kamu dengar?" Mereka menjawab: ·Kami mendengar ya Rasulullah." Rasulullah saw berkata: "Nanti, di hari kiamat, ketika aku berada di haudh, telaga, kamu akan mendatangiku di Haudh. Haudh itu lebarnya antara Sana' dan Bushra, Damaskus. Di dalam Haudh itu terdapat qadah sebanyak bintang yang terbuat dari perak: maka hati-hatilah. Bagaimana kamu berani menentangku mengenai dua pusaka, al-Tsaqalain, yang kutinggalkan kepada kamu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bertanya, "Apa itu al-Tsaqalain, ya Rasulullah?" Rasulullah saw menjawab, "Pertama, adalah Al-quran, yaitu pusaka yang besar, al-tsiql al-akbar. Sebahagiannya di tangan Allah dan sebahagiannya lagi di tangan kamu. Berpeganglah pada Alqur'an, niscaya kamu tidak sesat. Dan kedua, adalah keluargaku, yaitu pusaka yang kecil, al-tsiql al-asghar. Tuhan yang Mahasuci dan Maha Mengetahui memberitahuku bahwa keduanya tidak akan berpisah sampai menjumpaiku di al-Haudh. Maka, jangan sekali-kali kamu dahului mereka, sebab jika kamu lakukan itu kamu akan celaka, dan jangan sekali-kali kamu kurangi hak mereka. Karena dengan itu, kamu akan celaka." Lalu Nabi saw mengambil tangan Ali dan mengangkatnya tinggi-tinggi sehingga tampak ketiak mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nabi bertanya: "Kaum Muslimin! Siapakah yang paling berhak terhadap diri kaum Muslimin?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah adalah maula, tuan atau pemimpinmu, dan aku adalah maula kaum mukminin. Aku lebih berhak terhadap diri mereka daripada mereka sendiri. Maka barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya. Barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya. Barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya ! Ya Allah, berpihaklah kepada orang yang berpihak kepada Ali dan perangilah orang yang memusuhinya. Cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang membencinya. Belalah orang yang membelanya dan hinakanlah orang yang meninggalkannya. Ya Allah, sertakanlah kebenaran bersama Ali dimana pun kebenaran itu berada. Kaum Muslimin! Kalian yang hadir di sini hendaklah menyampaikan hal ini kepada orang-orang yang tidak hadir." &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian sebelum jamaah bubar, Malaikat Jibril datang membawa wahyu (terakhir): "Hari ini Kusempurnakan bagi kamu agamamu dan Kulengkapkan buat kamu nikmat-Ku. Aku ridha Islam sebagai agamamu." (QS. 5: 3) Mendapati itu Rasulullah saw amat gembira dan mengucapkan takbir, sebagai rasa syukur kepada Allah swt. Rasulullah saw berkata: "Allahu-akbar! Agama telah sempurna. Nikmat telah lengkap. dan Allah ridha atas tugasku dan kepemimpinan Ali sesudahku." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang sedari tadi mengikuti amanah Rasulullah saw dengan khidmat, langsung menyerbu Ali ibn Abi Talib, begitu Rasulullah saw menyelesaikan pidatonya. Mereka rebutan mengucapkan selamat atas pengangkatan Ali ibn Abi Talib sebagai pemimpin, imam atau wali sesudah Nabi saw. Di antara yang memberikan selamat adalah dua sahabat besar, Abubakar dan Umar ibn al-Khattab, keduanya berkata: "Selamat, selamat, wahai putra Abu Talib! Engkau sekarang telah menjadi pemimpin kami dan pemimpin seluruh kaum Muslimin." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa istimewa di atas seperti disinggung sebelumnya, terjadi di Ghadir, oase, Khum yang terletak antara Mekah dan Madinah. Karena itu ia disebut dengan peristiwa Al-Ghadir, dan hadits-hadits yang menceritakan kejadian tersebut disebut hadits Al-Ghadir. Para ahli sejarah, perawi dan ahli hadits memberikan perhatian yang sangat besar terhadap peristiwa ini. Karena itu sedikit atau banyak, terang atau hanya sekedar isyarat, mereka merekamnya dalam karya-karya mereka. Bahkan dapat dikatakan tidak ada suatu peristiwa sejarah yang mendapat perhatian besar sejarawan dan ahli hadits Islam sebagaimana peristiwa Al-Ghadir. Berikut beberapa catatan mengenai hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PERAWI HADITS AL-GHADIR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Al-Ghadir disaksikan oleh lebih dari 100.000 jamaah haji yang hadir pada saat itu. Mereka terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, dari sahabat-sahabat Nabi saw paling besar hingga kaum Badui yang datang dari pedalaman gurun pasir. Pantasnya, apalagi memang diperintahkan oleh Rasulullah saw, peristiwa besar ini menjadi buah bibir seluruh kaum Muslimin sepanjang sejarah dan diceritakan dari generasi ke generasi. Ini memang terjadi, terbukti, banyak sekali hadits yang berkisah tentang peristiwa Al-Ghadir. Tetapi karena adanya tangan-tangan jahil yang senantiasa berusaha menutupi peristiwa amat penting ini maka banyak umat yang tertutupi fakta, yang sesungguhnya tidak dapat dingkari ini. Namun begitu, buku-buku sejarah dan hadits masih merekam ratusan Sahabat dan Tabiin yang menukilkan peristiwa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk perawi kalangan Sahabat, peneliti terkemuka hadits Al-Ghadir, yaitu Allamah Abdul-Husain Ahmad al-Amini, mencatat tidak kurang dar 110 sahabat Nabi perawi hadits Al-Ghadir dalam karya monumentalnya "Al-Ghadir". Antara lain : Abu Hurairah, Abu Laila al-Anshari, Abu Qudamah al-Anshari, Abu Rafi' al-Qibti (hambasahaya Rasulullah), Abubakar Ibn Abi Quhafah, Usamah ibn Zaid, Ubay Ibn Ka'ab, Asma Binti Umays, Ummu Salamah (isteri Rasulullah), Ummu Hani Binti Abi Talib, Anas Ibn Malik, Bara' Ibn Azib al-Anshari, Jabir Ibn Samrah, Jabir ibn Abdullah al-Anshari, Abuzar Al-Ghifari, Huzaifah ibn al-Yaman al-Yamani, Hassan Ibn Tsabit, Hasan Ibn Ali, Husain Ibn Ali, Abu Ayyub al-Anshari, Khuzaimah Ibn Tsabit, Zubair ibn al-Awwam, Zaid ibn al-Arqam, Ziad ibn Tsabit, Saad Ibn Waqqash, Saad Ibn Ubadah al-Anshari, Salman al-Farisi, Sahl Ibn Hunaif al-Anshari, Talhah Ibn Ubaidillah, Aisyah binti Abubakar, Abbas Ibn Abdulmuttalib, Abdurrahman Ibn Auf, Abdullah Ibn Ja'far, Abdullah Ibn Abbas, Abdullah Ibn Mas'ud, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Talib, Ammar Ibn Yasir, Umar ibn al-Khattab, Umar Ibn Hushain, dan Fatimah az-Zahra'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara perawi dari kalangan Tabiin, yang jumlahnya tidak kalah banyaknya antara lain ialah: Abu Rasyid al-Habrani, Abu Salmah Ibn Abdurrahman Ibn Auf, Abu Laila al-Kindi, Habib Ibn Abi Tsabit al-Asadi, Hakam Ibn Utaibah al-Kufi, Zaid Ibn Yutsi', Salim Ibn Abdullah Ibn Umar, Said Ibn Jabir al-Asadi, Said ibn al-Musayyib, Sulaim Ibn Qays al-Hilali, Sulaiman al-A'masy, al-Dahhak ibn Muzahim al-Hilali, Tawus Ibn Kaisan al-Yamani, Amir Ibn Saad Ibn Abi Waqqash, Abdurrahman Ibn Abi Laila, Abdullah Ibn Muhammad Ibn Aql al-Hasyimi, Adi Ibn Tsabit al-Anshari, Atiyah ibn Saad, Ali Ibn Zaid Ibn Jad'an, Umar Ibn Abdul-aziz, Abu lshaq Amr Ibn Abdullah al-Subai'iy, Isa Ibn Talhah Ibn Ubaidillah, Yazid Ibn Abi Ziyad al-Kufi dan Yazid Ibn Hayyan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. MUNASYADAH DENGAN HADlTS AL-GHADIR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pentingnya makna yang terkandung dalam hadits Al-Ghadir di satu pihak dan tidak henti-hentinya usaha menutupi keberadaan hadits ini, terutama oleh pihak-pihak yang iri kepada Ahlubait Nabi, di pihak lain, maka untuk membuktikan keberadaan dan kebenaran hadits Al-Ghadir ini, kerap terjadi munasyadah. Yaitu tuntutan mengatakan kebenaran terhadap pihak-pihak yang mendengar hadits Al-Ghadir langsung dari Rasululah atau melalui jalur Sahabat. munasyadah itu kadang dilakukan sendiri oleh para Ahlubait Nabi atau oleh Sahabat dan Tabiin yang lain. Berikut beberapa munasyadah dimaksud : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munasyadah Imam Ali Ibn Abi Talib &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Imam Ali Ibn Abi Talib di mata Rasulullah saw adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari. Puluhan, bahkan ratusan pujian teiah dilontarkan Rasulullah kepada Ali Ibn Abi Talib, semua Sahabat Nabi mengakui hal itu. Bahkan Muawiyah sekali pun, orang yang paling memusuhi Imam Ali, tidak dapat mengingkarinya. Namun upaya untuk menutup-nutupi atau paling tidak, mengurangi keutamaan Imam Ali, terus dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang kepada Imam Ali. Bahkan sejak zaman Rasulullah saw masih hidup, sehingga Rasulullah harus mengingatkan pihak-pihak yang iri pada Imam Ali, bahwa: "Cinta pada Ali Ibn Abi Talib adalah cerminan keimanan dan membencinya adalah cerminan kemunafikan, Hubbu Ali iman wa bughduhu nifaq." (Al-Hadits). Atas dasar itu, dan untuk mengingatkan pihak-pihak yang mungkin lupa dengan pesan dan peringatan Rasulullah berhubungan dengan dirinya ini, Imam Ali kerap mengingatkan mereka melalui berbagai cara, yang salah satunya adalah dengan munasyadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa munasyadah yang terjadi antara Imam Ali dengan pihak-pihak tertentu, yaitu antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Munasyadah saat Sidang Syura, Tahun 23 H &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan oleh Abi al-Tufail Amir Ibn Watsilah : Bahwa ketika hari persidangan Syura, aku mendengar Ali berkata kepada anggota syura:"Aku bermunasyadah kepada kalian atas nama Allah, adakah di antara kalian yang mengesakan Allah sebelum aku?" Mereka berkata: "Tidak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata: "Aku bermunasyadah kepada kalian atas nama Allah, adakah di antara kalian yang memiliki saudara seperti saudaraku, Ja'far al-Tayyar yang berada di sorga bersama para malaikat?" Mereka berkata:"Tidak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata: "Aku bermunasyadah kepada kalian atas nama Allah, adakah di antara kalian yang memiliki paman sebagaimana pamanku Hamzah, singa Allah, singa Rasul-Nya dan penghulu para syuhada?" Mereka berkata: "Tidak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata: "Aku bermunasyadah kepada kalian atas nama Allah, adakah di antara kalian yang mempunyai isteri seperti isteriku, Fatimah binti Muhammad, penghulu para perempuan sorga?" Mereka berkata : "Tidak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata: "Aku bermunasyadah kepada kalian atas nama Allah, adakah di antara kalian yang memiliki anak-anak sebagaimana anak-anakku al-Hasan dan al-Husain, penghulu pemuda sorga?" Mereka berkata:"Tidak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata: "Aku bermunasyadah kepada kalian atas nama Allah, adakah di antara kalian selain diriku yang dikatakan oleh Rasulullah, 'Barangsiapa yang mengakuiku sebagai maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah berpihaklah kepada orang yang berpihak kepada Ali, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya. Maka hendaklah yang mendengar hal ini menyampaikannya kepada yang lain.'?" Mereka mengatakan: "Tidak." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini direkam oleh banyak ahli hadits maupun sejarah. Anda dapat merujuk ke 1)al-hnanaqib karya al-Khawarizmi al-Hanafi, 2) al-Himwaini dalam Faraid al-Simtain, 3) Ibn Hatim dalam al-Durrun-nazim, 4) al-Dar al-Qutni, 5) Ibn Hajar al-Asqalani dalam al-Shawaiq, 6) al-Hafiz ibn Uqdah, 7) Al-Hafiz al-Uqaili, 8) Ibn Abil-hadid dalam Syarh Nahjul-balaghah, dan 9)Ibn Abdil-bar dalam al-Istiab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Munasyadah Pada Masa Usman Ibn Affan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Himwaini dalam kitabnya Faraidh al-Simtain meriwayatkan dari Sulaim Ibn Qays al-Hilali yang isinya antara lain: "Bahwa suatu hari di masa pemerintahan Usman Ibn Affan sekelompok orang yang sedang berkumpul di masjid Nabawi membicarakan keutamaan suku Quraiys. Ada lebih dua ratus orang yang hadir. Ada Ali Ibn Abi Thalib, Saad Ibn Abi Waqqash, Abdurrahman Ibn Auf, Talhah, Zubair, Miqdad, Ibn Umar, dan lain-lain. Masing-masing membicarakan keutamaan kaumnya. Ali dan keluarganya yang hadir di situ diam saja, tidak berkomentar apa-apa. Tiba-tiba mereka datang kepada Ali dan bertanya : "Wahai Abul-hasan, apa yang membuatmu tidak berbicara, padahal semua orang sudah mengutarakan keutamaan masing-masing?" Ali berkata : "Wahai kaum Quraisy dan al-Anshar, aku ingin bertanya kepada kalian. Keutamaan yang kalian dapatkan ini, apakah oleh kalian sendiri, keluarga dan kerabat kalian, ataukah oleh orang lain?" Mereka menjawab : "Semua yang diberikan Allah ini karena Nabi Muhammad dan kerabatnya, bukan karena kerabat dan keluarga kami." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ali berkata : "Kalian betul sekali, bukankah kalian sendiri tahu bahwa segala kebaikan dunia dan akhirat yang kalian dapati karena kami, Ahlubait Nabi, bukan orang lain. Sesungguhnya putra pamanku, Rasulullah saw bersabda: '14.000 tahun sebelum diciptakannya Adam, aku dan Ahlubaitku adalah cahaya yang bergerak di sisi Allah. Maka ketika Allah menciptakan Adam, cahaya itu diletakkan-Nya di dalam sulbi Adam, kemudian Nuh, Ibrahim, dan seterusnya melalui sulbi orang-orang suci.' " Mereka berkata : "Ya, kami pernah mendengarnya dari Rasulullah." Ali berkata : "Bukankah terdapat lebih dari satu ayat dalam al-Quran yang lebih memuliakan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam? Dan sesungguhnya tidak ada seorang pun yang lebih dahulu masuk Islam daripadaku?" Mereka berkata : "Betul sekali." &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata: "Bukankah ketika turun ayat: 'Dan al-sabiqun al-sabiqun, orang-orang pertama di antara yang pertama, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang dekat (QS. 56 : 10)' Rasululah ditanya : 'Siapa mereka?' Rasulullah menjawab: 'Mereka adalah para utusan Allah dan washi, penerima wasiat mereka. Aku adalah Nabi yang paling utama, sedangkan Ali adalah washi yang paling terkemuka.' " Mereka berkata : "Ya, kami mendengarnya dari Rasulullah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata lagi: "Bukankah ketika turun ayat 'Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan pemuka kamu (QS. 4: 59)' dan ayat: 'Apakah kamu mengira akan dibiarkan begitu saja padahal belum terbukti siapa di antara kamu yang berjuang dan tidak menjadikan selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai walijah, pemimpinnya, (Q.S. 9: 16)', orang-orang bertanya kepada Rasulullah : 'Apakah orang-orang beriman yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah orang-orang tertentu saja, atau semua orang beriman?' Maka Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menjelaskan kepada mereka siapa pemuka, pemimpin, dan kepemimpinan sebagaimana penjelasan tentang shalat, zakat, dan haji, lalu mengangkatku pada Ghadir Khum. Nabi berkata: 'Kaum Muslimin! Sesungguhnya aku telah diperintahkan Allah menyampaikan sesuatu yang aku khawatir orang-orang akan membelakangiku, tapi Allah mengancamku jika aku tidak menyampaikannya. Maka, wahai kaum Muslimin! Bukankah kamu tahu bahwa Allah adalah maulaku dan aku adalah maula kaum beriman. Aku lebih utama dari mereka terhadap diri mereka sendiri.' Mereka menjawab: 'Ya, wahai utusan Allah.' Maka Rasulullah berkata : 'Berdirilah hai Ali.' Aku berdiri. Kemudian Rasulullah berkata : 'Barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya! Ya Allah berpihaklah kepada orang yang berpihak kepada Ali, dan musuhilah orang yang memusuhinya.' Salman bangun dan bertanya kepada Rasulullah : 'Kepemimpinan yang sama dengan kepemimpinanmu?' Nabi berkata: 'Ya! Kepemimpinan yang sama, yang aku adalah lebih utama dari dirinya.' Sesudah itu turunlah ayat : 'Hari ini Kusempurnakan bagimu agamamu dst.' Rasulullah lalu bertakbir dan berkata: 'Mahabesar Allah! Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah dengan berpihak kepada Ali sesudahku.' Abubakar dan Umar bangun. Mereka bertanya : 'Apakah ayat-ayat itu hanya berlaku untuk Ali saja?' Rasulullah menjawab : 'Ya! Untuk Ali dan washi-washiku hingga hari kiamat.' Mereka berkata: 'Jelaskan, siapa mereka ya Rasulullah?' Rasulullah berkata : 'Mereka adalah Ali, saudara dan menteriku, washiku, khalifahku pada umatku, dan pemimpin setiap orang yang beriman sesudahku. Setelah itu putraku al-Hasan, lalu al-Husain, dan sembilan orang keturunan al-Husain. Al-Quran selalu menyertai mereka dan mereka selalu bersama al-Quran. Mereka tidak pernah berpisah sampai datang padaku di al-Haudh, telaga, nanti.'" Mereka berkata : "Ya, kami bersaksi pernah mendengar hal itu sebagaimana yang engkau ungkapkan, wahai Ali." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Munasyadah al-Rahbah , Tahun 35 H &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Rahbah dalam bahasa Arab berarti beranda. Ketika Imam Ali berkuasa kemudian memindahkan kekhilafahannya ke kota Kufah, Imam menjadikan beranda masjid Kufah sebagai tempat menangani berbagai persoalan, terutama perselisihan yang terjadi dalam masyarakat. Di situlah Imam Ali memutuskan perkara-perkara yang diperselisihkan dengan amat bijak dan adil. Semua orang puas dan menerima dengan senang keputusan-keputusan yang keluar dari beranda masjid ini. Pada masa kekuasaan Imam Ali, tempat ini amat populer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Imam Ali masih belum lama masuk kota Kufah sesudah pengangkatannya sebagai khalifah menggantikan Usman Ibn Affan yang terbunuh, ada suara-suara sumbang yang mempertanyakan kebenaran hadits-hadits Nabi tentang keutamaan Imam Ali lebih dari sahabat-sahabat lain, terutama, hadits al-Ghadir. Maka ketika orang-orang berkumpul di al-Rahbah, Imam Ali mendatangi mereka dan melakukan munasyadah. Mereka mengakui keberadaan dan kebenaran hadits-hadits itu. Tapi ada beberapa Sahabat yang karena sesuatu dan lain hal mencoba mengelak mengakui keberadaan hadits-hadits tersebut. Imam Ali menantang kejujuran mereka dengan memohon kepada Allah, jika pengelakan mereka memang karena alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, agar Allah memaafkan mereka. Tapi jika karena sesuatu dan lain hal, agar ditunjukkan keluasaan Allah sebagai bukti kebenaran dirinya. Saat itu juga Allah mengabulkan permintaan Imam Ali dan menurunkan hukuman, kualat, kepada beberapa sahabat yang mencoba menutupi kebenaran itu. Di antara sahabat yang mendapat kualat itu adalah Zaid Ibn Arqam dan Anas Ibn Malik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu menggemparkan kota Kufah dan seluruh wilayah Islam. Karena itu, ia mendapat banyak perhatian ari para perawi hadits maupun penulis sejarah. Berikut beberapa riwayat mengenai hal itu sebagaimana direkam dalam kitab-kitab hadits dan sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Zaid Ibn Arqam menceritakan : Bahwasanya suatu hari Ali menantang kejujuran orang-orang (bermunasyadah) dan berkata : "Wahai orang-orang! Aku bermunasyadah atas nama Allah, jika ada di antara kalian yang mendengar sabda Nabi saw, 'Barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, berpihaklah kepada orang yang berpihak kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya', maka hendaknya bangun memberikan kesaksian!" Maka bangunlah dua belas Sahabat Nabi Ahli Badar, yang mengikuti perang Badar, memberikan kesaksian dan membenarkan apa yang dikatakan Ali. Bahwa memang benar Nabi pernah mengatakan itu. Aku, kata Zaid, adalah salah seorang di antara orang-orang yang tidak mau bersaksi akan kebenaran hadits itu, maka butalah mataku (Hadits riwayat Ahmad ibn Hanbal). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan langsung Zaid Ibn Arqam ini dapat Anda lihat juga pada : 1) al-Haitsami dalam Majma' al-Zawaid, 2) al-Maghazili dalam al-Manaqib, 3) al-Tabrani dalam al-Kabir, 4) al-Tabari dalam Zakhair al-Uqba, al-Hafiz Muhammad Ibn Abdullah dalam al-Fawaid, dan lain-lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ahmad juga meriwayatkan dalam kitabnya al-Musnad, dari Abu al-Tufail Amir Ibn Watsilah : Bahwa pada suatu hari Ali mengumpulkan orang-orang di al-Rahbah. Ia berkata kepada mereka: "Aku bernasyadah atas nama Allah kepada setiap Muslim yang mendengar hadits Rasulullah di Ghadir Khum, hendaklah berdiri!" Maka berdirilah tiga puluh orang memberikan kesaksian. Dalam pada itu Abu Nuaim berkata : "Banyak orang yang berdiri dan bersaksi, bahwa memang benar Rasulullah berkata sambil memegang tangan Ali : 'Bukankah kamu tahu bahwa aku lebih berhak atas orang-orang yang beriman, lebih daripada mereka sendiri?'· Mereka berkata : 'Benar ya Rasulullah.' Nabi kemudian berkata : 'Barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Allah, berpihaklah kepada orang yang berpihak kepada Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya.' " Abu Nuaim berkata: "Kemudian aku keluar dari tempat itu, tapi dalam hatiku masih ada suatu keraguan." Maka kudatangi Zaid dan berkata kepadanya: "Aku mendengar Ali mengatakan ini dan itu." Zaid berkata: "Mengapa engkau harus mengingkarinya? Aku juga mendengar Rasulullah saw berkata demikian." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat dari Abu Tufail ini dapat dilihat juga pada 1) al-Nasai dalam Khasaish, 2) Abu Daud, 3) al-Ashimi dalam Zain al-Fata, 4) al-Kunji dalam Kifayah, 5) al-Tabari dalam al-Riyadh al-Nadhirah, 6) Ibn Katsir dalam al-Bidayah, 7) Ibn Atsir dalam Usud al-Ghabah, dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ibn Katsir dalam tarikhnya, meriwayatkan dari Ahmad Ibn Hanbal : Bahwasanya suatu hari Ali berkata : "Aku bermunasyadah atas nama Allah dengan munasyadah Islam kepada setiap orang yang mendengar pernyataan Rasulullah pada hari Ghadir Khum sambil memegang tanganku: 'Kaum Muslimin! Bukankah aku lebih utama terhadap diri kamu daripada kamu sendiri?' Mereka berkata: 'Betul ya Rasulullah.' Rasulullah kemudian berkata : 'Barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya. Ya Alllah berpihaklah kepada orang yang berpihak kepadanya, musuhilah orang yang memusuhinya, belalah orang yang membelanya dan hinakanlah orang yang menghinakannya.' Maka setiap orang yang mendengar hadits ini hendaklah berdiri dan bersaksi atas kebenarannya!" Maka bangunlah tujuh belas orang dan bersaksi bahwa Ali memang benar. Tapi sebagian lagi tidak mau bersaksi. Terhadap mereka, tidak ada yang keluar dari dunia ini kecuali telah lebih dahulu dibutakan atau dibuat belang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Munasyadah Pada Perang Jamal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak, dari Rifaah ibn Iyas al-Dhabbi, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa : Ketika kami berada di perang Jamal bersama-sama Ali, Ali mengutus seseorang untuk memanggil Talhah. Talhah datang menemui Ali. Ali berkata kepadanya: "Aku munasyadah engkau atas nama Allah. Tidakkah engkau mendengar Nabi saw berkata : 'Barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka hendaklah menjadikan Ali sebagai maulanya. Ya Allah, berpihaklah kepada orang yang berpihak kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya'?" Talhah berkata: "Ya. Aku mendengarnya." Ali berkata: "Kalau begitu, mengapa engkau memerangiku?" Talhah berkata: "Aku tidak ingat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada yang sama dapat dilihat pada 1) al-Masudi dalam Muruj al-Zahab, 2) al-Khatib al-Khawarizmi dalam al-Manaqib, 3) Ibn Asakir daiam Tarikh Syam, 4) Ibn al-Jauzi dalam Tazkirah, 5) al-Haitsami dalam Majma` al-Zawaid, 6) Ibn Hajar dalam al-Tahzib, 6) al-Suyuthi dalam Jami'-al-Jawami' dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. IHTIJAJ AHLUBAIT DAN LAINNYA DENGAN HADlTS AL-GHADIR. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain munasyadah Imam Ali, Ahlubait, dan banyak pihak juga melakukan ihtijaj, berhujjah, tentang kebenaran hadits Al-Ghadir ini. Berikut beberapa ihtijaj tersebut : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ihtijaj Fatimah Binti Rasulullah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dalam kitab Asnal-matalib, karya al-Muqirri al-Syafii bahwa Fatimah berkata kepada sahabat-sahabat Nabi : "Apakah kalian lupa pernyataan Rasulullah pada hari al-Ghadir: 'Barangsiapa yang aku adalah maulanya maka Ali adalah maulanya'?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihtijaj Imam Hasan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafiz Abul-abbas Ibn Uqdah meriwayatkan bahwa di antara yang diucapkan Hasan Ibn Ali di atas mimbar setelah menandatangani kesepakatan perdamaian dengan Muawiyah ialah : "Bukankah umat ini mendengar nabinya berkata sambil memegang tangan Ali Ibn Abi Talib di Ghadir Khum: 'Barangsiapa yang aku adalah maulanya maka hendaklah ia menjadikan Ali sebagai maulanya. Ya Allah, berpihaklah kepada orang yang berpihak kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya', dan Nabi memerintahkan mereka untuk menyampaikannya kepada yang tidak hadir ?" &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihtijaj Imam Husain &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulaim Ibn Qais meriwayatkan : Bahwa dua tahun sebelum kematian Muawiyah, Imam Husain mengumpulkan sekitar tujuh ratus orang di Mina saat haji. Mereka terdiri dari Bani Hasyim, Sahabat, Tabiin, dan para pengikut al-Husain. Al-Husain meminta mereka memberikan kesaksian atas setiap yang dikatakannya. Mereka memberikan kesaksian dan membenarkan semua yang dikatakan al-Husain. Di antara yang dikatakan al-Husain saat itu adalah: "Aku bermunasyadah atas nama Allah, bukankah kalian tahu bahwa Rasulullah saw mengangkat Ali pada hari Al-Ghadir dan menuntut setiap orang untuk mengakui kepemimpinan Ali, dan berkata: 'Setiap yang hadir hendaknya menyampaikannya kepada yang tidak hadir'?" Semua yang berkumpul memberikan kesaksian bahwa memang demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihtijaj Seorang Perempuan Kepada Muawiyah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zamakhsyari menceritakan dalam kitabnya Rabi' al-Abrar : Bahwa suatu hari, saat Muawiyah melaksanakan ibadah haji, ia memanggil seorang perempuan yang bernama Darumiyah. Ia berkata kepadanya: "Hai Darumiyah, mengapa engkau mencintai Ali dan membenciku? Berwilayah kepada Ali dan memusuhiku?" Darumiyah bertanya : "Apakah aku boleh diam?" Muawiyah berkata:"Tidak." Darumiyah berkata: "Karena engkau memaksa, akan kukatakan yang sebenarnya. Aku mencintai Ali karena keadilannya pada rakyat dan membagi harta dengan sama rata, dan aku membencimu karena engkau memerangi orang yang lebih berhak darimu dan menuntut yang bukan hakmu. Aku berwilayah kepada Ali karena Rasulullah telah mengangkatnya sebagai pemimpin di depan batang hidungmu sendiri, kecintaannya kepada kaum miskin, dan penghormatannya kepada ahli agama. Dan aku memusuhimu karena engkau menumpahkan darah, memecah persatuan, memutuskan perkara dengan tidak adil, dan keputusanmu yang didasarkan pada hawa nafsu !!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rabb! Masukkanlah kami ke dalam golongan yang berpihak pada Ali dan keluarganya. Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Waris No.14/Th-4, 1419 H; http://free.prohosting.com/~anands/ghadir.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-5656239018099377245?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/5656239018099377245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/kesaksian-ghadir.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/5656239018099377245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/5656239018099377245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/kesaksian-ghadir.html' title='Kesaksian Ghadir'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-9032201631369856268</id><published>2009-04-04T08:09:00.007+07:00</published><updated>2009-06-26T08:47:53.125+07:00</updated><title type='text'>Link Download Kitab-Kitab Syiah</title><content type='html'>Link untuk meminta atau download kitab-kitab syiah dengan gratis, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.musavilari.org/display/free-books.php"&gt;http://www.musavilari.org/display/free-books.php&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziaraat.com/"&gt;http://www.ziaraat.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.winislam.com/web/freebooks.html"&gt;http://www.winislam.com/web/freebooks.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.aimislam.com/index.php/activities/events/419-aim-offers-free-islamic-books-in-the-uk.html"&gt;http://www.aimislam.com/index.php/activities/events/419-aim-offers-free-islamic-books-in-the-uk.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.petbooks.20m.com/"&gt;http://www.petbooks.20m.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://alhikmeh.com/arabic/mktba/hadith/index.htm"&gt;http://alhikmeh.com/arabic/mktba/hadith/index.htm&lt;/a&gt; menurutku ini yang terlengkap, namun dlm format .txt&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islam4u.com/maktabah_list.php"&gt;http://islam4u.com/maktabah_list.php&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.alseraj.net/a-k/hadith/kafi/kafi.htm"&gt;http://www.alseraj.net/a-k/hadith/kafi/kafi.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://aqaed.info/?p=shialib&amp;/books/04/tar/index.html"&gt;http://aqaed.info/?p=shialib&amp;/books/04/tar/index.html&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.sfhbukhari.co.uk/Islamic_Text_books.html"&gt;http://www.sfhbukhari.co.uk/Islamic_Text_books.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://shiamultimedia.com/books.html"&gt;http://shiamultimedia.com/books.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://books.shiachat.com/"&gt;http://books.shiachat.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.maaref-foundation.com/"&gt;http://www.maaref-foundation.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.yasoob.com/"&gt;http://www.yasoob.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rafed.net/books/"&gt;http://rafed.net/books/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://u-of-islam.net/"&gt;http://u-of-islam.net/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://islamictexts.org/"&gt;http://islamictexts.org/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.al-mubin.org/fulllengthbooks.html"&gt;http://www.al-mubin.org/fulllengthbooks.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.al-islam.org/"&gt;http://www.al-islam.org/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dartabligh.org/books/ebooks/"&gt;http://www.dartabligh.org/books/ebooks/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://nahjulbalagha.org/ "&gt;http://nahjulbalagha.org/ &lt;/a&gt;    &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hoseini.org/book.htm"&gt;http://www.hoseini.org/book.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.iilmonline.com/upload/index.php"&gt;http://www.iilmonline.com/upload/index.php&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.al-islam.org/organizations/dilp/index2.htm"&gt;http://www.al-islam.org/organizations/dilp/index2.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.almujtaba.com/"&gt;http://www.almujtaba.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tebyan.net/index.aspx?pid=30167"&gt;http://www.tebyan.net/index.aspx?pid=30167&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.al-rasool.co.uk/links/linksbooks.html"&gt;http://www.al-rasool.co.uk/links/linksbooks.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.14masom.com/hdeath_sh/index.htm"&gt;http://www.14masom.com/hdeath_sh/index.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.hubeali.com/books/"&gt;http://www.hubeali.com/books/&lt;/a&gt; terj. bahasa Urdu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-9032201631369856268?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/9032201631369856268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/04/link-download-kitab-kitab-syiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/9032201631369856268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/9032201631369856268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/04/link-download-kitab-kitab-syiah.html' title='Link Download Kitab-Kitab Syiah'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-3026272761896936061</id><published>2007-11-27T08:43:00.001+07:00</published><updated>2009-04-27T08:46:35.714+07:00</updated><title type='text'>Kebijakan Privasi</title><content type='html'>Kita menggunakan pihak ketiga perusahaan periklanan untuk menayangkan iklan pada saat Anda mengunjungi situs web kami. Perusahaan-perusahaan dapat menggunakan informasi (tidak termasuk nama, alamat, alamat email, atau nomor telepon) tentang kunjungan Anda ke situs Web ini dan lainnya untuk menyediakan iklan tentang barang dan jasa yang menarik bagi Anda. Jika Anda ingin informasi lebih lanjut mengenai praktek ini dan untuk mengetahui tentang pilihan Anda tidak memiliki informasi ini digunakan oleh perusahaan ini, klik &lt;a href="http://www.google.com/privacy_ads.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-3026272761896936061?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/3026272761896936061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/3026272761896936061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2007/11/kebijakan-privasi.html' title='Kebijakan Privasi'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-8768439883489722814</id><published>2009-04-16T09:00:00.007+07:00</published><updated>2009-04-19T06:21:33.197+07:00</updated><title type='text'>Link Film Syahid Imam Husain as Di Karbala</title><content type='html'>Link video youtube kisah Imam Husayin as syahid di Karbala bahasa Inggris &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="340" height="285"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/CDRygvsMRA4&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;border=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/CDRygvsMRA4&amp;hl=en&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="340" height="285"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=CDRygvsMRA4"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=CDRygvsMRA4&lt;/a&gt; (1)   &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=_yZ6UUREA2Y"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=_yZ6UUREA2Y&lt;/a&gt; (2) &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=w-m2QNQMKwA"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=w-m2QNQMKwA&lt;/a&gt; (3)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=8sFbh7uojmk"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=8sFbh7uojmk&lt;/a&gt; (4)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=8VmlxDi-Am8"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=8VmlxDi-Am8&lt;/a&gt; (5) &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=eQaKCS4vbl0"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=eQaKCS4vbl0&lt;/a&gt; (6)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=s-TlCWQyD68"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=s-TlCWQyD68&lt;/a&gt; (7)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=AfXqwLwjBNI"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=AfXqwLwjBNI&lt;/a&gt; (8)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=uOZADxdfHug"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=uOZADxdfHug&lt;/a&gt; (9)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=bSTkAHOPLUA"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=bSTkAHOPLUA&lt;/a&gt; (10)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=aewbEtD86WU"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=aewbEtD86WU&lt;/a&gt; (11) atau &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=ziO_2QPlZW0"&gt;http://www.youtube.com/watch?v=ziO_2QPlZW0&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-8768439883489722814?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/8768439883489722814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/04/link-film-syahid-imam-husain-as-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8768439883489722814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8768439883489722814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/04/link-film-syahid-imam-husain-as-di.html' title='Link Film Syahid Imam Husain as Di Karbala'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-3296596648560348725</id><published>2009-04-13T07:13:00.002+07:00</published><updated>2009-04-13T07:23:38.717+07:00</updated><title type='text'>Hadis Sepuluh Sahabat Masuk Surga Menurut O. Hashem</title><content type='html'>Hadis  ini menyangkut  sepuluh  orang  yang  telah  dinyatakan  akan masuk  surga  (sepuluh  yang mendapat  kabar  gembira  masuk  surga),  yang  dilaporkan  oleh  Sa’id  bin  Zaid,  ipar  Umar  bin Khaththab,  di  zaman  Mu’awiyah.  Baiklah  kita  ikuti  riwayat  munculnya  hadis  ini  di  zaman ‘pengucilan’ Ali bin Abi Thalib ini. &lt;br /&gt;Said meninggal dunia tahun 51 H/671 M. Di tahun itu juga Mu’awiyah membunuh Hujur bin ‘Adi bersama dua belas kawan-­kawannya. Ibnu Atsir meriwayatkan bahwa pemulanya ialah Mughirah bin  Syu’bah,  gubernur  yang  diangkat  Mu’awiyah  di  Kufah,  melaknat  Ali  dan  Hujur membantahnya. Pada  tahun 40 H/660 M, Mughirah bin Syubah digantikan oleh Ziyad bin Abih yang mengejar dan menganiaya siapa saja yang tidak mau mencerca Ali bin Abi Thalib. Hadis  ini  timbul  pada masa  itu,  dengan  lafal:  ‘Pada  suatu  ketika,  di masjid  (Kufah),  seseorang telah menyebut (melaknat pen.) Ali bin Abi Thalib. Maka berdirilah Said bin Zaid seraya berkata: ‘Aku  bersaksi  dengan  nama  Rasul  Allah  saw  bahwa  sesungguhnya  aku  mendengar  beliau bersabda,  ‘Sepuluh  orang masuk  surga: Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali,  Thalhah,  Zubair, Sa’d  bin  Abi  Waqqash  dan  Abdurrahman  bin  ‘Auf’.  Kemudian  orang  bertanya,  ‘Siapa  yang  kesepuluh?’ Setelah  ditanyakan  berkali-­kali,  ‘Sa’id  bin  Zaid’ menjawab,  ‘Aku’. Dalam  lafal  yang lain, nama Abu Ubaidah bin al ‘Jarrah disebut, sedang Nabi tidak dimasukkan.1&lt;br /&gt;Dalam kemelut seperti itu, Said bin Zaid’ telah bertindak sangat berani. Orang-­orang yang disebut oleh  ‘Sa’id bin Zaid’ sudah tepat. Abu Bakar, Umar dan Abu ‘Ubaidah pernah bergesekan dengan Ali, mengepung dan hendak membakar rumah  ‘penghulu wanita mu’minin’ Fathimah, ‘meskipun Fathimah ada di dalam’. Utsman adalah dari marga Umayyah, marganya  Mu’awiyah.  Thalhah  dan  Zubair memerangi  Ali  dalam  perang Jamal. Ali menyebut mereka sebagai kelompok Nakitsun, yaitu kelompok yang membatalkan baiat, karena  mereka  berdua  merupakan  orang-­orang  pertama  yang  membaiat  Ali,  tetapi  kemudian berbalik memeranginya. Sa’d bin Abi Waqqash tidak mau membaiat Ali setelah Utsman meninggal dunia.  Abdurrahman  bin  ‘Auf  ­meskipun  kemudian  menyesal­  pernah  mengancam  akan membunuh Ali dengan pedang, bila Ali  tidak membaiat Utsman dalam Syura yang dibentuk oleh Umar.  Dengan  cerdiknya,  ‘Sa’id’  memasukkan  nama  Ali untuk mencegah  para  penguasa mengutuk  Ali  di  mimbar-­mimbar  seluruh  desa  dan kota dan secara  tidak  langsung  berusaha menyelamatkan  kaum  Syi’ah  agar  tidak  dibantai seperti  Hujur. Dan untuk  menyelamatkan dirinya,  ‘ia’  memasukkan  namanya  pula. Hadis ini, ditinjau dari  segi  sejarah,  tidak  dapat  ditafsirkan lain dari  itu. Hadis  yang merupakan ‘pemberontakan’ terhadap penguasa  yang  zalim seperti  ini, tidak dapat dikatakan salah, tetapi tidak juga dapat dikatakan benar. Riwayat di atas kemungkinan besar dibuat orang dengan mengatas namakan Sai’d bin Zaid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik, misalnya, meriwayatkan: Rasul Allah  saw  bersabda  kepada  para  Syuhada’  Perang Uhud:  ‘Aku menjadi  saksi mereka  (bahwa mereka  telah mengorbankan  nyawa mereka)  di  jalan Allah’.  Dan  berkatalah  Abu  Bakar  ash­Shiddiq:  ‘Wahai  Rasul  Allah,  bukankah  kami  saudara­ saudara  mereka?  Kami  memeluk  Islam  seperti  mereka,  dan  kami  berjihad  seperti  mereka berjihad!’. Dan Rasul Allah menjawab:  ‘Ya,  tetapi  aku  tidak  tahu apa  yang akan  kamu  lakukan sesudahku’.  Dan  menangislah  Abu  Bakar  sambil  berkata:  ‘Apakah  kami  akan  masih  hidup sesudahmu?  &lt;br /&gt;Perawi  ‘sepuluh orang masuk surga’ tidak menceritakan kepada kita dalam hubungan apa Rasul Allah saw menyampaikan hadis ini, dan siapa saja yang ikut mendengarkan. &lt;br /&gt;Dan  mengapa  Sa’id,  misalnya,  tidak  berdiri  di  depan  massa  yang  sedang  mengepung  rumah Utsman yang berakhir dengan pembunuhan khalifah ketiga  itu dan mengatakan kepada mereka hadis yang penting ini? &lt;br /&gt;Mengapa Sa’id bin Zaid, misalnya, tidak menasihati Abdullah bin Umar agar membaiat Ali tatkala terjadi  pembaiatan  terhadap  Ali  sesudah  Utsman  terbunuh,  karena  bagaimanapun  juga  Ali termasuk  sepuluh  orang  yang  dijamin  masuk  surga  oleh  Rasul  Allah?  Malah  membaiat Mu’awiyah, Yazid dan ‘Abdul Malik serta Hajjaj bin Yusuf? &lt;br /&gt;Mengapa  tidak  menasihati  ummu’l ­mu’minin  Aisyah  dan  menyampaikan  hadis  itu  agar  ia  tidak memerangi Ali dan agar menetap di rumahnya sebagaimana diperintahkan Al­Qur’an? &lt;br /&gt;Mengapa  pula  Thalhah  dan  Zubair  dimasukkan  ke  dalam  sepuluh  masuk  surga  dan  bukan, misalnya, Abu Dzarr al­Ghifari dan Hamzah paman Rasul? &lt;br /&gt;Mengapa pula Saad bin Abi Waqqash dimasukkan  ke  dalam  Sepuluh Masuk  Surga  dan  bukan misalnya Miqdad  atau  Abu  Ayyub at­ Anshari? &lt;br /&gt;Begitu pula Abu Ubaidah bin al­Jarrah, seorang penggali kubur di Madinah dimasukkan pula ke dalam Sepuluh Masuk Surga dan bukan, misalnya Salman al-­Farisi? &lt;br /&gt;Meskipun menyesal di kemudian hari Sa’d bin Abi Waqqash tidak mau membaiat  Imam  Ali &lt;br /&gt;sedang  Rasul mengatakan  bahwa  ‘barangsiapa  tidak  mengenal  imam  pada  zamannya,  ia mati dalam keadaan jahiliah’. Dan hadis ini diakui sebagai hadis shahih di semua mazhab? &lt;br /&gt;Apakah  surga  ini  hanya  diperuntukkan  bagi  para  khalifah  dan  mereka.  yang  ikut  dalam pergolakan kekuasaan dan  bukan orang-­orang  seperti  ‘Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Dzarr al­ Ghifari atau Salman al-­Farisi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;br /&gt;Tirmidzi,  dalam  Jami’­nya,  hlm.  13,  183,  186,  dan  lain­lain. Hadis  ini melalui  ‘Abdurrahman  al­Akhnas, yang didengamya sendiri di masjid Kufah. Jalur lain melalui  ‘Abdurrahman bin Hamid yang didengarnya dari ayahnya; ayahnya mendengar dari  'Abdurrahman bin ‘Auf. Hadis yang disebut ini dianggap batil, karena ayah ‘Abdurrahman bin Hamid, yang  bernama az­Zuhri, adalah seorang  tabi’i  (generasi kedua), bukan Sahabat.  Ia lahir  32  H.,  653  M.  dan meninggal  105  H,  723  M.  dalam  usia  73  tahun,  sedang  ‘Abdurrahman  bin  ‘Auf meninggal  31,  652 M.atau  32  H.,  653 M.  Dengan  kata  lain,  Zuhri  lahir  pada  saat    ‘Abdurrahman  bin  ‘Auf meninggal atau setahun sesudahnya. Dengan demikian maka satu-­satunya jalur adalah yang melalui Said bin Zaid.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-3296596648560348725?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/3296596648560348725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/04/hadis-sepuluh-sahabat-masuk-surga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/3296596648560348725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/3296596648560348725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/04/hadis-sepuluh-sahabat-masuk-surga.html' title='Hadis Sepuluh Sahabat Masuk Surga Menurut O. Hashem'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-6909908357243999788</id><published>2009-03-24T08:11:00.000+07:00</published><updated>2009-03-24T08:12:46.327+07:00</updated><title type='text'>Siapa Para Rafidhi Ekstrim Itu?</title><content type='html'>Ibn Qutaybah dalam al-Ma'arif, dengan judul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أسماء الغالية من الرافضة&lt;br /&gt;(Nama-nama Rafidhi ekstrim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أبو الطفيل صاحب راية المختار، وكان آخر من رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم موتاً.&lt;br /&gt;والمختار ،&lt;br /&gt;وأبو عبد الله الجدلي ،&lt;br /&gt;وزرارة بن أعين ،&lt;br /&gt;وجابر الجعفي, انتهى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu Thufayl, &lt;br /&gt;2. Mukhtar&lt;br /&gt;3. Abu Abd Allah al-Jadly&lt;br /&gt;3. Zurarah&lt;br /&gt;4. Jabir al-Ju'fi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Abu al-Thufayl itu? coba lacak di al-Ma'arif tersebut, hasilnya: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;أبو الطفيل رضي الله تعالى عنه :&lt;br /&gt;هو أبو الطفيل عامر بن واثلة ، رأى النبي صلى الله عليه وسلم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama panjang Abu Thufayl ra adalah Abu Thufayl Aamir ibn Wathilah. Dia melihat Nabi Muhammad saw, dengan demikian Ia adalah termasuk golongan sahabat, bahkan Ibn Qutaybah menyebutkan RadhiyAllahu 'Anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, para sahabatpun ada yang termasuk Rafidhi Ekstrim. Semoga Allah meridhai mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://wilayat.net/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=131:rafidi-extremists-among-the-sahabah&amp;catid=27:sahaba-general&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-6909908357243999788?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/6909908357243999788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/siapa-para-rafidhi-ekstrim-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/6909908357243999788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/6909908357243999788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/siapa-para-rafidhi-ekstrim-itu.html' title='Siapa Para Rafidhi Ekstrim Itu?'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-8175121431373686245</id><published>2009-03-24T08:06:00.000+07:00</published><updated>2009-03-24T08:11:26.208+07:00</updated><title type='text'>Imam Mahdi telah lahir</title><content type='html'>Kendati pendapat yang masyhur di kalangan Ahlusunah bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan dalam hadis-hadis mutawatir belum lahir dan kelak akan lahir ketika masanya tiba, namun tidak jarang di antara ulama Ahlusunah yang meyakini bahwa Imam Mahdi yang dijanjikan dalam sabda-sabda Nabi saww tersebut telah lahir, dia adalah putra Imam Hasan al-Askari as lahir di kota Samurra’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah: Imam Hasan al-‘Askari as.&lt;br /&gt;Ibu: Narjis.&lt;br /&gt;Tempat atau tanggal lahir: Samurra’ pertengahan bulan Syakban tahun 255 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengalami masa ghaibah (ghaib dari pandangan manusia) dalam dua tahap: ghaibah shughrah (kegaiban kecil) dan ghaibah kubra (kegaiban besar atau total).&lt;br /&gt;Ghaibah shughra: dari tahun 260 hingga tanun 329 H.&lt;br /&gt;Ghaibah kubra berawal dan berakhirnya ghaibah shughra hingga waktu diizinkan Allah SWT dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Kita amati keterangan dibawah ini yang dinukil dari kitab : ”Is’af Al-Raghibin fi Sirah Al-Mushthafa wa Fadha’il Ahli Baithi Al-Thahirin” karya Al-Imam Al-Allamah Al-Arif Billah Al-Syaikh Muhammad bin Ali Al-Shabban Rahimahullah sebagai berikut :&lt;br /&gt;Sayyidi Abdul Wahab Al-Sya’rani mengatakan di dalam kitabnya Al-Yawaqit wal Jawahir bahwa Al-Mahdi itu berasal dari putra Imam Hasan Al-Askari. Lahir pada malam pertengahan bulan Sya’ban tahun dua ratus lima puluh lima Hijriyah. Ia tetap hidup sampai sekarang dan akan bergabung dengan Nabi Isa as. Demikianlah yang diberitahukan oleh Syaih Hasan Al-Iraqi kepadaku, dari Imam Al-Mahdi, ketika Syaih Hasan berjumpa dengannya, yang kebetulan dihadiri juga oleh Sayyidi Ali Al-Khawwash rahimahumallaahu Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhyiddin Ibn Arabi di dalam kitab Al-Futuhat mangatakan : ”Ketahuilah Bahwa Al-Mahdi a. s. itu mesti keluar, namun tidak akan keluar kecuali apabila dunia sudah penuh dengan kezaliman dan dialah yang akan melenyapkan kezaliman itu dan menggantikan dengan keadilan. Dia berasal dari keturunan Rasulullah S A W dari putra Fathimah ra. Kakeknya adalah Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan ayahnya adalah Imam Hasan Al-Askari bin Imam Ali Al-Naqi bin Imam Muhammad Al-Taqi bin Imam Ali Al-Ridha bin Imam Musa Al-Kazhim bin Imam Jakfar Ashshadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib r.a. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pernyataan Ibn Arabi, yang dikenal sebagai Penutup Wali dalam mengidentifikasi Imam Mahdi (as):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;واعلموا أنه لابد من خروج المهدي (عليه السلام) لكن لا يخرج حتى تمتلئ الأرض جوراً وظلماً فيملؤها قسطاً وعدلاً ولو لم يكن من الدنيا إلا يوم واحد طوّل الله تعالى ذلك اليوم حتى يلي ذلك الخليفة وهو من عترة رسول الله صلى الله عليه وسلم من ولد فاطمة رضي الله عنها، جده الحسين بن علي بن أبي طالب ووالده حسن العسكري ابن الإمام علي النقي ـ بالنون ـ ابن محمد التقي ـ بالتاء ـ ابن الإمام علي الرضا ابن الإمام موسى الكاظم ابن الإمام جعفر الصادق ابن الإمام محمد الباقر ابن الإمام زين العابدين علي بن الإمام الحسين ابن الإمام علي بن أبي طالب رضي الله عنه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaykh Muhyiddin Ibn al-'Arabi, al-Futuhat al-Makkiyah, chapter 366, dikutip oleh Abdul-Wahab al-Sha'rani, dalam kitab Yawaqit wa Jawahir jilid dua serta Sheikh Mahdi Faqih al-Imani menyebutnya dalam Al-Mahdi 'inda Ahl al-Sunnah, vol. 1, p. 410.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kitab Ash-Shawa’iqal Muhriqah karya Ibnu Hajar dalam bab mengenai ihwal Al-’Askari terdapat uraian sebagai berikut : ”Beliau (Imam Hasan Al-’Askari) tidak meninggalkan keturunan seorangpun selain putranya yaitu Abal Qasim Muhammad AlHujjah a.s., yang umurnya ketika ayahnya wafat adalah 5 tahun. Tetapi dalam usia tersebut Allah telah menganugrahkan kepadanya hikmah, dan dia dinamakan Al-Qa’im Al-Muntadzar. Dikatakan bahwa, yang demikian itu karena dia telah ”dirahasiakan” , kemudian menghilang dan tidak diketahui kemana perginya. Penulis lain dari kalangan jumhur ulama juga menuturkan hal serupa, misalnya Ibnu Khallikan, pengarang Al-Fushulul Muhimah, Mathalibus Su’ul, Syawahidun Nubuwah sebagai mana yang diterangkan oleh syaih Abdullah Syabar dalam karyanya yang berjudul Haqqul Yaqin. Ustadz Hasyim al-Amidi telah mengadakan studi penelusuran yang seksama dan beliau menemukan 128 (seratus dua puluh delapan) Ulama Ahlusunah telah meyakini kelahiran Imam Mahdi as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini akan kami sebutkan sebagian nama-nama mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Muhammad bin Harun Abu Bakar ar-Rauyani (w. 307 H) dalam kitabnya al-Musnad.&lt;br /&gt;2.Abu Nu’aim aI-Ishfahani (w. 430H) dalam kitabnya al-Arba’in haditsan fi al-Mahdi.&lt;br /&gt;3.Ahmad Bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H) dalam Syu’ab al-Iman.&lt;br /&gt;4.Al-Khawarizmi al-Hanafi (w. 568 H) dalam Maqtal al-Imam al-Husain.&lt;br /&gt;5.Muhyiddin Ibn al-Arabi (w. 638 H) dalam al-Futuhat alMakkiyah, bab 366 dalam pembahasan 65, sebagaimana disebut dalam Yawaqit wa al-Jawahir oleh asy-Sya’rani.&lt;br /&gt;6.Kamaluddin Muhammad bin Thalhah asy-Syafi'iy (w. 652 H) dalam Mathalib as-Su'ul.&lt;br /&gt;7.Sibth Ibn al-Jauzi al-Hanbali (w. 654 H) dalam Tadzkirah-alKhawash.&lt;br /&gt;8.Muhammad bin Yusuf al-Kunji asy-Syafi’i (terbunuh tahun 658 H) dalam kitabnya Kifayah ath-Thalib.&lt;br /&gt;9.Al-Juwaini al-Hamawaini asy-Syafi’i (w. 732 H) dalam Fara’id as-Simthain: 2\337.&lt;br /&gt;10.Nuruddin Ibnu Shabbagh al-Maliki (w. 855 H) dalam al-Fushul al-Muhimmah.71&lt;br /&gt;11.A1-Quthb asy-Sya’raani, sebagaimana dinukil dalam Nuur alAbshar (187).&lt;br /&gt;12.Syeikh Sahan al-Iraqi, sebagaimana dinukil dalan Nuur al-Abshar.&lt;br /&gt;13.Syeikh Ali al-Khawash, sebagaimana disebutkan oleh al-Quthb asy-Sya’rani.&lt;br /&gt;14.Syeikh asy-Syablanji dalam Nuur al-Abshar. &lt;br /&gt;15.Ibnu Hajar al-Haitsami al-Makki (974 H) dalam ash-Shawaiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://www.aeonity.com/eryc9/imam-kedua-belas-imam-muhammad-almahdi-s&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-8175121431373686245?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/8175121431373686245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/imam-mahdi-telah-lahir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8175121431373686245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8175121431373686245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/imam-mahdi-telah-lahir.html' title='Imam Mahdi telah lahir'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-526240211832024180</id><published>2009-03-20T12:31:00.000+07:00</published><updated>2009-03-20T12:34:54.189+07:00</updated><title type='text'>Kesyahidan Imam Husayn as diramalkan di catatan kitab Hindu</title><content type='html'>Ramalan ini pertama-tama dibukukan dengan judul Ke-Rasul-an/Ke-Nabi-an tahun 1970 oleh Bilal Muslim Missie dari Tanzania Daressalam. Setelah itu buku ini berkali-kali di print di Daressalam dan Mombasa. Kemudian W.I.N. (The World Islamic Network) dari Bombai menerbitkannya sebagai buku kecil yang berjudul: ‘Ramalan-ramalan tentang Rasul yang suci dari Islam dalam catatan Hindu, Kristen dan Yahudi’.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Ketika mereka ingin mengeprint ulang buku kecil itu maka Ustadz Sayid Saeed Akhtar Rizvi tanggal 04 september 2001 memeriksa kembali isi buku itu dengan teliti dan menambahkan (ramalan) menurut catatan Persi ke dalamnya. Dengan demikian Ramalan akan datangnya Rasul yang suci (Muhammad saw.) sudah tercantum dalam catatan Hindu, Kristen, Yahudi dan Persi.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Penulis tidak mencantumkan isi semuanya dibuku ini tapi hanya yang terpenting saja yang berkaitan dengan Keturunan Nabi saw. yaitu ramalan tertulis dalam catatan kitab Hindu saja yang bernama Barm Uttar Khand tentang akan datangnya Rasul yang suci dan anak keturunannya (ahlul baitnya) yang telah diterjemahkan oleh Ustadz Abdurrahman Christi dari India pada abad kesebelas Hijriyyah (1631-1632 Masehi) dalam bukunya ‘Mir’atul Makhluqat’.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam catatan kitab Hindu ini menceriterakan ada seorang Nabi yang terkenal bernama Mahadevij. Mahadevij ini berceritera pada istrinya Parbati sewaktu berada digunung Kailash Parbat yang ditulis oleh muridnya Bishit Muni. Bagian-bagian yang terpenting diatas telah diterjemahkan dari buku Muqaddamah Anwarul Qur’an oleh Sayid Raha Husain Gopalpuri halaman 40-43. Dalam kitab Hindu Barm Uttar Khand ini Mahadevij berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Setelah enam ribu tahun, Tuhan yang Maha Kuasa akan menciptakan seorang manusia yang indah dari keturunan Adam di Mundane yaitu tempat antara lautan-lautan (yang dimaksud Negara Arab yang diliputi oleh tiga lautan). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;..Oh Parbati, dia akan dilahirkan dari Kant Bunjih (pengabdi/hamba Tuhan, yang dalam bahasa arabnya Abdullah). Dan dia (Abdullah) akan lurus dan memiliki pengetahuan tentang Tuhan sebagai sungai (luas). (Dari sungai –Abdullah– ini) akan muncul/lahir mutiara. Dan nama isterinya (istri Abdullah) Sank Rakhiya (yang berarti kedamaian atau keamanan yang dalam bahasa arabnya Aminah). Dan dia (Abdullah) akan sudah membaca tiga kitab, dan dia akan mengenyampingkan kitab keempat setelah membaca Alif Laam Miim.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Oh Parbati dia (Abdullah) akan menjadi kepala dari sukunya, orang-orang dari semua desa akan datang ke pintunya dan akan mengikutinya. (anak lelaki Abdullah) akan tidak mengenal takut kepada makhluk, dia akan sangat gigih, berani dan akan memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan namanya Mahamat. Orang-orang akan keheran-heranan bila melihat dia (Mahamat) dan dia tidak akan menyembah apa yang disembah oleh sukunya dan dia akan menerangkan pada orang-orang: ‘Telah turun pada saya wahyu dari yang Esa (Tuhan) agar kamu tidak selalu menyembah yang tidak ada manfaatnya dan saya tidak bertujuan apa-apa hanya kecuali karena Tuhan maka dari itu ikutilah aku’. (kata-kata yang serupa juga tercantum di Al-Qur’an 13:36).&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Oh Parbati, Mahamat akan mengajarkan syari’atnya (hukum Islam) pada seluruh makhluk dengan menghapus cara yang dahulu (jahiliyyah) serta semua syari’at yang sebelumnya. Dan dia akan mencoba setiap manusia untuk mengikutinya (mengikuti agamanya). Lama kelamaan agamanya akan di ikuti oleh manusia yang tidak terhitung jumlahnya dan banyak dari mereka akan sampai pada Tuhan. Dan seperti halnya sekarang yang kita kenal yaitu waktu/zaman Sakh, begitu juga orang-orang pada akhir Kaljg akan menggunakan waktu/zaman yang menunjukkan zamannya Mahamat ( yaitu tahun Hijriyyah). &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Oh Parbati, setelah dia (setelah wafat anak lelaki Muhammad saw.--pen) Sang Kuasa yang tidak ada bandingannya akan mengarunia seorang putri pada Mahamat, dia (putri ini) akan lebih baik dari 1000 anak lelaki dan dia (Siti Fathimah ra--pen) sangat cantik sekali, sangat hebat dan sangat sempurna amal ibadahnya pada Tuhan. Dia (Siti Fathimah ra) tidak mengucapkan kata-kata yang salah dan dia akan dilindungi (oleh Tuhan) dari segala dosa baik kecil mau pun besar. Dan dari ayahnya dia akan selalu dekat pada Tuhan. Yang Kuasa akan mengarunianya dua anak lelaki (Al-Hasan dan Al-Husain--pen) dari putri Mahamat ini. Kedua anak ini bagus/ganteng, kuat dan dicintai oleh Tuhan, mempunyai ilmu pengetahuan luas tentang Tuhan (pandai dalam ilmu agama), berani, gigih dan sangat sempurna dalam mengerjakan kebaikan. Dan yang maha Kuasa setelah (penciptaan) mereka ini tidak akan menciptakan manusia yang sempurna seperti mereka, baik secara bathin maupun lahir dalam kebaikan.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Dua anak lelaki Mahamat ini akan mempunyai penerus (penggantinya) dan mereka akan dikarunia keturunan yang tidak terhitung jumlahnya. Mereka akan membimbing pada agama Mahamat hari ke hari dengan argumentasi yang benar dan mereka akan membuat agama mudah (sesuai dengan hadits bahwa agama itu mudah--pen), dan Mahamat akan mencintai mereka melebihi dari ummatnya sampai-sampai melebihi dari putrinya sendiri. Dan dua anak lelaki ini (Al-Hasan dan Al-Husain) akan sempurna sekali menjalankan agama Mahamat. Mereka tidak mau berbuat hanya untuk memenuhi hawa nafsu dan setiap yang mereka bicarakan dan perbuat semata-mata karena Tuhan yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Oh Parbati, beberapa tahun setelah wafat Mahamat akan ada orang yang buruk membunuh anak cucu Mahamat ini tanpa alasan yang benar. Tidak lain perbuatan (pembunuh) hanya untuk meraih kepentingan urusan duniawi. Seluruh dunia akan merasa kehilangan pimpinan karena kewafatan mereka. Pembunuh-pembunuh itu adalah Maliksh, ateis dan dilaknat dalam dua alam (makhluk di dunia dan di langit--pen). Mereka tidak akan dicintai oleh Mahamat dan mereka ini tidak pernah keluar dari Narkh (neraka). Tetapi mereka (pembunuh-pembunuh) berpura-pura/seakan-akan tetap memegang  agama Mahamat dan lambat laun lain-lainnya akan mengikuti mereka. Mereka akan menjalankan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Mahamat dan kedua cucunya (Al-Hasan &amp; Al-Husain). Hanya beberapa saja yang masih taat mengikuti ajaran Mahamat. Kebanyakan mereka mengikuti perjalanan pembunuh-pembunuh anak-anak Mahamat. Tapi mereka ini dalam samaran saja menjuluki diri mereka sebagai pengikut Mahamat dan pada akhir Kaljug banyak dari mereka Hypocriet (Munafiq) dan mereka akan membuat kekacauan/keonaran didunia “.&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Setelah ceritera semua diatas ini, Mahadevij juga ceritera mengenai akan munculnya Imam Mahdi, datangnya hari kiamat, masuknya surga Bibi Siti Fathimah dan pengikut-pengikutnya. Demikianlah sebagian isi terjemahan ramalan mengenai akan  datangnya seorang Rasulallah dalam catatan kitab Hindu Barm Uttar Khand.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: &lt;br /&gt;[1] Arab dikelilingi oleh Tiga lautan : Laut Mati, Laut Merah dan Laut Tengah. &lt;br /&gt;[2] Kant Bunjh berarti Pelayan Tuhan, yang dalam bahasa Arab adalah Abdullah, &lt;br /&gt;nama Ayah baginda Nabi saw. &lt;br /&gt;[3] Sank Rakhiya berarti kedamaian, yang dalam bahasa Arab adalah Amina, ibunda &lt;br /&gt;baginda Nabi saw. &lt;br /&gt;[4] Coba anda cek ayat alquran dimana Nabi saw berkata demikian. Surah 13:36. &lt;br /&gt;[5] Baginda Nabi saw dikaruniai putri bungsu yang bernama Fatimah az-zahra as, &lt;br /&gt;yang suci dari kesalahan dan dosa. &lt;br /&gt;[6] Al-Hasan as dan Al-Husain as adalah putra dari Fatimah as. &lt;br /&gt;[7] Sesuai dengan kenyataan yang telah kita lihat bahwa setelah baginda saw &lt;br /&gt;wafat, keturunan beliau dibunuh dan dauber-uber ke seluruh wilayah &lt;br /&gt;Arabia dan mayoritas masyarakat mengikuti rezim umayyah dibanding kedua putra baginda Nabi saw dan keturunannya. Bahkan mereka dan pengikutnya (dua putra fatimah as) disebut sebagai orang zindiq dan atheis dan pemberontak (Rafidhoh). &lt;br /&gt;[8] Kita juga melihat di era saat ini, banyak manusia-manusia yang ternyata &lt;br /&gt;pengikut rezim umayyah di masa lalu tersebut, seperti wahhabi, talliban, saddam dan pengikutnya telah menciptakan kekacauan di seluruh &lt;br /&gt;dunia dan menciptakan penyesatan tentang pemahaman terhadap Islam sebagai agama &lt;br /&gt;kerusuhan dan tidak toleran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-526240211832024180?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/526240211832024180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/kesyahidan-imam-husayn-as-diramalkan-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/526240211832024180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/526240211832024180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/kesyahidan-imam-husayn-as-diramalkan-di.html' title='Kesyahidan Imam Husayn as diramalkan di catatan kitab Hindu'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-6085251133299320478</id><published>2009-03-17T06:49:00.000+07:00</published><updated>2009-03-17T06:52:37.868+07:00</updated><title type='text'>Para Nabi, Sahabat, Ulama bahkan Yahudipun bertawasul, Mengapa anda tidak?</title><content type='html'>Berikuti ini kisah-kisah nyata terdahulu yang menunjukkan diperbolehkannya bertawasul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- Tawasul dengan amal soleh &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Ibnu 'Umar Rda., dari Nabi Muhammad Saw. beliau menceritakan : Adalah tiga orang berjalan ke luar kota, tiba-tiba hujan turun, maka mereka ketiganya masuk berlindung ke dalam sebuah gua pada suatu bukit. Kebetulan kemudian batu besar jatuh menutupi pintu gua mereka. Salah seorang di antara mereka berkata kepada kawannya : Berdo'alah kepada Tuhan dengan berkat amal saleh yang engkau kerjakan. Lalu salah seorang dari pada mereka berdo'a : Ya Allah, dahulu ada dua orang ibu-bapa saya yang sudah tua. Saya keluar menggembala dan saya perah susu gembalaanku lalu saya bawa susunya pulang. Saya beri minum ibu-bapak, anak-anakku, familiku dari isteriku dengan susu itu. Pada suatu hari saya terlambat pulang, saya dapati ibu-bapaku sudah tidur, saya tidak suka mengagetkan mereka dengan membangunkannya, padahal anak-anak bertangisan minta susu di bawah kakiku. Begitulah saya hingga sampai pagi.&lt;br /&gt;Ya Allah, kalau Engkau tahu bahwasanya saya memperbuat amal itu karena semata-mata karena ntengharapkan keredhaan Engkau, maka bukalah pintu gua ini sehingga kami dapat melihat langit. Maka pintu gua dibukakan oleh Tuhan sepertiganya" (Hadits sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim - lihat Sahih Bukhari II hal 17- 18). &lt;br /&gt;Orang yang berdua lagi berdo'a pula dengan do'a-do'a yang bertawassul juga sehingga pintu gua terbuka seluruhnya. &lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits yang kuat untuk dijadikan dalil atas sunnatnya berdo'a dengan tawassul.&lt;br /&gt;Pengarang kitab "Al Lulu wal Marjan fi Mattafaqa alaihis-Syaikhan" Foad al Baqi, memberi judul akan hadits ini dengan perkataan "Bab kessah ahli gua yang bertiga dan tawassul dengan amal saleh." (Al Lulu' wal Marjan jilid 1I1 pagina 305). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- Tawasul dengan Nabi Muhammad saw (baik yang terjadi sebelum kelahirannya, semasa hidup maupun sesudah wafatnya) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan setelah datang kepada mereka Kitab (al Quran) dari Tuhan di mana Kitab itu membenarkan Kitab yang ada di tangan mereka, yaitu kitab Taurat, padahal mereka pada masa dulunya (sebelum datang Nabi Muhammad) minta pertolongan kemenangan untuk mengalahkan orang-orang kafir. Tetapi manakala telah datang apa yang mereka telah ketahui, engkar pula kepadanya, maka kutuk (la'nat) Tuhan atas orang yang kafir itu". (Al Baqarah 89).&lt;br /&gt;Ayat di atas menceritakan halnya orang Yahudi yang tidak mau iman kepada Nabi Muhammad Saw., pada hal dahulu sebelum Nabi Muhammad Saw. lahir ke dunia mereka selalu mendo'a kepada Tuhan bertawassul dengan Nabi Muhammad Saw, yang akan lahir memohon untuk mengalahkan musuh mereka dalam peperangan. Akan tetapi setelah Nabi Muhammad Saw. benar-benar datang, mereka tidak iman dengan beliau. Orang ini dikutuk oleh Tuhan karena tidak imannya itu.&lt;br /&gt;Dalam memberikan tafsir dari ayat ini, Syeikh Abdul Jail Isa bekas guru Kulliyah Usuluddin dan Bahasa'Arab pada Universitas Azhar Kairo, menerangkan:&lt;br /&gt;"Mereka minta kemenangan dari Allah melawan orang musyrik dengan herkat Nabi Besar yang ditunggu" (Mushaf al Murassar, pagina 17). &lt;br /&gt;Syeikh Husen bin Makhluf al 'Adawi bekas Wakil Direktur Universitas al Azhar di Kairo berkata: &lt;br /&gt;"Ayat ini turun mengabarkan hal ihwal orang Yahudi keturunan kitab, yaitu Bani Quraizah dan Bani Nadhir yang ketika berperang melawan suku Aus dan Khazraj yang kafir. Mereka membuka kitab Taurat dan meletakkan tangannya di atas tulisan "Nabi yang akan lahir akhir zaman" dalam Taurat itu. Mereka mendo'a : Ya Allah, dengan berkat Nabi yang Engkau janjikan akan keluar akhir zaman, menangkanlah peperangan kami ini! Kemudian mereka memperoleh kemenangan dalam peperangan berkat kebesaran Nabi Muhammad Saw. tetapi sayang sekali karena kemudian setelah Nabi lahir sebagiannya orang Yahudi tidak mau iman kepada Nabi". (Hukum tawassul dengan Nabi-nabi dan Wali-wali, pagina 165). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berkata Rasulullah Saw. : Pada ketika telah membuat kesalahan Nabi Adam, ia bertaubat dan berkata : Hai Tuhan, saya mohon kepada-Mu dengan hak Muhammad supaya Kamu ampuni saya. Maka Tuhan menjawab : "Hai Adam, bagaimana engkau mengetahui Muhammad sedang ia belum dijadikan ? Adam rnenjawab : Hai Tuhan, setelah Engkau jadikan saya, saya mengangkat kepala melihat ke tiang Arsy di mana tertulis kalimat : Tidak ada tuhan Selain Allah Muhammad adalah utusan Allah. Maka saya tahu bahwa Engkau tidak akan menyertakan Nama Engkau, kecuali dengan nama orang yang Engkau kasihi.&lt;br /&gt;Maka Tuhan menjawab : Engkau benar hai Adam, ia adalah seorang laki-laki yang paling Aku kasihi, kalau engkau memohon kepada Aku dengan haknya, engkau Aku ampuni. Kalau tidaklah karena dia, engkau tidak akan Aku jadikan". (Hadits riwayat Imam Baihaqi dalam kitab Dalailu Nubuyah-Imam Hakim dan Imam Thabrani - Syawahidul Haq halaman 156). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tsa'labi mengisahkan: “Pada keempat harinya waktu Nabi Yusuf a.s. berada didalam sumur, Jibril a.s. mendatanginya dan bertanya: ‘Hai anak siapakah yang melempar engkau kesumur'? Jawab Yusuf as: ‘Saudara-saudaraku'. Jibril as. bertanya lagi: Mengapa?  Yusuf as berkata: ‘Mereka dengki karena kedudukanku di depan ayahku'. Jibril as. berkata: ‘Maukah engkau keluar darisini'?  Yusuf a.s.berkata mau. Jibril as berkata: ‘Ucapkanlah (do'a pada Allah swt.) sebagai berikut': ‘Wahai Pencipta segala yang tercipta, Wahai Penyembuh segala yang terluka, Wahai Yang Menyertai segala kumpulan, Wahai Yang Menyaksikan segala bisikan, Wahai Yang Dekat dan Tidak berjauhan, Wahai Yang Menemani semua yang sendirian, Wahai Penakluk yang Tak Tertakluk kan, Wahai Yang Mengetahui segala yang gaib, Wahai Yang Hidup dan Tak Pernah Mati, Wahai Yang Menghidupkan yang mati,Tiada Tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, aku bermohon kepada-Mu Yang Empunya pujian, Wahai Pencipta langit dan bumi, Wahai Pemilik Kerajaan, Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan, aku bermohon agar Engkau sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, berilah jalan keluar dan penyelesaian dalam segala urusan dan dari segala kesempitan, Berilah rezeki dari tempat yang aku duga dan dari tempat yang tak aku duga ' “.&lt;br /&gt;Lalu Yusuf a.s. mengucapkan do'a itu. Allah swt. mengeluarkan Yusuf a.s. dari dalam sumur, menyelamatkannya dari reka-daya saudara-saudara nya. Kerajaan Mesir didatangkan kepadanya dari tempat yang tidak diduganya”. ( At Tsa'labi 157, Fadhail Khamsah 1:207).&lt;br /&gt;Lihat riwayat ini,  Nabi Yusuf as. diajari oleh Jibril as. untuk berdo'a pada Allah swt. agar bisa cepat keluar dari sumur dengan sholawat serta tawassul kepada Rasulullah saw.dan keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan; ketika Fathimah binti Asad meninggal dunia, Rasulullah saw. datang dan duduk di sisi kepalanya sembari bersabda: ‘Rahimakillah ya ummi ba'da ummi ‘ (Allah merahmatimu wahai ibuku pasca ibu [kandung]-ku). Kemudian beliau saw. menyebutkan pujian terhadapnya, lantas mengkafaninya dengan jubah beliau. Kemudian Rasulallah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Kemudian mereka menggali liang kuburnya. Sesampai di liang lahat, Rasulallah saw. sendiri yang menggalinya dan mengeluarkan tanah lahat dengan meng- gunakan tangan beliau saw.. Setelah selesai (menggali lahat), kemudian Rasulallah saw. berbaring disitu sembari berkata: ‘Allah Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Yang selalu hidup, tiada pernah mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Perluaskanlah jalan masuknya, demi Nabi-Mu dan para nabi sebelumku ”. (Lihat: Kitab al-Wafa' al-Wafa')&lt;br /&gt;Hadits yang serupa diatas yang diketengahkan oleh At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath. Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, ketika Fathimah binti Asad (isteri Abu Thalib, bunda Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw.) wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk kedalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda:&lt;br /&gt;“Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku (panggilan ibu, karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya), lapangkanlah kuburnya dengan demi Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri) dan demi para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang”. Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah itu beliau saw. bersama-sama Al-‘Abbas dan Abu Bakar (radhiyallahu ‘anhumaa) memasukkan jenazah Fathimah binti Asad kedalam lahad. ( At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.)&lt;br /&gt;Pada hadits itu Rasulallah saw. bertawassul disamping pada diri beliau sendiri juga kepada para Nabi sebelum beliau saw.! Dalam hadits itu jelas beliau saw. berdo'a kepada Allah swt. sambil menyebutkan dalam do'anya demi diri beliau sendiri dan demi para Nabi sebelum beliau saw. Kalau ini bukan dikatakan sebagai tawassul, mengapa beliau saw. didalam do'anya menyertakan kata-kata demi para Nabi ? Mengapa beliau saw. tidak berdo'a saja tanpa menyebutkan ...demi para Nabi lainnya ?&lt;br /&gt;Dalam kitab Majma'uz-Zawaid jilid 9/257 disebut nama-nama perawi hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban, Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin Malik.&lt;br /&gt;Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu ‘Abdul Birr meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya dari Abu Nu'aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan dari sumber-sumber yang saling memperkuat kebenarannya.&lt;br /&gt;Hadits di atas jelas sekali bagaimana Rasulallah bersumpah demi kedudukan (jah) yang beliau saw. miliki, yaitu kenabian, dan kenabian para pendahulunya yang telah wafat, untuk dijadikan sarana (wasilah) pengampunan kesalahan ibu (angkat) beliau, Fathimah binti Asad. Dan dari hadits di atas juga dapat kita ambil pelajaran, bagaimana Rasulallah saw. memberi ‘berkah' (tabarruk) liang lahat itu untuk ibu angkatnya dengan merebahkan diri di sana, plus mengkafani ibunya tersebut dengan jubah beliau.&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan juga oleh lbnu Habban dan al Hakirn vang mana keduanya behau itu mtngatakan bahwa hadits iru adalah hadits yang sahih. Saidina Muhammad Saw. bertawassul dalam do'a ini dengan diri beliau sendiri sebagai Nabi dan dengan Nabi yang lain sebelumnya yaitu perkataan beliau bihaqqi Nabiyika wal Anbiya alazdina min qabli'. &lt;br /&gt;Kalau ada orang yang memfatwakan bahwa bertawassul itu syirik, maka ia langsung telah menuduh Nabi Muhammad Saw. dan orang-orang Islam pengikut Nabi dengan syirik. Na'udzubillah ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ustman bin Hunaif yang mengatakan:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah datang seorang lelaki yang tertimpa musibah (buta matanya) kepada Nabi saw. Lantas lelaki itu mengatakan kepada Rasulllah; ‘Berdo'alah kepada Allah untukku agar Dia (Allah swt) menyembuhkanku!'. Kemudian Rasulallah ber- sabda: ‘Jika engkau menghendaki maka aku akan menundanya untukmu, dan itu lebih baik. Namun jika engkau menghendaki maka aku akan berdo'a (untukmu)'. Kemudian dia (lelaki tadi) berkata: ‘Mohonlah kepada-Nya (untukku)!'. Rasulallah memerintahkannya untuk mengambil air wudhu, kemudian ia berwudhu dengan baik lantas melakukan shalat dua rakaat. Kemudian ia (lelaki tadi) membaca do'a tersebut:&lt;br /&gt;‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku datang menghampiri-Mu, demi Muhammad sebagai Nabi yang penuh rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku telah datang menghampirimu untuk menjumpai Tuhanku dan meminta hajatku ini agar terkabulkan. Ya Allah, jadikanlah dia sebagai pemberi syafa'at bagiku'.&lt;br /&gt;Utsman bin Hunaif berkata; ‘Demi Allah, belum sempat kami berpisah, dan belum lama kami berbicara, sehingga laki-laki buta itu menemui kami dalam keadaan bisa melihat dan seolah-olah tidak pernah buta sebelumnya".&lt;br /&gt;HR. Imam at-Turmudzi dalam “Sunan at-Turmudzi” 5/531 hadits ke-3578; Imam an-Nasa'i dalam kitab “as-Sunan al-Kubra” 6/169 hadits ke-10495; Imam Ibnu Majah dalam “Sunan Ibnu Majah” 1/441 hadits ke-1385; &lt;br /&gt;Imam Ahmad dalam “Musnad Imam Ahmad” 4/138 hadits ke-16789; al-Hakim an-Naisaburi dalam “Mustadrak as-Shohihain” 1/313; as-Suyuthi dalam kitab “al-Jami' as-Shoghir” halaman 59; Sunan Ibnu Majah, jilid 1, hal 331; Mustadrak al-Hakim, jilid 1, hal 313 ; Talkhish al-Mustadrak, adz-Dzahabi dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Baihaqi, dua orang ahli hadits yang terkenal, bahwa seorang pria datang berulang-ulang mau menghadap Saidina Utsman bin Affan (pada ketika beliau menjabat Khalifah). &lt;br /&gt;Saidina Utsman bin Affan tidak memperhatikan hal orang ini sehingga ia tidak dapat berjumpa dengan Khalifah. &lt;br /&gt;Pria ini mengadu kepada Utsman bin Hanif (sahabat Nabi yang tersebut kisahnya dalam dalil keempat). &lt;br /&gt;Utsman bin Hanif berkata kepada pria tadi : Bawalah kemari tempat berwudhu' dan berwudhu'lah engkau. Kemudian datanglah ke mesjid dan sembahyang di sana. Sesudah sembahyang bacalah do'a &lt;br /&gt;"Ya Allah, saya bermohon dan menghadap kepada-Mu dengan Nabi kami Muhammad, Nabi yang membawa rahmat. Hai Muhammad, saya menghadapkan mukaku dengan engkau kepada Tuhan, supaya permintaan saya diterima". Yang mendo'a menyebutkan apa yang dimintanya itu. &lt;br /&gt;Pria ini mengerjakan apa yang diajarkan oleh Utsman bin Hanif dan sesudah itu lalu ia datang kepada Khalifah Saidina Utsman bin Affan, di mana ia lantas dengan mudah berjumpa dengan Khalifah dan menyampaikan maksudnya. Kemudian pria ini berjumpa dengan Utsman bin Hanif dan menanyakan apakah ada membicarakan persoalannya dengan Khalifah, karena kedatangannya yang akhir diterima dengan mudah. &lt;br /&gt;Utsman bin Hanif menerangkan bahwa ia tak pernah berjumpa dan membicarakan dengan Khalifah tentang soal pria itu. Utsman bin Hanif menceritakan seterusnya bahwa seorang laki-laki dulu yang buta matanya datang kepada Rasulullah minta syafa'at (bantuan) supaya sakit matanya hilang, lalu Utsman bin Hanif mengajarkan hadits (yang tersebut dalam dalil keempat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwasanya kemarau menimpa manusia pada zaman Khalifah Umar bin Khatab Rda. Seorang sahabat Nabi yang utama bernama Bilal bin Harits datang ke makam Nabi Muhammad Saw. di Madinah dan berziarah kepada beliau. Pada ketika itu ia berkata : Hai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk ummat engkau karena mereka hampir binasa. Maka datang Rasulullah kepadanya (dalam mimpi) mengabarkan bahwa hujau akan turun". (Hadits ditiriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan suatu kisah bahwa Khalifah Abbasiyah yang ke II Manshur, naik Haji ke Mekkah dari Bagdad. Sesudah mengerjakan haji beliau datang di Madinah untuk menziarahi makam Nabi Muhammad Saw. Pada ketika itu Imam Malik bin Anas (pembangun Madzbab Maliki) ada bersama beliau di mesjid Madinah. Khalifah Manshur bertanya kepada Imam Malik : &lt;br /&gt;"Hai Abu Abdillah (gelar Imam Malik)! Sesudah ziarah dan hendak mendo'a, apakah saya harus menghadap Ka'bah atau mendo'a menghadap Rasulullah ?"&lt;br /&gt;Imam Malik menjawab: Janganlah engkau palingkan mukamu dari padanya karena beliau adalah wasilah engkau dan wasilah bapak engkau Adam kepada Allah. Menghadaplah kepadanya dan minta syafa'atlah dengan dia, maka Allah akan memberi syafa'at-Nya kepadamu. Tuhan berfirman : "Kalau manusia ini menganiaya dirinya (dengan berbuat dosa) datang menghadapmu (Hai Muhammad), maka mereka minta ampun kepada Allah (di hadapanmu) dan Rasul memintaampunkan pula, niscaya Allah Penerima taubat dan Penyayang". (Lihat Syawahidul Haq halaman 156). &lt;br /&gt;Cerita ini diterangkan oleh Qadhi Ijadh dalam kitab Syifa' dan oleh Imam Qasthalan dalam kitab Muwahibuladuniyah, oleh Imam Subki dalam kitab "Syifaus Siqam fi Ziyarati Khairil Anaam" oleh Sayid Samhudi dalam kitab Khulasatul Wafa' dan oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfatuz Zuwar. &lt;br /&gt;Berkata Ibnu Hajar, bahwa cerita Imam Malik dan Khalifah Manshur itu adalah cerita yang sahih berdasarkan sand-sanad yang baik. Kisah ini mendapat perhatian sungguh dari ulama-ulama ahli hukum syari'at karena yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah wasilah Khalifah dan wasilah Adam, adalah Imam Malik seorang lama Islam yang terkenal, pengarang kitab Muwatha'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- Tawasul pada Orang-orang saleh (baik hidup maupun wafat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan oleh ‘Aufa al-‘Aufa dari Abi Said al-Khudri, bahwa Rasulallah saw. pernah menyatakan: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) maka hendaknya mengatakan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu demi para pemohon kepada-Mu . Dan aku memohon kepada-Mu, demi langkah kakiku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat aniaya, sewenang-wenang, ingin pujian dan ber- bangga diri. Aku keluar untuk menjauhi murka-Mu dan mengharap ridho-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau jauhkan diriku dari api neraka. Dan hendaknya Engkau ampuni dosaku, karena tiada dzat yang dapat menghapus dosa melainkan diri-Mu'. Niscaya Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya kepadanya dan memberinya balasan sebanyak tujuh puluh ribu malaikat ”. ( Lihat : Kitab “Sunan Ibnu Majah”, 1/256 hadits ke-778 bab berjalan untuk melakukan shalat)&lt;br /&gt;Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa, Rasulallah saw. mengajarkan kepada kita bagaimana kita berdo'a untuk menghapus dosa kita dengan menyebut (bersumpah dengan kata ‘demi') diri (dzat) para peminta do'a dari para manusia sholeh dengan ungkapan ‘Bi haqqi Saailiin ‘alaika‘ (demi para pemohon kepada-Mu), Rasulallah saw. disitu tidak menggunakan kata ‘Bi haqqi du'a Saailiin ‘alaika' (demi do'a para pemohon kepada-Mu), tetapi langsung menggunakan ‘diri pelaku perbuatan' (menggunakan isim fa'il). Dengan begitu berarti Rasulallah saw. membenarkan –bahkan mengajarkan– bagaimana kita bertawassul kepada diri dan kedudukan para manusia sholeh kekasih Ilahi (wali Allah) –yang selalu memohon kepada Allah swt.– untuk menjadikan mereka sebagai sarana penghubung antara kita dengan Allah swt. dalam masalah permintaan syafa'at, permohonan ampun, meminta hajat dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Ibnu Abbas mengucapkan kalimat berikut setelah Imam Ali syahid. Ia memohon pertolongan kepada orang yang telah di anggap meninggal. Ketika kematian Abdullah bin Abas mendekati ia berkata “ Ya Allah, aku mendekatkan diri kepadaMu dengan berwilayah kepada Ali bin Abi Thalib. “ 3 (Fada’il ash-Shahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal 662, Hadis 1129; ar-Riyadh an-Nadhirah, Muhibuddin Thabari, jilid 3, bal. 167; Manaqib Ahmad)&lt;br /&gt;Perhatikanlah bahwa Ibnu Abbas wafat pada tahun 68/687 dua puluh delapan tahun setelah Imam Ali wafat. Apabila bertawassul kepada orang  yang sudah meninggal dianggap perbuatan syirik, Ibnu Abbas tidak akan berkata demikian dan Ahmad bin Hanbal tidak akan meriwayatkan peristiwa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayidina Umar bertawasul kepada Sayyidina Abbas. &lt;br /&gt;"Dari Anas (bin Malik), bahwasanya 'Umar bin Khatab Rda. adalah apabila terjadi kemarau, minta hujan ia dengan Abas bin Abdul Muthalib, maka beliau berkata : "Ya Allah bahwasanya kami telah tawassul kepada Engkau dengan Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan, dan sekarang kami tawassul kepada Engkau dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan itu." (Hadits ini dirawikan oleh Imam Bukhari dan Baihaqi - lihat Sahih Bukhari I hal. 128 dan Baihaqi (Sunan al Kubra) II hal. 352).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Tuhan menyinari hati kita dengan cahaya-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : lihat masalah tawasul dalam http://kawansejati.ee.itb.ac.id/; dsb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-6085251133299320478?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/6085251133299320478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/para-nabi-sahabat-ulama-bahkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/6085251133299320478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/6085251133299320478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/para-nabi-sahabat-ulama-bahkan.html' title='Para Nabi, Sahabat, Ulama bahkan Yahudipun bertawasul, Mengapa anda tidak?'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-2209804493293897731</id><published>2009-03-13T08:15:00.000+07:00</published><updated>2009-03-13T08:19:44.181+07:00</updated><title type='text'>Kelak akan datang dua belas Imam ...</title><content type='html'>Jabir bin Samurah meriwayatkan: Saya mendengar Nabi (saw) berkata: ”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih al-Bukhari (Bahasa Inggris),  Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam;  Sahih al-Bukhari, (Bhs Arab), 4:165, Kitabul Ahkam] &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Nabi (saw) bersabda:  "Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Hadis no. 4483; Sahih Muslim (Bhs Arab), Kitab al-Imaara, 1980 Edisi Saudi Arabia, v3, p1453, Hadis no.10] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Dua Belas Penerus Nabi (s.a.w)itu? Apa yang dikatakan para Ulama Sunni: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn al-'Arabi:  Kami telah menghitung pemimpin (Amir-Amir) sesudah Nabi (saw) ada dua belas. Kami temukan nama-nama mereka itu sebagai berikut: Abubakar, Umar, Usman, Ali, Hasan, Muawiyah, Yazid, Muawiyah bin Yazid, Marwan, Abdul Malik bin Marwan, Yazid bin Abdul Malik, Marwan bin Muhammad bin Marwan, As-Saffah... Sesudah ini ada lagi 27 khalifah Bani Abbas.   Jika kita perhitungkan 12 dari mereka, kita hanya sampai pada Sulaiman. Jika kita ambil apa yang tersurat saja, kita cuma mendapatkan 5 orang di antara mereka dan kepadanya kita tambahkan 4 ‘Khalifah Rasyidin’, dan Umar bin Abdul Aziz….  Saya tidak paham arti hadis ini. [Ibn al-'Arabi, Sharh Sunan Tirmidhi, 9:68-69] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Qadi 'Iyad al-Yahsubi:  Jumlah khalifah yang ada lebih dari itu. Adalah keliru &lt;br /&gt;untuk membatasinya hanya sampai angka dua belas. Nabi (saw) tidak mengatakan bahwa jumlahnya hanya dua belas dan bahwa tidak ada tambahan lagi. Maka mungkin saja jumlahnya lebih banyak lagi. [Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim, 12:201-202;  Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, 16:339] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalal al-Din al-Suyuti: Hanya ada dua belas Khalifah sampai Hari Pengadilan. Dan mereka akan terus melangkah dalam kebenaran, meski mungkin kedatangan mereka tidak secara berurutan. Kita lihat bahwa dari yang dua belas itu, 4 adalah Khalifah Rasyidin, lalu Hasan, lalu Muawiyah, lalu Ibnu Zubair, dan akhirnya Umar bin Abdul Aziz. Semua ada 8. Masih sisa 4 lagi. Mungkin Mahdi, Bani Abbasiyah bisa dimasukkan ke dalamnya sebab dia seorang Bani Abbasiyah seperti Umar bin Abdul Aziz yang (berasal dari) Bani Umayyah. Dan Tahir Abbasi juga bisa dimasukkan sebab dia pemimpin yang adil. Jadi, masih dua lagi. Salah satu di antaranya adalah Mahdi, sebab ia berasal dari Ahlul Bait (keluarga) Nabi (as).”  [Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, Halaman 12;  Ibn Hajar al-Haytami, Al-Sawa'iq al-Muhriqah Halaman 19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Hajar al-'Asqalani: Tidak seorang pun mengerti tentang hadis dari Sahih &lt;br /&gt;Bukhari ini.  &lt;br /&gt;Adalah tidak benar untuk mengatakan bahwa Imam-imam itu akan hadir sekaligus pada satu saat bersamaan. [Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:338-341] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn al-Jawzi:  Khalifah pertama Bani Umayyah adalah Yazid bin Muawiyah dan yang terakhir adalah Marwan Al-Himar. Total jumlahnya tiga belas. Usman, Muawiyah dan Ibnu Zubair tidak termasuk karena mereka tergolong Sahabat Nabi (s).  Jika kita kecualikan (keluarkan) Marwan bin Hakam karena adanya kontroversi tentang statusnya sebagai Sahabat atau karena ia berkuasa padahal Abdullah bin Zubair memperoleh dukungan masyarakat, maka kita mendapatkan angka Dua Belas.… Ketika kekhalifahan muncul dari Bani Umayyah, terjadilah kekacauan yang besar sampai kukuhnya kekuasaan) Bani Abbasiyah. Bagaimana pun, kondisi awal telah berubah total. [Ibn al-Jawzi, Kashf al-Mushkil, sebagaimana dikutip dalam Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari 16:340 dari Sibt Ibn al-Jawzi] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Nawawi:  Ia bisa saja berarti bahwa kedua belas Imam berada dalam masa (periode) kejayaan Islam. Yakni ketika Islam (akan) menjadi dominan sebagai agama. Para Khalifah ini, dalam masa kekuasaan mereka, akan menyebabkan agama menjadi mulia. &lt;br /&gt;[Al-Nawawi, Sharh Sahih Muslim ,12:202-203] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bayhaqi:  Angka (dua belas) ini dihitung hingga periode Walid bin Abdul Malik. Sesudah ini, muncul kerusakan dan kekacauan. Lalu datang masa dinasti Abbasiyah. Laporan ini telah meningkatkan jumlah Imam-imam. Jika kita abaikan karakteristik mereka yang datang sesudah masa kacau-balau itu, maka angka tadi menjadi jauh lebih banyak.” [Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249; Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa Halaman 11] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Kathir:  Barang siapa mengikuti Bayhaqi dan setuju dengan pernyataannya bahwa kata ‘Jama’ah’ berarti Khalifah-khalifah yang datang secara tidak berurutan hingga masa Walid bin Yazid bin Abdul Malik yang jahat dan sesat itu, maka berarti ia (orang itu) setuju dengan hadis yang kami kritik dan mengecualikan tokoh-tokoh tadi.   Dan jika kita menerima Kekhalifahan Ibnu Zubair sebelum Abdul Malik, jumlahnya menjadi enam belas. Padahal jumlah seluruhnya seharusnya dua belas sebelum Umar bin Abdul Aziz. Dalam perhitungan ini, Yazid bin Muawiyah termasuk di dalamnya sementara Umar bin Abdul Aziz tidak dimasukkan.  Meski demikian, sudah menjadi pendapat umum bahwa para ulama menerima Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang Khalifah yang jujur dan adil.  &lt;br /&gt;[Ibn Kathir, Ta'rikh, 6:249-250] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara simpang siur pendapat tersebut, Ulama terkenal Al-Dhahabi mengatakan dalam bukunya Tadzkirat al-Huffaz , jilid 4, halaman 298, dan Ibn Hajar al-'Asqalani menyatakan dalam al-Durar al-Kaminah, jilid 1, hal. 67 bahwa Sadruddin Ibrahim bin Muhammad bin al-Hamawayh al-Juwayni al-Shafi'i  (disingkat Al-Juwayni) adalah seorang ahli Hadis yang mumpuni. Al-Juwayni menyampaikan dari Abdullah bin Abbas (ra) bahwa Nabi (sawa) mengatakan,”Saya adalah penghulu para Nabi dan Ali bin Abi Thalib adalah pemimpin para penerus, dan sesudah saya akan ada dua belas penerus. Yang pertama  adalah Ali bin Abi Thalib dan yang terakhir adalah Al-Mahdi.”  &lt;br /&gt;Al-Juwayni juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas (r) bahwa Rasulullah (sawa) berkata: ”Sudah pasti bahwa wakil-wakilku dan Bukti Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.”  Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?”. Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “ Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (sawa) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan &lt;br /&gt;keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangkatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku  kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (a.s.) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”  &lt;br /&gt;Al-Juwayni juga meriwayatkan bahwa Rasulullah (sawa) mengatakan: ”Aku dan Ali dan Hasan dan Husain dan sembilan anak cucu Husain adalah yang disucikan (dari dosa) dan dalam kebenaran.”  [Al-Juwayni, Fara'id al-Simtayn, Mu'assassat al-Mahmudi li-Taba'ah, Beirut 1978, p. 160.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://al-islam.org/faq/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-2209804493293897731?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/2209804493293897731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/kelak-akan-datang-dua-belas-imam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/2209804493293897731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/2209804493293897731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/kelak-akan-datang-dua-belas-imam.html' title='Kelak akan datang dua belas Imam ...'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-8704793909886631332</id><published>2009-03-09T10:15:00.000+07:00</published><updated>2009-03-09T10:24:25.570+07:00</updated><title type='text'>Ijtihad Umar bin Khathab?</title><content type='html'>Sunnah-sunnah khalifah Umar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal yang sejahtera adalah melebihi 50 perkara sebagaimana dicatat oleh para ulama Ahlu s-Sunnah di dalam buku-buku mereka.Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (swt).Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (Saw.) yang bertentangan dengan sunnah Umar? Berikut dikemukakan sebagian daripada sunnah khalifah Umar tang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal yang sejahtera :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Umar telah menghalang Nabi (Saw.) dari menulis sunnahnya yang terakhir.Lantas Nabi (Saw.) mengusir Umar dan kelompoknya supaya keluar dari rumahnya. (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Umar dan kelompoknya bertengkar di hadapan Nabi (Saw.) bagi menentang sunnahnya supaya dibawa kepadanya pensil dan kertas untuk menulis wasiatnya (sunnahnya). (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Umar telah memisahkan Kitab Allah daripada Nabi SAWA ketika dia berkata di hadapan Nabi (Saw.): "Kitab Allah adalah cukup bagi kita”. Kata-kata Umar adalah secara langsong merendah martabat Nabi (Saw.).( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Umar tidak mempercayai kemaksuman Nabi (Saw.) ketika dia berkata : “cukuplah bagi kita Kitab Allah” Kata-katanya itu ditentang oleh Nabi (Saw.) sendiri . Lalu beliau (Saw.) menjadi marah dan terus mengusir khalifah Umar serta kelompoknya supaya keluar. (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Umar telah mengatakan bahwa Nabi (Saw.) sedang meracau (yahjuru). maka permintaan beliau (Saw.) supaya dibawa pensil dan kertas untuk beliau menulis perkara-perkara yang tidak akan menyesatkan ummatnya selama-lamanya tidak perlu dilayani lagi.[Muslim, Sahih, III, hlm. 69; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36] Justeru itu sunnah Umar adalah bertentangan dengan firman-Nya di dalam Surah al-Najm (53):3-4:"Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;6. Umar telah melarang orang ramai dari meriwayat dan menulis Sunnah Nabi (Saw.). Umar berkata:"Hasbuna Kitabullah (Kitab Allah adalah cukup bagi kita)." [Al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36] Sunnahnya adalah bertentangan dengan sunnah yang dipopularkan oleh Ahlul Sunnah:"Aku tinggalkan pada kalian dua perkara selama kalian berpegang kepada kedua-duanyaKitab Allah dan Sunnahku." Lantaran itu,khalifah Umar bertegas bahwa dia tidak perlu kepada sunnah Nabi (Saw.) di hadapan Nabi (Saw.) sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7. Umar telah membakar sunnah Nabi (Saw.) Ibn Sa'd dalam Tabaqatnya, V hlm. 140 meriwayatkan bahwa apabila hadith atau Sunnah Nabi (Saw.) banyak diriwayat dan dituliskan pada masa Umar bin al-Khattab, maka dia menyeru orang ramai supaya membawa kepadanya semua hadith-hadith yang ditulis, kemudian dia memerintahkan supaya hal itu dibakar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. Umar telah menahan tiga orang sahabat di Madinah sehingga mati, karena meriwayatkan banyak hadith Rasulullah (Saw.). Mereka ialah Ibn Mas'ud, Abu Darda' dan Abu Mas'ud al-Ansari.[al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I,hlm. 8; al-Haithami, Majma al-Zawaid,I,hlm. 149; al-Hakim, al-Mustadrak,I,hlm. 110] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;9. Umar berkata: Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi,karena kitab Allah sudah cukup bagi kita” .( al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;10. Umar percaya bahwa sunnahnya adalah lebih baik daripada sunnah Nabi (Saw.) umpamanya menambahkan hukum sebat bagi peminum arak dari 40 sebatan kepada 80 kali sebatan.[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;11. Umar meragukan Nabi (Saw.) dan kaum Muslimin sama ada berada di dalam kebenaran ataupun kebatilan. Ia bertanya Nabi (Saw.):"Adakah kita berada di dalam kebenaran dan mereka (kafir) berada dai dalam kebatilan? Adakah orang yang terbunuh di pihak kita akan memasuki syurga? Dan orang yang terbunuh di pihak mereka ke neraka? Nabi (Saw.) menjawab:"Ya, dan akhirnya Nabi (Saw.) menegaskan kepadanya:"Wahai Ibn al-Khattab, sesungguhnya aku ini adalah Rasulullah dan Allah tidak akan mengabaikan aku."Umar beredar dari Nabi SAWA dengan marah (muthaghayyizan), kemudian dia berjumpa Abu Bakar lalu ia mengemukakan persoalan yang sama, lantas Abu Bakar menyakinkan dia bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah dan Allah tidak akan mengabaikannya.[Muslim, Sahih,IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;12. Umar adalah perencana utama dalam rencana membakar rumah Fatimah (a.s) karena memaksa Ali (a.s) supaya memberi membai'ah kepada Abu Bakar. Sunnahnya itu adalah membelakangi firman Tuhan (Surah al-Ahzab (33):33:"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." Fatimah (a.s)adalah di kalangan Ashab al-Kisa' yang disucikan oleh Allah (swt). Umar berkata:"Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai'ah kepada Abu Bakar."[Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida, Tarikh, I, hlm. 156]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;13. Umar dan kelompoknya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepada Abu Bakr di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah , I ,hlm.18-20, al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,iii,hlm.139;Abul-Fida,Tarikh,I,hlm.159;al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159]. Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (Saw.) yang bersifat lembut terhadap Ali a.s dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya,maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap jawatan khalifah.(al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.144,al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal ,vi,hlm.2180)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;14. Umar dan kelompoknya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Dia berwasiat kepada suaminya Ali A.S supaya Abu Bakr dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke atasnya. Karena perbuatan mereka berdua yang menyakitkan hatinya,khususnys mengenai Fadak [Al-Bukhari,Sahih ,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159]. Nabi (Saw.) bersabda:" Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan redha dengan keredhaanmu." [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;15. Umar telah mengingkari kematian Nabi (Saw.). Dia tidak mengetahui bahwa kematian adalah harus bagi Nabi (Saw.). Dia berkata:"Siapa yang mengatakan bahwa Nabi telah mati, aku akan membunuhnya dengan pedangku." Abu Bakar datang dan berkata kepadanya:"Tidakkah anda mendengar firman Allah (swt) (di dalam Surah al-Zumar (39):30,"Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)" dan firman-Nya (di dalam Surah Ali Imran (3):144),"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sesungguhnya telah berlaku sebelumnya beberapa orang Rasul.Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?" Maka Umar pun berkata:"Aku yakin dengan kematiannya seolah-olah aku tidak mendengar ayat-ayat tersebut."[al-Syarastani, al-Milal,I,hlm. 23; al-Bukhari, Sahih,VII, hlm.17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana khalifah Umar berkata:"Kitab Allah adalah cukup bagi kita" ketika dia melarang Nabi (Saw.) dari menulis wasiatnya di mana ummat tidak akan sesat selama-lamanya, sedangkan dia tidak mengetahui ayat-ayat tersebut sehingga Abu Bakar datang dan membacakan kepadanya? Dan tindakan Umar yang tidak mempercayai kewafatan Nabi (Saw.) tidak dapat difahami sebagai kasihnya yang teramat sangat kepada Nabi (Saw.). Karena dia telah berkata bahwa Nabi (Saw.) sedang meracau dan Kitab Allah adalah cukup bagi kita. Lalu dia melarang Nabi (Saw.) dari melaksanakan apa yang dikehendakinya.[al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, II, hlm. 69]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kata-kata Abu Bakar pula menyokong pendapat Umar. Dia berkata:"Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati." Ini berarti wahai orang yang bermegah ke atas kami dengan Muhammad, habislah mereka karena peranannya sudah selesai. Kitab Allah adalah cukup bagi kita karena hal itu hidup. Persoalan yang timbul "Adakah kaum Muslimin pada masa itu menyembah Muhammad?" Tidak. Mungkin ini adalah satu sindiran kepada Bani Hashim secara umum dan Ali bin Abi Talib secara khusus. Karena mereka bermegah dengan Muhammad. Nabi (Saw.), dari kalangan mereka. Dan merekalah keluarganya, dan orang yang paling berhak daripada orang lain, karena mereka lebih mengetahuikedudukan Nabi (Saw.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau adakah tindakan Umar yang ingin membunuh siapa saja yang berkata Muhammad telah mati itu merupakan tindakan politik sehingga dia dapat melambat-lambatkan kepercayaan kaum Muslimin bahwa Nabi (Saw.) telah mati. Dan dengan ini perancanaannya dapat dilaksanakan sehingga segala-galanya diatur dengan baik. Sejurus kemudian dia diberitahu secara sulit bahwa perdebatan di Saqifah sedang berlaku. Lantas dia, Abu Bakar dan Abu Ubaidah meninggalkan jenazah Nabi (Saw.) menuju Saqifah tanpa diketahui oleh Bani Hasyim. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;16. Umar telah melarang mahr (mas kahwin) yang tinggi. Dia berkata:"Sesiapa yang menaikkan mahr anak perempuannya, aku akan mengambilnya dan menjadikannya milik Baitul Mal." Sunnah Umar telah ditentang oleh seorang wanita lalu dia membaca firman Tuhan di dalam Surah al-Nisa' (4):20"Sekiranya kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambilnya kembali barang sedikitpun."Umar menjawab:"Orang ramai lebih alim daripada Umar sehingga gadis-gadis sunti di rumah-rumah."[Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib,II, hlm. 175; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur,II, hlm. 133) Kata-kata Umar itu tidak dapat difahami sebagai tawadhuk, karena ia melibatkan hukum Allah SWT. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;17. Umar telah mengharamkan haji tamattu'. hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi SAWA yang tidak pernah mengharamkannya [Ibn Kathir, Tafsir,I,hlm. 233; al-Bukhari, Sahih, VII, hlm. 33]. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;18. Umar tidak melaksanakan hukum had ke atas Mughirah bin Syu'bah yang dituduh berzina dengan Umm Jamil isteri kepada Hajaj bin Atiq bin al-Harith bin Wahab al-Jusyami dengan berkata:"Aku sedang melihat muka seorang lelaki di mana Allah tidak akan mencemarkan lelaki Muslim dengannya." Maka saksi tersebut tidak memberikan penyaksiannya yang tepat karena mengikut kehendak Umar. Di dalam riwayat yang lain Umar memberi isyarat kepada saksi yang keempat supaya tidak memberika keterangan yang tepat. Keempat orang saksi tersebut telah memberi penyaksian yang tepat semasa mereka di Basrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Umar mengadakan pengadilan yang kedua di Madinah. Apabila saja saksi yang keempat tidak memberikan penyaksian yang tepat sebagaimana diberikannya di Basrah, maka Umar pun melakukan had ke atas tiga saksi tersebut. Seorang saksi bernama Abu Bakar berkata:"Demi Allah, Mughirah telah melakukannya. Umar ingin mengenakan had ke atasnya kali kedua."Ali AS berkata:"Jika anda melakukannya maka rejamlah al-Mughirah bin Syu'bah tetapi dia enggan melakukannya."[Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 448; Ibn Hajr, al-Isabah, III, hlm. 452; Ibn Athir, Usd al-Ghabah, IV, hlm. 407; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, III, hlm. 88]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;19. Umar telah memerintahkan supaya di rejam seorang wanita gila (yang berzina). Maka Ali (a.s) memperingatkannya dan berkata:"Qalam diangkat daripada orang gila sehingga dia sembuh."Umar pun berkata:"Sekiranya tidak ada Ali, niscaya binasalah Umar."[Ibn Abd al-Birr, al-Isti'ab, III, hlm. 39; al-Tabari, Dhakhair al-Uqba, hlm. 80] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;20. Umar tidak membenarkan orang Islam yang bukan Arab mewarisi pusaka keluarga mereka melainkan mereka dilahirkan di negeri Arab.[Malik, al-Muwatta,II, hlm.12] maka ijtihad Umar adalah bertentangan dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.) yang tidak membedakan seseorang melainkan dengan taqwa dan hal itu juga mengandungi sifat asabiyah sebagaimana firmanNya di dalam Surah al-Hujurat (49):10:"Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu adalah bersaudara." Dan Nabi (Saw.) bersabda:"Tidak ada kelebihan orang Arab ke atas bukan Arab melainkan dengan taqwa."[Al-Haithami, Majma'al-Zawa'id, III, hlm. 226].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;21. Umar tidak pernah mengadakan korban (penyembelihan) karena khuatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib.[al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra,IX, hlm. 265; Syafi'i, al-Umm, II, hlm. 189] Sunnahnya adalah bertentangan dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.)yang menganjurkan  amalan tersebut. Dan kaum Muslimin sehingga hari ini mengetahui hal itu adalah sunat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;22. Umar mengakui bahwa dia tidak mengetahui tentang al-Qur'an, hukum halal-haram dan masalah pusaka. Dia berkata:"Siapa yang ingin bertanya tentang al-Qur'an, maka hendaklah dia bertanya kepada Ubayy bin Ka'ab. Sesiapa yang ingin mengetahui halal dan haram, maka hendakah dia bertanya kepada Muadh bin Jabal. Sesiapa yang ingin mengetahui tentang ilmu faraidh, hendaklah dia bertanya kepada Zaid bin Thabit. Dan siapa yang ingin meminta harta maka hendaklah dia datang kepadaku karena akulah penjaganya.[al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 271; Abu Ubaid, Kitab al-Amwal, hlm. 223; al-Baihaqi, al-Sunan, VI, hlm. 210] Ketiga-tiga ilmu tersebut dikuasai oleh orang lain. Dia hanya penjaga harta.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;23. Umar telah menakut-nakut dan menggertak seorang wanita supaya membuat pengakuan tentang perzinaannya. Lalu wanita tersebut membuat pengakuannya. Maka khalifah Umar memerintahkan supaya ia direjam. Lalu Ali (a.s) bertanya kepadanya:"Tidakkah anda mendengar Rasulullah SAWA bersabda:"Tidak dikenakan hukum had ke atas orang yang membuat pengakuan selepas ujian (bala') sama ada ia diikat, ditahan atau diugut? maka lepaskanlah dia.Maka Umar berkata:Wanita-wanita tidak terdaya untuk melahirkan seorang seperti Ali. Sekiranya Ali tidak ada niscaya binasalah Umar.[Fakhruddin al-Razi, al-Araba'ain, hlm. 466; al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya, hlm. 48; al-Tabari Dhakha'ir al-'Uqba,hlm. 80]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;24. Umar tidak mengetahui tempat untuk memulakan umrah. Kemudian dia berkata:"Tanyalah Ali." [al-Tabari di dalam Dhakha'ir al-Uqba, hlm. 89; al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 195].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;25. Umar telah memerintahkan supaya perpustakaan-perpustakaan di Iran dan Iskandariah dibakar atau dicampakkan buku-bukunya ke laut. Ditanya kenapa dia memerintahkannya. Dia menjawab: "Allah telah memberikan kepada kita hidayah yang lebih baik daripada itu."  Perpustakaan-perpustakaan tersebut mengandungi banyak buku-buku ilmiah di dalam berbagai-bagai bidang ilmu pengetahuan seperti ilmu hisab, falak, hikmah, kedoktoran, dan lain-lain. Tetapi khalifah Umar tidak menghargainya.[Ibn al-Nadim, al-Fihrist, hlm. 334; Ibn Khaldun, Tarikh, I, hlm. 32; Ibn al-Jauzi, Sirah al-Umar, hlm. 107].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;26. Umar memerintahkan supaya dipotong pohon bai'ah Ridhwan, karena kaum Muslimin mengerjakan solat di bawah pohon tersebut bagi mengambil berkat. Apabila berita ini sampai kepada Umar dia memerintahkan supaya hal itu dipotong.[Ibn Sa'd, Tabaqat al-Kubra, hlm.608; Ibn Jauzi, Sirah Umar, hlm. 107]Sepatutnya khalifah Umar menjaga pohon tersebut dengan baik sebagai satu peninggalan sejarah yang berharga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;27. Umar adalah orang yang pertama mengenakan zakat kuda. Sunnahnya adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) : "Aku memaafkan kalian zakat kuda dan hamba." [al-Baladhuri, Ansab al-Asyraf,V,hlm.26; al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 30; Ahmad bin Hanbal; al-Musnad, I, hlm. 62; al-Sayuti, Tarikh al-Khulafa', I, hlm. 137]. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;28. Khalifah Umar tidak mengetahui hukum orang yang ragu tentang rakaat solatnya bagaimana hendak dilakukannya. Dia bertanya kepada seorang budak: "Apabila seorang itu ragu bilangan solatnya, apakah ia harus lakukan?" Sepatutnya dia telah bertanya kepada Nabi (Saw.) mengenainya. [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 190; al-Baihaqi, Sunan, II, hlm. 332].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;29. Umar telah mengharamkan memakai wewangian (perfume) bagi orang yang mengerjakan haji sehingga mereka melakukan tawaf ifadhah. Ijtihadnya adalah menyalahi Sunnah Rasulullah di mana Aisyah berkata: Aku meletakkan wewangian ke atas Rasulullah (Saw.) sebelum beliau mengerjakan tawaf ifadhah. [Malik, al-Muwatta', I, hlm. 285; al-Turmudhi, Sahih, I, hlm. 173; al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 58; Muslim, Sahih, I, hlm. 330].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;30. Umar tidak mengetahui faedah Hajr al-Aswad. Dia berkata: "Hajr al-Aswad tidak memberi sebarang faedah dan kemudharatan." Sekiranya dia tidak melihat Rasulullah (Saw.) menciumnya, niscaya dia tidak menciumnya. Kata-kata Khalifah Umar tersebut adalah menyalahi Sunnah Rasulullah (Saw.) , beliau bersabda: "Hajr al-Aswad diturunkan dari Syurga warnanya putih seperti susu. Tetapi hal itu bertukar menjadi hitam disebabkan dosa manusia." Dan sabdanya lagi: "Demi Allah.Dia akan membangkitkannya di Hari Kiamat, hal itu mempunyai dua mata dan satu lidah yang akan bercakap dan memberi penyaksian kepada orang yang telah menciumnya". [al-Turmudhi, Sahih, I, hlm. 180; al-Nasa'i, Sahih, II, hlm. 37; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, II, hlm. 3]. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;31. Umar tidak memberi khums kepada kerabat Nabi (Saw.) . Sunnah Umar adalah menyalahi firman-Nya dalam Surah al-Anfal 8:41 dan berlawanan dengan Sunnah Nabi (Saw.). [al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf, II, hlm. 127; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 248].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;32. Umar berkata bahwa memukul isteri tidak akan dikenakan dosa. Dia mengaitkan kata-kata ini dengan Rasulullah(Saw.). [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 20], sebenarnya hal itu bertentangan dengan firman-Nya di dalam Surah an-Nahl 16:90: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allahmelarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;33. Umar melarang hadis "khabar gembira" bahwa setiap orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat dengan yakin, akan masuk syurga. Karena dia khuatir kaum Muslim hanya mengucap dua kalimah syahadat kemudian meninggalkan amalan lain. Dia berkata kepada Rasulullah (Saw.) : "Adakah anda mengutuskan Abu Hurairah dengan khabar tersebut?" Rasulullah menjawab:"Ya." Umar berkata kepada Rasulullah SAWA: "Janganlah anda melakukannya". [Ibn al-Jauzi, Sirah Umar, hlm. 38; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 108]. Sepatutnya dia tidak melarang Nabi (Saw.) untuk melakukannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;34. Umar tidak membunuh Dzu al-Thadyah (ketua Khawarij) sedangkan Rasulullah (Saw.)telah memerintahkannya supaya membunuhnya. Dia berkata:"Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang sujud?" Kemudian Rasulullah (Saw.) bertanya lagi: "Siapa lagi yang akan membunuhnya?"Ali menjawab:"Aku." Nabi (Saw.) bersabda:"Sekiranya anda mendapatinya."Ali pun pergi tetapi tidak mendapatinya. Nabi (Saw.) bersabda:"Sekiranya lelaki itu dibunuh, tidak akan ada dua lelaki yang berselisih faham."[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,III, hlm. 15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatutnya Khalifah Umar membunuhnya tanpa mengambil kira keadaannya karena Rasulullah (Saw.) telah memerintahkannya. Tetapi dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Rasulullah (Saw.).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;35. Umar tidak dapat memahami ungkapan-ungkapan yang tinggi. Dia bertanya kepada seorang lelaki:"Bagaimana keadaan anda?"Lelaki itu menjawab:"Aku adalah di kalangan orang yang mencintai fitnah, membenci al-Haqq dan memberi penyaksian kepada orang yang tidak dilihat."Lalu dia memerintahkan supaya lelaki itu ditahan. Maka Ali AS menyuruh supaya hal itu dilepaskan seraya berkata:"Apa yang diucapkan oleh lelaki itu adalah benar."Umar berkata:"Bagaimana anda dapat mengatakan hal itu benar?"Ali (a.s) menjawab:"Dia mencintai harta dan anak sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Anfal(8):28:"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah."Dan dia membenci kematian maka ia adalah al-haqq. Dan dia memberi penyaksian bahwa Muhammad adalah Rasulullah sekalipun dia tidak melihatnya.Kemudian Umar memerintahkan supaya ia dilepaskan.[Ibn Qayyim al-Jauziyyah, al-Turuq al-Hukmiyyah, hlm.46]. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;36. Umar telah menjatuhkan airmuka Nabi (Saw.) di hadapan Musyrikin yang datang berjumpa Nabi (Saw.) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikin berkata:Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama, tetapi mereka lari dari menjadi milik kami dan harta kami. Justeru itu kembalilah mereka kepada kami. Lebih-lebih lagi kami adalah jiran anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.Walau bagaimanapun Rasulullah (Saw.) tidak mau menyerahkan hamba-hamba tersebut kepada mereka karena khuatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut. Tetapi beliau tidak mau mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Lalu Rasulullah SAWA bertanya kepada Umar.Maka Umar menjawab:"Benar kata-kata mereka itu wahai Rasulullah. Mereka itu adalah jiran kita dan mereka telah membuat perjanjian damai dengan kita."Maka muka Nabi (Saw.) berubah karena jawapannya menyalahi apa yang dikehendaki oleh Nabi (Saw.).[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm.155;al-Nasa'i, al-Khasa'is, hlm. 11] &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;37. Umar menjadikan mahr wanita menikah sebelum tamat iddahnya untuk Baitul Mal. Kemudian dia memisahkan pasangan tersebut dan berkata: Nikah adalah haram, mahr adalah haram dan kedua-duanya tidak dapat menikah lagi.Ali berkata:Sekiranya lelaki itu tidak mengetahuinya, wanita tersebut berhak mengambil mahrnya dan dipisahkan pasangan tersebut. Dan apabila tamat ‘iddahnya dia menjadi peminangnya. Didalam ertikata yang lain dia hendaklah menyempurnakan iddahnya yang pertama kemudian menyempurnakan pula iddahnya yang kedua."Lalu Umar berkata:"Kembalikan" "kejahilan" kepada Sunnah.[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VII, hlm. 441; al-Tabari, Dhakha'ir al-'Uqba, hlm. 81] Persoalan yang timbul ialah kenapakah dia menjadikan mahr hal Baitul Mal dan bukan hak wanita tersebut dan kenapakah dia mengharamkan wanita tersebut ke atas lelaki tersebut? Manakah ayat atau Sunnah yang memdapatkan khalifah Umar melakukan sedemikian? maka ijtihadnya adalah menyalahi al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;38. Umar telah menjadikan "enam jengkal" sebagai ukuran baligh. Dia berkata:"Sekiranya kalian mendapati budak lelaki yang mencuri itu setinggi enam jengkal (sittah asybar) genap, maka kalian potonglah tangannnya. Jika tidak tinggallah dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di riwayatkan daripada Sulaiman bin Yasar,"Sesungguhnya Umar mendatangi seorang budak lelaki yang telah mencuri, lalu dia mengukur budak tersebut, tetapi hal itu tidak mencukupi enam jengkal tepat lalu ditinggalkannya."[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I, hlm. 116]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka sunnahnya itu adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang menetapkan baligh melalui ihtilam (mimpi) dan tumbuh bulu di kemaluan.[al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, V, hlm. 54-55]. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;39. Umar telah mehentikan pemberian zakat kepada muallaf.[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm. 137 dan lain-lain] Tindakan ini adalah bertentangan dengan al-Qur'an Surah al-Taubah (4):60,"Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untukorang-orang faqir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya...."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;40. Umar berhasrat untuk melantik Salim hamba Abu Huzaifah menjadi khalifah sekiranya ia masih hidup. maka kata-katanya adalah bertentangan dengan kata-katanya yang menyokong Abu Bakar di Saqifah. Para imam mestilah daripada Quraisy karena Salim adalah seorang hamba dan dia bukanlah daripada Quraisy.[Ibn Qutaibah, al-Imamah wal-Siyasah, I, hlm.19].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;41. Umar telah menghukum rejam ke atas wanita yang mengandung selama enam bulan, kemudian melahirkan anak.Lalu Ali (a.s) membantahnya dan membacakan firman Allah (swt) di dalam Surah al-Ahqaf (46):15:"Ibunya mengandungkannya sampai menyusunya adalah tiga puluh bulan" dan firmanNya di dalam Surah Luqman (31):14:"Penyusuannya selama dua tahun." Maka mengandung sekurang-kurangnya ialah enam bulan dan penyusuannya ialah selama dua tahun.Kemudian Umar menarik balik hukumannya dan berkata:"Sekiranya tidak ada Ali, niscaya binasalah Umar."[al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, I,hlm. 288; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, III, hlm. 96;al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba, hlm. 82, dan lain-lain].&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;42. Umar telah mengenakan hukum had ke atas Ja'dah dari Bani Sulaim tanpa saksi yang mencukupi. Dia memadai dengan sepucuk surat yang mengandungi syair mengenai perzinaannya yang dihantar oleh Buraid.[Ibn Sa'd, Tabaqat, III, hlm. 205]Lantaran itu ijtihadnya adalah bertentangan dengan al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memerlukan empat orang saksi atau pengakuan secara sukarela.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;43. Umar telah lari di dalam peperangan Uhud, Hunain, dan Khaibar.[al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 46; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.37; al-Dhahabi, al-Talkhis, III, hlm. 37 dan lain-lain]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;44. Umar telah menjalankan hukum had ke atas Abdul Rahman pada kali kedua karena meminum arak. Sebenarnya Umru bin al-'As telah menjalankan hukum had keatasnya di Mesir dan disaksikan oleh anaknya, Abdullah bin Umar. Tetapi khalifah Umar tidak mengindahkannya. Kemudian dia memukulnya pada kali kedua:"Abdul Rahman menyeru meminta tolong sambil berkata:"Aku sedang sakit, demi Tuhan, anda (Umar) adalah pembunuhku." Dan selepas dia menjalankan had keatasnya dia menahannya pula selama sebulan, kemudian dia meninggal dunia. Sepatutnya dia tidak mengenakan had keatasnya pada kali kedua dan menunggu sehingga dia sembuh dari sakitnya serta tidak menahannya pula.[Ibn Abd Rabbih, al-Aqd al-Farid, III, hlm. 470; al-Khatib, Tarikh Baghdad, VI, hlm. 450; Ibn Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 127]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;45. Umar adalah orang yang pertama mengharamkan nikah mut'ah.[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137] Kenyataan al-Suyuti berarti:&lt;br /&gt;a) Nikah mut'ah adalah halal menurut Islam.&lt;br /&gt;b) Khalifah Umarlah yang mengharamkan nikah mut'ah yang telah dihalalkan pada masa Rasulullah (Saw.), khalifah Abu Bakar dan pada masa permulaan zaman khalifah Umar.&lt;br /&gt;c) Umar mempunyai kuasa veto yang dapat memansuhkan atau membatalkan hukum nikah mut'ah sekalipun hal itu halal di sisi Allah dan Rasul-Nya. Al-Suyuti seorang Mujaddid Ahlil Sunnah abad ke-6 Hijrah mempercayai bahwa nikah mut'ah adalah halal, karena pengharamannya adalah dilakukan oleh Umar dan bukan oleh Allah dan RasulNya.Kenyataan al-Suyuti adalah berdasarkan kepada al-Qur'an dan kata-kata Umar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya para ulama Ahlul Sunnah sendiri telah mencatat bahwa Umarlah yang telah mengharamkan nikah mut'ah sepertiberikut:&lt;br /&gt;a) Al-Baihaqi di dalam al-Sunan, V, hlm. 206, meriwayatkan kata-kata Umar,"Dua mut'ah yang dilakukan pada masaRasulullah (Saw.) tetapi aku melarang kedua-duanya dan aku akan mengenakan hukuman ke atasnya, yaitu mut'ahperempuan dan mut'ah haji.&lt;br /&gt;b) Al-Raghib di dalam al-Mahadarat, II, hlm. 94 meriwayatkan bahwa Yahya bin Aktam berkata kepada seorang syaikh di Basrah:"Siapakah orang yang anda ikuti tentang harusnya nikah mut'ah."Dia menjawab:"Umar al-Khatab."Dia bertanya lagi,"Bagaimana sedangkan Umarlah orang yang melarangnya."Dia menjawab:"Mengikut riwayat yang sahih bahwa dia menaiki mimbar masjid dan berkata:Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah menghalalkan untuk kalian dua mut'ah tetapi aku aku mengharamkan kedua-duanya (mut'ah perempuan dan mut'ah haji). Maka kami menerima kesaksiannya tetapi kami tidak menerima pengharamannya."&lt;br /&gt;c) Daripada Jabir bin Abdullah, dia berkata:"Kami telah melakukan nikah mut'ah dengan segenggam kurma dan gandum selama beberapa hari pada masa Rasulullah dan Abu Bakar sehingga Umar melarang dan mengharamkannya dalam kasus Umru bin Harith.[Muslim, Sahih, I, hlm. 395; Ibn Hajar, Fatih al-Bari, IX, hlm.41; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VIII, hlm.294]&lt;br /&gt;d) Daripada Urwah bin al-Zubair,"Sesungguhnya Khaulah bt. Hakim berjumpa Umar al-Khattab dan berkata:"Sesungguhnya Rabiah bin Umaiyyah telah melakukan nikah mut'ah dengan seorang perempuan, kemudian perempuan itu mengandung, maka Umar keluar dengan marah dan berkata:"Sekiranya aku telah memberitahukan kalian mengenainya awal-awal lagi niscaya aku merejamnya."Isnad hadith ini adalah tsiqah, dikeluarkan oleh Malik di dalam al-Muwatta', II, hlm. 30;al-Syafi'i, al-Umm, VII, hlm. 219;al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VII, hlm. 206]&lt;br /&gt;e) Kata-kata Ali (a.s),"Sekiranya Umar tidak melarang nikah mut'ah niscaya tidak seorang pun berzina melainkan orang yang celaka."[al-Tabari, Tafsir, V, hlm. 9; Fakhruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, III, hlm.200; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm.140]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Ali (a.s) ini menolak dakwaan orang yang mengatakan bahwa Ali telah melarang nikah mut'ah karena beliau tidak memansuhkan ayat di dalam Surah al-Nisa' (4):24.&lt;br /&gt;f) Daripada Ibn Juraij, daripada 'Ata' dia berkata:"Aku mendengar Ibn Abbas berkata:Semoga Allah merahmati Umar, mut'ah adalah rahmat Tuhan kepada umat Muhammad dan jika ia tidak dilarang (oleh Umar) niscaya seorang itu tidak perlu berzina melainkan orang yang celaka."[al-Jassas, al-Ahkam al-Qur'an, II, hlm. 179; al-Zamakhshari, al-Fa'iq, I, hlm. 331;al-Qurtubi, Tafsir, V, hlm. 130]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Ibn Abbas tersebut menafikan dakwaan orang yang mengatakan Ibn Abbas telah menarik balik kata-katanya mengenai mut'ah. Walau bagaimanapun halalnya mut'ah tidak berpandu kepada pendapat Ibn Abbas tetapi berpandu kepada Surah al-Nisa (4): 24 yang tidak dimansuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini disebutkan nama-nama sahabat dan tabi'in yang telah mengamalkan nikah mut'ah atau mempercayai ia halal sepertiberikut:&lt;br /&gt;1. Umran b. al-Hasin.&lt;br /&gt;2. Jabir b. Abdullah.&lt;br /&gt;3. Abdullah b. Mas'ud.&lt;br /&gt;4. Abdullah b. Umar.&lt;br /&gt;5. Muawiyah b. Abi Sufyan.&lt;br /&gt;6. Abu Said al-Khudri.&lt;br /&gt;7. Salman b. Umaiyyah b, Khalf&lt;br /&gt;8. Ma'bad b. Umaiyyah.&lt;br /&gt;9. al-Zubair bin al-Awwam yang mengahwini Asma' bt khalifah Abu Bakar secara mut'ah selama tiga tahun dan melahirkan duaorang anak lelaki bernama Abdullah da Urwah.&lt;br /&gt;10. Khalid b. Muhajir.&lt;br /&gt;11. Umru b. Harith.&lt;br /&gt;12. Ubayy b. Ka'ab.&lt;br /&gt;13. Rabi'ah b. Umaiyyah.&lt;br /&gt;14. Said b. Jubair.&lt;br /&gt;15. Tawwus al-Yamani.&lt;br /&gt;16. 'Ata' Abu Muhammad al-Madani.&lt;br /&gt;17. al-Sudi.&lt;br /&gt;18. Mujahid.&lt;br /&gt;19. Zufar b. Aus al-Madani.&lt;br /&gt;20. Ibn Juraij.&lt;br /&gt;21. Ali bin Abi Talib.&lt;br /&gt;22. Umar b. al-Khattab sebelum dia mengharamkannya dan diakui leh anaknya Abdullah bin Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama tersebut adalah diambil dari buku-buku Hadith Ahlul Sunnah dan lain-lain di mana saya tidak memberi rujukan lengkap karena kesempitan ruang, lihatlah umpamanya buku-buku sahih bab nikah mut'ah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini diperturunkan pendapat-pendapat Ahlul Sunnah yang mengatakan nikah mut'ah telah dimansuhkan, kemudian, diharuskan, kemudian dimansuhkan, kemudian diharuskan kembali. Ia mempunyai 15 pendapat yang berbeda-beda sepertiberikut:&lt;br /&gt;1. Nikah mut'ah diharuskan pada permulaan Islam, kemudian Rasulullah (Saw.) melarangnya di dalam Peperangan Khaibar.&lt;br /&gt;2. Ia dapat dilakukan ketika darurat di masa-masa tertentu kemudian diharamkan pada akhir tahun Haji Wida'.&lt;br /&gt;3. Ia diharuskan selama 3 hari saja.&lt;br /&gt;4. Diharuskan pada tahun al-Autas kemudian diharamkan.&lt;br /&gt;5. Diharuskan pada Haji Wida' kemudian ditegah semula.&lt;br /&gt;6. Diharuskan, kemudian diharamkan pada masa pembukaan Mekah.&lt;br /&gt;7. Ia harus, kemudiannya ditegah dalam Perang Tabuk.&lt;br /&gt;8. Diharuskan pada pembukaan Mekah dan diharamkan pada hari itu juga.&lt;br /&gt;9. Ia dihalalkan pada Umrah al-Qadha'.&lt;br /&gt;10. Ia tidak pernah diharuskan di dalam Islam. Pendapat ini bertentangan dengan al-Qur'an, Sunnah Nabi (Saw.), Ahlul Baytnya dan sahabat-sahabat.&lt;br /&gt;11. Ia diharuskan kemudian dilarang pada Perang Khaibar kemudian diizin kembali pada masa pembukaan Mekah kemudian diharamkannya selepas tiga hari.&lt;br /&gt;12. Diharuskan pada permulaan Islam kemudian diharuskan pada Perang Khaibar kemudian diharuskan pada Perang Autas, kemudian diharamkan.&lt;br /&gt;13. Diharuskan pada permulaan Islam pada tahun Autas, pembukaan Mekah dan Umrah al-Qadha' dan diharamkan pada Peperangan Khaibar dan Tabuk.&lt;br /&gt;14. Ia telah diharuskan, kemudian dimansuhkan, kemudian diharuskan, kemudian dimansuhkan, kemudian diharuskan kemudian dimansuhkan.&lt;br /&gt;15. Diharuskan 7 kali, dimansuhkan 7 kali, dimansuhkan pada Peperangan Khaibar, Hunain, 'Umra al-Qadha', tahun pembukaan Mekah, tahun Autas, Peperangan Tabuk dan semasa Haji Wida'.[al-Jassas, Ahkam al-Qur'an, II, hlm. 183; Muslim, Sahih, I, hlm. 394;Ibn Hajr, Fath al-Bari, IX, hlm. 138; al-Zurqani, Syarh al-Muwatta', hlm. 24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana perselisihan pendapat telah berlaku tentang nikah mut'ah di mana mereka sendiri tidak yakin bilakah ia dimansuhkan atau sebaliknya. Walau bagaimanapun pendapat-pendapat tersebut memberi erti bahwa hukum nikah mut'ah dapat dipermainkan-mainkan karena ia mengandungi beberapa proses pengharusan dan pengharaman, maka hal itu tidak mungkin dilakukan oleh Allah dan Rasul-Nya. hal itu telah dilakukan oleh al-Zubair bin al-Awwam dengan Asma' bt. khalifah Abu Bakar selama tiga tahun dan melahirkan duaorang anak mut'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pengharusan nikah mut'ah itu berasal daripada al-Qur'an, firman-Nya (Surah al-Nisa (4):24:"Maka isteri-isteri kamu yang kamu nikmati (mut'ah) di atas mereka, berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajipan." Menurut al-Zamakhsyari, ayat ini adalah Muhkamah, yaitu tidak dimansuhkan [al-Kasysyaf,I hlm. 190] yaitu nikah mut'ah adalah halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qurtubi menyatakan, penduduk Mekah banyak melakukan nikah mut'ah [Tafsir,V, hlm. 132]. Fakhruddin al-Razi berkata:"Mereka berselisih pendapat tentang ayat ini, sama ada ia dimansuhkan ataupun tidak, tetapi sebagian besar berpendapat ayat ini tidak dimansuhkan dan nikah mut'ah adalah harus."[Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 200] Abu Hayyan berkata:"Selepas menukilkan hadith yang mengharuskan nikah mut'ah, sekelompok daripada Ahlul Bayt dan Tabi'in berpendapat nikah mut'ah adalah halal."Ibn Juraij (w.150H)pula berpendapat bahwa nikah mut'ah adalah harus. Imam Syafi'I menegaskan bahwa Ibn Juraij telah bernikah mut'ah dengan 72 orang perempuan, sementara al-Dhahabi pula menyatakan Ibn Juraij telah bermut'ah dengan 90 orang perempuan.[Tadhib al-Tahdhib, VI, hlm. 408]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah bahwa Ibn Juraij adalah seorang daripada Tabi'in dan imam masjid Mekah, telah menikah secara mut'ah dengan 90 orang perempuan dan dia juga telah meriwayatkan hadith yang banyak di dalam sahih-sahih Ahlul Sunnah seperti Bukhari, Muslim dan lain-lain. Ini berarti kitab-kitab sahih tersebut telah dikotori (mengikut bahwa lawan) dan ia tidak menjadisahih lagi sekiranya orang yang melakukan nikah mut'ah itu dianggap penzina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut tidak dimansuhkan oleh Surah al-Mukminun ayat 6 dan Surah al-Ma'arij ayat 30, karena kedua-dua ayat tersebut&lt;br /&gt;adalah Makkiyyah dan ayat Makkiyyah tidak dapat memansuhkan ayat Madaniyyah, begitu juga ia tidak dapat dimansuhkan dengan ayat al-Mirath (pusaka) karena dalam nikah biasa sekalipun mirath tidak dapat berlaku jika si isteri melakukan nusyuz terhadap suaminya atau isterinya seorang kitabiyah. Sebagaimana juga ia tidak dapat dimansuhkan dengan ayat Talaq, karena nikah mut'ah dapat ditalak (dapat dibatalkan) dengan berakhirnya masa. Ia juga tidak dapat dimansuhkan dengan hadith mengiku jumhur ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Zulfar berpendapat walaupun ditetapkan, tetapi ia tidak membatalkan akad nikah. Imam Malik pula mengatakan nikah mut'ah adalah harus hingga terdapatnya dalil yang memansuhkannya. Imam Muhammad al-Syaibani mengatakan nikah mut'ah adalah makruh. [al-Sarkhasi, al-Mabsut, V, hlm. 160] Demikianlah beberapa pendapat yang menunjukkan nikah mut'ah adalahharus tetapi ia diharamkan oleh khalifah Umar al-Khattab. Adapun syarat-syarat nikah mut'ah menurut Islam adalah sepertiberikut:&lt;br /&gt;i. Mahar.&lt;br /&gt;ii. Ajal (tempoh)&lt;br /&gt;iii. Akad yang mengandungi ijab dan kabul dan hal itu sah dilakukan secara wakil&lt;br /&gt;iv. Perceraian selepas tamatnya tempoh&lt;br /&gt;v. Iddah&lt;br /&gt;vi. Sabitnya nasab (keturunan)&lt;br /&gt;vii. Tidak sabitnya pusaka di antara suami dan isteri jika ia tidak syaratkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah syarat-syarat nikah mut'ah mengikut Ahlul Sunnah dan Syiah dan inilah yang telah dilakukan oleh para sahabat dan tabi'in. Adapun kata-kata bahwa 'nikah mut'ah dapat dilakukan dengan isteri orang' adalah satu pembohongan yang besar dan hal itu menyalahi nas. maka para Imam Ahlul Bait (a.s) dan para ulama Syiah mengharamkannya. Disebabkan ijab sebarang nikah, sama ada nikah mut'ah ataupun da'im (biasa) adalah dipihak perempuan atau wakilnya, maka perempuan tersebut atau wakilnya mestilah mengetahui bahwa 'dia' bukanlah isteri orang, jika tidak, ia tidak dapat melafazkan ijab, "aku nikahkan diriku akan dikau dengan mas kahwinnya sebanyak satu ribu ringgit selama tiga tahun."Umpamanya lelaki menjawab:"Aku terimalah nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Baqir dan Imam Ja'far al-Sadiq (a.s) berkata bahwa pihak lelaki tidak wajib bertanya adakah siperempuan itu isteri orang atau tidak, karena sudah pasti mengikut hukum syarak perempuan yang akan menikah mestilah bukan isteri orang. Jika didapati ia isteri orang maka nikah mut'ah atau nikah biasa itu adalah tidak sah. Walau bagaimanapun adalah disunatkan seorang itu bertanya keadaan perempuan itu sama ada masih isteri orang atau sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai wali Ahlul Sunnah tidak sependapat sama ada wali adalah wajib bagi perempuan yang ingin menikah. Abu Hanifah umpamanya menyatakan wali adalah tidak wajib bagi janda dan anak dara yang sudah akil baligh dengan syarat ia menikah dengan seorang yang sekufu dengannya.[Malik, al-Muwatta', I, hlm. 183] Abu Yusuf dan al-Syaibani pula berpendapat wali adalah peru tetapi bapa tidak ada hak untuk memaksa anak perempuannya melainkan ia di bawah umur.[Ibn Hazm, al-Muhalla, hlm. 145]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja'far al-Sadiq (a.s) berpendapat wali tidak wajib dalam nikah kecuali bagi anak dara. Tetapi ia adalah dianjurkan di dalam semua keadaan bagi penentuan harta dan keturunan.[al-Tusi, Tahdbib al-Ahkam, VII, hlm. 262]&lt;br /&gt;Sebenarnya idea wali nikah menurut Imam Malik adalah dikaitkan dengan khalifah Umar al-Khattab yang diriwayatkan oleh&lt;br /&gt;Sa'id bin al-Musayyab, bahwa seorang tidak dibenarkan menikah tanpa kebenaran walinya atau keluarganya yang baik atau pemerintah [Sahnun, al-Mudawwannah al-Kubra, IV, hlm. 16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai saksi di dalam nikah, Imam Ja'far al-Sadiq (a.s) tidak mewajibkan saksi di dalam nikah mut'ah atau nikah biasa, tetapi ia disunatkan berbuat demikian bagi pengurusan harta dan penentuan nasab keturunan.[al-Tusi, al-Istibsar, III, hlm. 148]&lt;br /&gt;Tidak terdapat di dalam al-Qur'an ayat yang mewajibkan wali dan saksi di dalam nikah, umpamanya firman Allah dalam Surah al-Nisa (4):3....."maka kahwinilah wanita-wanita yang kamu senangi dua, tiga dan empat." Ini berarti Allah tidak mewajibkan saksi dan wali di dalam perkahwinan karena untuk memberi kemudahan kepada umat manusia tetapi Dia mewajibkan saksi di dalam perceraian, firmanNya dalam Surah al-Talaq (65):2...."Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ja'far al-Sadiq (a.s) mengatakan bahwa dua saksi di dalam talak adalah wajib. Walau bagaimanapun beliau tidak menafikan bahwa saksi adalah dianjurkan, lantaran itu hadith "Tidak ada nikah melainkan dengan wali dan dua orang saksi" adalah hadith yang lemah. Itulah nikah mut'ah yang dipercayai oleh mazhab Ja'fari dan ia adalah sama seperti yang dilakukan pada zaman Nabi (Saw.) dan zaman sahabatnya, dengan penjelasan ini, semoga hal itu dapat dibedakan di antara pelacuran dan nikah mut'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, nikah mut'ah adalah halal sehingga Hari Kiamat berdasarkan Surah al-Nisa (4):24. Ia adalah ayat muhkamah yang tidak dimansuhkan, hanya khalifah Umar saja yang memansuhkan nikah mut'ah pada masa pemerintahannya. maka ijtihadnya adalah menyalahi nas, dengan itu kata-kata al-Suyuti bahwa khalifah Umar adalah orang yang pertama mengharamkan nikah mut'ah adalah wajar dan menepati nas. Walau bagaimanapun saya sekali-kali tidak menganjurkan  sesiapa pun untuk melakukannya walau di mana sekalipun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;46. Khalifah Umar mengenakan had ke atas lelaki Badwi yang mabuk karena meminum minuman Umar. Lelaki itu berkata:"Sesungguhnya aku minum dari minuman anda."Umar menjawab:"Aku kenakan had ke atas anda karena mabuk dan bukan karena minuman(ku)." Kemudian dia menambahkan air ke dalam minuman tersebut lalu dia meminumnya selepas mengenakan had ke atas lelaki tersebut.[Ibn Abd Rabbih, al-Aqd al-Farid, III, hlm. 416; al-Jassas, Ahkam al-Qur'an, II, hlm. 565; al-Nasai, al-Sunan, VIII, hlm. 326] &lt;br /&gt;Dan sunnahnya itu adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi SAWA:"Aku melarang kalian meminum minuman yang sedikit apabila banyaknya memabukkan."[al-Darimi, al-Sunan, II, hlm. 113; al-Nasai, al-Sunan, VIII, hlm. 301]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;47. Umar menghalalkan minuman keras al-Tala'(jenis anggur yang diperah) apabila hal itu direbus dan dihilangkan dua pertiganya.[al-Baihaqi, al-Sunan, VIII, hlm. 300;al-Nasai, al-Sunan, VIII, hlm. 329;al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 109;Malik, al-Muwatta',II, hlm. 180] maka ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.),"Setiap yang memabukkan adalah haram."[al-Turmidhi, Sahih, I, hlm. 324; al-Nasai, al-Sunan, VIII, hlm.300] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48. Umar telah mengenakan had tanpa menurut hukum syarak. Seorang peminum arak dibawa kepadanya, lalu dia memerintahkan Muti' bin al-Aswad supaya melakukan hukuman had ke atasnya. Kemudian dia melihatnya memukulnya dengan pukulan yang kuat lalu dia berkata kepadanya:"Anda telah membunuh lelaki itu. Berapa kalikah anda telah memukulnya?"Dia menjawab:"Enam puluh kali."Lalu Umar berkata:"Jadikan dua puluh pukulan yang belum dilaksanakan itu sebagai menepati pukulan anda "yang kuat," maka jumlahnya cukup 80."Kedua-dua hukumannya itu adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi SAWA yang menghukum peminum arak sebanyak 40 kali sebat.[al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VIII, hlm.317; al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 137]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. Umar berkata:"Sesiapa berkata aku seorang yang alim, maka dia adalah jahil dan sesiapa yang mengatakan dia mukmin maka dia adalah kafir."[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, I, hlm. 103]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katanya yang pertama bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar (39): 9:"Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui (orang-orang jahil)?" Dan kedua, hal itu bertentangan dengan firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 52:"Hawariyyun berkata: Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman (ammana) kepada Allah."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50. Umar tidak menganjurkan  kaum Muslimin menziarahi Baitul Maqdis karena khuatir mereka akan membuat Haji seperti di Mekah. Beliau memukul dua lelaki yang melintasi Baitul Maqdis.[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm. 157],sunnahnya itu adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah SAWA yang menganjurkan  kaum Muslimin menziarahi atau beribadat pada tiga masjid. Rasulullah (Saw.) bersabda:"Pengembaraan diharuskan pada tiga masjid, Masjid Haram, Masjid aku ini dan Masjid al-Aqsa'.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, II, hlm. 234; Muslim, Sahih, I, hlm. 392; al-Nasai, al-Sunan, II,hlm. 37] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51. Umar telah membentuk majlis syura yang aneh dan menakutkan. Dan hal itu mesti ditamatkan dalam masa tiga hari dan dikawal oleh 50 orang tentera yang lengkap dengan senjata. Dia melantik enam orang; Sa'd bin Abu Waqas, Abdul Rahman bun Auf, Ali bin Abi Talib, Talhah bin Ubaidillah, al-Zubair bin al-Awwam dan Uthman bin Affan. Kemudian dia mencaci mereka dengan cacian-cacian yang tidak melayakkan mereka menjadi khalifah. Kemudian dia berkata:"Jika seorang daripada mereka menentang dan lima bersetuju, maka bunuhlah dia. Jika dua menentang dan empat bersetuju maka bunuhlah kedua-duanya. Dan jika tiga menentang dan tiga tiga bersetuju maka pilihlah pihak yang ada Abdul Rahman bin Auf.[IbnQutaibah, al-Imamah wal-Siyasah, I, hlm. 24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah bagaimana Khalifah Umar menghalalkan darah Muslimin di dalam keadaan tersebut? Ini berarti jika Ali menentang, dia akan dibunuh. maka hukumannya itu adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.). Tidak halal darah Muslim melainkan tiga perkara: Lelaki kafir selepas Islamnya, lelaki berzina selepas Ihsannya, membunuh tanpa hak.[Ibn Majah, al-Sunan, II, hlm. 110]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem syura yang diciptakan oleh Umar itu adalah untuk menjauhkan Ali (a.s) daripada menjadi khalifah seperti berikut:&lt;br /&gt;1. Syura ini telah melahirkan permusuhan terhadap Ali (a.s). Talhah al-Tamimi adalah dari keluarga Abu Bakar yang telah memindahkan khalifah dari Ali (a.s). Abdul Rahman bin Auf adalah ipar Uthman, adalah di antara orang yang menentang Ali (a.s).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia di antara orang yang cuba membakar rumah Ali (a.s) karena keengganannya memberi bai'ah kepada Abu Bakar.Sa'd bin Abu Waqas adalah di antara orang yang dendam terhadap Ali (a.s) karena ramai daripada bapa-bapa saudaranya telah dibunuh oleh Ali (a.s) karena penyibaran Islam. Lantaran itu dia lewat memberi bai'ah kepada Ali (a.s). Dan Uthman ketua Bani Umaiyyah yang dikenali dengan permusuhan dan penentangan terhadap Bani Hasyim dan keluarga Rasul-Nya. Justeru itu syura telah diciptakan begitu rupa adalah semata-mata untuk menjauhkan Ali daripada jawatan khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syura ini menjaukhkan Ali dari unsur-unsur yang membantunya di dalam pemilihan, karena tidak seorang pun orang Ansar dipilih di dalam majlis syura tersebut. Perhatikanlah bagaimana khalifah Umar menjalankan politiknya yang halus supaya Ali tidak terpilih di dalam syura tersebut.&lt;br /&gt;3. Syura menjadikan Abdul Rahman sebagai penentu apabila tiga bersetuju dan tiga lagi menentang. Apakah kelebihan Abdul Rahman bin Auf? Tidakkah dia berkata kepadanya:"Ada adalah firaun ummat ini?"[Ibn Qutaibah, al-Imamah wal-Siyasah, I,hlm. 24]&lt;br /&gt;4. Syura melahirkan perebutan dan penentangan di kalangan anggota-anggotanya. Sa'ad bin Abu Waqas dan Abdul Rahman patuh kepada Uthman. Dan berlakulah sebagaimana yang berlaku.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52. Umar berhasrat untuk melantik Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai khalifah. Dia berkata:"Sekiranya Abu Ubaidah bin al-Jarrah masih hidup, niscaya aku melantiknya menjadi khalifah."[Ibn Qutaibah, al-Imamah wal-Siyasah, I, hlm. 23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Khalifah Umar itu adalah bertentangan dengan hadith-hadith Rasulullah (Saw.), di antaranya,"Ini Ali saudaraku, khalifahku, pewaris ilmuku."[al-Turmudhi al-Hanafi, al-Kaukab al-Duriyy, hlm. 134] Perhatikanlah bagaimana khalifah Umar tidak pernah terlintas di hatinya untuk melantik Ali (a.s) sebagai khalifah. Malah majlis syura yang dibentuk olehnya adalah semata-mata untuk menjauhkan Ali (a.s) dari jawatan tersebut dengan cara yang paling halus.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53. Umar telah menulis surat kepada penduduk Kufah supaya tidak menamakan anak-anak mereka dengan nama Nabi. Dan memerintahkan sebagian penduduk Madinah supaya mengubah nama-nama mereka yang dinamakan dengan nama Muhammad. Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang mengizinkannya.Di antaranya Rasulullah (Saw.) bersabda:"Siapa yang mempunyai tiga orang anak lelaki dan dia tidak menamakan seorang daripada mereka dengan nama Muhammad, maka dia adalah orang seorang jahil."[al-Haithami, Majma' al-Zawaid, VIII, hlm. 49] Dan apabila sebagian sahabat memberitahukan kepadanya bahwa Rasulullah (Saw.) telah membenarkannya, lalu dia menarik balik perintahnya.[Umdah al-Qari, VII, 143]    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54. Umar telah mengenakan had ke atas seorang yang berpuasa yang berada di dalam majlis minuman arak. Mereka berkata:"Dia itu berpuasa." Umar menjawab:"Kenapa dia berada bersama mereka."[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummar, III, hlm. 101] Sepatutnya dia menyelidik kenapa lelaki itu berada di tempat itu. Dan kenapa dia tidak mengenakan hukum ta'zir ke atasnya?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55. Umar telah mengharamkan perkahwinan selama-lamanya ke atas seorang perempuan yang melakukan hubungan jenis dengan hamba lelakinya karena penakwilannya terhadap Surah al-Mukminun (23):6,".....atau hamba-hamba yang mereka miliki." Umar bermesyuarat dengan beberapa orang sahabatnya mengenainya. Mereka berkata:"hal itu tidak dapat direjam karena dia telah menakwilkan ayat tersebut." Umar berkata:"Tidak mengapa! Demi Allah aku mengharamkan ke atas anda perkahwinan selama-lamanya, sebagai gantian kepada hukum had." Dan dia memerintahkan hamba lelaki tersebut supaya"tidak menghampirinya." maka ijtihad Umar adalah bertentangan dengan hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya.[al-Tabari, Tafsir, VI, hlm. 68; al-Baihaqi, al-Sunan, VII, hlm. 127; Ibn Kathir, Tafsir, III, hlm.239]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56. Umat tidak mengambil jizyah daripada orang-orang Majusi karena dia tidak mengetahui bahwa mereka daripada Ahlu l-Kitab sehingga dia diberitahu oleh Abdul Rahman bin Auf bahwa dia mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda:"Laksanakanlah hukum ke atas "mereka" sebagaimana hukum Ahlu l-Kitab." Kemudian dia melaksanakannya setahun sebelum dia wafat. Sepatutnya dia telah mengetahuinya dan mengambil jizyah daripada mereka.[al-Khatib al-Tabrizi, Misykat-al-Masabih, hlm. 334; Malik, al-Muwatta', hlm. 207; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 190; al-Baihaqi, al-Sunan, VIII, hlm. 234; Abu Ubaid, Kitab al-Amwal, hlm. 32]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57. Umar dan Abu Bakar telah bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.). Abu Bakar berkata:"Wahai Rasulullah lantiklah al-Aqra' bin Habis bagi mengetuai kaumnya." Umar berkata:"Wahai Rasulullah! Janganlah anda melantiknya sehingga mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.)." Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-Hujurat (49):2, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari." Sepatutnya mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (Saw.) mengenai.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV, hlm. 6; al-Tahawi, Musykil al-Athar, I, hlm. 14-42]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58. Umar telah memukul dengan cemeti seorang lelaki bernama Sabigh sehingga berdarah di belakangnya karena dia bertanya tentang huruf-huruf al-Qur'an (Mutasyabih al-Qur'an). Beberapa hari kemudian dia berkata kepada khalifah Umar:"Jika anda mau membunuhku, bunuhlah dengan baik. Dan jika anda mau mengubatiku, aku sekarang sudah sembuh." Kemudian Umar menulis surat kepada Abu Musa al-Asy'ari supaya tidak membenarkan orang ramai bergaul dengannya. Tindakan itu menyulitkan kehidupannya. Lalu Abu Musa al-Asy'ari menulis surat kepada khalifah Umar supaya membenarkan orang ramai bergaul dengannya karena dia sudah bertaubat. Kemudian khalifah Umar membenarkannya. [al-Darimi,al-Sunan, I, hlm. 54; Ibn Asakir, Tarikh, VI, hlm. 384; Ibn al-Jauzi, Sirah Umar, hlm. 109]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59. Umar tidak mengetahui ilmu Qira'at al-Qur'an. Diriwayatkan daripada Ibn Mujaz dia berkata:"Ubayy meriwayatkan daripada Ibn Mujaz dia berkata:"Ubayy membaca ayat 107 di dalam Surah al-Maidah,"Mani Iladhina Istahaqqa 'Alaihim al-Aulayyan."Umar berkata kepada Ubayy:"Anda telah berbohong."Ubayy menjawab:"Anda lebih banyak berbohong."Seorang lelaki berkata kepada Ubayy:"Anda membohongi Amirul Mukminin?"Dia menjawab:"Aku lebih memuliakan Amirul Mukminin daripada anda. tetapi aku membohonginya karena membenarkan Kitab Allah dan aku tidak membenarkan Amirul Mukminin untuk membohongi Kitab Allah. Umar menjawab:"Ya, betul."[al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, I, hlm, 285; al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, II, hlm. 344]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60. Umar telah menyetubuhi seorang hamba (nya) pada siang hari bulan Ramadhan. Al-Daral-Qutni di dalam Sunannya Kitab al-Siyam, bab al-Qublah Li s-Siam (Perbahasan Mengenai Puasa dan Bab Ciuman Bagi Orang yang Berpuasa) telah meriwayatkan dengan sanadnya daripada Sa'id bin al-Musayyab bahwa Umar telah datang kepada para sahabatnya dan berkata:"Apakah pendapat kalian tentang perkara yang aku telah melakukannya hari ini? Pada mulanya aku berpuasa, tiba-tiba seorang hamba wanita melintasiku, dia mempersonakanku, maka aku pun menyetubuhinya."Orang ramai&lt;br /&gt;menjadi riuh dengan kelakuannya itu sedangkan Ali (a.s) berdiam saja. Lalu Umar bertanya kepada Ali (a.s):"Apa pendapat anda?" Beliau menjawab:"Anda telah melakukan perkara yang halal tetapi pada siang hari Ramadhan."Lalu Umar berkata:"Fatwa anda adalah lebih baik dari fatwa mereka."[Ibn Sa'd, Tabaqat, II, Bhg.II, hlm. 102]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya:"Sekiranya khalifah Umar mengetahui hukumnya, apakah yang mendorongnya bertanya kepada para sahabatnya dan kemudian kepada Ali (a.s)? Sekiranya dia tidak mengetahuinya, apakah yang menyebabkan dia berani melakukannya sebelum dia mengetahui halalnya dengan bertanyakan hukumnya?"   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61. Umar ketika sembahyang bersama Nabi (Saw.) telah menyeru Badwi penjual susu supaya berhenti di tempatnya. Al-Haithami di dalam Majma' al-Zawa'id, II, hlm. 62, meriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri bahwa Nabi (Saw.) sedang sembahyang tiba-tiba seorang Badwi datang dengan susunya. Kemudian Nabi (Saw.) memberikan isyarat kepadanya, tetapi dia (Badwi) tidak memahaminya.Lalu Umar memanggilnya:"Wahai Badwi! Berhentilah di situ." Apabila Nabi (Saw.) memberi salam, beliau bertanya:"Siapakah yang bercakap tadi?" Orang ramai menjawab:"Umar." Lalu Nabi (Saw.) bersabda:"Ilmu fiqh mana yang diikutinya! (sehingga dia dapat bercakap di dalam sembahyang)."   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62. Umar tidak mampu memahami ungkapan seorang wanita yang mengadu kepada Umar mengenai suaminya. Dia berkata:"Sesungguhnya suamiku berpuasa di siang hari dan beribadat di waktu malam." Umar tidak memahami ungkapan tersebut, malah dia berkata:"Anda mempunyai suami yang baik."Lalu seorang lelaki di majlis itu memberitahukan kepadanya maksud ungkapannya,"Dia mengadu mengenai suaminya yang tidak menidurinya."Kemudian Umar meminta lelaki tersebut supaya memberi hukuman di antara mereka berdua.[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 96 dan lain-lain]   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63. Umar telah menjalankan pemerintahannya agak kasar dan aggresif dan menakutkan kebanyakan rakyat biasa sehingga seorang wanita yang sedang hamil, gugur kandungannya karena takutkan Umar. Tetapi aneh sekali di dalam peperangan dia merupakan seorang yang selalu melarikan diri.[al-Bukhari, Sahih, III, hlm. 46; al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 37] Talhah berkata kepada Abu Bakar:"Kenapa anda melantik ke atas kami seorang yang kasar?[Ibn Qutaibah, al-Imamah wal-Siyasah, I, hlm. 26] Tindakannya itu telah menambahkan kemarahan orang ramai. Lantaran itu hal itu bertentangan dengan Rasulullah (Saw.) yang telah menjalankan pemerintahannya dengan lembut dan berbudi pekerti yang tinggi dan bersifat defensif.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64. Umar telah meninggikan suaranya terhadap Rasulullah (Saw.). Muslim di dalam Sahihnya, Bab Waqt al-Isya' wa ta'khiruha meriwayatkan dengan sanadnya daripada Ibn Syihab daripada Urwah bin al-Zubair bahwa Aisyah berkata:"Pada suatu malam Rasulullah (Saw.) telah melambatkan sembahyang 'Isya'(atmah), lalu beliau tidak keluar dari rumahnya sehingga Umar menyeru:Wanita-wanita dan kanak-kanak telah tidur! Lantas Rasulullah (Saw.) bersabda kepada orang-orang di masjid ketika beliau keluar.....Sehingga Ibn Syihab memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah (Saw.) bersabda:"Janganlah kalian mendesak Rasul supaya menyegerakan sembahyang."Ini berlaku apabila Umar menyerukan kepada beliau supaya mengerjakan sembahyang dengan segera."   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65. Umar membelakangi perintah Rasulullah (Saw.) sebaliknya mematuhi permintaan ketua Musyrikin, Abu Sufian. Rasulullah (Saw.) melarang para sahabatnya menjawab pertanyaan Abu Sufyan di dalam Perang Uhud karena khuatir kaum Musyrikin mengetahui bahwa beliau masih hidup dan menyerang balas dengan cepat. Abu Sufyan ingin mendapatkan kepastian tersebut. Lalu dia bertanya:"Adakah Muhammad masih hidup?"Rasulullah (Saw.) bersabda:"Janganlah kalian menjawab pertanyaannya."Kemudian dia bertanya kepada Umar secara khusus:"Wahai Umar, aku mengadu kepada anda supaya anda memberitahukan kepadaku, adakah kami telah membunuh Muhammad?"Lantas Umar menjawab:"Tidak! Beliau sedang mendengar percakapan anda."[Ibn Jarir, Ibn al-Athir di dalam Tarikh-tarikh mereka bab "Peperangan Uhud"] Sepatutnya khalifah Umar mematuhi perintah Rasulullah (Saw.) dengan tidak membocorkan maklumat tersebut. Lantaran itu ijtihadnya adalah menyalahi Sunnah Rasulullah (Saw.).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66. Umar telah memanggil seorang wanita yang hamil karena ingin bertanya kepadanya sesuatu yang menangkutkannya. Tetapi disebabkan ketakutannya kepada khalifah Umar kandungannya menjadi gugur. Dia meminta fatwa para sahabat mengenainya. Mereka berkata:"Anda tidak wajib membayar apa-apapun kepadanya."Lalu Ali berkata:"Sekiranya mereka ingin menjaga hati anda, berarti mereka telah menipu anda. Dan sekiranya ini adalah ijtihad mereka, maka mereka telah bersalah. maka anda bersalah dan wajib memerdekakan seorang hamba."[Ibn Abil Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, I, hlm. 58]   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;67. Umar mengkritik (lamiza) Nabi SAWA dan cara beliau membagi-bagikan harta sadaqah. Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 20 meriwayatkan daripada Salman bin Rabi'ah, dia berkata:"Aku mendengar Umar berkata:Rasulullah (Saw.) membagi-bagikan sesuatu, maka aku berkata:Wahai Rasulullah, Ahlul s-Suffah adalah lebih berhak daripada mereka. Dia berkata:Rasulullah (Saw.) bersabda:"Anda bertanya kepadaku tentang perkara-perkara yang keji dan anda menyangka aku seorang yang bakhil sedangkan aku bukanlah seorang yang bakhil."Aku berkata:Beliau meneruskan pembagian tersebut menurut apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya."Diriwayatkan daripada Abu Musa bahwa Umar telah bertanya kepada Rasulullah perkara-perkara yang dibenci oleh Rasulullah, lantas beliau marah sehingga Umar melihat mukanya berubah. Al-Bukhari juga telah meriwayatkannya di dalam Sahihnya, I, hlm. 19, bab al-'Ilm, dan bab al-Ghadhab fi al-Mau'izah wa al-Ta'lim idha Ra'a ma yakrahu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68. Umar telah memaksa Jabalah bin al-Aiham supaya mengikat dirinya sendiri atau membiarkan dirinya diikat karena dia telah menampar seorang lelaki dari Zararah yang telah memijak kainnya ketika dia sedang melakukan tawaf. Apabila tiba waktu malam, Jabalah dan kaumnya sebanyak lima ratus orang keluar dari Makkah menuju Istanbul. Kemudian mengisytiharkan menganuti agama Kristian karena menentang tindakan Umar. Walau bagaimanpun Jabalah berdukacita di atas apa yang berlaku karena perasaan kasih kepada Islam masih wujud di hatinya tetapi kemarahan kepada tindakan Umar tetap membara.[Ibn Abd Rabbih, al-Aqd al-Farid, I, hlm. 187] Lantaran itu tindakan Umar yang terburu-buru tanpa kebijaksanaan telah membuat Jabalah dan kaumnya sebanyak lima ratus orang meninggalkan agama Islam dan memeluk agama Kristian.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69. Umar telah memberi hukuman bahwa talak tiga jatuh sekaligus. Sedangkan talak pada masa Rasulullah (Saw.) dan khalifah Abu Bakar ialah tiga kali sebagaimana terdapat di dalam al-Qur'an.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 314; Muslim, Sahih,I,hlm. 574] Sunnahnya itu adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) dan firman Tuhan di dalam Surah al-Baqarah (2): 229:"Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu dapat dirujuk lagi dengan cara yang baik atau menceraikan dengan cara yang baik."   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70. Umar mengatakan tidak wajib sembahyang(solat) bagi orang yang berjunub ketika tidak ada air.[Ibn Majah, al-Sunan,I,hlm. 200; al-Nasai, al-Sunan,I,hlm. 59] maka sunnahnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Maidah (5):6"…maka hendaklah kamu bertayammum dengan tanah...."   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Mailing List Yayasan Fatimah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-8704793909886631332?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/8704793909886631332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/ijtihad-umar-bin-khathab.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8704793909886631332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8704793909886631332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/ijtihad-umar-bin-khathab.html' title='Ijtihad Umar bin Khathab?'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-1456534938380352079</id><published>2009-03-09T10:08:00.001+07:00</published><updated>2009-03-09T10:15:03.799+07:00</updated><title type='text'>Ijtihad Abu Bakar?</title><content type='html'>Tindakan-tindakah khalifah Abu Bakar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal yang sejahtera melebihi 4 perkara sebagaimana dicatat oleh ulama Ahlus-Sunnah wa l-Jama’ah di dalam buku-buku mereka. Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di &lt;br /&gt;hadapan Allah (swt). Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (Saw.) yang bertentangan dengan tindakan Abu Bakar? Berikut dikemukakan sebagian dari tindakan khalifah Abu Bakar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi saw, niscaya mereka tidak melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.)  [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perpecahan kepada umat, tetapi khalifah Abu Bakar berpendapat Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perselisihan dan perpecahan kepada umat. Dia berkata: "Kalian meriwayatkan dari Rasulullah (Saw.) hadits-hadits di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi( Saw.), niscaya mereka meriwayatkan dan menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.) di kalangan orang ramai,tetapi khalifah Abu Bakar melarang orang ramai dari meriwayatkannya. Dia berkata: "Janganlah kalian meriwayatkan sesuatu pun (syai'an) dari Rasulullah (Saw.)" [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak akan mengatakan bahwa Kitab Allah adalah cukup untuk menyelesaikan segala masalah tanpa Sunnah Nabi (Saw.), tetapi khalifah Abu Bakar berkata: "Kitab Allah dapat menyelesaikan segala masalah tanpa memerlukan Sunnah Nabi (Saw.)" Dia berkata: "Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya."[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari Khamis yaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:" Rasulullah (Saw.) sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah)." Lantaran itu sunnah Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya ; Kitab Allah dan “Sunnahku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membakar Sunnah Nabi (Saw.), tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakarnya. Oleh itu tidak heranlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadits Nabi (Saw.) semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula. [al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V, hlm. 237] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah (Saw.). Oleh itu kata-kata Abu Bakar: "Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun dari Rasulullah (Saw.)" menunjukkan larangan umum terhadap periwayatan dan penulisan hadits Rasulullah (Saw,). Dan hal itu tidak boleh ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.), dan menjaganya, tetapi khalifah Abu Bakar, melarangnya dan memusnahkannya (Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,V,hlm. 237] Lantaran itu tindakan khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.):"Allah memuliakan seseorang yang mendengar haditsku dan menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadits) membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa ilmu (hadits) bukanlah seorang yang alim."[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm.78] Dan sabdanya "Siapa yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka." [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm.263]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka berkata: "Kami perlu kepada sunnah Nabi (Saw.) setiap masa," tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya berkata: "Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi, karena kitab Allah sudah cukup bagi kita." Dia berkata: "Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya." [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka percaya bahwa taat kepada Nabi (Saw.) adalah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’(4) 80 : “Siapa yang mentaati Rasul, maka dia mentaati Allah”. Ini berarti siapa yang mendurhakai Rasul, maka dia mendurhakai Allah, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya percaya sebaliknya ketika dia berkata: : "Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya." [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya mendurhakai Nabi (Saw.) bukan berarti mendurhakai Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak bermusuhan dengan Ahlu l-Bait Nabi (Saw.), apa lagi mengepung dan coba membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s), tetapi mereka telah mengepung dan coba membakarnya dengan menyalakan api di pintu rumahnya.Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengepung dan coba membakar rumah Fatimah al-Zahra' sekalipun Fatimah, Ali, Hasan dan Husain (a.s) berada di dalamnya. Ini disebabkan mereka tidak melakukan bai'ah kepadanya. Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan mengadu kepadanya. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, IV, hlm.196 meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fatimah tidak bercakap dengan Abu Bakar sehingga beliau meninggal dunia. Beliau hidup selepas Nabi saw wafat selama 6 bulan. [Al-Bukhari,Sahih ,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepadanya di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah , I ,hlm.18-20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,iii,hlm.139;Abul-Fida,Tarikh,I,hlm.159; al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (Saw.) yang bersifat lembut terhadap Ali (a.s) dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: "Siapa yang telah menjadikan aku maulanya,maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap kedudukan khalifah.(al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.144,al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal ,vi,hlm.2180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka diizinkan untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Beliau telah berwasiat kepada suaminya Ali (a.s) supaya Abu Bakar dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke atasnya. Karena perbuatan mereka berdua yang menyakitkan hatinya, khususnya mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I ,hlm.159;al-Tabari, Tarikh,III,hlm.159]. Nabi (Saw.) bersabda:" Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu." [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka tidak dirahasiakan tentang makam Fatimah (a.s), tetapi Abu Bakar dan kumpulannya telah dirahasiakan tentang lokasi makam Fatimah (a.s),karena Fatimah (a.s) berwasiat kepada suaminya supaya merahasiakan makamnya dari mereka berdua. Nabi (Saw.) bersabda:" Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu." [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mencaci Ali dan Fatimah a.s, tetapi Khalifah Abu Bakar telah mencaci Ali (a.s) dan Fatimah (a.s) sebagai musang dan ekornya. Bahkan beliau mengatakan Ali (a.s) seperti Umm al-Tihal (seorang perempuan pelacur) karena menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi (Saw.) selepas berlakunya dialog dengan Fatimah (a.s) mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telah bertanya gurunya, Yahya Naqib Ja'far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri, mengenai kata-kata tersebut:"Kepada siapakah hal itu ditujukan?"Gurunya menjawab:"hal itu ditujukan kepada Ali AS." Kemudian ia bertanya lagi:"Adakah ia ditujukan kepada Ali?" Gurunya menjawab:"Wahai anakku inilah artinya pemerintahan dan pangkat duniawi tidak mengira kata-kata tersebut."[Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV,hlm.80] . Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firman-Nya:"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."[Surah al-Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali AS adalah Ahlul Bayt Rasulullah SAW yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:"Kami Ahlul Bayt tidak boleh seorangpun dibandingkan dengan kami."[Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi' al-Mawaddah,hlm.243]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menghentikan pemberian khums kepada keluarga Nabi saw, tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “Ketahuilah,apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah,Rasul-Nya,Kerabat,anak-anak yatim,orang miskin,dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ,II,hlm.127] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) ,tetapi Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) selepas wafatnya Nabi (Saw.).Khalifah Abu Bakar memberi alasan "Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah sedekah." Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali (a.s) karena hal itu bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur'an seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Firman-Nya yang bermaksud 'Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu."[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang dimaksudkan dengan 'anak-anak' ialah termasuk anak-anak Nabi (Saw.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Firman-Nya yang bermaksud:"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud."(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman (a.s) mewarisi kerajaan Nabi Daud (a.s) dan menggantikan kenabiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Firman-Nya yang bermaksud:"Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai."(Surah Maryam:5-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang dengan hadits tersebut. Dan apabila hadits bertentangan dengan al-Qur'an, maka hal itu (hadits) mestilah diketepikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Kalau hadits tersebut benar, ia berart Nabi (Saw.) sendiri telah cuai untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan hal itu bercanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat."(Surah al-Syua'ra:214)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan hal itu tidak boleh menjadi hujah karena Fatimah dan Ali (a.s) menentangnya. Fatimah (a.s) berkata:"Adakah kamu sekarang menyangka bahwa aku tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah? Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi ayah kamu sedangkan aku tidak mewarisi ayahku? Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara keji." (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah, A'lam al-Nisa',III,hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Fatimah dan Ali (a.s) adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa'. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul hal itu bermakna Rasulullah (Saw.) sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang ayah terhadap anaknya. Karena anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta pusaka dari ayah-ayah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi (Saw.) dengan keluarganya menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah  sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:"Sesungguhnya Allah marah karena kemarahanmu (Fatimah ) dan ridha dengan keridhaanmu." [Al-Hakim, al-Mustadrak, III , hlm.153; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, hlm.522; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI, hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi'i al-Tabari, Dhakhair al-Uqba,hlm.39] Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan tidak membenarkan seorangpun dari "mereka" menyembahyangkan jenazahnya. [Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm. 542;al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm, 177; Ibn Abd al-Birr, al-Isti'ab,II,hlm.75]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Fatimah a.s menuntut tiga perkara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kedudukan khalifah untuk suaminya Ali AS karena dia adalah dari ahlul Bait yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh 120,000 orang dan hal itu diriwayatkan oleh 110 sahabat.&lt;br /&gt;2. Fadak.&lt;br /&gt;3. Al-khums, saham kerabat Rasulullah tetapi kesemuanya ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,V,hlm.86] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi sawa,niscaya mereka mengenakan hukum had ke atas pelakunya tanpa pilih kasih,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali (a.s) mau supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar berkata kepada Khalid:"Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu."[Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata:"Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar memahami bahwa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan karena mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka. Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan 'idfi'u, yaitu mengikut suku Kinanah ia berart "bunuh" dan dalam bahasa Arab biasa ia berart "panaskan mereka dengan pakaian" dan tidak menghalalkan darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi mengetahui maksudnya yang sebenar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mereka terus membunuh kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahwa perkataaan idfi'u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik. Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam kejahatan Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak heranlah jika Ali AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka Nabi (Saw.) sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha'labah yang enggan membayar zakat kepada beliau (Saw.). Allah (swt) menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlu s-Sunnah menyatakan bahwa ayat itu diturunkan mengenai Tha'labah yang enggan membayar zakat karena beranggapan bahwa hal itu jizyah. Maka Allah (swt) mendedahkan hakikatnya. Dan Nabi (Saw.) tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau (Saw.) mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama. Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas kedudukan khalifah selepas Rasulullah (Saw.) dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadits al-Ghadir. Oleh itu tidak heranlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira kejahatan yang dilakukannya terhadap Muslimin karena Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi "enggan membayar zakat dan murtad" sekalipun hal itu bertentangan dengan Sunah Nabi (Saw.). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal mereka sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.). Beliau bersabda:"Ali adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku" dan sabdanya:"Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya."Dan penyerahan kedudukan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justru itu Abu Bakar adalah orang yang pertama merusakkan sistem syura dan memansuhkannya. Pertama, dia menggunakan "syura terhad" bagi mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura dengan alasan bahwa Umar adalah orang yang paling baik baginya untuk memegang kedudukan khalifah selepasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka dilantik oleh Nabi (Saw.)untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi (Saw.) untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan, malah beliau melantik orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa Surah Bara'ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali (a.s) untuk melaksanakannya.[Al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba,hlm.61;al-Turmudhi, Sahih,II, hlm.461;Ibn Hajr, al-Isabah,II, hlm.509]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui pengertian al-Abb di dalam al-Qur’an,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb yaitu firman-Nya di dalam Surah 'Abasa (80):31:"Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumput-rumputan (abban)."Dia berkata:"Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang aku tidak mengetahui?"[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I,hlm.274] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan melakukan bid'ah-bid'ah selepas Rasulullah (Saw.) tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid'ah-bid'ah selepas Rasulullah (Saw.). Malik bin Anas di dalam a-Muwatta bab "jihad syuhada’ fi sabilillah' telah meriwayatkan dari hamba Umar bin Ubaidillah bahwa dia menyampaikannya kepadanya bahwa Rasulullah bersabda kepada para syahid di Uhud:"Aku menjadi saksi kepada mereka semua."Abu Bakar berkata:"Tidakkah kami wahai Rasulullah (Saw.) saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad?" Rasulullah menjawab:"Ya! Tetapi aku tidak mengetahui bid'ah mana yang kalian akan lakukan selepasku."Abu Bakar pun menangis, dan dia terus menangis. Bid'ah-bid'ah yang dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, di antaranya al-Bara' bin Azib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bukhari di dalam Sahihnya "Kitab bad' al-Khalq fi bab Ghuzwah al-Hudaibiyyah" telah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ala bin al-Musayyab dari ayahnya bahwa dia berkata:"Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya: Alangkah beruntungnya anda karena bersahabat dengan Nabi (Saw.) dan anda telah membai'ah kepadanya di bawah pohon. Maka dia menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya."[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi (Saw.) bersabda kepada orang-orang Ansar:"Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya di Haudh."Anas berkata:"Kami tidak sabar."[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.135]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Sa'd juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahwa dia berkata:"Aisyah ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah melakukan bid'ah-bid'ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah (Saw.), maka kebumikanlah aku bersama-sama isteri Nabi (Saw.)." Apa yang dimaksudkan olehnya ialah "Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Nabi (Saw.) karena aku telah melakukan bid'ah-bid'ah selepasnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran itu, khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahwa mereka telah melakukan bid'ah-bid'ah dengan mengubah Sunnah Nabi (Saw.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan berkata: "Syaitan menggodaku, sekiranya aku betul, maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng , maka betulkanlah aku." Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata: "Aku digodai Syaitan. Sekiranya aku betul,maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng, maka betulkanlah aku." [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa'iq al-Muhriqah, hlm. 7; al-Syablanci,Nur al-Absar, hlm. 53] Ini berarti dia tidak mempunyai keyakinan diri,dan bagaimana dia boleh menyakinkan orang lain pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) ,niscaya mereka tidak menyesal menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Abu Bakar menyesal menjadi seorang manusia, malah dia ingin menjadi pohon dimakan oleh binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata:"Ketika dia melihat seekor burung hinggap di atas suatu pohon, dia berkata:Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon tanpa hisab dan balasan. Tetapi aku lebih suka jika aku ini sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak menjadi seorang manusia."[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,hlm. 134; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah,III,hlm. 130]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) di dalam Surah al-Tin (95):4:"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya." Dan jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa dia harus takut kepada hari hisab? Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada wali-walinya di dalam Surah Yunus(10):62-64,"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah ini tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.Tidak ada perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengganggu rumah Fatimah (a.s) semenjak awal lagi, tetapi khalifah Abu Bakar telah mengganggunya dan ketika sakit menyesal karena mengganggu rumah Fatimah (a.s). Dia berkata: "Sepatutnya aku tidak mengganggu rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang terhadapku."[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm. 18-19; al-Tabari, Tarikh ,IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, Iqd al-Farid,II,hlm.254]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menjatuhkan air muka Nabi (Saw.), Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Nabi (Saw.) di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Nabi (Saw.) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:"Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah tetangga anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda."Tetapi Nabi (Saw.) tidak mau menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut karena khawatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mau juga mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Nabi (Saw.) bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:"Benar kata-kata mereka itu." Lantas berubah muka Nabi (Saw.)karena jawabannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.[al-Nasa'i, al-Khasa'is,hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155] Sepatutnya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Nabi, tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah diam memihak kepada Musyrikun berdasarkan ijtihadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka telah membunuh Dhu al-Thadyah (seorang lelaki yang mempunyai payudara, akhirnya menentang khalifah Ali), tetapi khalifah Abu Bakar tidak membunuh Dhu al-Thadyah sedangkan Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar supaya membunuh Dhu al-Thadyah. Abu Bakar mendapati lelaki itu sedang mengerjakan solat. Lalu dia berkata kepada Rasulullah (Saw.) :"Subhanallah! Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang mengerjakan solat?" (Ahmad b.Hanbal,al-Musnad,III,hlm.14-150) Sepatutnya dia membunuh lelaki itu tanpa mengira keadaan karena Nabi (Saw.)telah memerintahkannya. Tetapi dia tidak membunuhnya, malah dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Nabi (Saw.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.).Tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar tentang pusakanya. Abu Bakar menjawab:"Tidak ada saham untuk anda di dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.).Oleh itu kembalilah."Lalu al-Mughirah bin Syu''bah berkata:"Aku berada di sisi Nabi (Saw.)bahwa beliau memberikannya (nenek) seperenam saham."Abu Bakar berkata:"Adakah orang lain bersama anda?" Muhammad bin Muslimah al-Ansari bangun dan berkata sebagaimana al-Mughirah. Maka Abu Bakar memberikannya seperenam.[Malik, al-Muwatta,I,hlm. 335; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,IV,hlm.224;Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid,II, hlm.334] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui hukum had&lt;br /&gt;ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui hukum had ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya. Dari Safiyyah binti Abi Ubaid,"Seorang lelaki buntung satu tangan dan satu kakinya telah mencuri pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar mau memotong kakinya dan bukan tangannya supaya dia dapat bermunafaat dengan tangannya. Maka Umar berkata:"Demi yang diriku di tangan-Nya, anda mesti memotong tangannya yang satu itu." Lalu Abu Bakar memerintahkan supaya tangannya dipotong."[al-Baihaqi, Sunan,VIII,hlm.273-4] &lt;br /&gt;28.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim .Tetapi Khalifah Abu Bakar berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim (afdhal).[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm. 16; al-Baqillani, al-Tamhid,hlm. 195; al-Halabi, Sirah Nabawiyyah,III, hlm.386] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar (39):9:"Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran" dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35:"Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka melakukan korban (penyembelihan) sekali di dalam hidupnya.Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah melakukan korban (penyembelihan) karena khawatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib. Sunnahnya adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) yang menggalakkannya.[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX,hlm. 265; al-Syafi'i, al-Umm, II, hlm.189]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, kemudian Dia menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya. Seorang lelaki bertanya kepadanya:"Adakah anda fikir zina juga qadarNya? Lelaki itu bertanya lagi:"Allah mentakdirkannya ke atasku kemudian menyiksa aku?" Khalifah Abu Bakar menjawab:" Ya. Demi Tuhan sekiranya aku dapati seseorang masih berada di sisiku, niscaya aku menyuruhnya memukul hidung anda."[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm.65]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh itu ijtihad Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman-firman Tuhan di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Firman-Nya di dalam Surah al-Insan (76):3:"Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir."&lt;br /&gt;b. Firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90):10:"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan."&lt;br /&gt;c. Firman-Nya di dalam Surah al-Naml (27):40:"Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata: Jika pendapat kami betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari kami dan dari syaitan. Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:"Jika pendapatku betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari aku dan dari syaitan."[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VI, hlm. 223; al-Tabari, Tafsir, VI hlm. 30; Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm.260] Kata-kata Abu Bakar menunjukkan bahwa dia sendiri tidak yakin kepada pendapatnya. Dan dia memerlukan bimbingan orang lain untuk menentukan kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka akur kepada Sunnah Nabi (Saw.) apabila mengetahui kesannya dengan mengilakkan dirinya dari kilauan dunia ,tetapi Khalifah Abu Bakar mengetahui bahwa dia tidak terlepas dari kilauan dunia, lantaran itu dia menangis. Al-Hakim di dalam Mustadrak, IV, hlm. 309 meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Arqam, dia berkata:"Kami pada suatu masa telah berada bersama Abu Bakar, dia meminta minuman, lalu diberikan air dan madu. Manakala dia mendekatkannya ke mulutnya dia menangis sehingga membuatkan sahabat-sahabatnya menangis. Akhirnya merekapun berhenti menangis, tetapi dia terus menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia kembali dan menangis lagi sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya. Dia berkata:kemudian dia menyapu dua matanya. Mereka berkata:Wahai khalifah Rasulullah! Apakah yang sedang ditolak oleh anda? Beliau menjawab:"Dunia ini (di hadapanku) telah "memperlihatkan"nya kepadaku, maka aku berkata kepadanya:Pergilah dariku maka hal itu pergi kemudian dia kembali lagi dan berkata:Sekiranya anda terlepas dariku, orang selepas anda tidak akan terlepas dariku." Hadits ini diriwayatkan juga oleh ak-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, X,hlm. 268 dan Abu Nu'aim di dalam Hilyah al-Auliya', I, hlm.30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahan mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahannya melainkan hal itu dipersetujui oleh Umar. Adalah diriwayatkan bahwa "Uyainah bin Hasin dan al-Aqra bin Habis datang kepada Abu Bakar dan berkata:"Wahai khalifah Rasulullah, izinkan kami menanam di sebidang tanah yang terbiar berhampiran kami. Kami akan membajak dan menanamnya. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat kepada kami dengannya."Lalu Abu Bakar menulis surat tentang persetujuannya. Maka kedua-duanya berjumpa Umar untuk mempersaksikan kandungan surat tersebut. Apabila kedua-duanya membacakan kandungannya kepadanya, Umar merebutnya dari tangan mereka berdua dan meludahnya. Kemudian memadamkannya. Lalu kedua-duanya mendatangi Abu Bakar dan berkata:"Kami tidak mengetahui adakah anda khalifah atau Umar." Kemudian mereka berdua menceritakan kepadanya. Lalu Abu Bakar berkata:"Kami tidak melaksanakan sesuatu melainkannya dipersetujui oleh Umar."{al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 335; Ibn Hajr, al-Isabah, I,hlm.56] .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Nabi (Saw.). Tetapi Khalifah Abu Bakar telah dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Rasulullah SAWA. Tetapi Nabi (Saw.)tidak melarangnya sebaliknya beliau tersenyum pula, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa seorang lelaki telah mencaci Abu Bakar dan Nabi sawa sedang duduk, maka Nabi (Saw.) kagum dan tersenyum.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, VI, hlm.436] .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Nabi (Saw.) khalifah Abu Bakar dan Umar telah bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.) . Abu Bakar berkata:"Wahai Rasulullah lantiklah al-Aqra bin Habi bagi mengetuai kaumnya." Umar berkata:"Wahai Rasulullah janganlah anda melantiknya sehingga mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.)." Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-Hujurat(49):2,"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari." Sepatutnya mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (Saw.) mengenainya.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV , hlm.6;al-Tahawi, Musykil al-Athar,I,hlm. 14-42] . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana mereka sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi Khalifah Abu Bakar banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana dia sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi tidak melakukannya dan sebaliknya. Ibn Qutaibah mencatatkan dalam bukunya al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 perkara yang disesali oleh Abu Bakar seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga perkara yang aku telah lakukan sepatutnya aku tidak melakukannya dan tiga perkara yang aku tidak lakukannya sepatutnya aku melakukannya dan tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) mengenainya. Adapun tiga perkara yang aku telah melakukannya sepatutnya aku tidak melakukannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sepatutnya aku tinggalkan rumah Ali (Fatimah) sekalipun mereka mengisytiharkan perang ke atasku.&lt;br /&gt;2. Sepatutnya aku membai'ah sama Umar atau Abu Ubadah di Saqifah Bani Saidah, yaitu salah seorang mereka menjadi amir dan aku menjadi wazir.&lt;br /&gt;3. Sepatutnya aku menyembelih Fuja'ah al-Silmi atau melepaskannya dari tawanan dan aku tidak membakarnya hidup-hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tiga perkara yang aku tidak melakukannya sepatutnya aku melakukannya:&lt;br /&gt;1. Sepatutnya ketika al-Asy'ath bin Qais dibawa kepadaku sebagai tawanan, aku membunuhnya dan tidak memberinya peluang untuk hidup, karena aku telah mendengar tentangnya bahwa ia bersifat sentiasa menolong segala kejahatan.&lt;br /&gt;2. Sepatutnya ketika aku mengutus Khalid bin al-Walid kepada orang-orang murtad, aku mesti berada di Dhi al-Qissah, dengan itu sekiranya mereka menang, mereka boleh bergembira dan sekiranya mereka kalah aku boleh menghulurkan bantuan. &lt;br /&gt;3. ???-red &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kepada siapakan kedudukan khalifah patut diberikan sesudah beliau wafat, dengan demikian tidaklah kedudukan itu menjadi rebutan.&lt;br /&gt;2. Sepatutnya aku bertanya kepada beliau, adakah orang Ansar mempunyai hak menjadi khalifah.&lt;br /&gt;3. Sepatutnya aku bertanya beliau tentang pembagian harta pusaka anak saudara perempuan sebelah lelaki dan ibu saudara sebelah lelaki karena aku tida puas hati tentang hukumnya dan memerlukan penyelesaian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan di atas telah disebut juga oleh al-Tabari dalam Tarikhnya, IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, ‘Iqd Farid,II,hlm. 254;Abu Ubaid, al-Amwal,hlm. 131] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengundurkan diri dari tentara Usamah yang telah dilantik oleh Nabi saw menjadi penglima perang di dalam ushal itu yang muda,tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi (Saw.) bersabda:"Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentara Usamah."[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa'd, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak menamakan dirinya(Abu Bakar) "Khalifah Rasulullah".[Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menamakan dirinya "Khalifah Rasulullah".[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah ,I,hlm.13];al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa',hlm.78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah karena beliau tidak menamakannya dan melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau bersabda:"Siapa yang aku menjadimaulanya maka Ali adalah maulanya."Dan hadits-hadits yang lain tentang perlantikan Ali (a.s) sebagai khalifah selepas Rasulullah (Saw.). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membakar manusia hidup-hidup,tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja'ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.)"Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari Tuhannya."(Al-Bukhari, Sahih ,X,hlm.83]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak lari di dalam peperangan, tetapi Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain. Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 37; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak meragukan kedudukan khalifah. Tetapi Khalifah Abu Bakar telah meragukan kedudukan khalifahnya. Dia berkata:"Sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.), adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam kedudukan khalifah?" Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar manakala mereka mengatakan bahwa Amir mestilah dari golongan Quraisy." Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar, bagaimana dia meragukan"nya" pula. Dan jikalau tidak, dia telah menentang orang-orang Ansar dengan "hujah palsu."[Al-Ya'qubi, Tarikh al-Ya'qubi,II,hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.18,19;al-Masudi, Muruj al-Dhahab,II,hlm.302]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepada mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepadanya oleh orang Yahudi. Anas bin Malik berkata:"Seorang Yahudi datang selepas kewafatan Rasulullah (Saw.). Maka kaum Muslimin menunjukkannya kepada Abu Bakar. Dia berdiri di hadapan Abu Bakar dan berkata: Aku akan kemukakan soalan-soalan yang tidak akan dijawab melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Abu Bakar berkata:"Tanyalah apa yang anda mau. Yahudi berkata: Beritahukan kepadaku perkara yang tidak ada pada Allah, tidak ada di sisi Allah, dan tidak diketahui oleh Allah? Abu Bakar berkata: Ini adalah soalan-soalan orang zindiq wahai Yahudi! Abu Bakar dan kaum Muslimin mulai marah dengan Yahudi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Abbas berkata: Kalian tidak dapat memberikan jawaban kepada lelaki itu. Abu Bakar berkata: Tidakkah anda mendengar apa yang diperkatakan oleh lelaki itu? Ibn Abbas menjawab: Sekirannya kalian tidak dapat menjawabnya, maka kalian pergilah bersamanya menemui Ali AS, niscaya dia akan menjawabnya karena aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda kepada Ali bin Abi Talib:"Wahai Tuhanku! Sinarilah hatinya, dan perkuatkanlah lidahnya." Dia berkata:"Abu Bakar dan orang-orang yang hadir bersamanya datang kepada Ali bin Abi Talib, mereka meminta izin darinya. Abu Bakar berkata: Wahai Abu l-Hasan, sesungguhnya lelaki ini telah bertanya kepadaku beberapa soalan (zindiq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berkata: Apakah yang anda perkatakan wahai Yahudi? Dia menjawab: Aku akan bertanya kepada anda perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Yahudi mengemukakan soalan-soalan kepadanya. Ali berkata: Adapun perkara-perkara yang tidak diketahui oleh Allah ialah kata-kata anda bahwa Uzair adalah anak lelaki Tuhan, dan Allah tidak mengetahui bahwa Dia mempunyai anak lelaki. Adapun kata-kata anda apa yang tidak ada di sisi Allah, maka jawabannya perkara yang tidak ada di sisi Allah ialah kezaliman. Adapun kata-kata anda: Apa yang tidak ada bagi Allah maka jawabannya tidak ada bagi Allah syirik. Yahudi menjawab: Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah dan sesungguhnya anda adalah wasinya."[Ibn Duraid, al-Mujtana, hlm.35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mempersendakan Nabi (Saw.) di masa hidupnya,apatah lagi pada masa Nabi SAWA sakit dan selepas kematiannya, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mempersendakan Nabi (Saw.) dengan menolak Sunnah Nabi (Saw.) di hadapannya ketika Nabi (Saw.) sedang sakit “ dia sedang meracau” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69),kemudian menghalang penyebarannya. (Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata:"Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian."Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:"Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian."Di dalam riwayat lain,"Ali di kalangan kalian."[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,III,hlm.132] Jikalau kata-katanya benar, berarti dia tidak layak untuk menjadi khalifah Rasulullah SAWA, berdasarkan pengakuannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45.  &lt;br /&gt;Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membenci orang yang mencintai dan mengamalkan Sunnah Nabi (Saw.), tetapi mereka membenci orang yang mencintai Sunnah Nabi (Saw.)dan mengamalkanya sekiranya Sunnah Nabi (Saw.) bertentangan dengan sunnah Abu Bakar.] Justru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.Lantaran Ali dan keluarganya berusaha dengan keras bagi membersihkan kekotoran yang dilakukan oleh Abu Bakar dan pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Mailing List Yayasan Fatimah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-1456534938380352079?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/1456534938380352079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/ijtihad-abu-bakar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1456534938380352079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1456534938380352079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/03/ijtihad-abu-bakar.html' title='Ijtihad Abu Bakar?'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-7611740049866923622</id><published>2009-02-17T02:56:00.000+07:00</published><updated>2009-02-17T02:58:33.965+07:00</updated><title type='text'>PBB: Bangsa Arab Harus Meneladani Imam Ali bin Abi Thalib</title><content type='html'>Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyarankan agar negara-negara Muslim menjadikan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai teladan dalam menegakkan suatu pemerintahan berbasis keadilan dan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu lembaga PBB yang mengurusi masalah perkembangan negara-negara di dunia (UNDP) dalam laporannya pada 2002 bertajuk “Arab Human Development Report”—yang dipublikasikan di seluruh dunia—mengutip enam ucapan Imam Ali bin Abi Thalib tentang pemerintahan ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNDP mengatakan bahwa sebagian besar negara-negara di kawasan (Arab) itu masih jauh di bawah bangsa-bangsa lain dalam bidang demokrasi, perwakilan politik luas, partisipasi perempuan, pembangunan, dan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib yang dikutip UNDP tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang (doyan) mengajari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perhatianmu terhadap pengembangan negeri semestinya lebih besar ketimbang perhatianmu terhadap pengumpulan pajak, karena yang kedua ini hanya bisa diperoleh dengan pengembangan. Karena mencari pendapatan tanpa pengembangan berarti menghancurkan negeri dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Carilah pertemanan dengan orang-orang yang berilmu dan arif serta orang-orang takwa di antara rakyatmu, dalam mencari solusi atas masalah negerimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tidak ada kebaikan apapun dengan berdiam diri dalam masalah pemerintahan atau dalam membicarakan kebodohan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Orang yang takwa adalah yang melakukan kebajikan, yang logikanya lurus, yang busananya bersahaja, yang jalannya sederhana, yang banyak amalnya, dan tidak terguncang karena kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pilihlah yang terbaik di antara orang-orangmu untuk menegakkan keadilan. Pilihlah orang yang tidak mudah menyerah, yang tenang meski menghadapi kesulitan, orang yang tidak akan terus menerus melakukan perbuatan salah, yang tidak akan berhenti mengejar hak ketika ia mengetahuinya, orang yang hatinya tidak mengenal kerakusan, yang tidak akan terpuaskan dengan sedikitnya penjelasan tanpa mencari pengetahuan yang maksimal, yang paling tabah ketika keraguan datang mencecar, yang kejemuannya sedikit dalam mengoreksi para penentang, yang paling tabah dalam menuntut kebenaran, yang paling ketat dalam memenuhi keputusan, orang yang tidak terbuai oleh bujuk rayu dan tidak terjerat oleh godaan. Sesungguhnya orang-orang seperti ini amatlah sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/11/21/pbb-bangsa-arab-harus-meneladani-imam-ali-bin-abi-thalib/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-7611740049866923622?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/7611740049866923622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/02/pbb-bangsa-arab-harus-meneladani-imam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/7611740049866923622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/7611740049866923622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2009/02/pbb-bangsa-arab-harus-meneladani-imam.html' title='PBB: Bangsa Arab Harus Meneladani Imam Ali bin Abi Thalib'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-1482572335633787375</id><published>2008-11-02T05:38:00.003+07:00</published><updated>2008-11-02T05:56:26.062+07:00</updated><title type='text'>Sejarah Kitab Nahjul Balaghah Imam Ali</title><content type='html'>Nahjul Balaghah merupakan kitab yang berisi kompilasi khotbah, surat, dan ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as yang penuh makna dan hikmah, yang dikumpulkan oleh Sayyid Radhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khotbah-khotbah Imam Ali as dinilai dan dihormati sedemikian tingginya di dunia Islam, sehingga hanya dalam waktu seabad setelah wafatnya, khotbah-khotbah itu telah diajarkan dan dibacakan sebagai kata terakhir di da­lam Filsafat Tauhid, sebagai ceramah-ceramah bagi pembangunan watak, sebagai sumber inspirasi yang luhur, sebagai khotbah-khotbah meyakinkan ke arah takwa, sebagai mercu penunjuk ke arah kebenaran dan keadilan, sebagai karya pujian yang menakjubkan tentang Nabi Muhammad (saw) dan Al-Quran al-Karim, sebagai pembicaraan yang meyakinkan tentang nilai-nilai spiritual Islam, sebagai diskusi-diskusi yang menakjubkan tentang sifat-sifat Tuhan, sebagai karya utama kesusastraan, dan sebagai model seni retorika dan keterampilan berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABAD PERTAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kitab biografi yang termasyhur, Rijal al-Kabir, orang pertama yang mengumpulkan khotbah-khotbah ini di dalam sebuah kitab adalah Zaid ibn Wahab Jahmi (w. 90 H.) yang dipandang sebagai perawi Hadis. Jadi, dalam masa 30 tahun setelah wafatnya Imam Ali dan selama abad per­tama Hijrah, khotbah-khotbah, surat serta ucapan-ucapannya telah dikumpulkan, dikutip, dan dipelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABAD KE-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-2, teladan Ibn Wahab Jahmi diikuti oleh: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) ’Abdul Hamid ibn Yahya (132 H.), seorang kaligrafis termasyhur pada masa Abbasiyyah, dan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Ibn al-­Muqaffa (142 H.) mengambil alih tugas pengumpulannya. Jahizh al-Utsmani mengatakan bahwa Ibn al-Muqaffa telah menelaah khotbah-khotbah itu de­ngan sangat cermat dan biasa mengatakan bahwa is telah memuaskan diri­nya dari sumber pokok iimu pengetahuan dan kebijaksanaan dan setiap hari ia mendapatkan inspirasi baru dari khotbah-khotbah Imam Ali ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Ibn Nadim, da­lam kitab biografinya al-Fihrist, mengatakan bahwa Hisyam Ibn Sa’ad al-Kalbi (146 H.) juga telah mengumpulkan khotbah-khotbah ini. (al-Fihrist, lbn Na­dim, jil. 7, hlm. 251)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak abad itu dan seterusnya, abad demi abad, pars ulama, sejarawan dan ahli Hadis, membacakan khotbah-khotbah ini, mengutipnya dan membahas makna kata-kata Berta ungkapan yang digunakan Imam Ali, dan mengacunya bilamana mereka memerlukan rujukan tentang teologia, etika, Sunnah dan Al-Quran, atau tentang kesusastraan dan retorika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABAD KE-3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam abad ketiga, ’Umar ibn Bahr al-Jahizh (w. 255 H.; 688 M.) mengutip banyak khotbah dari Nahjul Balaghah dalam kitabnya al-Sayan wa at-Tabyin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ibn Qutaibah ad-Dainuri (w. 276 H.), dalam kitab-kitabnya ’Uyun al-Akhbar, dan Gharib al-Hadits mengutip banyak khotbah dan membahas pengertian dari banyak kata-kata dan ungkapan yang digunakan Imam Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ibn Wadhih al-Ya’qubi (w. 278 H.) menuliskan banyak khotbah dan ucapan Imam Ali dalam kitab Tarikh-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hanifah ad-Dainuri (280 H.) dalam kitabnya, Akhbar ath-Thiwal mengutip banyak khotbah dan ucapan Imam Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Abul ’Abbas al-Mubarrad (286 H.), dalam bukunya Kitab al-Mubarrad, juga mengumpulkan banyak khotbah dan ucapan Imam Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABAD KE-4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sejarawan al-Thabari (310 H.) mencatat beberapa dari khotbah ini di dalam kitabnya Tarikh al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Al-Halabi (320 H.) telah mengutip khotbah-khotbah ini di dalam kitabnya Tuhfat al-’Uqul. Para penuiis yang berikut ini pun telah mengutip Khotbah-khotbah dan ucapan-ucapan dari Nahjul Balaghah ini secara besar-besaran di dalam kitab-kitab mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ibn Warid (346 H.) dalam al-Mujtabni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ibn ’Abdi Rabbih (328 H.) dalam bukunya ‘Iqd al-Farid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Siqat al-Islam Kulaini (329 H.) dalam al-Kafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ali ibn Muhammad ibn ’Abdullah al-Mada’ini (335 H.) mengumpulkan khotbah-khotbah, Surat-Surat dan ucapan-ucapan Imam Ali dalam kitabnya Yaquth al-Hamawi menyebutkan tentang kitab ini di dalam Mu’jam al-Udaba’, jilid 5, hlm. 313.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sejarawan Mas’udi (346 H.), dalam Muruj adz-Dzahab, telah mengutip beberapa dari Surat dan khotbah Imam Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Abul Faraj al-Isfahani (356 H.) dalam al-Aghani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Abu Ali al-Qali (356 H.) dalam an-Nawadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Syekh Shaduq (381 H.) dalam Kitab at-Tauhid, banyak mengutip khotbah, surat dan ucapan-ucapan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABAD KE-5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syekh Mufid (421 H.) di dalam Kitab al-lrsyad, telah mengutip banyak khotbah, ucapan dan surat-surat Imam Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sayyid Radhi (420 H.) telah menyusun kumpulan khotbah, ucapan dan surat-surat Imam Ali as dan diberi judul : Nahjul Balaghah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Syekh Tha’ifah Abu Ja’far Muhammad ibn Hasan at-Thusi (460 H.) yang hidup sezaman dengan Sayyid Radhi telah mengumpulkan beberapa dari khotbah ini jauh sebelum Sayyid Radhi melaksanakan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat dikumpulkan Sayyid Radhi dalam Nahjul Balaghah tidak seluruh khotbah dan ucapan Imam Ali. Mas’udi (346 H.) dalam kitabnya yang terkenal, Muruj adz-Dzahab (jilid II, him 33, cetakan Mesir) mengatakan bahwa khotbah-khotbah Imam Ali saja, yang telah dipelihara oleh berbagai orang, berjumlah lebih dari 480 khotbah. Khotbah-khotbah ini diucapkan langsung tanpa persiapan. Orang-orang telah menyalinnya dan telah menyusunnya dalam bentuk kitab; mereka membacakannya dan mengutip bagian-bagiannya ke dalam kitab-kitab mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya dari 480 khotbah itu sebagian telah hilang, dan yang dapat dliperoleh Sayyid Radhi hanya sekitar 245 khotbah. Di samping itu, ia juga telah mengumpulkan 75 pucuk surat dan lebih 200 ucapan. Hampir setiap khotbah, surat dan ucapan yang terkumpul di dalam Nahjul Balaghah terdapat di dalam kitab-kitab yang ditulis para penulis yang telah lama meninggal sebelum Sayyid Radhi dilahirkan, sedangkan sebagiannya lagi terdapat di dalam karya-karya para penulis yang walaupun sezaman dengannya namun lebih tua daripadanya dan telah menulis kitab-kitab mereka sebelum Nahjul Balaghah disusun. Sedemikian banyak kutipan para sarjana Muslim dan non Muslim, para ulama, filosof dan sejarawan yang memuji khotbah-khotbah, ucapan dan surat-surat Imam Ali as. Jika seluruh komentar sarjana itu dikumpulkan, maka semua itu akan menjadi sebuah buku yang terdiri dari ratusan halaman. Sementara itu, di bawah ini hanya dicantumkan sebagian kecilnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ibn Atsir (606 H.) sampai sekarang bukan saja diakui sebaga perawi hadis, tetapi juga seorang pakar besar tentang kata dan kosa kata. Kitabnya an-Nihayah wal Bidayah merupakan kitab sejarah dan makna kata-kata sulit dari Al-Quran dan Hadis. Di dalam kitabnya itu, ia membahas panjang lebar banyak perkataan, ungkapan dan kalimat-kalimat khotbah Imam Ali dari kitab Nahjul Balaghah. la mengatakan bahwa sejauh berkaitan dengan sisi komprehensifnya, kata-kata Imam Ali hanya di bawah Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Allamah Syekh Kamaluddin ibn Muhammad Thalhah asy-Syafi’i (w. 652 H.), di dalam kitabnya yang terkenal Mathalib as-Sa’ul, menulis : “Sifat Imam Ali as yang ke-4 adalah kefasihan dan kemahirannya di dalam seni bahasa. Beliau menonjol sedemikian rupa di dalam keahlian ini sehingga tiada seorang pun yang dapat berharap akan sampai kecuali ke tingkat debu sepatunya. Orang yang telah mengkaji Nahjul Balaghah dapat membentuk suatu gagasan tentang kecanggihannya yang sangat tinggi di dalam bidang ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ibn Abil Hadid (w. 655 H.) yang telah menulis sebuah kitab Syarh (komentar) berjilid-jilid tentang khotbah-khotbah itu, menulis: “Khotbah-khotbahnya, surat-surat dan ucapan-ucapannya begitu tinggi nilai sastra maupun kandungan maknanya, sehingga nilainya di atas kata-kata ucapan manusia biasa, dan hanya di bawah firman-firman Tuhan. Tiada yang dapat mengatasinya selain Al-Quran.” Pada bagian lain Ibn Abil Hadid mengatakan, “Kata-katanya adalah mukjizat Nabi Muhammad (saw). Ramalan-ramalannya menunjukkan bahwa pengetahuannya mengatasi manusia biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Allamah Sa’aduddin Taftazani (791 H.) di dalam Syarh al-Maqasid mengatakan bahwa, “Ali mempunyai penguasaan tertinggi atas bahasa, etika dan ajaran agama, dan pada saat yang sama ia adalah seorang orator ulung; khotbah-khotbahnya yang terkumpul di dalam Nahjul Balaghah menjadi saksi atas kenyataan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Allamah Ala’uddin al-Qusyaji (875 H.) dalam Syarh at-Tajrid menyatakan bahwa, “Kitab Nahjul Balaghah yang merupakan khotbah-khotbah dan makna yang terkandung di dalamnya membuktikan bahwa tiada sesuatu yang dapat mengatasinya, kecuali Al-Quran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Syekh Muhammad Abduh (1323 H.) juga telah menulis sebuah Syarh Nahjul Balaghah. la termasuk di antara pemikir modern yang menyadarkan dunia modern akan keindahan ajaran-ajaran Islam. Kata pengantarnya tentang Syarh-nya sendiri itu patut memperoleh kajian cermat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kata pengantarnya itu, Muhammad Abduh mengatakan bahwa setiap orang yang memahami bahasa Arab pastilah sependapat bahwa khotbah-khotbah dan ucapan-ucapan Ali hanya di bawah firman Allah dan sabda Nabi Muhammad Saw. Kata-kata Imam Ali sedemikian sarat makna dan mengandung gagasan-gagasan yang begitu besar, sehingga kitab Nahjul Balaghah ini harus dikaji dengan sangat cermat, diacu dan dikutip oleh para mahasiswa maupun guru. Guru besar dalam kesusastraan dan falsafah ini meyakinkan universitas-universitas di Kairo dan Beirut untuk memasukkan kitab Nahjul Balaghah di dalam kurikulum untuk studi tingkat atas tentang kesusatraan dan falsafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Penulis dan orator terkenal Syekh Musthafa al-Ghulayaini yang dipandang sebagai ahli Tafsir AI-Quran serta kesusastraan Arab, di dalam bukunya ’Arij az-Zahr, bab “Gaya Bahasa”, menulis: “Siapa yang dapat menulis lebih baik dari Ali. selain Nabi saw dan Allah SWT. Orang-orang yang hendak mengkaji standar-standar kesusastraan yang paling tinggi, haruslah mengkaji kitab Nahjul Balaghah. Kitab itu mengandung pengetahuan yang sedemikian dalam dan nasihat-nasihat yang sedemikian menakjubkan tentang masalah etika dan agama sehingga kajian yang rutin atasnya akan membuat orang menjadi bijaksana, saleh dan berpikiran luhur dan akan melatihnya menjadi orator kaliber besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Al-Ustadz Muhammad Muhyiddin, guru besar bahasa Arab pada Universitas AI-Azhar, Kairo, mengatakan bahwa Nahjul Balaghah merupakan suatu koleksi karya Sayyidina Ali yang disusun Sayyid Radhi. la mengandung contoh-contoh bahasa yang murni, kefasihan yang mulia dan kebijaksanaan yang tinggi sehingga tiada seorang pun selain Ali yang dapat menghasilkan karya semacam itu, karena setelah Nabi Suci Saw, dialah orator terbesar, yang paling ahli tentang bahasa dan kesusastraan serta sumber kebijaksanaan terbesar dalam agama Islam. Dia filosof yang dari kata-katanya mengalir pengetahuan dan kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. AI-Ustadz ’Abdul Wahhab Hammudah, ahli kesusastraan dan hadis serta guru besar Universitas Fuad I di Kairo, dalam tahun 1951, menulis, “Kitab Nahjul Balaghah mengandung segala yang dapat dikatakan atau dituliskan para ulama besar, para guru besar etika, filosof, ilmuwan, ahli agama dan politisi. Kekuatan nasihat yang menakjubkan dan jalan yang luar biasa indah dalam menyajikan argumen serta kedalaman pandangan, membuktiKan bahwa Nahjul Balaghah merupakan karya suatu pikiran super seperti pikiran Ali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Abdul Masih al-Antaki, editor majalah Kristen al-Amran, Mesir, dalam kitabnya yang terkenal Syarh al-Qasha’id al-Auliya’ menulis, “Tak dapat disangkal bahwa Imam adalah Imam dari para khatib dan orator, dan ia adalah guru dan pemimpin para penulis dan filosof. Ada kebenaran di dalam penegasannya bahwa ucapan-ucapannya lebih tinggi dari ucapan siapa pun dan hanya lebih rendah dari firman Allah Yang Mahakuasa. Tiada diragukan bahwa dialah sumber penulis, pembicara, filosof, ulama dan penyair mengambil inspirasi, yang telah memperbaiki seni dan gaya bahasa mereka. Kumpulan karyanya dinamakan Nahjul Balaghah, yang patut sering-sering dibaca.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Fuad Afram Al-Bustani, guru besar dalam kesusastraan Arab pada perguruan tinggi Quades Yusuf di Beirut adalah seorang penganut Katolik Romawi. la telah mengumpulkan sebuah kitab yang berisi karya-karya pilihan dari para filosof, ilmuwan, ahli agama, dan esayis. la memulai bukunya dengan kata-kata berikut: “Saya hendak memulai karya saya ini dengan pilihan-pilihan dari Nahjul Balaghah. Kitab itu merupakan karya seorang pemikir terbesar dunia….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Polos Salamah, seorang moralis Kristen, penulis, penyair, di dalam bukunya yang ternama, Awal al-Malhamah al-’Arabiyah (Al-Naser Press, Beirut) mengatakan, “Kitab Nahjul Balaghah yang terkenal merupakan karya yang membuat orang tersadarkan akan pemikiran-pemikiran besar Ali ibn Abi Thalib. Tiada kitab yang mengatasinya kecuali Qur’an. Di dalamnya anda akan mendapatkan mutiara pengetahuan terpenting dalam rantai-ranta indah, bunga-bunga bahasa yang membuat pikiran orang semerbak dengan bau harum dan menyenangkan tentang heroisme dan keluhuran, dan aliran bahasa murni yang lebih manis dan lebih sejuk dari sumber Kautsar, yang terus mengalir secara tetap dan menyegarkan pikiran pembaca.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://www.ahlulbayt-ebook.com/?p=5&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-1482572335633787375?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/1482572335633787375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/11/sejarah-kitab-nahjul-balaghah-dan-imam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1482572335633787375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1482572335633787375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/11/sejarah-kitab-nahjul-balaghah-dan-imam.html' title='Sejarah Kitab Nahjul Balaghah Imam Ali'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-1875419476038016614</id><published>2008-11-02T05:44:00.000+07:00</published><updated>2008-11-02T05:45:06.591+07:00</updated><title type='text'>Pengakuan</title><content type='html'>Ali adalah satu-satunya orang setelah Rasulullah saw yang ucapannya diperhatikan, dihafal, dan dicatat oleh masyarakat. Ibn Abil Hadid menukil perkataan Abdul Hamid al-Kâtib yang merupakan buah bibir disiplin ilmu penulisan[1] yang hidup pada permulaan abad kedua Hijriah sebagai berikut, “Saya hafal tujuh puluh dari ceramah-ceramah Ali as dan setelah menghafal ceramah-ceramah itu, benakku mendidih dan mendidih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali al-Jundi meriwayatkan, dia bertanya kepada Abdul Hamid, “Apa yang membuat Anda sampai pada tingkatan balaghah seperti ini?” Dia menjawab, “Menghafal ucapan ashla‘ itu.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahim bin Nabatah adalah pujaan para orator Arab. Di periode Islam, dia mengakui bahwa modal intelektual dan seleranya diinpor dari Ali as. Ibn Abil Hadid menukil perkataannya dalam pengantar Syarah Nahjul Balaghah sebagai berikut, “Saya menghafal seratus pasal dari kata-kata Ali as dan kusimpan baik-baik dalam benak. Dan kata-kata itu merupakan simpanan berharga yang tidak akan pernah habis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jâhizh, sastrawan jenius dan orator makruf yang hidup pada permulaan abad ketiga Hijriah dan kitabnya yang berjudul “al-Bayân wa at-Tabyîn” merupakan salah satu dari empat tonggak sastra Arab.[3] Dia sering mengungkapkan dalam bukunya pujian dan rasa herannya yang luar biasa terhadap kata-kata Imam Ali as. Bisa ditarik pengertian dari ungkapannya bahwa pada saat itu, kata-kata Amirul Mukminin as tersebar luas di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jâhizh, dalam jilid pertama “al-Bayân wa at-Tabyîn”[4] menukil pendapat orang-orang yang memuji sifat diam dan mencela sifat banyak bicara. Kemudian dia berkomentar demikian, “Banyak bicara yang tercela adalah bicara yang tiada manfaatnya, bukan pembicaraan yang bermanfaat, dan Ali bin Abi Thalib serta Abdullah bin Abbas juga termasuk orang yang banyak bicara (yang bermanfaat).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kata mutiara makruf Amirul Mukminin as yang dinukil oleh Jâhizh dalam jilid pertama kitab tersebut, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ÞöíúãóÉõ ßõáøö ÇãúÑöÆò ãóÇ íõÍúÓöäõåõ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harga setiap manusia adalah perbuatah baik yang dilakukannya.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Jâhizh memuji ungkapan bahwa ia adalah lebih dari setengah halaman seraya menjelaskan, “Dari awal sampai akhir kitab ini, apabila tidak ada apa pun kecuali kalimat ini, niscaya sudah cukup bahkan mencukupi. Ungkapan terbaik adalah yang sedikitnya mencukupimu dari yang banyak. Artinya, tidak tersembunyi dalam kata-kata melainkan tampak secara jelas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia juga menegaskan, “Seakan-akan Allah SWT telah memakaikannya baju kebesaran dan menyelimutinya dengan cahaya hikmah sesuai dengan pemilik kalimat tersebut dan juga takwa pengucapnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat akan mengulas orasi Sha‘sha‘ah bin Shauhan[6] dalam kitabnya tersebut, dia mengatakan, “Bukti paling kuat atas keistimwaan orasi Sha‘sha‘ah adalah terkadang Ali as duduk dan memintanya untuk berceramah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada komentar makruf dari sayid Radhi yang memuji kata-kata Amirul Mukminin as. Dia mengatakan, “Amirul Mukminin as adalah muara dan tempat lahirnya kefasihan. Tata cara kefasihan pun diambil dari beliau. Setiap orator meniru langkah-langkahnya. Semua penasihat minta bantuan dari kalimat-kalimatnya. Kendatipun demikian, mereka tetap tidak bisa menyaingi beliau, bahkan tetap tertinggal di belakang. Hal itu karena komunikasi beliau terusap oleh ilmu Tuhan dan berbau sabda Nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Abil Hadid adalah satu dari ulama Mu‘tazilah pada abad ketujuh Hijriah. Dia adalah sastrawan mahir dan pujangga yang handal. Dan sebagaimana kita ketahui bersama, dia sangat tertarik pada ucapan-ucapan Amirul Mukminin as dan berulang kali menyatakan ketertarikannya tersebut dalam karyanya, Syarah Nahjul Balaghah. Dia mengatakan di pengantar bukunya, “Demi Yang Maha Benar, perkataan Ali as di bawah firman Khâliq dan di atas perkataan makhluk. Masyarakat belajar disiplin ilmu ceramah dan penulisan darinya ... Cukup sebagai bukti, satu persepuluh atau satu perduapuluh dari perkataan Ali as yang disimpan oleh masyarakat tidak dinukil oleh mereka berkenaan dengan sahabat Nabi saw yang lain. Padahal mereka juga orang-orang yang fasih, dan cukup juga sebagai alasan untuk hal itu bahwa Jâhizh memuji Amirul Mukminin as di dalam “al-Bayân wa at-Tabyîn” dan kitab-kitabnya yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Abil Hadid dalam jilid empat bukunya menjelaskan surat Amirul Mukminin as kepada Abdullah bin Abbas di Bashrah setelah penaklukan Mesir di tangan prajurit Mu‘awiyah dan kesyahidan Muhammad bin Abi Bakar[7] sebagai berikut, “Coba perhatikan kefasihan yang memasrahkan kendali pada lelaki ini (Ali as). Saksikanlah susunan kata yang sangat menakjubkan. Satu persatu silih berganti secara beruntun dan berurutan sesuai dengan yang dia inginkan seperti sumber yang mengalir dengan sendirinya memancar dari bumi tanpa susah payah. Subhânnallâh! Pemuda dari Arab yang besar di kota Mekkah dan tidak pernah bertemu dengan orang hakim, akan tetapi kata-katanya di bidang hikmah (falsafah) teoritis lebih tinggi dari perkataan Plato dan Aristoteles. Beliau pun tidak pernah bergaul dengan pakar hikmah praktis, tapi kata-katanya melebihi perkataan Socrates. Beliau tidak terdidik di tengah para pemberani dan pasukan perang—karena penduduk Mekkah adalah pedagang, bukan ahli perang, tapi dia adalah manusia paling berani di muka bumi. Khalil bin Ahmad ditanya orang, ‘Manakah yang lebih berani antara Ali as dan Anbasah atau Bustam?’ Dia menjawab, ‘Anbasah dan Bustam harus diukur dengan orang-orang biasa lainnya, sedangkan Ali as di atas manusia biasa.’ Pria ini lebih fasih dari Sahban bin Wail dan Qais bin Sai‘dah, padahal Quraisy adalah sukunya dan Quraisy bukanlah suku yang paling fasih. Suku Arab terfasih adalah Jurhum, meskipun mereka tidak begitu cerdik ....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Cermin Masa Kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak empat belas abad silam sampai sekarang, dunia telah mengalami ribuan warna. Budaya demi budaya bergantian dan selera pun berubah dari satu ke yang lain. Boleh jadi orang beranggapan bahwa peradaban dan selera kuno tunduk dan menerima kata-kata Ali as, sementara intelektual modern dan selera masa kini memiliki penilaian yang berbeda. Akan tetapi, harus kita sadari bahwa perkataan Ali as tidak terbatas oleh ruang dan waktu tertentu, baik dari sisi format maaupun muatan. Bahkan kata-kata manusiawi yang global. Hal ini akan kita diskusikan nanti dan untuk sementara kita coba tandingi pernyataan tersebut dengan ulasan cendekiawan kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Syaikh Muhammad Abduh, mantan Mufti Mesir, termasuk orang yang keterasingannya dari negerinya—tanpa disengaja—mengantarkannya untuk kenal dengan Nahjul Balaghah. Perkenalan ini menimbulkan rasa heran, dan rasa heran inilah yang akhirnya menyebabkan dia menulis buku penjelasan Nahjul Balaghah dan menyebarkannya di kalangan pemuda Arab. Dia mengatakan di pengantar buku tersebut, “Tak seorang pun dari suku Arab yang tidak meyakini bahwa setelah Al-Qur’an dan sabda Nabi saw ucapan Ali as adalah yang termulia, terfasih, paling berbobot, dan juga konfrehensif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Fakultas ‘Ulum di Universitas Kairo berkomentar tentang prosa Amirul Mukminin as di pengantar buku yang berjudul “Ali bin Abi Thalib, Puisi dan Hikmahnya” sebagai berikut, “Ada semacam lagu dan musik tersendiri dalam kata-kata Ali as yang mendarat tajam di perasaan setiap orang. Dari sisi sajak begitu teratur (manzum; diberi not) sehingga bisa disebut dengan puisi terprosa.” Dia juga menukil Qudamah bin Ja‘far yang berkata, “Sebagian orang mahir di pepatah dan sebagian lain hebat di ceramah panjang, sedangkan Ali as paling hebat di semua bidang tersebut sebagaimana beliau juga paling unggul di segala keutamaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thaha Husain, sastrawan sekaligus penulis terkenal kontemporer Mesir, dalam kitabnya berjudul “Ali wa Banûhu” menceritakan seorang lelaki yang terjerumus dalam keraguan di saat berlangsungnya perang Jamal. Dia bergumam pada dirinya sendiri bagaimana mungkin pribadi-pribadi setingkat Thalhah dan Zubair salah?! Dia mengkonsultasikan kegelisahan hatinya langsung kepada Ali as dan menanyakannya. Ali as berkata kepadanya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Åöäøóßó áóãóáúÈõæúÓñ Úóáóíúßó¡ Åöäøó ÇáúÍóÞøó æó ÇáúÈóÇØöáó áÇó íõÚúÑóÝóÇäö ÈöÃóÞúÏóÇÑö ÇáÑøöÌóÇáö¡ ÇÚúÑöÝö ÇáúÍóÞøó ÊóÚúÑöÝú Ãóåúáóåõ æó ÇÚúÑöÝö ÇáúÈóÇØöáó ÊóÚúÑöÝú Ãóåúáóåõ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, kamu dalam kesalahan besar. Kamu telah memutarbalikkan permasalahan. Semestinya, kamu harus memposisikan kebenaran dan kesalahan sebagai tolok ukur besar dan kecilnya pribadi seseorang. Tapi sebaliknya, kamu jadikan kebesaran dan kerendahan yang sebelumnya kamu perkirakan sebagai tolok ukur kebenaran dan kebatilan. Kamu ingin mengenali kebenaran melalui personal-personal! Bertindaklah sebaliknya! Pertama-tama kenalilah kebenaran, ketika itu kenalilah siapakah yang benar dan kenalilah kebatilan itu sendiri dan kemudian kenalilah siapa yang batil. Dengan demikian, tidak lagi penting bagi dirimu siapakah pendukung kebenaran dan siapakah orang yang mendukung kebatilan, dan kamu tidak lagi heran atau ragu menilai kesalahan pribadi-pribadi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syakib Arsalan dengan julukan Amîrul Bayân adalah salah satu penulis kontemporer Arab yang handal. Di salah satu pertemuan di Mesir yang diselenggarakan untuk menghormatinya, salah seorang peserta naik ke panggung dan di sela-sela pembicaraannya dia mengatakan, “Ada dua orang di sepanjang sejarah Islam yang sungguh tepat dijuluki dengan Amirul Bayan (Raja Komunikasi); pertama adalah Ali bin Abi Thalib as dan yang kedua adalah Syakib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syakib Arsalan marah dan segera bangkit menuju panggung acara dan mengungkapkan kekecewaannya atas perbandingan yang dilakukan oleh temannya tadi. Dia berkata, Saya di mana sedangkan Ali bin Abi Thalib as di mana! Bahkan saya tidak sebanding dengan tali sepatu Ali as.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Micheil Naimah, penulis kontemporer Kristen dari Lebanon, mengatakan dalam pengantar buku “al-Imam Ali” karya Goerge Jourdagh, cendekiawan Kristen Lebanon, “Ali bukan hanya juara di medan perang, tapi dia juara di segala bidang: di kejernihan hati, kesucian intuisi, daya tarik komunikasi yang menawan, kemanusian yang nyata, iman yang berkobar, ketenangan yang tegar, bantuan terhadap orang-orang tertindas, kepasrahan terhadap hakikat, dan kebenaran di mana saja. Ali as adalah juara di semua bidang tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita cukupkan sekian dulu untuk menukil pujian orang-orang lain. Pemuja ucapan Ali as adalah pemuja dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mâdeh-e khorshîd maddâh-e khudast,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keh dû cheshmam roushan-u nâ-marmadast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuja matahari adalah pemuja dirinya sendiri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua mataku bersinar dan tidak rabun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akhiri ulasan kali ini dengan menukil perkataan Ali as. Suatu hari, salah satu dari sahabat Ali as hendak berceramah. Akan tetapi lidahnya kelu dan membisu. Ali as berkata, “Lidah adalah bagian tubuh manusia dan dikendalikan oleh benak seseorang. Jika benak seseorang buntu dan tidak bergejolak, maka lidah pun tak mampu berbuat apa-apa. Akan tetapi, apabila benak seseorang terbuka, maka ia tidak akan memberi kesempatan pada lidah untuk berdiam.” Beliau melanjutkan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;æó ÅöäøóÇ áóÃõãóÑóÇÁõ ÇáúßóáÇóãö æó ÝöíúäóÇ ÊóäóÔøóÈóÊú ÚõÑõæúÞõåõ æó ÚóáóíúäóÇ ÊóåóÏøóáóÊú ÛõÕõæúäõåõ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh kami adalah raja komunikasi dan perkataan. Akar pohon komunikasi tertancap di bawah kita dan cabang-cabangnya pun bergantungan di atas kita.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jâhizh meriwayakan dalam kitabnya “al-Bayân wa at-Tabyîn” dari Abdullah bin al-Husain bin Ali (Abdullah Mahdh) bahwa Ali as berkata, “Kita berbeda dari orang lain karena lima keistimewaan: fasih, indah, pemaaf, pemberani, dan dicintai oleh para wanita.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Dia adalah penulis khalifah terakhir Bani Umaiyah, yaitu Marwan bin Muhammad, berkebangsaan Persia, dan guru Ibn Muqaffa’—cendekiawan dan penulis terkenal. Mereka berkomentar tentang Abdul Hamid sebagai berikut, Penulisan dimulai dengan Abdul Hamid dan berakhir pada Ibnul ‘Amid.” Ibnul Amid adalah seorang mentri dari dinasti kerajaan Buyeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Ashla‘ adalah orang yang rambut depannya rontok. Abdul Hamid mengakui keutamaan dan kesempurnaan Amirul Mukminin as. Akan tetapi, karena dia akrab dengan dinasti Umaiyah, maka dia menyebut Amirul Mukminin as dengan sebutan yang humoris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Tiga tonggak yang lain adalah Adab al-Kâtib, karya Ibn Qutaibah, al-Kâmil, karya Mubarrad, dan an-Nawâdir, karya Abi Ali Qali. Pengantar al-Bayân wa at-Tabyîn menukil dari Mukadimah Ibn Khaldun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Hal. 202.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Hal. 83.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Dia adalah satu dari sekian sahabat utama Amirul Mukminin as dan termasuk orator yang masyhur. Ketika Amirul Mukminin as menjadi khalifah setelah kematian Utsman, dia berkata kepada beliau, “Kamu telah hiasi kekhalifahan dan dia tidak menghiasimu, kamu telah mengangkatnya dan dia tidak mengangkatmu, dia lebih membutuhkanmu dari pada kamu membutuhkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sha‘sha‘ah adalah termasuk orang terbatas yang ikut mengantar jenazah Amirul Mukminin as di malam wafatnya dan ikut menguburkan di tengah malam. Seusai penguburan, dia berdiri di sisi kuburan Amirul Mukminin as. Dia letakkan satu tangannya di atas hati yang bergejolak dan berdetak kencang dan satu tangan lagi menggenggam tanah yang kemudian dia tuangkan ke atas kepalanya seraya membawakan ceramah penuh semangat di tengah keluarga dan sahabat dekat Ali as. Almarhum Majlisi meriwayatkan ceramah itu di Bihâr al-Anwâr jilid ke-9, bab kesyahidan Amirul Mukminin as.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Surat ini diawali dengan, “Adapun selanjutnya, sesungguhnya Mesir telah takluk dan Muhammad bin Abi Bakar—rahimahullah—telah mati syahid.” (surat ke-35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Kisah ini diceritakan oleh cendekiawan kontemporer, Muhammad Jawad Mughniah yang tinggal di Lebanon. Cerita ini juga disampaikan di acara yang diselenggarakan di Masyhad untuk memperingati kebesarannya berapa tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Nahjul Balaghah, ceramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Al-Bayân wa at-Tabyîn, jilid 2 hal 99.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: ???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-1875419476038016614?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/1875419476038016614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/11/pengakuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1875419476038016614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1875419476038016614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/11/pengakuan.html' title='Pengakuan'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-7759371659378414181</id><published>2008-10-13T07:39:00.000+07:00</published><updated>2008-10-13T07:42:02.902+07:00</updated><title type='text'>Muharram: Benarkah Tahun Baru Muslimin ?</title><content type='html'>Saat ini insyaAllah kita semua telah memasuki bulan Muharram. Sebagian besar kaum muslimin merayakannya sebagai awal Tahun Baru Muslim dengan penuh rasa suka, yang dibarengi dengan berbagai macam bentuk kegiatan. Apalagi didukung oleh riwayat yang bernuansa kebahagiaan, seperti selamatnya Nuh as dari banjir bandang, selamatnya kaum Musa as dari Fir’aun, dan sebagainya pada tanggal 10 Muharram (hari Asyura). Maka semakin lengkaplah kegembiraan bulan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebaliknya, ada sebagian kecil kaum muslimin, yang justru bersedih di bulan Muharram tersebut; seolah tak menghiraukan kegembiraan dan rasa syukur sebagian besar kaum muslimin tadi. Kelompok kecil ini justru menangis, meratap, dan memukul dada mereka sebagai tanda kesedihan dan kepedihan yang dalam, sekaitan dengan bulan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah perbedaan yang sangat kontras. Mengapa demikian ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba melihat-lihat sejarah seputar penetapan Tahun Baru kaum muslimin. Dari situ saya peroleh bahwa penetapan Tahun Baru Muslim dilakukan di masa Umar bin Khattab. Sebelumnya kaum muslimin menggunakan Tahun Gajah—tahun ketika Abrahah menyerbu Mekkah untuk meruntuhkan Ka’bah—sebagai permulaan penanggalan. Ada yang mengusulkan kepada Umar untuk menjadikan peristiwa bi’tsah Nabi saww sebagai awal penanggalan, atau pada riwayat lain Umarlah yang bertekad untuk memulai penanggalan dengan mengacu pada kelahiran Nabi saww atau bi’tsah Nabi saww. Namun, Imam Ali as tidak menyetujui pandangan tersebut dan mengusulkan untuk menjadikan peristiwa hijrah Nabi saww sebagai awal penanggalan. Usul ini diterima dan ditetapkan oleh Umar tanggal 8 Rabi’ul Awal 17 H.[1] Oleh karena itu, nama tahunnya adalah “Hijrah” atau “Hijriyah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, terdapat pula riwayat lain, yang menyatakan bahwa penetapan penanggalan Islam telah dimulai sejak masa Nabi saww, atas perintah Nabi saww sendiri, pasca pelaksanaan hijrah di bulan Rabi’ul Awal. Mereka (kaum muslimin saat itu) mengatakan bahwa peristiwa penanggalan tersebut terjadi di bulan ini, setelah hijrah; dan hal tersebut berlanjut hingga diperoleh satu tahun penuh [2]. Sehingga, dari riwayat ini terlihat bahwa sistem penanggalan dimulai pada bulan Rabi’ul Awal dan diakhiri pada bulan Shafar. Sementara Syaikh Ja’far Subhani menegaskan bahwa riwayat inilah yang benar, berdasarkan bukti surat-surat yang dikirim oleh Nabi saww dan bukti-bukti lainnya [3].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peristiwa hijrah itu sendiri, Nabi saww tiba di Quba (10 Km dari Madinah) di rumah Kultsum bin al-Hadam, pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal. Dan perjalanan tersebut ditempuh Nabi saww sekitar sembilan hari, setelah sebelumnya bersembunyi di gua Tsaur (sekitar 5 Km di selatan Mekkah) selama tiga hari. Ini berarti bahwa awal hijrah Nabi saww adalah tanggal 1 Rabi’ul Awal. Sedangkan Imam Ali as baru melakukan hijrah setelah tiga hari keberangkatan Nabi saww dari gua Tsaur, dan beliau as sampai di Quba pada hari Kamis tanggal 15 Rabi’ul Awal. Dan esok harinya, barulah Nabi saww berangkat ke Madinah [4]. Sementara dalam riwayat lain juga disebutkan secara tegas bahwa Nabi saww mengawali hijrah pada tanggal 1 Rabi’ul Awal [5]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, dengan melihat tarikh tersebut, mengapa tiba-tiba Tahun Baru muslimin jatuh pada tanggal 1 Muharram, sementara bulan ini sama sekali tidak terkait dengan peristiwa hijrah Nabi saww ? Kalaupun, seandainya yang dilihat adalah tahun hijrahnya Nabi saww dengan tidak memperhitungkan bulannya, maka mengapa mesti dipilih bulan Muharram, sementara masih ada bulan lainnya; dan mengapa tidak memilih bulan yang justru terkait dengan peristiwa hijrah Nabi saww ? Apalagi ternyata penggunaan Muharram sebagai awal tahun merupakan tradisi bangsa Arab pra-Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan riwayat seputar peristiwa keberuntungan para Nabi as di hari Asyura, selain tercantum pada jalur ahlusunnah, juga tercantum pada jalur syi'ah. Namun, Al-Majlisi menyatakan bahwa riwayat tersebut adalah lemah (dha’if). Sebagaimana dikatakan pula oleh Syaikh Shaduq, dalam kitabnya “Al-Amali”, bahwa riwayat yang menyatakan berbagai peristiwa barakah tersebut pada hari Asyura adalah bohong.[6] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, dari kitab-kitab tarikh yang sedemikian banyaknya, baik dari jalur ahlusunnah maupun syi’ah, justru diriwayatkan bahwa pada bulan Muharram telah terjadi peristiwa kezaliman terbesar di seluruh alam atas keluarga Nabi saww, yaitu terbantainya al-Imam Husein as di Karbala beserta keluarga dan para sahabat beliau as, oleh Yazid bin Mu’awiyah dan pasukannya. Diriwayatkan bahwa Imam Husein as beserta rombongan beliau as berangkat dari Mekkah menuju Kufah, dan tiba di Nainawa (atau Karbala) pada tanggal 2 Muharram 61H (atau 60 H). Dan mulai saat itu hingga tanggal 10 Muharram 61H (atau 60 H), beliau as diperlakukan dengan kejam, yang iblis sekalipun tak akan mampu melakukannya.[7] Sehingga, tragedi besar inilah yang menjadikan sebagian kecil kaum muslimin berduka, menangis, dan meratapinya; sebagaimana tersebut di awal tulisan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa riwayat seputar Tahun Baru muslimin di bulan Muharram (1 Muharram) dan peristiwa keberuntungan para Nabi as, menurut saya, merupakan rekayasa dari para musuh Ahlul Bait as. Riwayat-riwayat tersebut dibuat pasca tragedi Karbala, untuk melupakan umat manusia dari tragedi alam terbesar itu dan menjauhkan mereka dari hujjah Allah di muka bumi, ataupun dengan motivasi lainnya; dengan cara mempertahankan tradisi penanggalan bangsa Arab pra-Islam. Karenanya, tak heran bila Ibn Sirin (w. 110 H) memberikan pernyataan bahwa : “Orang-orang, setelah melalui diskusi, secara bulat menyetujui penetapan awal tahun di bulan Muharram.”; yang sebenarnya sekedar pembenaran semata terhadap praktik penanggalan orang-orang di masanya [8]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, sudah semestinya bulan Muharram (khususnya tanggal 1 hingga 10) dipenuhi dengan mengingat kesyahidan al-Imam Husein as dan menangis atas tragedi besar yang menimpa beliau as. Imam Ja’far as berkata : “Allah menjadikan bagi kami syi’ah, yang mereka ini bergembira dengan kegembiraan kami, dan bersedih dengan kesedihan kami.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayatullah al-Syahid Muthahhari, sekaitan dengan menangis dalam mengenang al-Imam Husein as, mengatakan bahwa : “Menangisi seorang syahid tidak akan menjadikan seseorang lemah, karena menangis memiliki sifat al-Ruh al-Ijtima’iyyah (kebersamaan ruh) yang mendekatkan si penangis dengan syahid yang ia tangisi. Sementara tertawa memiliki sifat al-Ruh al-Fardiyah (kesendirian ruh), yang hanya akan berpengaruh dalam menyenangkan diri pribadi orang yang tertawa tersebut. Karena itulah, setiap orang yang merasakan kerinduan pada orang lain akan memilih menangis dan bukan tertawa, yang dengan hal itu ia merasakan kedekatan dengan orang yang dirindukannya.”[10] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, menangisi al-Imam Husein as dengan ikhlas tidak akan menyebabkan seseorang menjadi lemah. Justru hal tersebut akan menjadikannya dekat dengan beliau as. Sehingga, segala macam pelajaran dari misi beliau as pada tragedi tersebut dapat diambil, khususnya dalam menolak segala macam bentuk kezaliman dan selalu berupaya menegakkan ajaran, hukum, dan kalimat Allah di muka bumi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tangisan sepanjang-masa itulah yang telah berhasil menggulirkan “Revolusi Islam” Imam Khomeini ra. Sekaitan dengan ini beliau ra berkata : “Mengenalkan Islam kepada manusia, sembari menciptakan hubungan yang dekat dengan Asyura. Sebagaimana kita telah tetap memelihara keberlangsungan Asyura (salam atas pendirinya) dan tidak membiarkannya hilang sehingga manusia masih berkumpul selama Muharram dan memukul dada mereka (ma’tam), maka kita sekarang harus mengambil tindakan untuk menciptakan gelombang protes menentang pemerintah. Biarkan masyarakat berkumpul, dan para penceramah serta rauzakhwan[11] benar-benar membenahi persoalan pemerintahan di benak mereka.”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Karena itu, dalam memasuki bulan Muharram ini, saya ingin mengucapkan ta’ziyah kepada Rasulullah saww, kepada Ahlul Bait as, dan kepada kaum muslimin dan mukminin dimanapun mereka berada; A’zhamallaahu Ujuuranaa bi Mushibatil Husein ‘Alaihissalaam bi Karbala. Mari kita ambil teladan dari al-Imam Husein as untuk menolak dan memerangi segala macam kezaliman, khususnya kezaliman Amerika, Zionis, dan para antek mereka. Akhirnya, saya ingin mengutip sebuah syair DR. Muhammad Iqbal beserta syarhnya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gharib-o-sada-o-rangi’n hay dastan-e-Haram. Nihayat iski Husayn ibtida hay Ismail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarh : &lt;br /&gt;“DR. Iqbal mengatakan bahwa peristiwa pembangunan Ka’bah adalah sangat simpel dan menarik. Ismail menderita kepedihan yang sangat dalam peristiwa tersebut. Ibrahim membersihkan Ka'bah dari berhala-berhala, dan meningkatlah kemuliaannya. Sungguh, batu pertama diletakkan oleh Ismail. Ia memberikan nyawanya sebagai qurban, namun pengorbanan tersebut tidaklah lengkap karena diganti dengan sebuah domba. Dan berdasarkan Al-Qur'an, pengorbanan besar (al-Dzibh al-‘Azhim), datang di kemudian hari dan dilengkapkan oleh salah seorang keturunannya, yakni Husein. Sehingga, puncak ruh kecintaan kepada Allah termanifestasikan, ketika Imam Husein mengorbankan nyawanya dan memelihara kehormatan Ka’bah.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut saya kutipkan pula pandangan para orientalis Barat non-muslim : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edward Gibbon mengatakan : “Pemandangan tragis kematian Husein di masa lampau akan membangkitkan simpati para pembaca yang paling dingin (sekalipun).”[14] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ignaz Goldziher mengatakan : “Sejak hari kelam Karbala, sejarah keluarga ini telah mengalami terus menerus penderitaan dan penganiayaan. Hal ini diberitakan dalam syair maupun prosa, di literatur-literatur tentang para syuhada—khususnya syi’ah; dan menjadikan berkumpulnya orang-orang syi’ah pada sepertiga pertama bulan Muharram, yang mana pada hari kesepuluh (Asyura) diadakan peringatan tragedi Karbala. Pemandangan tragedi tersebut juga ditampilkan dalam peringatan tersebut dalam bentuk dramatik (ta’ziyah). “Hari Raya kami adalah majelis duka”, sebuah syair dari seorang pangeran syi’ah yang mengingatkan akan banyaknya malapetaka atas keluarga Nabi. Tangisan dan ratapan atas kejahatan dan penganiayaan yang menimpa keluarga Ali, serta kedukaan atas para syuhada menyebabkan peristiwa tersebut selalu terkenang. Sehingga, bahkan dalam masyarakat Arab dikenal pepatah : “Lebih mengharukan dari tangisan orang-orang syi’ah”.”[15] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reynold Alleyne Nicholson mengatakan : “Husein jatuh, tertembus sebuah anak panah; dan para pengikut pemberaninya terbunuh di sampingnya, hingga yang terakhir. Kaum muslimin, dengan sedikit pengecualian, sepakat memusuhi dinasti Umayyah, menyatakan Husein sebagai syahid dan Yazid sebagai pembunuhnya.”[16] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edward G. Brown mengatakan : “Peringatan atas peristiwa Padang Karbala yang ternoda darah—dimana cucu Rasulullah akhirnya jatuh dan dikelilingi jasad keluarganya yang terbunuh—semenjak itu dibangkitkan setiap saat, bahkan tanpa peduli (secara terang-terangan), dengan perasaan dan dukacita mendalam serta kegairahan ruh; yang mana—di hadapan itu semua—rasa sakit, bahaya, dan kematian menjadi hal yang sepele.”[17] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;[1] Ref. Ahlusunnah : “Tarikh Ya’qubi”, jilid 2, hal. 135; Website “Al-Furqaan” (Salafi), Makasar, yang mengutip dari Buletin LDK MPM UNHAS, edisi 3 Dzulhijjah 1422 H; Website “Kementerian Tanah dan Pembangunan Koperasi Malaysia”, rubrik Kemusykilan Agama, 6 Feb 2002; “Tarikh Thabari”, dengan sanad Said ibn Musayyab; dan lain-lain.&lt;br /&gt;[2] Ref. Ahlusunnah : “Tarikh Thabari”, vol. 3, hal. 1250; Ibid, vol. 5, hal. 2480. &lt;br /&gt;[3] Ref. Syi'ah : Syaikh Ja’far Subhani, “Al-Sirah al-Muhammadiyah”, hal. 103.&lt;br /&gt;[4] Ref. Ahlusunnah : Ibn Hajar al-Asqalani, “Al-Ishabah”, jilid 3, hal. 55, no. 3150; “Tarikh Thabari”, jilid 1, hal. 106; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 2, hal. 106; dan lain-lain; Ref. Syi'ah : Syaikh Ja’far Subhani, “Ar-Risalah”, hal. 280-285, penerbit Lentera; Syaikh Ja’far Subhani, “Al-Sirah al-Muhammadiyah”, hal. 99-104; Sayed Ali Asgher Razwy, “Restatement of History of Islam”, bab 18; dan lain-lain.&lt;br /&gt;[5] Ref. Syi'ah : Sayyid Akhtar Rizvi, “Martyrdom of Imam Husayn and the Muslim and Jewish Calendars”, Jurnal Al-Serat, vol. 6, no. 3 dan 4, yang mengutip dari “Safinah al-Bihar”, jilid 2, hal. 696.&lt;br /&gt;[6] Ref. Syi'ah : Syaikh Shaduq, “Al-Amali”, hal. 132; Syaikh Najamuddin al-Thabasi, “Shaum Asyura Baina Sunnah Nabawiyah Wal Bid’ah Umawiyah”, hal. 48.&lt;br /&gt;[7] Ref. Ahlusunnah : Thabari, dalam Tarikh “Al-‘Umam Wal Mulk”, jilid 6, pada bab peristiwa tahun 61H; Abul A’la Al-Maududi, “Khilafah dan Kerajaan”, hal. 231-234; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 46; dan lain-lain.&lt;br /&gt;[8] Ref. Syi'ah : Sayyid Akhtar Rizvi, “Martyrdom of Imam Husayn and the Muslim and Jewish Calendars”, Jurnal Al-Serat, vol. 6, no. 3 dan 4.&lt;br /&gt;[9] Ref. Syi'ah : Al-Majlisi, “Bihar al-Anwar”, jilid 10, hal. 114, riwayat 1; Ibid, jilid 44, hal. 287, riwayat 26. &lt;br /&gt;[10] Ref. Syi’ah : Ayatullah Muthahhari, “Syahid”, khususnya pada bab “Falsafah al-Buka”. &lt;br /&gt;[11] Rauzakhwan adalah mereka yang membawakan kisah seputar kesyahidan Imam Husein as, bahkan mereka juga sering menggubah syair atas tragedi Karbala tersebut.&lt;br /&gt;[12] Ref. Syi’ah : Imam Khomeini, “Sistem Pemerintahan Islam”, hal. 141-142, Penerbit Pustaka Zahra. &lt;br /&gt;[13] Ref. Syi’ah : Dr. Ibrahim Ayati, “A Probe Into the History of Ashura”, bab 50. &lt;br /&gt;[14] “The Decline and Fall of the Roman Empire”, vol. 5, hal. 391-392.&lt;br /&gt;[15] “Introduction to Islamic Theology and Law”, hal. 179.&lt;br /&gt;[16] “A Literary History of the Arabs”, hal. 197.&lt;br /&gt;[17] “A Literary History of Persia”, hal. 227.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wassalaam,&lt;br /&gt;Muh. Anis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://groups.yahoo.com/group/Kajian_Islam/messages/183?o=1&amp;xm=1&amp;l=1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-7759371659378414181?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/7759371659378414181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/10/muharram-benarkah-tahun-baru-muslimin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/7759371659378414181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/7759371659378414181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/10/muharram-benarkah-tahun-baru-muslimin.html' title='Muharram: Benarkah Tahun Baru Muslimin ?'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-8443019991368310470</id><published>2008-10-08T06:18:00.001+07:00</published><updated>2008-10-08T06:21:43.010+07:00</updated><title type='text'>Konspirasi Anti Syiah dan Upaya Adu Domba CIA</title><content type='html'>Sebuah buku berjudul (A Plan to Divide and Destroy the Theology) telah terbit di AS. Buku ini berisi wawancara mendetail Michael Brant, mantan tangan kanan ketua CIA dan anggota penting bagian kesyiahan CIA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam wawancara ini telah diungkapkan hal-hal yang sangat mengejutkan, dan dikatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar, untuk melancarkan berbagai aktifitas anti Syiah. Dr Michael Brant pernah lama bertugas di bagian tersebut, akan tetapi dipecat dengan tuduhan korupsi dan penyelewengan jabatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tampaknya dalam rangka balas dendam, dia membongkar rencana-rencana rahasia CIA ini. Brant berkata, "Sejak beberapa abad lampau dunia Islam berada di bawah kekuasaan negara-negara Barat.Meskipun kemudian sebagian besar negara-negara Islam ini sudah merdeka, akan tetapi negara-negara Barat tetap menguasai kemerdekaan, politik, pendidikan dan kebudayaan, terutama sistim politik dan ekonomi negara-negara Islam ini. Oleh sebab itu, meski telah merdeka dari penjajahan fisik, namun dari segi budaya, mereka masih banyak terikat kepada Barat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tahun 1979, kemenangan revolusi Islam telah menggagalkan politik-politik kami. Pada mulanya revolusi Islam ini dianggap hanya sebagai reaksi wajar dari politik-politik Syah Iran, dan setelah Syah tersingkir, kami (AS) akan menempatkan lagi orang-orang kami di dlam pemerintahan Iran yang baru, sehingga kami akan dapat melanjutkan politik-politik kami di Iran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah kegagalan besar AS dalam dua tahun pertama (dikuasainya Kedubes AS di Tehran dan hancurnya pesawat-pesawat tempur AS di Tabas) dan setelah semakin meningkatnya kebangkitan Islam dan kebencian terhadap Barat, juga setelah munculnya pengaruh-pengaruh revolusi Islam Iran di kalangan Syiah berbagai negara, terutama Libanon, Irak, Kuwait, Bahrain, Pakistan, akhirnya para pejabat tinggi CIA menggelar pertemuan besar yang disertai pula oleh wakil-wakil dari Badan Intelijen Inggris. (Inggris dikenal memiliki pengalaman luas dalam beraktifitas di berbagai negara).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam pertemuan tersebut kami sampai pada beberapa kesimpulan, diantaranya bahwa revolusi Islam Iran bukan sekedar reaksi alami dari politik Syah Iran, tetapi terdapat berbagai faktor dan hakekat  lain, dimana faktor terkuatnya ialah adanya kepemimpinan politik marjaiyah agama dan syahidnya cucu Rasul Allah (saww) 1400 tahun lalu, yang hingga kini masih tetap diperingati oleh kaum Syiah dengan mengadakan upacara-upacara kesedihan secara meluas. Sesungguhnya dua faktor ini yang membuat Syiah lebih aktif dibanding muslimin lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam pertemuan CIA itu, telah diputuskan bahwa sebuah lembaga independen akan didirikan untuk mempelajari Islam Syiah secara khusus, dan untuk menyusun strategi dalam menghadapi Syiah. Bujet pertamanya sebesar 40 juta US dolar, juga telah disediakan. Untuk penyempurnaan proyek ini, ada tiga tahap program telah disusun:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Pengumpulan informasi tentang Syiah, markas-markas dan jumlah lengkap pengikutnya.&lt;br /&gt;2. Program-program jangka pendek: dengan propaganda anti Syiah, dan mencetuskan permusuhan dan bentrokan besar antara Syiah dan Sunni, dalam rangka membenturkan Syiah dengan Sunni yang merupakan mayoritas muslim, lalu menarik mereka (kaum Syiah) kepada AS.&lt;br /&gt;3. Program-program jangka panjang: untuk merealisasikan tahap pertama, CIA telah mengutus para peneliti ke seluruh dunia, dimana enam orang dari mereka termasuk Dr Samuel telah diutus ke Pakistan, untuk mengadakan penelitian tentang upacara kesedihan bulan Muharram. Para peneliti CIA ini harus mendapatkan jawaban bagi soal-soal berikut ini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„« Di kawasan dunia manakah kaum Syiah tinggal, dan berapakah jumlah mereka? Bagaimanakah keyakinan, akhlak dan perilaku mereka dalam pergaulan?&lt;br /&gt;„« Bagaimanakah cara untuk menciptakan pertentangan internal di kalangan Syiah?&lt;br /&gt;„« Bagaimanakah cara memperbesar perpecahan antara Syiah dan Sunnah?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dr Michael Brant berkata, "Setelah berbagai polling tahap-tahap pertama dan setelah terkumpulnya informasi tentang pengikut Syiah di berbagai negara, didapatlah poin-poin yang disepakati bersama sebagai berikut:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para marja' Syiah adalah sumber utama kekuatan madzhab ini  yang di setiap zaman selalu melindungi madzhab Syiah  dan menjaga dasar-dasarnya. Dalam sejarah Syiah yang panjang, kaum ulama (para marja') Syiah tidak pernah menyatakan bai'at (kesetiaan) kepada penguasa yang tidak Islami. Oleh karena fatwa Ayatullah Syirazi, marja Syiah saat itu, Inggris tidak mampu bertahan di Iran. Di Irak yang merupakan pusat terbesar ilmu-ilmu Syiah, Saddam dengan segala kekuatan dan segenap usaha, tidak mampu membasmi Syiah. Pada akhirnya ia terpaksa mengakhiri usahanya itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika semua pusat ilmu lain di dunia selalu mengambil langkah beriringan dengan para penguasa, Hauzah Ilmiyah Qom, justru menggulung singgasana kerajaan tirani Syahensyah, lalu bertempur menghadapi kekuatan adidaya AS. Di Libanon, Ayatullah Musa Shadr memaksa pasukan militer Inggris, Perancis dan Israel, untuk lari. Di Israel, muncul tantangan terbesar bagi rezim zionis dalam bentuk Hizbullah. Setelah semua penelitian ini, kami sampai pada suatu konklusi yaitu bahwa berbenturan langsung dengan Syiah akan banyak menimbulkan kerugian, dan kemungkinan menang atas mereka sangat kecil. Oleh sebab itu kita mesti bekerja di balik layar. Sebagai ganti slogan lama Inggris "Ciptakan Perpecahan Kemudian Kuasai" kita memiliki slogan baru, yaitu "Ciptakan Perpecahan Kemudian Musnahkan".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita harus mendorong kelompok-kelompok yang membenci Syiah untuk melancarkan aksi-aksi anti Syiah. Isu kafirnya Syiah harus disebarluaskan, dan dengan propaganda negatif, mereka harus dipisahkan dari masyarakat (muslim lainnya). Buku-buku yang berisi topik-topik untuk membangkitkan kemarahan mereka harus ditulis dan diterbitkan. Orang-orang yang berpengatuan minim dan yang bodoh harus dikumpulkan, lalu diperkuat, dan ketika jumlah mereka telah mencapai tingkat yang sesuai, maka perang terhadap Syiah dikobarkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sisi lain, harus dibentuk pula sebuah front yang kuat untuk menruntuhkan posisi para marja' Syiah. Orang-orang yang berperan sebagai pilar kelima harus disusupkan ke dalam kalangan mereka. Dari jalan ini wajah Syiah akan dapat diubah, sehingga keterterimaan mereka akan berkurang dan secara perlahan ia akan dibenci di kalangan masyarakat awam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sisi lain, orang-orang Syiah selalu berkumpul untuk memperingati tragedi Karbala. Dalam peringatan itu seorang akan berceramah menguraikan sejarah tragedi Karbala, dan para hadirin mendengarkannya. Lalu mereka akan memukul-mukul dada dan melakukan upacara kesedihan (azadari). Penceramah dan para pendengar ini, sangat penting bagi kita. Karena azadari-azadari seperti inilah yang selalu menciptakan semangat menggelora kaum Syiah dan mendorong mereka untuk selalu siap memerangi kebatilan demi menegakkan kebenaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita harus membelanjakan puluhan juta dolar untuk menguasai para penceramah dan para pendengar ini. Pada tahap pertama kita harus mendapatkan orang-orang Syiah yang suka duit dan memiliki akidah yang lemah, tetapi memiliki kemasyhuran dan kata-kata yang berpengaruh. Melalui orang-orang inilah kita bisa menyusup ke dalam upacara-upacara azadari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diantara langkah-langkah yang harus dilakukan dalam hal ini ialah:&lt;br /&gt;1. Mencetak atau menguasai para penceramah yang tidak begitu banyak menguasasi akidah Syiah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Menemukan sejumlah orang dari Syiah lalu mendukung mereka dari segi keuangan, sehingga dengan tulisan-tulisannya mereka akan menyerang pusat-pusat Syiah dan menghancurkan sendi-sendi kesyiahan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Memasyarakatkan dan memperbanyak kebiasaan-kebiasaan umum (adat istiadat) yang tidak sesuai dengan akidah Syiah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Di kalangan masyarakat awam, upacara azadari harus ditampilkan seburuk mungkin sehingga akan timbul pandangan bahwa orang-orang Syiah ini adalah sekelompok orang yang dungu, penuh khurafat, yang di bulan Muharram melakukan hal-hal yang sangat mengganggu orang-orang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk menyukseskan semua rencana itu, harus disediakan biaya yang besar, termasuk untuk mencetak penceramah-penceramah dan mendukung mereka. Secara perlahan, Syiah yang merupakan madzhab penting dan memiliki kekuatan logika, akan berubah menjadi sebuah madzhab yang di bagian dalamnya kosong melompong. Jika sudah demikian maka jadilah madzhab Syiah dibenci oleh masyarakat umum, sementara di dalam, mereka akan saling cakar. Jika sudah demikian, maka sebagai langkah terakhir, tinggal kita kerahkan sedikit kekuatan untuk membasmi mereka secara tuntas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Berbagai topik anti marja'iyyah harus disusun, lalu diserahkan kepada para penulis bayaran untuk disebarkan di tengah masyarakat luas. Marjaiyyah yang merupakan pusat kekuatan Syiah harus dimusnahkan. Maka kaum Syiah akan bertebaran tanpa arah sehingga menjadi mudah bagi untuk memusnahkan semua mereka.(Selesai)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Demikian tulisan di atas diterjemahkan dari Bahasa Persia. Jika ada yang berminat untuk membaca teks aslinya dalam bahasa Inggris, silahkan klik alamat berikut ini."&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.victorynewsmagazine.com/images/ConspiracyAgainstJaffariSchoolofThoughtRevealed.htm"&gt;http://www.victorynewsmagazine.com/images/ConspiracyAgainstJaffariSchoolofThoughtRevealed.htm&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: Zensom&lt;br /&gt;Source: http://groups.yahoo.com/group/Kajian_Islam/message/19&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-8443019991368310470?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/8443019991368310470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/10/konspirasi-anti-syiah-dan-upaya-adu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8443019991368310470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8443019991368310470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/10/konspirasi-anti-syiah-dan-upaya-adu.html' title='Konspirasi Anti Syiah dan Upaya Adu Domba CIA'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-5072467077411088369</id><published>2008-09-22T09:07:00.002+07:00</published><updated>2008-09-26T07:38:07.028+07:00</updated><title type='text'>Dimana Rasulullah saw wafat?</title><content type='html'>Mungkin bagi netter yang suka gugling menemukan dua versi sekitar kewafatan Nabi Muhammad saw. Versi pertama yang dianut Sunni dan versi terakhir yaang diyakini Shi'i. Masing-masing mempunyai hadith utama yang sahih yaitu yang berasal dari para Ummu al-Mukminin. Kaum Sunni mendukung riwayat yang dilaporkan oleh Aisyah sedangkan Shi'i berdasarkan dari Ummu Salamah, dan berbagai riwayat dari jalur Ali, Ibn Abbas, Jabir bin Abdullah, bahkan dari Aisyah sendiri (lih. Ibn Asakir dalam tarikhnya J. 3: 15). Dalam versi Sunni Aisyah disebutkan bahwa Nabi wafat ketika berada di pangkuannya. Sedangkan versi Ummu Salamah menunjukkan bahwa sahabat terakhir yang tinggal bersama Rasulullah saw adalah Ali. &lt;br /&gt;Dalam peristiwa ini tidak mungkin untuk membenarkan semuanya, pasti salah satunya bohong atau dipalsukan. Namun sebagian ulama mengkompromikan kedua hadith tersebut, misalnya di dalam kitab Fathul Bari, Ibn Hajar berkata: Kompromi (antara dua hadits tersebut) dapat dilakukan dengan menerangkan bahwa 'Ali adalah orang yang terakhir bersama Nabi, dan ia tidak meninggalkan Nabi, sampai Nabi pingsan. Ketika Nabi pingsan, ia mengira beliau telah wafat. Karena itu, 'Ali dari pihak laki-laki adalah orang terakhir yang menunggui Nabi. Namun kemudian Rasulullah saw sadar kembali ketika 'A'isyah datang. Lalu 'A'isyah menyandarkan Nabi di atas dadanya, dan Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits melalui saluran Yazid ibn Babanus: "Pada suatu hari kepala Rasulullah berada di atas pundakku tatkala beliau memiringkan kepalanya ke arah kepalaku. Aku kira beliau memerlukan kepalaku. Lalu terpercik setetes (ludah) dingin dari mulut beliau yang menimpa rongga dadaku. Aku gemetar, kukira beliau pingsan. Maka akupun menutupnya dengan baju". (Lihat Fathul Bari, jilid 8, hal. 139) &lt;br /&gt;Menurut saya pengkompromian hadith tersebut tidak sepenuhnya benar karena bagaimana bisa Ali salah dalam mengira Nabi saw wafat atau pingsan? karena hampir semua sahabat tatkala menjenguk dan melihat Nabi -yang sudah wafat-, mengetahui bahwa Rasulullah benar-benar wafat. Kecuali Umar (sebagian ulama mengatakan Umar berakting) dengan mengatakan bahwa Nabi tidak wafat tetapi Nabi pergi dan akan kembali seperti Musa meninggalkan kaumnya, yang kemudian percaya bahwa Nabi saw benar-benar wafat tatkala Abu Bakar datang, padahal sebagian sahabat telah menyakinkan akan kewafatan Nabi saw.   &lt;br /&gt;Untuk mengetahui riwayat mana yang tertuduh palsu, direkayasa mungkin analisa rawi serta hubungannya dengan pelaku dalam riwayat tersebut. misalnya bagaimana hubungan Aisyah dengan Ummu Salamah, dst. Secara garis besar hubungan antara Nabi saw, Ali, serta para Ummu al-Mukminin, masing-masing tidaklah begitu berseberangan, meski ada sedikit masalah antara Nabi saw dengan kecemburuan Aisyah pada Sayyidah Khadijah. Setidaknya yang patut dicurigai adalah ketidaksukaan Aisyah kepada Ali karena sikap tersebut sudah ada sejak Nabi saw masih hidup. beberapa riwayat menceritakan bagaimana sikap Aisyah terhadap Ali, mis: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad menceritakan yang berasal dari Nu’man bin Basyir, lihat dalam musnad penduduk Kufah: ‘Abu Bakar memohon izin menemui Rasul Allah saw dan ia mendengar suara keras Aisyah yang berkata: ‘Demi Allah, aku telah tahu bahwa engkau lebih mencintai Ali dari ayahku dan diriku!’, dan ia mengulanginya dua atau tiga kali’. kemudian Abu Bakar menasehati putrinya tersebut karena berkata lantang keras melebihi suara Nabi saw. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tatkala sakit Rasul Allah bertambah berat, beliau dibawa ke masjid, dipapah oleh dua orang, yaitu Fadhl bin Abbas bin ‘Abdul Muththalib, &lt;br /&gt;dan seorang lagi. Hadis ini diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah, dari Aisyah. Ubaidillah kemudian berkata: ‘Apa yang dikatakan oleh Aisyah kepadaku, kusampaikan kepada Abdullah bin Abbas, yang mengembalikan pertanyaan kepadaku: “Tahukah engkau siapa gerangan orang yang tidak disebutkan namanya oleh Aisyah?’ ‘Tidak’, jawabku. Dan kemudian menambahkan: ‘Sungguh, Aisyah tidak pernah merasa senang dengan segala berita baik mengenai Ali’.(Imam Ahmad bin Hanbal, dalam Musnad­nya, jilid VI, hlm. 23 dan 238; Ibnu Sa’d dalam Thabaqat, jilid 2, bab 2, hlm. 29; Thabari, dalam Tarikh­nya, (edisi Leiden) jilid 2, hlm. 1800­1801; Baladzuri, Ansab al­Asyraf, jilid 1, hlm. 544­545; Baihaqi, Sunan, jilid 2. hlm. 396 dll) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad, dalam Musnad­nya, mengatakan bahwa tatkala orang datang kepada Aisyah dengan mencaci Ali bin Abi Thalib dan ‘Ammar bin Yasir, Aisyah berkata: ‘Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai Ali, sedang mengenai ‘Ammar aku telah mendengar Rasul Allah saw bersabda: ‘Ia tidak akan memilih akan dua urusan kecuali ia akan memilih yang lurus’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kebencian seperti itu tidak mustahil Aisyah memanipulasi -atau kemungkinan dijadikan sandaran- riwayat seputar kewafatan Nabi saw dengan dirinya, bukan dengan sahabat terbaik Nabi, Ali bin Abi Thalib. Wa Allah A'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalam proses pemakaman Nabi saw yang hampir tidak dihadiri mayoritas sahabatnya, termasuk Abu Bakar dan Umar karena "perebutan" kekuasaan. Hanya keluarga Rasul, termasuk Ali -yang tidak pernah meninggalkan Nabi saw ketika sakit karena menerima wasiat untuk mengurus jenazahnya- dan sebagian kecil sahabat yang mengebumikan jasad Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah berkata: ‘Kami tidak mengetahui penguburan Rasul sampai kami mendengar suara­suara gesekan di tengah malam Rabu’. (Ibnu Hisyam, Sirah, jilid 4, hlm. 344; Thabari, Tarikh, jilid 2, hlm. 452, 455 (terbitan Leiden, jilid 1, hlm. 1833, 1837); Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hlm. 270; Ibnu Atsir, Usdu’l­Ghabah, jilid 1, hlm. 34, dalam membicarakan Ar­Rasul disebut juga riwayat lain, bahwa terdengarnya suara gesekan dan bunyi keriak keriuk adalah pada malam Selasa, seperti dalam Thabaqat Ibnu Sa’d, jilid 2, Bab 2, hlm. 78 dan Tarikh Khamis, jilid 1, hlm. 191; sedang Dzahabi dalam Tarikh­nya, jilid 1, hlm. 327 menguatkan bahwa penguburan dilakukan pada akhir malam Rabu juga Musnad Ahmad, jilid 6, hlm. 62 dan pada hlm. 242 dan 274: “Kami tidak mengetahui di mana ia dikuburkan sampai kami mendengar..”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang melakukan penguburan hanyalah keluarga Rasul, yaitu orang­orang yang memandikannya seperti Abbas, Ali, Fadhl dan Shalih (maula Rasul Allah) tiada orang lain. &lt;br /&gt;‘Dan tiada yang mengurus (penguburan Rasul) kecuali keluarga dekatnya dan Banu Ghanm yang berada di rumah mereka telah mendengar suara keriat­keriut’. &lt;br /&gt;Seorang tua kaum Anshar dari Banu Ghanm berkata: ‘Aku mendengar bunyi sesuatu yang bergesek pada akhir malam’. (Ibnu Sa’d, Thabaqat, jilid 2, Bab 2, hlm. 78)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Yang masuk ke liang kubur adalah Ali, Fadhl bin Abbas dan Qutsam bin Abbas serta Syuqran, (maula Qutsam). Dan ada yang menyebutkan juga Usamah bin Zaid. Merekalah yang membalikkan jenazah Rasul Allah saw, memandikan dan mengafaninya serta mengurus segala sesuatunya. Abu Bakar dan Umar tidak menghadirinya’. (Alauddin Muttaqi al­Hindi, Kanzu’l­Ummal, jilid 3, hlm. 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Wafat Rasulullah &amp; Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah oleh O. Hashem; etc.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-5072467077411088369?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/5072467077411088369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/dimana-rasulullah-saw-wafat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/5072467077411088369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/5072467077411088369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/dimana-rasulullah-saw-wafat.html' title='Dimana Rasulullah saw wafat?'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-2698669231354319448</id><published>2008-09-22T09:06:00.000+07:00</published><updated>2008-09-22T09:07:38.470+07:00</updated><title type='text'>Siapa Pembantai Imam Husayn dan pengikutnya di Karbala?</title><content type='html'>Sampai hari ini, para pengikut Ibnu Taimiyah berusaha meyakinkan bahwa pembunuh Husein bin Ali adalah pengikut Syiah sendiri. Karena pada saat itu Syiah Ali banyak ditemui di Kufah dan merekalah yang memanggil Husein untuk datang ke Kufah dengan melayangkan ribuan surat kepada Husein as. Husein dikhianati oleh kaum Syiah, merekalah pembunuh Husein yang sebenarnya. Oleh karenanya, mereka meratapi kejadian Karbala karena penyesalan akan pengkhiatan kaumnya. Jadi kambing hitam atas tragedi Karbala adalah orang-orang Syiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika ini sama persis seperti yang dilakukan Amr bin Ash pendamping setia Muawiyah terhadap Imam Ali bin Abi Thalib as tentang peristiwa kesyahidan Ammar bin Yasir ra, sahabat Rasul dan pengikut setia Ali. Dikarenakan Rasulullah saww pernah bersabda –dalam hadis mutawatir- kepada Ammar; "sataqtuluka fiah baghiah" (engkau akan dibunuh oleh kelompok pendurhaka). Pada waktu perang Shiffin, perang antara kubu Amirulmukminin Ali as dan Muawiyah di daerah yang terkenal dengan sebutan Shiffin, di situ Ammar terbunuh. Kala itu, Ammar di pihak Amirulmukminin Ali as. Dengan terbunuhnya Ammar di pihak Ali, beberapa kaum pembela Muawiyah ingat sabda Rasul tadi, mereka pun bimbang. Untuk menghindari kebimbangan itu yang tentu akan mengurangi semangat bala tentaranya, Amr bin Ash penasehat setia Muawiyah mengatakan bahwa pembunuh Ammar adalah Ali. Dengan alasan, "jikalau Ali tidak memerangi Muawiyah niscaya Ammar tidak akan terbunuh". Karena ajakan Ali, Ammar terbunuh, berarti Ali-lah pembunuh Ammar. Logika yang lucu tapi nyata. Hanya manusia bodoh yang menerima logika semacam itu. Karena jika kita dipaksa menerima logika tersebut berarti kita harus menerima juga ungkapan bahwa pembunuh para sahabat Rasul adalah Rasul sendiri, karena Rasullah yang mengajak mereka berperang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, saat itu kaum Syiah banyak ditemui di Kufah, namun tidak semua orang Kufah bermazhab Syiah. Tidak semua yang melayangkan surat ke Husein bin Ali adalah yang bermazhab Syiah. Mereka yang melayangkan surat juga termasuk orang yang mengakui kekhalifahan Syeikhain. Mereka turut melayangkan surat dikarenakan kecintaan mereka kepada keluarga Rasul dan kebencian mereka akan kezaliman. Bukankah yang mengajarkan kecintaan kepada keluarga Rasul bukan hanya khusus mazhab Syiah saja? Bukankah yang mengajarkan kebencian terhadap berbagai kezaliman bukan hanya dikhususkan mazhab Syiah saja? Atas dasar itulah, lantas ribuan surat melayang ke pangkuan Husein bin Ali as. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka-mereka pencari kambing hitam peristiwa Karbala tidak tahu (jahil) –atau sengaja tidak mau tahu (keras kepala)- bahwa sebelum peristiwa Karbala, ribuan penduduk Kufah dibunuh oleh Ubaidillah bin Ziyad dengan bekerjasama dengan Nukman bin Basyir gubernur Kufah, bawahan Yazid. Pembunuhan itu atas perintah langsung dari Syam, pusat pemerintahan rezim Yazid. Perintah itu keluar setelah Yazid mendengar melalui mata-matanya bahwa penduduk Kufah banyak melayangkan surat kepada Husein. Selain pembunuhan juga dilakukan penangkapan besar-besaran penduduk Kufah, pendukung imam Husein. Dan intimidasi untuk menarik kembali baiat yang mereka layangkan kepada Husein di bawah ancaman mati di ujung pedang. Lantas, masihkah pengikut Ibnu Taimiyah terus akan mencari-cari kambing hitam itu? Ataukah mereka terus berusaha untuk selalu mencari jalan lain dalam rangka membela kaum durjana? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini bukti-bukti bahwa penyerangan dan pembunuhan terhadap diri al-Husein as adalah atas perintah Yazid bin Mu’awiyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Suyuthi berkata: “Maka Yazid mengirm surat kepada gubernurnya di Irak, Ubaidullah bin Ziyad, agar memeranginya (al-Husein).” [Lihat: Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal. 207].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ibn Sa’ad mengatakan: “Kala itu Nu’man bin Basyir menjabat sebagai gubernur Kufah. Yazid khawatir bahwa Nu’man tidak berani menghadapi al-Husein. Sehingga kemudian ia mengirim surat kepada Ubaidullah bin Ziyad agar menjadi gubernur di Kufah, menggantikan Nu’man. Ia juga memerintahkan kepada Ubaidullah agar menghadapi al-Husein, dan agar segera mencapai Kufah sebelum didahului oleh al-Husein.” [Ibn Sa’ad, “Thabaqat”, seputar “Maqtal al-Husein”]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kegembiraan Yazid atas terbunuhnya al-Husein as, berikut riwayatnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ibn Atsir, ulama ahli rijal, yang terkenal dengan kitab rijal-nya “Usud al-Ghabah” mengatakan: “Yazid memberi izin kepada masyarakat untuk menemuinya, sementara kepala (al-Husein) berada di sisinya. Ia lalu memukuli mulut dari kepala tersebut, sembari mengucapkan syair.” [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Atsir mengatakan: “Ketika kepala al-Husein sampai ke hadapan Yazid, maka hal itu telah menggembirakan Yazid terhadap apa yang telah ia (Ibn Ziyad) lakukan. Hingga kemudian orang-orang masuk, menunjukkan kebencian kepadanya, melaknatnya, dan mencacinya. Karenanya, Yazid pun lalu menunjukkan penyesalan atas terbunuhnya al-Husein.” [Lihat: Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 87].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ibn Katsir meriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah Mua’mar bin al-Matsna, yang mengatakan: “Ketika Ibn Ziyad membunuh al-Husein dan orang-orang yang bersama beliau, ia lalu mengirimkan kepala-kepala tersebut kepada Yazid. Maka Yazid pun bergembira pada mulanya, dan menempatkan Ibn Ziyad di samping dirinya. Namun tak berapa lama kemudian, ia menunjukkan penyesalan.” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 8, hal. 255].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al-Qasim bin Abdurahman (salah seorang budak Yazid bin Mu’awiyah) berkata: “Tatkala kepala-kepala diletakkan di hadapan Yazid bin Mu’awiyah, yaitu kepala al-Husein, keluarga, dan para sahabat beliau. Ia (Yazid) berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 391].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qasim bin Bukhait berkata: “Yazid lalu memberi izin orang-orang untuk masuk, sementara kepala (al-Husein) berada di hadapannya. Ia lalu memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 396-397].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uwanah bin al-Hakam al-Kalbi berkata: “Ubaidillah lalu memanggil Muhaffiz bin Tsa’labah dan Syimr bin Dzil Jausyan dan berkata: “Berangkatlah dengan membawa perbekalan dan kepala untuk menghadap amirul mukminin Yazid bin Mu’awiyah.” Mereka lalu berangkat. Dan ketika sampai di istana Yazid, Muhaffiz berteriak dengan suara lantang: “Kami datang dengan membawa kepala manusia paling dungu dan keji.” Yazid pun berkata: “Ibu Muhaffiz tidak melahirkan seorang yang lebih keji dan lebih dungu darinya (al-Husein). Sedangkan ia (al-Husein) adalah seorang pemutus hubungan yang zalim.” Dan tatkala Yazid melihat kepala al-Husein, ia berkata: “Sungguh kami telah membelah kepala seseorang dari para lelaki yang angkuh terhadap kami, yang mana mereka adalah orang-orang yang paling durhaka dan paling lalim.” [Lihat: Thabari, “Tarikh al-Umam wa al-Mulk”, jilid 6, hal. 394-396; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 84].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Para penulis sejarah ahlusunnah terkenal meriwayatkan: “Setelah diarak keliling kota, Ibn Ziyad (gubernur Kufah) mengirim kepala al-Husein as kepada Yazid bin Mu’awiyah di Syam (Damaskus). Saat itu bersama Yazid terdapat Abu Barzah al-Aslami. Lalu Yazid meletakkan kepala tersebut di hadapannya dan memukul-mukul mulut dari kepala itu dengan tongkat seraya bersyair. Abu Barzah lalu berkata: “Angkat tongkatmu! Demi Allah, aku kerap melihat Rasulullah mencium bibir itu.” [Lihat: Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 7, hal. 190; Al-Mas’udi, “Muruj al-Dzihab”, jilid 2, hal. 90-91; “Tarikh Thabari”, jilid 2, hal. 371; Ibn Atsir, “Tarikh al-Kamil”, jilid 4, hal. 85].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikumpulkan dari jawaban milis di http://groups.yahoo.com/group/Kajian_Islam/messages/352?o=1&amp;xm=1&amp;l=1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-2698669231354319448?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/2698669231354319448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/siapa-pembantai-imam-husayn-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/2698669231354319448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/2698669231354319448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/siapa-pembantai-imam-husayn-dan.html' title='Siapa Pembantai Imam Husayn dan pengikutnya di Karbala?'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-1301202934209775870</id><published>2008-09-16T07:50:00.002+07:00</published><updated>2008-09-16T07:54:37.064+07:00</updated><title type='text'>Buku-Buku Menarik</title><content type='html'>Buku &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2060571/AKHIRNYAKUTEMUKANKEBENARAN.zip.html"&gt;Akhirnya kutemukan Kebenaran&lt;/a&gt; oleh Muhammad al-Tijani al-Samawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2060711/NahjulBalaghah.rar.html"&gt;Nahjul Balaghah&lt;/a&gt; Imam Ali as&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2169510/SUNNAH-SYIAH-DALAM-DIALOG.pdf.html"&gt;Pendekatan Sunnah dan Syiah&lt;/a&gt; oleh Al-Marhum Al-Ustadz Husein Al-Habsyi  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2060783/WafatNabidanSuksesidiSaqifah.rar.html"&gt;Wafat Nabi dan Suksesi di Saqifah&lt;/a&gt; Oleh O.Hashem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2060818/Murajaat.zip.html"&gt;Dialog Sunnah-Syiah&lt;/a&gt; atao al-Murajaat, oleh Sharafuddin al-Musawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2152060/khulafarashidin.zip.html"&gt;KhulafaurRasyidin antara nas dan Ijtihad&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2152061/mengpa_memileh_ahlul_bayt.exe.html"&gt;Mengapa memilih Ahlu Bayt&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2060805/abhadits.pdf.html"&gt;Ahlu Bait menurut Hadith&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2060804/abquran.pdf.html"&gt;Ahlu Bait menurut al-Qur'an&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kitab &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2152117/alkafe_d.zip.html"&gt;al-Kafi&lt;/a&gt; versi word&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2169512/fiqh_solat.pdf.html"&gt;fikih Ringkasan untuk Sholat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah Shi'i penghafal al-Qur'an (al-Qurannya juga sama). &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/2060741/TheAmazingChild.rar.html"&gt;The Amazing Child &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-1301202934209775870?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/1301202934209775870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/buku-buku-menarik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1301202934209775870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1301202934209775870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/buku-buku-menarik.html' title='Buku-Buku Menarik'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-8410815171741717283</id><published>2008-09-16T07:30:00.000+07:00</published><updated>2008-09-16T07:31:47.617+07:00</updated><title type='text'>Meluruskan Peran Nashirudin al-Thusi</title><content type='html'>Nashirudin Al-Thusi (1200-1273 M), atau yang dikenal dengan Khawajah Nashir atau Khawajah al-Thusi, adalah salah seorang ulama besar syi’ah. Ia menulis banyak buku yang tidak hanya meliputi ilmu-ilmu agama, tetapi juga filsafat, matematika, dan astronomi. Karena kepandaiannya tersebut, akhirnya ia menjadi orang kepercayaan Hulagu Khan, penguasa Mongol yang berkuasa saat itu atas wilayah Iran dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di kemudian hari, setelah peristiwa penaklukan Baghdad (10 Februari 1258 M/ 656 H) yang mengakhiri 500 tahun kekuasaan rezim dinasti Abbasiyah, muncul pernyataan bahwa al-Thusi berperan dalam peristiwa tersebut. Dan pendapat ini diwakili oleh tiga kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama adalah kelompok non-syi’ah, yaitu pendapat Ibn Taimiyyah beserta para murid dan pengikutnya, seperti Ibn Qayyim al-Jauziyah, al-Subki, Khwand Mir, dan Ibn al-‘Imad. Ia mengatakan bahwa al-Thusi telah mendesak (menghasut) Hulagu untuk menaklukkan Baghdad. Bahkan kemudian ia mengecam al-Thusi dengan mengatakan bahwa ia tidak mengindahkan ajaran agama, menghina larangan syari’at, meninggalkan sholat, mengijinkan perzinaan, dan lain-lain[1]. Bahkan Ibn Qayyim menyebut Nashirudin al-Thusi sebagai “Nashir al-Syirk wa al-Kufr wa al-Ilhad” (penolong kesyirikan, kekufuran, dan ateisme), ia pun menuduhnya sebagai orang yang menolak sifat-sifat Allah, mempelajari ilmu sihir, menyembah berhala, dan lain-lain[2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Kedua, adalah kelompok orientalis Barat, seperti para penulis Cambridge History of Iran, Edward Browne, dan Arbery[3]. Mereka ini tentu saja terpengaruh oleh tuduhan Ibn Taimiyah dan murid-muridnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Ketiga, adalah kelompok ulama syi’ah, yaitu al-Khwansari dan Qadi Nurullah al-Shustari. Mereka mendukung pendapat keterlibatan al-Thusi dan menyatakan bahwa tindakan al-Thusi adalah positif sebagai bentuk perlawanan atas penindasan rezim Abbasiyah[4].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi para peneliti sejarah syi’ah masa kini, seperti DR. Hairi dan Syaikh Rasul Ja’fariyan, menyangkal pendapat keterlibatan al-Thusi pada peristiwa jatuhnya Baghdad. Mereka menyatakan bahwa pendapat semua kelompok tersebut tidak disertai bukti-bukti dan argumen kuat, dengan kata lain pendapat-pendapat tersebut tidak berdasar. Pendapat Ibn Taimiyyah—yang hidup beberapa tahun setelah peristiwa itu—hanya didasarkan pada tendensi kebenciannya terhadap syi’ah. Sementara dukungan al-Khwansari dan al-Shustari—yang hidup 500 tahun setelah peristiwa itu—atas pendapat keterlibatan al-Thusi dikarenakan kebencian mereka terhadap rezim Abbasiyah[5].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, penyangkalan mereka (para peneliti) tersebut terhadap keterlibatan al-Thusi didasarkan pada bukti-bukti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Para saksi mata peristiwa penaklukan Baghdad tersebut dan para penulis sejarah yang hidup pada dekade setelahnya atau beberapa ratus tahun setelahnya tidak menyebut keterlibatan al-Thusi ketika menberitakan peristiwa penaklukan Baghdad tersebut. Bahkan ketika memberitakan sosok al-Thusi, hanya disinggung tentang kedalaman pengetahuannya atas beberapa bidang ilmu. Ini menunjukkan bahwa mereka menyangkal tuduhan keterlibatannya tersebut semenjak hal ini menjadi isu penting. Di antara mereka adalah: Minhaj Siraj (menulis bukunya tahun 1260 M), Ibn al-‘Ibn (w. 1286 M), Ibn Kazeruni (w. 1297), Ibn al-Fawti (menulis bukunya tahun 1259 M), Ibn al-Thiqthaqa (w. 1309 M), Ibn Syakir al-Qurtubi (w. 1362 M), al-Dzahabi (w. 1345 M), Suyuthi (w. 1505 M), dan lain-lain[6]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, tuduhan Ibn Taimiyyah beserta para murid dan pengikutnya adalah tidak berdasar, karena tidak disertai dengan bukti-bukti dan argument kuat. Bahkan Ibn al-Imad al-Hanbali (salah seorang pengikut Ibn Taimiyyah) meragukan pendapat tersebut dengan menghalangi setiap penerimaan atas tuduhan mereka tentang keterlibatan al-Thusi[7]. Juga Ibn Katsir al-Hanbali (yang dianggap sebagai pengikut Ibn Taimiyyah) menentang tuduhan mereka tersebut, dengan mengatakan: “Khawajah memang berada dalam rombongan Hulagu selama peristiwa Baghdad. Beberapa orang menganggap bahwa Khawajah telah mendesak (menghasut) Hulagu untuk membunuh Khalifah. Namun, saya yakin bahwa tindakan seperti itu tidak akan dilakukan oleh seorang intelektual dan terpelajar”[8]. Ini membuktikan bahwa Ibn Katsir tidak mempercayai keterlibatan seorang intelektual dan terpelajar seperti al-Thusi dalam peristiwa penaklukan Baghdad tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keberadaan al-Thusi dalam rombongan Hulagu ketika akan menaklukkan Baghdad, bukanlah bukti keterlibatan al-Thusi pada peristiwa tersebut. Melainkan ia khawatir akan keselamatan dirinya bila menolak ajakan Hulagu. Saat itu Hulagu sedang berada dalam puncak kemarahannya untuk menaklukkan Baghdad, sehingga ia tidak ingin ada yang menentangnya apapun alasannya, sebagaimana nasib Husam al-Din. Diberitakan oleh Rashid al-Din, bahwa Husam berusaha menghalangi Hulagu untuk menyerang Baghdad karena diperkirakan akan terjadi malapetaka yang akan menimpa Hulagu. Namun, Hulagu justru membunuhnya. Ini menandakan bahwa Hulagu tidak ingin dihalangi meskipun oleh orang terdekatnya sendiri (Husam), apapun alasannya. Sehingga kekhawatiran al-Thusi memang sangat beralasan[9]. Dan lagi mengapa yang dikecam hanya al-Thusi? Padahal dalam rombongan Hulagu juga terdapat banyak ulama sunni, seperti Syarafuddin Ibn al-Jauzi, yang merupakan orang kepercayaan khalifah[10]. Ini menandakan bahwa tuduhan terhadap al-Thusi tidak lain hanyalah karena kebencian terhadap syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Baghdad, pada kenyataannya, telah menjadi target operasi Mongol sejak lama, jauh sebelum serangan Hulagu. Pada tahun 1237 M, Baghdad yang waktu itu diperintah oleh al-Muntasir Billah, telah diserang oleh Mongol yang dipimpin oleh Baychownian, tetapi gagal. Tahun 1245 M, Baghdad yang diperintah oleh al-Musta’shim, diserang oleh Mongol yang dipimpin oleh Bajaktai Yunior, namun gagal lagi. Dan pada tahun 1249 M, Baghdad diserang kembali oleh Mongol yang dipimpin oleh Khanaqin, namun gagal juga. Sehingga Mongke/Mengu (salah seorang penguasa Mongol saat itu) pada tahun 1251 M memanggil saudaranya, Hulagu Khan, untuk menyerang Baghdad[11]. Jelaslah, bahwa penaklukan Baghdad bukanlah rencana baru yang dibuat oleh Hulagu karena desakan (hasutan) al-Thusi, sebagaimana yang dituduhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor sebenarnya yang menjadi penyebab jatuhnya Baghdad adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jatuhnya Turkestan (Peristiwa Utrar)&lt;br /&gt;Turkestan merupakan pagar masuknya Mongol ke Baghdad. Pada tahun 1219 M, Jengis Khan ingin membuka hubungan persahabatan dengan Turkestan, dengan cara mengirimkan utusan dan kafilah dagang. Namun, Gubernur Utrar, Inaljuk, malah membunuh mereka dan merampas dagangannya. Jengis Khan lalu mengirim surat, meminta kepada Sultan Ala’uddin Muhammad Khwarazmsyah (penguasa Turkestan) agar Gubernur Utrar tersebut diserahkan kepadanya. Namun dengan arogan Ala'uddin menolak, bahkan membunuh utusan yang membawa surat tersebut. Akhirnya Jengis Khan mengirmkan pasukan untuk menyerang Turkestan, dan berhasil menaklukannnya pada tahun 1220 M. Bahkan pasukan Mongol yang primitif itu juga membunuh wanita, anak-anak dan orang tua. Dan tahun tersebut merupakan awal masuknya Mongol ke dunia Islam. Tidak hanya itu, Mongol juga melebarkan serangannya dan berhasil menguasai Nishabur, Bukhara, Samarkand, Herat, dan Thus. Hingga meninggalnya Jengis Khan (1227 M), Mongol telah berhasil melebarkan kekuasaan hingga Rey, Qum, Kasyan, dan Saveh. Akibatnya lingkup Baghdad semakin sempit, karena wilayah-wilayah di sekitarnya telah jatuh ke tangan Mongol[12].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pertentangan di antara Pengikut Mazhab Ahlusunnah&lt;br /&gt;Kaum Mongol, sejak 627 H/1229 M, telah berulang-ulang menyerang Isfahan (atau Asbihan), namun selalu gagal, dengan korban yang tidak sedikit dari kedua belah pihak. Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili memberitakan bahwa pada tahun 633 H/1235 M terjadi perselisihan antara pengikut mazhab Hanafi dengan pengikut mazhab Syafi’i, yang menyeret pada perang saudara yang berlarut-larut. Kemudian pengikut Syafi'i mendatangi pasukan Tartar (Mongol), yang waktu itu diperintah oleh Ko An, salah seorang putera Jengis Khan. Mereka meminta Ko An untuk menyerang pengikut Hanafi di Isfahan dan rela menyerahkan kota tersebut pada Mongol. Ko An lalu mengepung kota Isfahan dari segala penjuru, sementara di dalam kota telah berkecamuk pertempuran antara kedua pengikut mazhab Ahlusunnah tersebut. Lalu pengikut Syafi'i membukakan pintu kota bagi pasukan Tartar (Mongol) sesuai perjanjian, agar pasukan Tartar membasmi pengikut Hanafi. Namun yang terjadi justru pasukan Tartar membunuh keduanya, baik pengikut Hanafi maupun pengikut Syafi'i. Mereka (pasukan Tartar) menawan wanita, merobek perut wanita hamil, dan menjarah harta penduduk. Kemudian mereka membakar kota Isfahan hingga menjadi abu[13]. Akibatnya posisi Baghdad pun semakin goyah dan terkepung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hedonisme Para Penguasa Abbasiyah&lt;br /&gt;Ibn al-Thiqthaqa (w. 1309 M), yang telah menyaksikan runtuhnya kekhalifahan Abbasiyah dan hancurnya Baghdad tahun 1258 M, menyatakan dalam kitabnya “Al-Fakhr fi al-Adab al-Sulthaniyyah” bahwa jatuhnya Baghdad disebabkan oleh gaya hidup khalifah al-Musta’shim. Ia menulis : “Khalifah terakhir Abbasiyah, al-Musta’shim, suka berfoya-foya dan berpesta-pesta. Majelisnya tidak pernah sepi dari kehidupan seperti itu. Para hulubalangnya juga serupa. Hanya rakyat yang sering mengingatkannya agar ia sadar. Orang pun membuat syair, seperti :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong sampaikan pada khalifah ‘sadarlah’.&lt;br /&gt;Kalau begini terus bencana tentu datang.&lt;br /&gt;Baginda terlena buaian dunia pembawa musibah.&lt;br /&gt;Bangkitlah dan gelorakan semangat juang.&lt;br /&gt;Bencana dan perang pasti akan datang.&lt;br /&gt;Begitu pula perpecahan, perkosaan, dan penawanan.&lt;br /&gt;Pembunuhan, perampasan, dan perampokan.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya kegagalan Mongol dalam menyerang Baghdad pada tahun 1245 M dan 1249 M telah membuat sang khalifah semakin lupa diri. Akibatnya pasukannya pun tidak terurus dan tidak terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling ironis adalah pada saat Hulagu mengirim utusan kepada Badrudin Lu’lu’ (penguasa kerajaan Mosul saat itu) untuk meminta senjata guna menyerang Baghdad, justru khalifah Musta’shim pada saat yang sama mengirim surat kepada Badrudin untuk meminta wanita penghibur. Sehingga Badruddin berkata: “Menangislah kalian, tangisilah Islam dan umatnya.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan al-Musta’shim juga dikenal dengan kekikirannya. sehingga banyak dari pasukannya—yang tidak diberi gaji—melarikan diri dan bergabung dengan kerajaan Syam[16]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Banjir Bandang&lt;br /&gt;Baghdad dilanda banjir bandang yang terjadi berturut-turut pada tahun 1253 M, 1255 M, dan 1256 M. Banjir bandang ini telah mengakibatkan kerusakan cukup besar pada kota Baghdad. Karenanya, ini pun berperan melemahkan kondisi kota tersebut.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Hulagu telah mempersiapkan serangan ke Baghdad dengan sangat matang, kurang lebih selama tujuh tahun. Sehingga pasukannya pun menjadi kuat, apalagi didukung oleh sistem mata-mata yang baik. Langkah awal Hulagu adalah menaklukkan Asasin terlebih dahulu, di Alamut (Persia Barat Daya), tahun 1255 M. Ini membuka jalan baginya ke Baghdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Hulagu berhasil menaklukkan benteng kota Baghdad, ia mengirim utusan kepada khalifah untuk menyerah secara baik-baik (sebagaimana pesan Mongke kepadanya). Lalu khalifah berunding dengan wazirnya, dan wazirnya menyarankan untuk berdamai dan mengirimkan hadiah yang banyak kepadanya. Namun, karena hasutan sahabat-sahabatnya yang benci terhadap wazirnya itu, khalifah dengan arogan menolak tawaran Hulagu. Bahkan sejarawan Ibn Katsir juga menyesalkan sikap khalifah al-Musta’shim ini[18].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, perang pun tak dapat dihindari. Baghdad diserang oleh pasukan Hulagu, yang juga menjatuhkan ribuan korban di pihak rakyat sipil oleh kebiadaban tentara Tartar (Mongol). Dan al-Musta’shim pun terbunuh secara mengenaskan, tubuhnya dibungkus dan ditendang-tendang sampai mati[19].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa al-Thusi bergabung dengan Hulagu dan bukan pada penguasa Abbasiyah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thusi terpaksa bergabung dengan pemerintah Mongol sebagai bentuk taqiyyah, dikarenakan semata-mata demi menyelamatkan Islam dari kehancuran, serta demi menyelamatkan rakyat dari kesengsaraan dan kebodohan. Apalagi Hulagu tidak mempermasalahkan kesyi’ahannya. Sebaliknya, penguasa Abbasiyah justru memusuhi dan menindas syi’ah. Khalifah al-Musta’shim, yang berkuasa saat itu, telah melakukan pembunuhan terhadap sejumlah besar kaum syi’ah, termasuk juga terhadap golongan Bani Hasyim dan lainnya, menawan anak-anak perempuan mereka, dan mengarak mereka keliling pasar tanpa busana di atas kuda[20]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Khawajah al-Thusi telah dikenal sebagai salah seorang ulama syi’ah terkemuka. Sehingga mustahil baginya untuk bergabung dengan rezim Abbasiyah. Dan lagi al-Thusi menetap di Iran yang waktu itu dikuasai Hulagu, bukan di Baghdad (Irak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thusi melihat bahaya besar bagi Islam dan kaum muslimin akibat masuknya dan berkuasanya Mongol di dunia Islam. Penguasa Mongol telah meruntuhkan kota-kota Islam di sepanjang jalan dan membasmi populasi muslimin. Semua warisan budaya, termasuk perpustakaan, dihancurkan tanpa ampun. Ia melihat tak ada yang bisa menghalangi hal ini, dan sejarah telah membuktikannya. Bila hal ini berlarut-larut, maka Mongol akan mengubah dunia Islam menjadi tak berbudaya dan tak beradab (barbar), dan kaum muslimin akan kembali ke masa jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ia berpikir mumpung penguasa baru saat itu menunjukkan penghormatan kepada para ulama, maka ia bisa memanfaatkan ini untuk menyelamatkan Islam dan kaum muslimin. Selain itu, siapa tahu ada di antara mereka yang kemudian mau memeluk Islam. Karenanya, tidak ada cara lain kecuali bergabung dengan Mongol, yang saat itu diperintah oleh Hulagu Khan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terbukti di kemudian hari, dengan bergabungnya al-Thusi, ia dapat memberikan peranan besar dalam menyelamatkan Islam dan kaum muslimin. Peranan tersebut dalam bentuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thusi dipercaya untuk mengurus harta pemerintah. Dan ia memanfaatkan ini untuk membagikannya secara adil kepada kaum muslimin, terutama rakyat yang tertindas. Ia juga menggunakan harta tersebut untuk membangun observatorium “Easad Khanah”, dan menggaji para ulama yang bekerja di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thusi membangun perpustakaan-perpustakaan, membangkitkan kembali ilmu pengetahuan Islam, dan membina para pelajar. Ia juga mampu mengkoleksi 400.000 buku di perpustakaan yang dibangunnya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thusi juga telah menyelamatkan masyarakat dari tindakan pemusnahan (genocide) semasa kampanye kekuasaan Hulagu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thusi berhasil menggalang simpati Hulagu sedemikian luas, sampai-sampai Hulagu tidak akan menunggang kuda dan melakukan perjalanan tanpa persetujuan al-Thusi. Dan ia memanfaatkan ini untuk melindungi para ulama Islam, yang telah membuat gusar penguasa Mongol, tanpa melihat mazhabnya. Seperti ketika ia menyelamatkan nyawa Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili, Muwaffaq al-Dan, serta Ala’uddin al-Juwayni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thusi juga berhasil meredakan watak barbar Hulagu. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Syarif Tabrazi bahwa “para tiran tersebut telah menjadi lemah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Thusi juga berhasil menarik simpati Abaqan, putera Hulagu yang berkuasa sepeninggal Hulagu. Hal ini ia gunakan untuk melindungi para pelajar. Akibatnya, Abaqan memberikan hadiah kepada hampir seratus pelajar yang pernah menjadi murid al-Thusi. Dan bahkan ia pun sempat menyeru dan mengingatkan Abaqan agar ia menyenangkan Allah SWT, berbuat adil, menyelesaikan permasalahan rakyat dengan cara yang baik dan luhur, tidak berbuat tiran terutama kepada orang-orang saleh dan rakyat tak-berdosa, serta menyuburkan tanah-tanah sehingga kekayaan bisa diperoleh tanpa penindasan dan penderitaan rakyat. Setelah al-Thusi wafat, hasil dari upayanya tersebut terlihat dengan makin populernya Islam di kalangan penguasa Mongol dan warga Mongol di Iran. Karenanya, matahari Islam bersinar dan kegelapan pun sirna[21]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sosok Khawajah Nashirudin al-Thusi yang sebenarnya. Karena itu, sepantasnyalah beliau dimuliakan dan dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Ibn Taimiyyah, “Minhaj al-Sunnah”, jilid 2, hal. 199.&lt;br /&gt;[2] Syaikh Rasul Ja’fariyan, “The Alleged Role of Khawajah Nasir al-Din al-Tusi in The Fall of Baghdad”, hal. 4, Jurnal al-Tawhid, vol. 8, no. 2.&lt;br /&gt;[3] Ibid, hal. 5.&lt;br /&gt;[4] Ibid.&lt;br /&gt;[5] Ibid.&lt;br /&gt;[6] Ibid, hal. 9-10.&lt;br /&gt;[7] Ibid, hal. 10.&lt;br /&gt;[8] Ibn Katsir, “Al-Bidayah wa al-Nihayah”, jilid 13, hal. 267-268.&lt;br /&gt;[9] Syaikh Rasul Ja’fariyan, “The Alleged Role”, hal. 12-13, Jurnal al-Tawhid, vol. 8, no. 2.&lt;br /&gt;[10] Ibid, hal. 3.&lt;br /&gt;[11] Ibid, hal. 6-7; Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili, “Syarh Nahjul Balaghah”, jilid 8, hal. 238-240; Encyclopaedia Brittanica, pada artikel “Musta’shim” dan “Hulegu”.&lt;br /&gt;[12] Suyuthi, “Tarikh al-Khulafa”, hal . 469; Ibn Atsir, “al-Kamil”, jilid 12, hal. 363; Timothy May, “Genghis Khan”, The University of Wisconsin- Madison; Irangasht.com, “Mongol Invasion”; Syaikh Rasul Ja’fariyan, “The Alleged Role”, hal. 5-6, Jurnal al-Tawhid, vol. 8, no. 2; Encyclopaedia Brittanica, pada artikel “Ala’uddin”.&lt;br /&gt;[13] Ibn Abil Hadid al-Mu’tazili, “Syarh Nahjul Balaghah”, jilid 8, hal. 237-238.&lt;br /&gt;[14] Syaikh Rasul Ja’fariyan, “The Alleged Role”, hal. 8, Jurnal al-Tawhid, vol. 8, no. 2; O. Hashem, “Syi’ah Ditolak Syi’ah Dicari”, hal. 194 (yang mengutip dari kitab “Al-Fakhr fi al-Adab al-Sulthaniyah” karya Ibn al-Thiqthaqa, hal. 33).&lt;br /&gt;[15] O. Hashem, “Syi’ah Ditolak Syi’ah Dicari”, hal. 194 (yang mengutip dari kitab “Al-Fakhr fi al-Adab al-Sulthaniyah” karya Ibn al-Thiqthaqa, hal. 33).&lt;br /&gt;[16] O. Hashem, “Syi’ah Ditolak Syi’ah Dicari”, hal. 197 (yang mengutip dari kitab “Tarikh” karya Ibn al-Futha, hal. 261).&lt;br /&gt;[17] Encyclopaedia Brittanica, pada artikel “Musta’shim” dan “Hulegu”.&lt;br /&gt;[18] O. Hashem, “Syi’ah Ditolak Syi’ah Dicari”, hal. 197-198; Syaikh Rasul Ja’fariyan, “The Alleged Role”, hal. 7, Jurnal al-Tawhid, vol. 8, no. 2; The Applied History Research Group “The Il-Khanate”, The University of Calgary, tahun 1998.&lt;br /&gt;[19] Syaikh Rasul Ja’fariyan, “The Alleged Role”, hal. 13, Jurnal al-Tawhid, vol. 8, no. 2.&lt;br /&gt;[20] O. Hashem, “Syi’ah Ditolak Syi’ah Dicari”, hal. 199 (yang mengutip dari kitab “Raudhah al-Shafa”, jilid 5, hal. 239).&lt;br /&gt;[21] A.H. Hairi, “Nasiruddin Tusi: His Alleged Role in the Fall of Baghdad”, hal. 255-266; Syaikh Rasul Ja’fariyan, “The Alleged Role”, hal. 14-19, Jurnal al-Tawhid, vol. 8, no. 2.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muh. Anis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: http://groups.yahoo.com/group/Kajian_Islam/messages/362?o=1&amp;xm=1&amp;l=1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-8410815171741717283?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/8410815171741717283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/meluruskan-peran-nashirudin-al-thusi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8410815171741717283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/8410815171741717283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/meluruskan-peran-nashirudin-al-thusi.html' title='Meluruskan Peran Nashirudin al-Thusi'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-3178457618349116594</id><published>2008-09-06T07:30:00.002+07:00</published><updated>2008-09-10T07:01:21.937+07:00</updated><title type='text'>Mengkritik Mencela Para Sahabat  Adalah Kufur?</title><content type='html'>Hampir sebagian besar kalangan Sunni menuduh golongan Syiah sebagai kaum Kafir karena mereka mengkritik, mencela, memaki, mengkafirkan para sahabat. Jika demikian?... terserah anda. Namun yang jadi masalah adalah apakah hukum ini berlaku juga bagi Nabi atau para sahabatnya sendiri? karena dalam kitab Hadith maupun tarikh terdapat pula kritikan, teguran, celaan, permusuhan antar sahabat bahkan membunuh sahabat lainnya. Apakah kita harus menghapus riwayat-riwayat yang mengandung kekerasan itu di seluruh kitab-kitab ataukah mengubah hukum dalam mengkritik atau mencela sahabat, mis celaan tersebut menjadi doa atau rahmat baginya, sebagai ijtihad yang salah, boleh mengkritik mencela para sahabat yang tidak sesuai atau ada jalan lain?...terserah anda, aku hanya menyebarkan riwayat sejarah yang ditulis pada zaman dulu.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah sebagian riwayat tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Rasulullah saw dengan sahabat Mu'awiyah&lt;br /&gt;"Rasulullah pernah menyuruh Ibn Abbas, yang sedang bermain untuk memanggil Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Pada panggilan pertama, Ibn Abbas melaporkan bahwa Mu'awiyah sedang makan dan tidak bisa memenuhi panggilan Rasulllah. Pada panggilan yang kedua kalinya, Mu'awiyah juga sedang makan. Kemudian waktu itu Rasulullah mendoakannya. Doa ini diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut, "Mudah-mudahan Allah tidak mengenyangkan perutnya".&lt;br /&gt;Alhasil, doa, laknat Nabi atau apapun sebutannya itu pun diijabah Tuhan. Ketika Mu'awiyah menjadi penguasa, dia hampir tidak bisa berhenti makan. Bahkan ketika perutnya sudah besar dia masih terus ingin makan. Riwayat ini ada di Sahih Muslim kitab al-Birr wa al-Shilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Sahabat2 utama; Ali, Aisyah, Umar dengan Abu Hurairah &lt;br /&gt;Ibnu Qutaibah menulis: ‘Dan mengherankan sikap mereka (para ahli hadis)? mereka menyebut Abu Hurairah sebagai pembohong tetapi mereka tidak menulis mengenai Abu Hurairah sesuai dengan kesepakatan para ahli hadis. Yahya bin Mu’in dan Ali Ibnu al­Madini dan orang­orang seperti  mereka menolak Hadis Abu Hurairah, tapi anehnya orang tetap saja berhujah dengan hadis Abu Hurairah yang tidak akur dan serasi dengan seorang pun dari para sahabat dan telah dianggap sebagai pembohong oleh Umar, Utsman dan Aisyah.’&lt;br /&gt;Ibnu  Qutaibah  melukiskan  hubungan  Aisyah  dengan  Abu  Hurairah:  ‘Engkau  menyampaikan hadis yang tidak kudengar dari Nabi saw’. Demikianlah kata­kata Aisyah  yang ditujukan kepada Abu Hurairah. Abu Hurairah menjawab dengan  jawaban  yang  tidak beradab dan  tanpa hormat, seperti  diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Sa’ad, Ibnu Katsir dan lain­lain: ‘Engkau (terlalu) sibuk dengan cermin dan tempat celak!’. Dan di bagian lain ia berkata kepada Aisyah: ‘Aku  tidak disibukkan oleh cermin dan tempat celak serta pewarna, tetapi aku melihat Anda demikian’. Dan diriwayatkan oleh Dzahabi bahwa Aisyah berkata kepada Abu Hurairah:  ‘Keterlaluan Abu Hurairah, berlebihan yang engkau sampaikan tentang Rasul Allah!’. Dan Abu Hurairah menjawab: ‘Aku tidak disibukkan oleh cermin dan tidak oleh tempat celak dan tidak juga dengan alat pemoles (yang menjauhkan aku dari Rasul Allah)!’ &lt;br /&gt;Dan Aisyah menjawab: ‘Engkaulah  yang  sibuk mengurus perutmu, dan kerakusanmu membuat engkau terbirit-­birit pergi dari Rasul Allah dan bergegas (bersembunyi) di belakang orang­orang, mengetuk rumah meminta­minta makanan untuk memenuhi perutmu yang lapar sehingga mereka lari dan menjauhimu. Kemudian engkau jatuh pingsan di depan kamarku dan orang mengira engkau gila dan mereka menginjak­injak lehermu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu Umar memecatnya dari kedudukannya sebagai gubernur Bahrain karena menuduhnya sebagai pencuri. Ibnu Abd Rabbih menulis pada bagian awal jilid pertama bukunya ‘Iqd al­Farid. “Umar kemudian memanggil Abu Hurairah dan berkata kepadanya: ‘Aku tahu tatkala aku mengangkatmu jadi gubernur di Bahrain, sandal pun engkau tidak punya. Kemudian sampai berita kepadaku bahwa engkau membeli kuda­kuda seharga seribu enam ratus dinar’. Abu Hurairah: ‘Kami memiliki kuda kemudian beranak-pinak dan aku mendapat hadiah beruntun’. Umar: ‘Aku telah perhitungkan penghasilanmu dan rizkimu dan kelebihan ini harus kau kembalikan!’. Abu Hurairah: ‘Kamu tidak berhak untuk mengambilnya!’. Umar: ‘Ya, demi Allah aku harus ambil! Dan aku akan pukul punggungmu!’ Kemudian ia mengambil pecut dan memukulnya sampai berdarah! “Kemudian Umar berkata: ‘Bawa kemari uang itu!’ Abu Hurairah: ‘Aku menganggap harta yang engkau ambil itu di jalan Allah!” Umar: ‘Ya, kalau engkau mengambil itu dari yang  halal dan engkau laksanakan di jalan yang benar! Apakah engkau datang dari Bahrain mengambil  pajak untuk dirimu dan bukan karena Allah dan bukan untuk kaum Muslimin? Kau tidak punya  keahlian apa­apa kecuali mengangon unta!’ Di bagian lain Abu Hurairah meriwayatkan dalam buku yang sama: ‘Abu Hurairah menerangkan: ‘Ketika aku diberhentikan oleh Umar dari Bahrain, Umar berkata kepadaku: ‘Ya musuh Allah dan musuh Kitab­Nya, engkau mencuri harta Allah? Aku menjawab: ‘Aku bukan musuh Allah dan musuh KitabNya! Tapi aku adalah musuh yang memusuhimu! Dan aku tidak mencuri harta Allah!’ Umar: ‘Dari mana engkau kumpulkan uang yang sepuluh ribu?’ Abu Hurairah: ‘Kuda beranak pinak dan aku telah mendapat hadiah beruntun dan keuntungan susul menyusul, Umar menyitanya dariku! Dan setelah shalat subuh aku mintakan pengampunan untuk Amirul mukminin!’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Ali dengan Mu'awiyah cs&lt;br /&gt;Az­Zamakhsyari dalam Rabi’al­Abrar dan Suyuthi menceritakan: ‘Di zaman Umayyah lebih dari 70.000 mimbar digunakan untuk melaknat Ali bin Abi Thalib’. Mimbar­mimbar ini menyebar di seluruh wilayah dari ufuk Timur ke ufuk Barat. Al­Hamawi berkata: Ali bin Abi Thalib dilaknat di atas mimbar­mimbar masjid dari Timur sampai ke Barat kecuali masjid jami’ di Sijistan”. Di masjid ini hanya sekali terjadi khatib melaknat Ali. Tetapi pelaknatan di mimbar Haramain, Makkah dan Madinah, berjalan terus’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mughirah bin Syu’bah yang jadi gubernur di Kufah menyuruh jemaah masjid mengutuk Ali dengan  kata­kata: ‘Wahai manusia, pemimpinmu menyuruh kepadaku untuk melaknat Ali, maka kamu laknatilah dia’. jemaah berteriak ‘Mudah­mudahan Allah melaknati dia!’. Tetapi dalam hati, yang mereka maksudkan dengan ‘dia’ adalah Mughirah. Pelaknatan Mughirah terhadap Imam Ali dilakukan terus menerus. Sekali ia mengatakan dalam khotbahnya: ‘Sesungguhnya Rasul Allah saw  tidak menikahkan putrinya dengan Ali karena Rasul menyukai Ali, tetapi untuk memperbaiki hubungannya dengan keluarga Abu Thalib’. Pada suatu ketika ia ditegur sahabat Zaid bin Arqam: ‘Hai Mughirah, apakah engkau tidak tahu bahwa Rasul saw melarang mencerca orang yang sudah mati? Tidakkah engkau melaknat Ali dan ia sudah meninggal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash  yang berkata: Mu’awiyah berkata kepada Sa’d: ‘Apa yang menghalangimu melaknat Abu Turab?’. Sa’ad menjawab: ‘Ada tiga hal yang diucapkan RasulAllah saw  sehingga aku tidak akan pernah mencacinya, karena bila saja aku mendapat satu dari tiga keutamaan itu aku lebih suka dari pada memiliki harta apa saja yang paling berharga. Kemudian ia menyebut hadis al-­Manzilah, ar-­Rayah (bendera) dan al-­Mubahalah. &lt;br /&gt;Dalam lafal Thabari: ‘Tatkala Mu’awiyah naik haji, ia berthawaf bersama Sa’ad dan setelah selesai, Mu’awiyah pergi ke Dar an­Nadwah dan mengajak Sa’ad duduk bersama di ranjangnya  (sarir) dan Mu’awiyah mulai memaki Ali, Sa’ad bangkit dan berkata: ‘Engkau mengajak aku duduk bersama di ranjangmu kemudian engkau memaki Ali, demi Allah bila aku dapat satu saja yang didapat Ali aku lebih suka dari apa yang dapat didatangkan matahari’? sampai ia selesai mengemukakan hadis dan Sa’ad bicara: ‘Demi Allah aku tidak akan memasuki rumahmu!’ &lt;br /&gt;Meskipun Sa’d bin Abi Waqqash tidak mau membaiat Ali, tetapi ia tidak dapat berdiam diri dan menegur Mu’awiyah. Bila ada Sa’ad, satu dari enam anggota Suyura, Muawiyah tidak berani melaknat Ali. Tatkala ia akan berkhotbah di masjid Nabi dan akan melaknat Ali, Sa’ad berkata: ‘Bila engkau melaknat Ali aku pasti keluar dari masjid’. Sa’ad bin Abi Waqqash, setelah meninggalnya Utsman, hidup menyendiri. Pertemuannya dengan Mu’awiyah hampir selalu terjadi di masjid. Ia memanggil Mu’awiyah sebagai raja dan bukan khalifah. Setelah Ali meninggal, hanya ia seorang diri lagi yang anggota syura dan  selalu mengatakan kesalahannya tidak membaiat Ali. ‘Saya telah mengambil keputusan yang salah. Dan tatkala orang menyalahkannya karena tidak mau mendukungnya memerangi Ali ia berkata: ‘Saya menyesal tidak memerangi al­fi’ah al­bighiah, kelompok pemberontak (yaitu Mu’awiyah).&lt;br /&gt;Demikian pula dengan Abdullah bin Umar, meski tidak membaiat kepada Ali pada akhirnya berkata: ‘Saya tidak pernah menyesal hidup di dunia, kecuali tidak berperang bersama Ali bin Abu Thalib melawan kelompok pemberontak sebagaimana diperintahkan Allah’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu hari Muawiyah sedang duduk-duduk dengan teman-temannya. Ahnaf bin Qais juga hadir. sementara itu seorang Syria datang lalu berpidato. pada akhir pidatonya ia mencerca Ali. mendengar itu Ahnaf berkata kepada Muawiyah, tuan! bila orang ini mengetahui bahwa anda akan merasa senang bila para Nabi dikutuk maka ia pun akan mengutuk mereka. Takutlah kepada Allah dan janganlah mengusik-usik Ali lagi. Ia sudah menemui Tuhannya. ia sekarang sendirian di kuburnya dan hanya amalnya yang menyertainya. Saya bersumpah demi Allah bahwa pedangnya sangat suci dan pakaiannya pun sangat bersih dan rapi, tragedi yang menimpanya besar.&lt;br /&gt;Muawiyah berkata, "Hai Ahnaf! engkau telah menaburkan debu ke mata saya dan berkata sesukamu. Demi Allah, engkau harus naik ke mimbar dan melaknat Ali. bila engkau tidak melaknatnya dengan sukarela maka engkau akan dipaksa melakukannya. Ahnaf menjawab, "Sebaiknya anda memaafkan saya dari melakukannya. namun meskipun anda memaksa saya, saya tetap tidak akan mengucapkajn kata-kata semacam itu. lalu Muawiyah menyuruhnya naik ke mimbar. Ahnaf berkata, Bila saya naik ke mimbar maka saya berlaku jujur. Muawiyah berkata, Bila engkau jujur, apa yang akan kau ucapkan? Ahnaf menjawab, "setelah naik ke mimbar maka saya akan memuji Allah lalu berkata begini, "Wahai manusia! Muawiyah telah menyuruh saya untuk mengutuk Ali. Tiada ragu bahwa Ali dan Muawiyah saling bermusuhan. Masing-masing mengaku bahwa pihaknya yang telah dizalimi. Oleh karena itu bila saya berdoa, hendaklah anda sekalian mengamininya" lalu saya akan berkata, "Ya Allah! Kutuklah salah satu dari kedua orang ini yang durhaka, dan biarkanlah para malaikat, nabi-nabi serta seluruh makhluk-Mu mengutuknya. Ya Allah! Limpahkanlah kutukan-Mu kepada kelompok pendurhaka. Wahai hadirin, ucapkanlah Amin. Wahai Muawiyah, saya tidak akan mengucapkan apa-apa selain kata-kata ini, walaupun saya harus kehilangan nyawa saya. Muawiyah menjawab, "Ya, kalau bbegitu aku memaafkanmu (dia naik ke mimbar dan mengutuk). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai alasan pelaknatan Ali bin Abi Thalib, dapat dijelaskan dengan riwayat dari Umar Bin Abd al-Aziz berikut ini: Pada waktu itu ayahku adalah gubernur di Makkah. Aku mendengar ayahku bicara lancar sampai pada saat ia melaknat Ali dan suaranya jadi tidak jelas, terbata­bata dan menyesakkan, hanya Allah yang tahu. Dan aku terheran­heran melihat yang demikian itu. Maka  suatu hari aku bertanya kepadanya: ‘Wahai ayah, engkau berkhotbah begitu fasih dan lancar, belum pernah aku lihat engkau berkhotbah begitu baik, tetapi setelah engkau sampai pada melaknat lelaki itu engkau lalu tergagap-­gagap tidak karuan. ‘Ayahku menjawab: ‘Wahai anakku, andaikata orang Syam atau siapa saja yang berada di bawah mimbar mengetahui keutamaan lelaki ini seperti yang diketahui ayahmu ini, maka tiada seorang pun akan mengikuti kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt;Amr bin Hamaq vs Mua'wiyah&lt;br /&gt;Orang pertama yang dipenggal kepalanya oleh Mu’awiyah  adalah Amr bin Hamaq sebagai  Syi’ah Ali yang turut  mengepung rumah Utsman dan dituduh  membunuh Utsman dengan 9 tusukan. Ia melarikan diri  ke Mada’in bersama Rifa’ah bin  Syaddad  dan  terus  ke Mosul.  Ia ditangkap  dan gubernur  Mosul Abdurrahman  bin  Abdullah  bin  Utsman  mengenalnya. Ia  mengirim  surat  ke Mu’awiyah.  Mu’awiyah  menjawab  seenaknya:  “Ia  membunuh  Utsman  dengan  tusukan  dengan goloknya (masyaqish)  dan  kita  tidak  akan  bertindak  lebih,  tu suklah  dia  dengan  sembilan tusu kan”. Setelah  ditusuk  ­baru tusukan  pertama  atau  kedua,  kelihatannya  ia  sudah  mati­ kepalanya dipenggal dan dikirim ke Syam, diarak kemudian diserahkan kepada Mu ’awiyah dan Mu’awiyah  mengirim  kepala  ini  kepada  istrinya  Aminah  binti  al­Syarid  yang  sedang  berada di penjara Mu’awiyah. Kepala itu dilemparkan  ke pangkuan  istrinya. Istrinya meletakkan tangannya di dahi kepala suaminya kemudian mencium  bibirnya berkata: &lt;br /&gt;Mereka hilangkan dia dariku amat lama, &lt;br /&gt;Mereka bunuh dan sisakan untukku kepalanya, &lt;br /&gt;Selamat datang, wahai hadiah, &lt;br /&gt;Selamat datang, wahai wajah tanpa roma.&lt;br /&gt;‘Amr  bin Hamaq adalah orang pertama dalam sejarah Islam  yang kepalanya dipenggal dan diarak dari kota ke kota, lihat Ibn Qutaibah, Al­Ma’ar if, hlm. 127; Al­Isti’ab, Jilid 2, hlm. 404; Al­Ishabah, jilid 2, hlm. 533; Ibn Katsir, Tarikh,  jilid 8,  hlm. 48. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Asy’ats bin Qais al­Kindi &lt;br /&gt;Asy’ats bin Qais al­Kindi, yang dinamakan  munafik  tingkat  tinggi nomor dua  sesudah  Abdullah  bin Ubay  bin Salut  oleh Muhammad  ‘Abdu.  Ia menjadi murtad  tatkala RasulAllah saw wafat, yaitu tatkala Abu Bakar jadi khalifah. Pemberontakan terjadi di kawasan Hadhramaut. Pemberontak akhirnya terkepung dalam benteng An­Nujair. Suatu malam  secara sembunyi­sembunyi  Asy’ats  bin  Qays  keluar  benteng  menemui  Ziyad dan Muhajir  yang mengepung  benteng  itu,  dan  bersekongkol  dengan  mereka  bahwa  apabila mereka  memberi perlindungan kepada sembilan orang keluarganya, maka  ia akan  membuka benteng itu. Mereka menerima ketentuan itu dan meminta ia menuliskan  nama kesembilan anggota yang dimaksud.  Ia khilaf dan tidak  menuliskan namanya sendiri. Ia lalu menyelinap masuk  ke dalam benteng dan mengatakan kepada penghuni benteng bahwa ia  telah mendapatkan  perlindungan bagi mereka dan supaya pintu benteng dibuka. Alangkah  kaget teman­temannya tatkala  Ziyad  menunjukkan sembilan  nama yang  disepakati  Asy’ats  bin  Qays.  Asy’ats  juga  terkejut  karena namanya  tidak tercantum  dalam  daftar yang  ia tulis.  Asy’ats  bin  Qays  tidak  dibunuh.  Ia  minta  bertemu  Abu Bakar dan diluluskan. Sepanjang perjalanan ke Madinah, sekitar seribu kaum  wanita yang juga dibelenggu mengutuknya sebagai  pengkhianat dan penjerumus  kaumnya. Sekitar delapan ratus orang  dibunuh  dalam  benteng  itu  karena  perbuatannya.  Setelah  tiba  di  Madinah,  Abu  Bakar bukan  saja  tidak  membunuhnya  malah  mengawinkannya  dengan  adik  perempuannya  Umm Farwah binti Abi Quhafah yang kemudian melahirkan  tiga orang anak, yaitu  Muhammad , Ismail dan Ishaq. Asy’ats bin Qays ini juga yang bersekongkol dalam pembunuhan Imam Ali di kemudian hari.  Putrinya,  Ja’dah  binti Asy’ats, membunuh  Imam Hasan  bin  Ali  bin  Abi  Thalib, suami nya sendiri. Mu’awiyah menjanjikan seratus ribu dinar dari  Mu’awiyah dan akan  dikawinkan dengan Yazid bila Ja’dah meracuni  suaminya, yang kemudian dilakukannya. Puteranya dari Farwah binti Abi Quhafah di atas, yaitu Muhammad bin Asy’ats bin Qays terkenal karena mencurangi Muslim bin  Aqil yang diutus Husain ke Kufah  dan turut  dalam pembunuhan  Imam Husain di Karbala. Meskipun  demikian ia termasuk  di  antara  orang-­orang  yang  meriwayatkan  hadis­hadis oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt;Ali vs Abu Bakar, Umar cs&lt;br /&gt;Kedua surat dibawah ini dimuat Nashr bin Muzahim  dalam Kitabnya Waq’ah Shiffin dan Mas’udi dalam kitabnya Muruj adz­Dzahab dan telah diisyaratkan oleh Thabari dan Ibnu Atsir sebagai surat yang ditulis tahun 36 Hijriah, yaitu tatkala Muhammad bin Abu Bakar menjadi Gubernur di Mesir di zaman  kekhalifahan Ali.  Thabari melaporkan peristiwa ini dengan tidak menyebutkan isi surat dibawah ini dengan alasan "supaya orang banyak tidak resah mendengarkannya".&lt;br /&gt;Yang menarik dari kedua surat ini adalah kritik Mu’awiyah terhadap pembaiatan Abu  Bakar di Saqifah.  Mu’awiyah berkeyakinan bahwa Abu Bakar dan Umar mengetahui betul  tuntutan Ali. Di pihak lain yang membuat kedua surat  ini lebih  menarik adalah pernyataan Muhammad bin Abu Bakar tentang Ali sebagai pemegang wasiat  dan pewaris Rasul yang tidak  dibantah  Mu’awiyah. &lt;br /&gt;Berikut isi Surat tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Surat Muhammad bin Abu Bakar kepada Mu’awiyah&lt;/span&gt;: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Muh ammad bin Abu Bakar. &lt;br /&gt;Kepada si tersesat Mu’awiyah bin Shakhr. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam kepada penyerah diri dan yang taat kepada Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma ba’du, sesungguhnya Allah SWT, dengan keagungan dan  kekuasaan-Nya, mencipta makhluk­Nya tanpa main­main. Tiada celah kelemahan dalam kekuatan­Nya. Tidak berhajat Ia terhadap hamba­Nya. Ia mencipta mereka untuk  mengabdi kepada­Nya. &lt;br /&gt;Ia menjadikan mereka orang yang tersesat atau orang yang lurus, orang yang malang dan orang yang beruntung. &lt;br /&gt;Kemudian, dari antara mereka, Ia Yang Mahatahu memilih dan mengkhususkan Muhammad saw dengan pengetahuan ­Nya. Ia jualah yang memilih Muhammad saw berdasarkan ilmu­Nya sendiri untuk menyampaikan risalah­Nya dan mengemban  wahyu­Nya.  Ia mengutusnya  sebagai  Rasul dan pembawa kabar gembira dan  pemberi peringatan. &lt;br /&gt;Dan  orang pertama  yang  menjawab  dan  mewakilinya,  menaatinya,  mengimaninya, membenarkannya, menyerahkan diri kepada Allah dan menerima Islam sebagai agamanya ­adalah saudaranya  dan  misannya  Ali  bin  Abi  Thalib­  yang  membenarkan  yang  ghaib. Ali mengutamakannya  dari  semua   kesayangannya,  menjaganya  pada  setiap  ketakutan, membantunya  dengan  dirinya  sendiri  pada  saat­saat  mengerikan,  memerangi  perangnya, berdamai  demi  perdamaiannya,  melindungi  Rasul  dengan  jiwa raganya  siang  maupun  malam, menemaninya  pada  saat­saat  yang  menggetarkan,   kelaparan  serta dihinakan.  Jelas  tiada  yang setara dengannya dalam  berjihad, tiada yang dapat menandinginya di antara para pengikut dan tiada yang mendekatinya dalam amal perbuatannya. &lt;br /&gt;Dan saya heran melihat engkau hendak  menandinginya! Engkau adalah engkau! Sejak awal Ali unggul  dalam  setiap  kebajikan,  paling tulus  dalam   niat, keturunannya  paling bagus, isterinya adalah wanita utama, dan pamannya (Ja’far) syahid di Perang Mu ’tah. Dan seorang pamannya lagi (Hamzah)  adalah penghulu  para syuhada perang Uhud, ayahnya adalah penyokong Rasul Allah saw dan isterinya. &lt;br /&gt;Dan engkau adalah orang terlaknat, anak  orang terkutuk. Tiada hentinya engkau dan ayahmu menghalangi jalan  Rasul  Allah saw. Kamu  berdua berjihad untuk memadamkan nur Ilahi, dan kamu  berdua  melakukannya  dengan  menghasut   dan  menghimpun  manusia,  menggunakan kekayaan dan mempertengkarkan berbagai suku. Dalam keadaan demikian  ayahmu mati. Dan engkau melanjutkan perbuatannya seperti itu pula. &lt;br /&gt;Dan  saksi­saksi  perbuatan  Anda  adalah  orang­orang  yang  meminta-­minta  perlindungan  Anda, yaitu  dari  kelompok  musuh  Rasul  yang  pemberontak,  kelompok  pemimpin­pemimpin  yang munafik dan pemecah belah dalam melawan Rasul Allah saw. &lt;br /&gt;Sebaliknya sebagai  saksi  bagi  Ali  dengan  keutamaannya  yang  terang  dan  keterdahuluannya (dalam  Islam)  adalah   penolong­penolongnya  yang  keutamaan  mereka  telah  disebut  dalam  Al­ Qur’an, yaitu  kaum  Muhajirin dan Anshar. Dan mereka  itu  merupakan pasukan  yang berada  di sekitarnya  dengan  pedang­pedang  mereka  dan  siap  menumpahkan  darah  mereka  untuknya. Mereka melihat keutamaan pada dirinya yang patut  ditaati, dan malapetaka bila mengingkarinya. &lt;br /&gt;Maka  mengapa,  hai  ahli  neraka,  engkau  menyamakan  dirimu  dengan  Ali,  sedang  dia  adalah pewaris (warits ) dan pelaksana wasiat (Washi) Rasul Allah saw, ayah anak­anak (Rasul), pengikut pertama dan yang terakhir menyaksikan Rasul, teman berbincang, penyimpan rahasia dan serikat Rasul dalam urusannya. Dan Rasul memberitahukan pekerjaan beliau kepadanya, sedang engkau adalah musuh dan anak dari musuh  beliau. &lt;br /&gt;Tiada peduli keuntungan  apa pun yang kau peroleh  dari kefasikanmu  di dunia ini dan bahkan Ibnu ’l­Ash menghanyutkan engkau  dalam kesesatanmu,  akan tampak bahwa waktumu berakhir sudah dan  kelicikanmu  tidak akan ampuh lagi. Maka akan jadi jelas  bagimu  siapa  yang akan memiliki  masa  depan  yang  mulia.  Engkau  tidak  mempunyai  harapan  akan  pertolongan  Allah, yang tidak engkau pikirkan. &lt;br /&gt;Kepada­Nya  engkau  berbuat   licik.  Allah  menunggu  untuk  menghadangmu,  tetapi kesombonganmu membuat engkau jauh dari Dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam bagi orang yang mengikuti petunjuk yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jawaban Mu’awiyah kepada Muhammad bin Abu Bakar: &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Mu ’awiyah bin Abu Sufyan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Pencerca ayahnya sendiri, Muhammad bin Abu Bakar . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam kepada yang taat kepada Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah sampai  kepadaku suratmu,  yang menyebut  Allah  Yang Mahakuasa dan  Nabi pilihan­Nya dengan  kata­kata  yang  engkau  rangkaikan.  Pandanganmu  lemah.  Engkau  mencerca  ayahmu. Engkau  menyebut hak Ibnu  Abi Thalib  dan  keterdahuluan  serta  kekerabatannya  dengan Nabi Allah saw dan bantuan  serta pertolongannya kepada Nabi pada tiap keadaan genting. &lt;br /&gt;Engkau  juga  berhujah  dengan keutamaan orang lain dan  bukan  dengan  keutamaanmu. Aneh, engkau malah mengalihkan keutamaanmu kepada  orang lain. &lt;br /&gt;Di zaman Nabi saw, kami dan ayahmu telah melihat dan tidak  memungkiri hak  Ibnu Abi Thalib. Keutamaannya jauh di atas kami. &lt;br /&gt;Dan  Allah  SWT  memilih  dan  mengutamakan  Nabi  sesuai  janji­Nya.  Dan  melalui  Nabi  Ia menyampaikan dakwah­Nya dan memperoleh hujah­Nya. Kemudian Allah mengambil Nabi ke sisi­Nya. &lt;br /&gt;Ayahmu dan Faruq­nya (Umar ) adalah orang­orang pertama yang merampas haknya (ibtazza). Hal ini diketahui umum. &lt;br /&gt;Kemudian mereka mengajak Ali membaiat Abu Bakar tetapi Ali menunda dan memperlambatnya. Mereka  marah  sekali  dan  bertindak  kasar.  Hasrat  mereka  bertambah  besar.  Akhirnya Ali membaiat Abu Bakar dan berdamai  dengan mereka berdua. &lt;br /&gt;Mereka  berdua  tidak  mengajak  Ali  dalam  pemerintahan  mereka.  Tidak  juga  mereka menyampaikan  kepadanya  rahasia  mereka,  sampai  mereka  berdua  meninggal  dan  berakhirlah kekuasaan mereka. &lt;br /&gt;Kemudian  bangkitlah  orang  ketiga,  yaitu  Utsman   yang  menuruti  tuntunan  mereka. Kau dan temanmu berbicara tentang kerusakan­kerusakan yang dilakukan Utsman agar orang­orang yang berdosa di propinsi­propinsi  mengembangkan maksud­maksud  buruk  terhadapnya dan engkau bangkit  melawannya.  Engkau  menunjukkan  permusuhanmu  kepadanya  untuk  mencapai keinginan-­keinginanmu sendiri. &lt;br /&gt;Hai  putra  Abu  Bakar,  berhati­hatilah  atas  apa  yang  engkau  lakukan.  Jangan  menempatkan dirimu melebihi apa yang dapat  engkau  urusi. Engkau  tidak  akan dapat menemukan seseorang yang mempunyai  kesabaran yang lebih besar dari gunung, yang tidak pernah menyerah kepada suatu peristiwa. Tak ada yang dapat  menyamainya. &lt;br /&gt;Ayahmu bekerja sama dengan dia dan mengukuhkan  kekuasaannya. Bila kaum  katakan bahwa tindakanmu  benar, (maka ketahuilah) ayahmulah yang mengambil alih kekuasaan ini dan kami menjadi  sekutunya.  Apabila  ayahmu  tidak  melakukan  hal  ini,  maka  kami  tidak  akan  sampai menentang anak Abu Thalib dan kami akan  sudah menyerah kepadanya. &lt;br /&gt;Tetapi kami melihat bahwa ayahmu  memperlakuk an dia seperti ini di hadapan kami, dan kami pun mengikutinya; maka cacat apa pun yang akan kau  dapatkan, arahkanlah itu kepada ayahmu sendiri, atau berhentilah dari turut  campur.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam bagi dia yang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Abu Dzar dengan Muawiyah&lt;br /&gt;Ketika Abu Dzar "disuruh" Uthman untuk ke Syria, ia malah melihat kegiatan Muawiyah lebih buruk dari Uthman dan Marwan. dan tak henti-hentinya ia berdakwah dan menegur ketidakberesan dalam pemerintahan Uthman. Ia pun dipanggil Muawiyah, Muawiyah berkata, Wahai musuh Allah! engkau menghasut orang menentang aku dan berbuat sesukamu. Apabila aku sampai membunuh sahabat nabi tanpa izin khalifah maka engkaulah orangnya." Abu Dzar pun menjawab, "Saya bukan musuh Allah atau nabi-Nya. Justru kau dan ayahmulah yang musuh Allah. Kamu berdua masuk Islam secara lahiriah, sementara kekafiran masih tersembunyi dalam hatimu." Ia tidak memperdulikan ancaman Muawiyah dan terus berdakwah kepada masyarakat Syria. Muawiyah lantas melaporkan kegiatan Abu Dzar pada Uthman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Abu Dzar dengan Uthman&lt;br /&gt;Tatkala Abu Dzar memprotes kemewahan hidup Muawiyah di Syria. Muawiyah lapor ke Uthman dan Uthman pun "memanggil" Abu Dzar ke Madinah disertai tentara dan menunggang unta yang pelananya tidak diberi alas. Ketika Uthman melihat Abu Dzar, ia langsung memprotes kegiatan sahabat nabi ini. Abu Dzar menjawab, Saya mengharapkan kebaikan bagi anda, tetapi anda malah menipu saya. begitu pula, saya mengharapkan kebaikan teman anda (Mu'awiyah) tetapi ia pun menipu saya.&lt;br /&gt;Uthman berkata, engkau pembohong, engkau hendak menimbulkan kerusuhan. engkau menghasut seluruh rakyat Syria menentang kami. &lt;br /&gt;Abu Dzar menjawab, Anda harus mengikuti langkah-langkah Abu Bakar dan Umar. apabila anda berbuat demikian tak akan ada orang yang mengatakan sesuatu terhadap anda. &lt;br /&gt;Uthman menjawab, Semoga ibumu mati! Apa hubungan anda dengan urusan ini?&lt;br /&gt;Abu Dzar menjawab, Sepanjang menyangkut diri saya, tak ada pilihan selain menyuruh manusia berbuat baik dan mencegah mereka dari kejahatan. &lt;br /&gt;Tak bisa membendung amar makruf nahi munkar Abu Dzar, Uthman akhirnya kemudian membuang Abu Dzar ke Rabadzah, daerah tandus yang tidak dihuni manusia, hewan, maupun ditumbuhi tanaman. Ia juga melarang masyarakat menyaksikan kepergiannya. Orang tak berani mengantarnya, kecuali lima orang; Ali, Aqil, Hasan, Husein, serta Ammar bin Yasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Aisyah dengan Uthman&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang ke Madinah, Aisyah bertemu dengan Abd ibn Abi Salma, keluarga jauh dari pihak ibunya, yang menginformasikan kematian Uthman dan naiknya Ali sebagai Khalifah. Ibn Abi Salma menceritakan bahwa masyarakat Madinah telah menunggu selama delapan hari setelah kematian Uthman, sebelum mereka dengan bijak semua sepakat atas Ali bin Abi Thalib. Aisyah berseru, Langit akan runtuh ke bumi sebelum masalah ini diputuskan bagi sahabatmu (Ali). Bawa aku kembali ke Makkah! Ia kemudian menyatakan, Demi Allah, Uthman terbunuh secara tidak sah! Dan aku pasti akan menuntut balas atas darahnya. Ibn Abi Salma mengingatkannya bahwa Aisyahlah yang pertama menghasut masyarakat menentang Uthman dengan mengatakan, Bunuhlah Na'tsal (yaitu orang tua Yahudi berjenggot)itu, karena ia telah membuang iman / kafir. Aisyah menyatakan bahwa masyarakatlah, setelah membuat Uthman bertobat, yang kemudian membunuhnya secara tidak sah. Aku berbicara dan mereka berbicara, lanjutnya, tetapi ucapanku yang terakhir lebih baik daripada ucapanku yang pertama. lelaki itu menukas, Kamu memerintahkan kami membunuh imam dan kami menaatimu dan kami membunuhnya. namun, kami yakin bahwa pembunuhnya yang sebenarnya adalah orang yang memerintahkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Abd Rahman bin Awf dengan Uthman&lt;br /&gt;ketika terjadi penyelewengan dalam kekhalifahan Uthman, kaum muhajirin dan anshar dengan marah menuduh Abd Rahman bin Auf atas perilaku Uthman yang tidak dapat dipahami. kemudian Ibn Awf mencela Uthman dengan mengatakan, Aku mengutamakanmu dengan syarat bahwa kamu memperlakukan kami sesuai dengan praktik Abu Bakar dan Umar. namun, kamu berlawanan dengan keduanya, dan lebih menyukai keluarga dekatmu dan menempatkan mereka di leher kaum muslim. Uthman menjawab, Umar menjauhkan keluarga dekatnya demi ridha Tuhan, dan aku memberikan hadiah yang dermawan kepada keluarga dekatku juga demi ridha Tuhan. Abd Rahman menukas marah, Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku tidak akan berbicara kepadamu setelah ini. Karena itulah, ketika Uthman menengoknya di ranjang kematiannya, ibn Awf memalingkan wajahnya ke tembok dan menolak berbicara dengan Uthman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Abdullah bin Mas'ud dengan Uthman&lt;br /&gt;Ketika terjadi ketidakberesan pada kekhalifahan Uthman bin Affan. Ia banyak mengeritik kebijakan Uthman. misalnya, ia pernah berkata, "Di mata Allah, Uthman tidak berharga walaupun sebesar bulu lalat." Walid bin Uqbah, Gubernur Kufah memberitahukan hal tersebut kepada Uthman, lalu Uthman memanggil Ibn Mas'ud ke Madinah. Ibn Mas'ud sampai di Madinah pada Jumat malam. ketika Uthman mengetahui kedatangannya, ia menyuruh rakyat berkumpul ke masjid lalu ia berkata, Lihatlah, sedang menuju kalian seekor binatang hina (kadal), yang menginjak-injak makanan, muntahan dan kotorannya. Ibn Mas'ud berkata, saya tidak seperti itu. Yang pasti saya adalah seorang sahabat Nabi saw. saya bersama beliau dalam perang Badar dan ikut serta dalam bayt Ridwan. Aisyah berteriak dengan keras dari rumahnya, Uthman! engkau mengucapkan kata-kata seperti itu kepada sahabat Nabi! Orang lain juga tidak menyukai kata-kata Uthman itu dan menyatakan kemarahannya. Atas perintah Uthman, para pegawainya dan budaknya mengusir Ibn Mas'ud keluar masjid dengan cara yang sangat kasar. mereka menyeretnya ke gerbang masjid dan melemparkannya ke tanah. lalu mereka memukulnya sehingga ia mengalami patah tulang, dan dari situ ia digotong ke rumahnya seperti orang yang sudah meninggal. selain itu Uthman juga menghentikan pemberian tunjangan yang biasa diterimanya dari baitul mal, memutus segala sumber rezekinya serta melarang orang menjenguknya. Pada saat akhirnya, Abdullah bin Mas'ud berpesan kepada Ammar supaya Uthman tidak melakukan solat jenazah ke atasnya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Ammar dengan Uthman&lt;br /&gt;Diriwatakan bahwa ada kotak di baitul mal yang berisi perhiasan dan permata. Uthman mengambil perhiasan tersebut dari baitul mal dan memberikannya kepada salah seorang istrinya. masyarakat merasa keberatan atas tindakan Uthman itu dan mengeritiknya dengan keras sehingga Uthman menjadi berang. Kepada jamaah ia berkata di atas mimbar, Saya akan mengambil apa saja yang saya sukai dari harta rampasan perang dan saya tidak peduli bila ada yang tidak menyukainya. Atasnya Ali berkata, kalau begitu, anda akan dicegah dari berbuat begitu dan sebuah dinding akan didirikan antara anda dan baitul mal. Ammar berkata, Ya Allah saksikanlah bahwa saya adalah orang pertama yang tidak menyukai penyelewengan ini. Kemudian uthman berkata, hai Ammar, alangkah beraninya engkau berbicara melawan saya! tangkap dia!&lt;br /&gt;Tiba-tiba Marwan berdiri seraya berkata kepada Uthman, Wahai Amirul Mukminin! Budak ini telah menghasut rakyat menentang anda. bila anda membunuhnya maka orang lain akan mendapat pelajaran. Ammar kemudian dipukuli ramai-ramai oleh tongkat Uthman dan anggota Bani Umayyah kemudian melemparkannya ke jalan saat tengah hujan lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Thalhah bin Ubaidillah dengan Uthman&lt;br /&gt;pada suatu kesempatan Ali mendatangi Thalhah dan melihat sekumpulan pemberontak berkumpul di sekelilingnya. Ia merasa bahwa Thalhah memegang peranan penting dalam pengepungan rumah Uthman dan berniat membunuhnya. Ali menegurnya, Wahai Thalhah! Apa yang anda lakukan kepada Uthman. Ali juga berusaha mencegah Thalhah melakukan kegiatannya namun Thalhah menolak nasihatnya. Ali kemudian pergi ke baitul mal hendak membukanya, tetapi tidak ada kuncinya. maka pintu baitul mal itu dibongkar atas perintahnya lalu ia membagi-bagikan semua uang yang ada disana kepada orang-orang yang dikumpulkan Thalhah untuk membunuh Uthman. Tatkala Uthman mengetahui peristiwa ini dia sangat senang dan menyadari bahwa tak seorang pun yang setulus, sesimpatik dan semahir Ali dalam menyelesaikan permasalahan muslimin.&lt;br /&gt;Kemudian Thalhah mendatangi Uthman dan meminta maaf, lalu berkata, "Saya bertobat di hadapan Allah. Saya telah bertekad melakukan sesuatu tetapi Allah menggagalkannya". Uthman berkata, "Anda datang ke sini bukan sebagai orang yang bertobat, melainkan sebagai orang yang menjadi tak berdaya. semoga Allah menghukum anda!." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Abd Rahman bin Abu Bakar dengan Marwan bin Hakam&lt;br /&gt;Ketika Marwan menjadi gubernur Muawiyah di Hijaz, ia meminta rakyat untuk membaiat Yazid. Abd Rahman bin Abu Bakar memprotes Marwan sambil berkata, Kalian menginginkan kekuasaan ini seperti kekuasaan Heraclius! Marwan marah dan menyuruh orang menangkap Abd Rahman. Ia lari ke kamar Aisyah, saudaranya. Marwan berkata, ayat al-Qur'an alladzi qala liwalidayhi uffin lakum turun tentang Abd Rahman. Mendengar tersebut, Aisyah berkata di balik hijab menolak asbab nuzul ayat tersebut. &lt;br /&gt;(riwayat ini disebutkan di sahih Bukhari dengan mengaburkan perkataan Abd Rahman ke Marwan dalam kitab al-Tafsir bab alladzi qala liwalidayhi uff (surah al-Ahqaf))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Aisyah, Thalhah, Zubair dengan Usman bin Hunaif&lt;br /&gt;Ketika Aisyah dengan pasukan jamalnya memaksa masuk Basrah pada suatu malam. mereka membunh banyak orang di masjid. kemudian mereka masuk ke rumah Usman bin Hunaif (gubernur Basrah) dan memperlakukannya dengan sangat buruk.&lt;br /&gt;Thalhah dan Zubair sangat menyesali perlakuan pasukannya kepada Usman bin Hunaif karena dia pun salah seorang sahabat Nabi saw. Mereka menghadap Aisyah dan menyatakan kesedihan mereka atas kejadian tersebut. Sebagai jawabnya, Aisyah menginstruksikan supaya Usman bin Hunaif dibunuh. Tatkala perintah tersebut hampir dilaksanakan, seorang wanita berteriak histeris, Wahai ummu al-Mukminin! Demi Allah, kasihanilah anak Hunaif. hormatilah kedudukannya sebagai sahabat Nabi. Aisyah berpikir sejenak lalu berkata, "Baiklah, jangan bunuh dia, tetapi jadikan dia tawanan."&lt;br /&gt;Namun salah seorang tentara Aisyah berkata, Pukullah dia keras-keras dan cabutlah janggutnya. para tentara kemudian memukulnya tanpa belas kasihan, mencabut rambut kepalanya, janggutnya, bulu matanya dan alisnya lalu memenjarakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt; Khalid bin Walid dengan Umar&lt;br /&gt;Singkat cerita Khalid membunuh Malik bin Nuwairi untuk memperoleh harta rampasan dan melecehkan kehormatan istrinya yang sangat cantik. tatkala kabar tersebut sampai kepada Abu Bakar, khalifah waktu itu merasa sedih dan mengucapkan, "Harta rampasan perang telah membuat orang-orang Arab serakah dan Khalid telah melanggar perintah saya."&lt;br /&gt;Ketika Khalid menghadap Abu Bakar, ia membawa tiga anak panah di serbannya. Ketika Umar melihatnya, ia berkata, "wahai Musuh Allah! semua perbuatanmu ini adalah perbuatan munafik. Demi Allah, bila aku menguasaimu maka aku akan merajammu sampai mati. Ia lalu merenggut anak panah yang ada di serban Khalid lalu mematahkannya. Khalid tidak berani bicara apa-apa karena ia mengira bahwa Umar bertindak sesuai dengan perintah Abu Bakar. &lt;br /&gt;Kemudian Khalid menemui Abu Bakar dan mengajukan dalih kepadanya. Abu Bakar percaya dan menerima alsan Khalid. Ketika mendengar berita ini, ia mendorong Abu Bakar untuk menghukum Khalid atas pembunuhan Malik. Abu Bakar berkata, "Wahai Umar! sebaiknya anda diam. Khalid bukan orang pertama yang melakukan kesalahan dalam masalah hukum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan banyak lagi riwayat lainnya, terutama sejak masa kekhalifahan Uthman. Semoga Tuhan merahmati kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Wafat Rasulullah &amp; Suksesi Sepeninggal Beliau di Saqifah, karya O. Hashem; The Crisis of Muslim History karya Mahmoud M. Ayoub; Suara Keadilan karya George Jordac; khulafa' rasyidin di antara nas dan ijtihad. di buku-buku tersebut anda akan menemukan rujukan primernya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-3178457618349116594?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/3178457618349116594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/mengkritik-mencela-para-sahabat-adalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/3178457618349116594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/3178457618349116594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/mengkritik-mencela-para-sahabat-adalah.html' title='Mengkritik Mencela Para Sahabat  Adalah Kufur?'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2761755726089306765.post-1100595142494788653</id><published>2008-09-06T07:28:00.001+07:00</published><updated>2008-09-10T06:53:46.561+07:00</updated><title type='text'>Para Sahabat di Ambang Kematian</title><content type='html'>Cukuplah mati sebagai pelajaran, demikian sabda yang pernah diucapkan Rasulullah saw. Berikut ini beberapa riwayat yang menceritakan akhir hidup para sahabat yang mencerminkan karakter "unik" masing-masing. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran, hikmah dari kematian. Amin&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasan bin Ali&lt;br /&gt;Raqabah bin Mushaqalah berkata, "Pada saat menjelang wafat, al-Hasan bin Ali berkata, "Keluarkanlah aku ke padang pasir, agar aku bisa melihat kerajaan langit. ketika telah dikeluarkan di padang pasir, ia berkata, "Ya Allah, sesungguhnya aku hanya mengharapkan balasan untuk diriku dari sisi-Mu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salman al-Farisi&lt;br /&gt;al-Sya'bi berkata, al-Khazal bercerita kepadaku dari Baqirah, istri Salman, katanya, "Menjelang wafatnya, Salman memanggilku, ketika itu ia berada di kamar atas yang memiliki emapt pintu. Ia berkata, "Bukalah pintu-pintu ini wahai Baqirah! karena hari ini aku akan kedatangan tamu yang aku tidak tahu dari manakah mereka akan masuk menemuiku".&lt;br /&gt;Kemudian ia meminta misik (minyak wangi) miliknya. Ia berkata, "Campur dan larutkanlah dalam bejana kecil!" maka saya pun melakukannya. kemudian ia berkata, "Percikkanlah di sekitar kasurku. Kemudian turunlah barang sebentar. setelah itu, tengok dan lihatlah aku di atas ranjangku ini! Akupun menuruti permintaannya untuk turun. kemudian kembali ke atas untuk menengoknya. Ternyata saat itu ia telah meninggal, seakan-akan ia sedang tidur di atas kasurnya."&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain, Rasulullah memberikan keistimewaan kepada Salman bahwa sebelum ia meninggal dunia, ia akan diberi kesempatan untuk berjumpa dengan orang-orang di alam barzakh. Maka menjelang hari kematiannya, ia meminta dibungkus dengan kain kafan, dibawa di atas keranda kemudian dibaringkan di kuburannya. Dan ketika ia berbaring di kuburan itu, Salman kemudian memanggil para penghuni kubur, “Rasulullah pernah berwasiat kepadaku bahwa ada di antara kalian yang akan berkata kepadaku pada saat-saat aku akan meninggalkan dunia ini.” Dan datanglah penghuni kubur. Terjadi dialog antara Salman dengan penghuni kubur. Dan katanya ada semacam takhayul di kalangan para ulama, kalau riwayat itu dibacakan di hadapan umum, itu yang membaca riwayat itu tidak lama sesudah membacanya akan meninggal dunia. (bagi yang tahu emailkan ke ghoelam1984@gmail.com, jika takut cukup sebutkan sumbernya saja biar aku cari sendiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ammar bin Yasir&lt;br /&gt;Abu Sinan ad-Duali berkata, "Saya melihat Ammar bin Yasir meminta minum. maka didatangkanlah kepadanya segelas susu. Lantas ia meminumnya dan berkata, "Sungguh benarlah Allah dan rasul-Nya. Pada hari ini aku akan menemui kekasih-kekasihku, Muhammad dan para pengikutnya. Sungguh Rasulullah pernah berkata kepadaku, "Sesungguhnya sesuatu yang terakhir kali akan engkau ambil dari dunia ini adalah minuman susu." Demi Allah sekiranya musuh mampu mengalahkan kita, kita tetap yakin bahwa kita berada di atas kebenaran sedangkan mereka berada di atas kebatilan." &lt;br /&gt;Selain itu ada sabda terkenal Nabi saw tentang Ammar, yaitu "Ammar, engkau akan dibunuh oleh golongan pendurhaka". Kemudian dalam perang Shiffin, ia menjadi syahid dalam memerangi pasukan Mu'awiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilal bin Rabah&lt;br /&gt;Sa'id bin Abdul Aziz berkata, "Pada saat menjelang wafat, Bilal berkata, Besok kami akan berjumpa dengan para kekasih, yaitu Muhammad dan para pengikutnya". Isterinya berkata, "Oh, Bilal!" Sedangkan Bilal berkata, "Bergembiralah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah bin Yaman&lt;br /&gt;Ziyad, maula ibn Abbas berkata, "Saya mendapat cerita dari orang yang mengunjungi Hudzaifah tatkala ia sakit yang membawanya pada kematian. Hudzaifah berkata, "Jika aku tidak melihat bahwa hari ini adalah hari terakhir dari hidupku di dunia dan hari pertama hidupku di akhirat, niscaya aku tidak berbicara tentangnya. Ya Allah, sesungguhnya engkau mengetahui bahwa aku lebih mencintai kefakiran daripada kekayaan, lebih mencintai keterhinaan daripada keterhormatan, dan lebih mencintai kematian daripada kehidupan. Yang mencintai datang dalam kefakiran. Orang yang menyesal tidak akan memperoleh apa yang dicarinya." &lt;br /&gt;Asad bin Wada'ah berkata, "Ketika Hudzaifah mengalami sakit yanng membawanya pada kematian, ia ditanya, "Apa yang engkau inginkan? Ia menjawab, "Aku menginginkan Surga." Mereka bertanya, "Apakah yang engkau keluhkan? Ia menjawab, "Tabib telah membuatku sakit. aku telah hidup di tengah-tengah kalian dengan tiga watak, yaitu kefakiran pada kalian lebih kucintai daripada kekayaan, kerendahan pada kalian lebih kucintai daripada kemuliaan, dan sesungguhnya orang yang memujiku maupun yang mencelaku dalam kebenaran bagiku adalah sama." Kemudian ia berkata, "Apakah kita telah masuk waktu pagi? Mereka menjawab, "Ya" Ia berkata, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari waktu pagi di neraka. orang yang menyesal tidak akan memperoleh apa yang dicarinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Dzar al-Ghifari&lt;br /&gt;Ia wafat di pengasingan karena sering mengeritik kebijakan Kekhalifahan Utman bin Affan. al-Asytar berkata dari Ummu Dzar, "Pada saat Abu Dzar sakit menjelang wafatnya, istrinya menangis. Maka Abu Dzar bertanya, "Mengapa engkau menangis? Istrinya menjawab, "Aku menangis karena tidak ada yang membantuku mengafanimu. padahal aku tidak mempunyai pakaian yang cukup untuk mengafanimu dan engkau pun tidak mempunayi pakaian untuk itu". Abu Dzar berkata, 'kalau begitu janganlah menangis. sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda kepada sekelompok orang yang aku berada di antara mereka. "Sungguh, salah seorang dari kalian akan mati di padang sahara dengan disaksikan oleh sekelompok orang Mukmin". Semua yang mendengar sabda Nabi itu telah wafat di suatu desa atau dihadapan masyarakat muslim, kecuali aku. Akulah yang dimaksud, yang akan mati di padang sahara. Demi Tuhan, aku tidak berbohong dan tidak pula dibohongi. maka lihatlah ke jalan! isterinya bertanya, "Buat apa? Bukankah sudah tidak ada lagi orang yang berhaji?"&lt;br /&gt;Isterinya segera menuju ke sebuah bukit pasir, berdiri di atasnya dan memandang. beberapa saat kemudian ia kembali kepada Abu Dzar untuk merawatnya. selang beberapa saat ia kembali lagi ke bukit pasir. Tiba-tiba di kejauhan tampak bayangan orang yang berjalan di atas kendaraan mereka, seolah-olah seperti burung rakham. Istri Abu Dzar melambai-lambaikan kain. maka mereka mendatangi dan berdiri di hadapannya. mereka bertanya, "Ada apakah dengan dirimu? ia balik bertaanya, "Maukah kalian mengafani seseorang dari kaum muslimin? Mereka bertanya "siapakah dia? ia menjawab "Abu Dzar"&lt;br /&gt;Mereka segera memberangkatkan unta mereka dan melecutkan ce,meti ke lehernya. mereka berpacu mendatangi Abu Dzar. Abu Dzar berkata, "Bergembiralah!" Kemudian Abu Dzar bercerita kepada mereka, "Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda kepada sejumlah orang yang aku berada di antara mereka. "Sungguh, salah seorang dari kalian akan mati di padang sahara dengan disaksikan oleh sekelompok orang Mukmin". semua yang mendengar sabda Nabi itu telah wafat di suatu desa atau dihadapan masyarakat muslim, kecuali aku. Apakah kalian bisa mendengar? Sungguh seandainya aku atau isteriku mempunyai kain yang cukup untuk mengkafaniku, niscaya aku tidak akan menggunakannya sebagai kafanku selain kainku atau kain isteriku ini. Apakah kalian bisa mendengar? Sungguh aku menyumpah kalian dengan nama Allah dan Islam, jangan sampai salah seorang dari kalian mengkafaniku sedangkan ia pernah menjadi amir, syarif/pemimpin, naqib, atau kurir. Maka tidak ada di antara orang tersebut yang tidak pernah menjadi salah satu dari apa yang disebutkan. "Aku akan mengkafanimu dengan selendang yang kukenakan ini, dan dengan dua kain lagi yang berada di dalam tas kulitku yang dipintal dan ditenun ibuku sendiri untuk diriku." Akhirnya, pemuda itulah yang mengkafaninya dengan disaksikan sejumlah orang tersebut, di antara mereka adalah Hajar bin Adbar, Malik bin Asytar dan sejumlah orang yang semuanya dari Yaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujr bin Adi al-Kindi&lt;br /&gt;Ia ditangkap pada masa Mu'awiyah dengan tuduhan melakukan kerusuhan, mengeritik kebijakan2 yang tidak sesuai yang dilakukan pada masa Uthman maupun dinasti Umayyah. Disebutkan bahwa ketika akan dibunuh, ia berkata, "Biarlah aku wudhu" mereka menjawab, Berwudhulah. kemudian ia berkata, Biarkanlah aku melaksanakan shalat dua rakaat. Maka ia pun melaksanakan shalat dua rakaat pendek. Kemudian ia berkata, "Sekiranya aku tidak khawatir mereka akan mengatakan bahwa aku cemas karena akan mati, niscaya aku memanjangkan kedua rakaat shalat tersebut. Ia melanjutkan, Kedua rakaat tersebut telah didahului banyak shalat.&lt;br /&gt;kemudian mereka menggiringnya untuk dibunuh. mereka telah menggali kubur dan meyipakan kafan untuknya dan untuk sahabat-sahabatnya yang ditangkap dengan tuduhan sama. kemudian dikatakaan kepadanya, "engkau telah berkata bahwa engkau tidak gentar". Hujr menjawab, "Aku tidak akan gentar walaupun telah kulihat kubur yang telah tergali, kafan yang telah terbentang, dan pedang yang telah terhunus!"&lt;br /&gt;Kemudian algojo maju ke hadapannya dan berkata, ulurkan lehermu! Ia menjawab, Aku tidak akan membantu pembunuhan terhadap diriku. maka algojo itu memenggal dan membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa'ad bin Abi Waqqash&lt;br /&gt;Al-Zuhri berkata, ketika menjelang wafat, Saad bin Abi Waqqash minta untuk diambilkan sebuah jubah wol usang. Ia berkata, kafanilah aku dengannya, karena sesungguhnya aku menggunakannya ketika menghadapi orang-orang musyrik di Badar. Makanya, ia kusimpan untuk hari ini."&lt;br /&gt;Mush'ab bin Saad berkata, Kepala ayahku berada di pangkuanku ketika ia hampir wafat. maka mengucurlah air dari kedua mataku. ia melihatku lalu berkata, Mengapa engkau menangis anakku? Aku menjawab, karena keadaan ayah dan apa yang kulihat pada diri ayah. Ia berkata, janganlah menangisiku. Sungguh Allah tidak akan mengazabku sama sekali, aku akan termasuk ahli surga. Sesungguhnya Allah akan membalas kebaikan-kebaikan orang-orang mukmin, selama mereka beramal karena Allah.&lt;br /&gt;Sa'ad berkata, "Adapun orang-orang kafir, mereka mendapaatkan keringanan azab karena kebaikan-kebaikan mereka. Bila kebaikan-kebaikan mereka telah habis, Allah berfirman, "Hendaklah masing-masing orang yang beramal meminta pahala dari siapa yang menjadi tujuannya dalam beramal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa'd bin Ubadah&lt;br /&gt;Dan dalam Usdu ‘I­Ghabah: &lt;br /&gt;“Sa’d  tidak  membaiat  Abu  Bakar  dan  Umar.  Ia  pergi  ke  Syam  dan  tinggal  di Hauran sampai meninggal tahun 15 Hijriah. Tidak diragukan lagi ia meninggal di tempat mandinya. Tubuhnya telah menghijau dan orang tidak mengetahui bahwa ia telah meninggal sampai mereka mendengar suara orang yang tidak kelihatan berasal dari sumber air.&lt;br /&gt;Ahli-­ahli sejarah mengatakan  bahwa  jinlah  yang membunuh  Sa’d:  “Jin-­jin  yang beriman tidak menyukai Sa’d bin ‘Ubadah melawan Abu Bakar, maka jin­-jin itu pun membunuhnya.” Namun sebagian riwayat menyebutkan ia dibunuh utusan Khalifah karena tidak membaiat pada Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah, Ummu al-Mukminin&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa ketika menjelang wafat, Aisyah merasa gelisah. maka ada yang bertanya kepadanya, "Mengapa engkau gelisah, wahai Ummu al-Mukminin, sedangkan engkau adalah istri Rasulullah saw, ibu bagi kaum mukminin, dan puteri dari Abu Bakar al-Shidiq?&lt;br /&gt;Aisyah menjawab, "Sesungguhnya hari perang Jamal 'melintang di kerongkonganku' ... duh alangkah baiknya jika aku menjadi barang yang tak berarti lagi dilupakan."&lt;br /&gt;Ibn Sa'ad juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari  Ismail bin Qais bahawa dia berkata:"Aisyah ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah  melakukan bid'ah-bid'ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah SAW, maka kebumikanlah aku bersama-sama  isteri Nabi SAW." yang dimaksudkan olehnya mungkin "Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Rasulullah SAW karena aku telah melakukan bid'ah-bid'ah selepasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Umar&lt;br /&gt;Said bin Zubair berkata, Ketika menjelang wafat, Ibnu Umar berkata, "Aku tidak merasa sedih terhadap dunia kecuali tiga hal saja: kehausan di tengah hari, kepayahan di malam hari, dan diriku belum memerangi kelompok yang berbuat aniaya (Muawiyah)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahman bin Auf&lt;br /&gt;Abu Umar berkata, pada saat menjelang wafat, Abdurrahman bin Auf menangis keras. Maka ia ditanya mengapa sampai menangis. Ia menjawab, "Sesunguhnya Mus'ab bin Umair dahulu lebih baik daripada aku. Ia wafat di masa Rasulullah saw, sedangkan ia tidak mempunyai kain yang bisa untuk mengafani dirinya. Hamzah bin Abdul Muthalib juga lebih baik daripadaku. Ia wafat di masa Nabi saw, sedangkan ia tidak mempunyai kain kafan. Aku khawatir kalau aku ini termasuk orang yang disegerakan kebaikannya di dunia. Aku khawatir ditahan dari sahabat-sahabatku (di Akhirat) dikarenakan banyaknya hartaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Darda&lt;br /&gt;Ummu Darda berkata, Ketika Abu Darda menjelang wafat, ia berkata, Siapakah yang beramal untuk menghadapi seperti hariku ini? Siapakah yang beramal untuk menghadapi saat-saat seperti ini? Siapakah yang beramal untuk menghadapi tidur seperti yang kualami ini? Kemudian ia mengucapkan, &lt;br /&gt;"Dan Allah memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang kesesatan yang sangat." (al-An'am: 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalhah bin Ubaidillah&lt;br /&gt;Ketika perang Jamal antara Ali dengan Aisyah, Thalhah, Zubair terus berkecamuk, Konon Marwan bin Hakam, yang ketika itu berada di sana, membidikkan anak panah ke Thalhah. Ia berteriak, Demi Allah, aku tidak akan menuntut darah Uthman setelah hari ini!. Sedang Thalhah sendiri ketika roboh, berkata, "Aku tidak pernah melihat kehidupan seorang pemuka Quraisy berakhir begitu sia-sia seperti kehidupanku. Karena, Demi Allah, aku tidak pernah mengambil suatu pendirian atas sesuatu sebelumnya kecuali aku tahu tempat berpijaknya, kecuali pendirian saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zubair bin Awwam&lt;br /&gt;Tatkala ia meninggalkan perang Jamal yang berlangsung, Zubair diburu dan dibunuh oleh seorang suku Tamim atas suruhan Al-Ahnaf bin Qais, seorang pemuka Anshar dan salah seorang pendukung Ali, yang mengecam Zubair dengan mengatakan, "Aku tidak pernah melihat orang seperti ini! Ia menyeret Istri Rasulullah yang tak boleh diganggu keluar dari perlindungannya, melanggar kesucian tabir yang diletakkan Rasulullah di seputar istrinya di rumah beliau, kemudian ia menelantarkannya dan kabur begitu saja. Tidak adakah orang yang akan menghukumnya dengan murka Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid bin Walid&lt;br /&gt;Abu Zinad berkata, "Ketika menjelang wafat, Khalid menangis. ia berkata, Aku telah menjumpai begini dan begini dalam peperangan padahal tidak sedikitpun dari bagian tubuhku terdapat goresan pedang atau tembakan panah. lihatlah, sekarang aku mati di atas ranjangku seperti kematian keledai. takkan terpejam mata orang-orang pengecut."&lt;br /&gt;Abu Wail berkata, "Ketika menjelang wafat, Khalid berkata, "Aku telah berusaha mati terbunuh di medan laga, tetapi ternyata aku ditakdirkan mati di atas ranjang. tak satupun dari amalku setelah tauhid yang lebih kuharapkan, kecuali sebuah malam yang kujalani dengan berjaga-jaga, bersama langit yang menerangiku dengan bulan sabit, menunggu pagi untuk menyerang musuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu'awiyah bin Sufyan&lt;br /&gt;Abu Amru bin 'Ala berkata, ketika menjelang wafat, Mu'awiyah ditanya, "Tidakkah engkau berwasiat? ia berkata, "Ya Allah, hapuskanlah kesalahan, maafkanlah kekeliruan, dan ampunilah dengan sifat santun-Mu kebodohan orang yang tidak berharap kepada selain-Mu ini, karena tiada tempat kembali kecuali Engkau."&lt;br /&gt;Ia berkata, "Dialah kematian, tiada tempat untuk menyelamatkan diri darinya, dan yang akan kita jumpai setelah mati lebih dahsyat dan mengerikan."&lt;br /&gt;Abdul Malik bin Umair berkata, "Ketika Mu'awiyah dalam keadaan kritis, ia berkata, "berilah celak pada mataku dan perbanyaklah minyak pada kepalaku". Maka mereka melakukannya dan merias wajahnya dengan minyak. ia diterlentangkan, lalu didudukkan dan disandarkan.&lt;br /&gt;Kemudian ada seseorang yang masuk dan berkata, "Dia (Mu'awiyah) merasa bahwa ia saat ini adalah orang yang paling benar." ketika mereka telah keluar, Mu'awiyah berkata, "Kutunjukkan ketabahanku kepada orang-orang yang bergembira dengan bencana yang menimpaku. Aku tidak menyerah pada perubahan masa bila kematian telah mencengkeramkan kuku-kukunya. kau dapati semua jimat tiada berguna."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah&lt;br /&gt;Salim bin Basyar bin Juhal berkata, Abu Hurairah menangis menjelang wafat. maka ada yang bertanya, Mengapakah engkau menangis? ia menjawab, "Sessungguhnya aku menangis karena jauhnya perjalananku, sementara bekalku sedikit. Sungguh aku akan melalui jalan yang berujung ke surga atau neraka. Aku tidak tahu, manakah di antara keduanya yang akan diberikan kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amr bin Ash&lt;br /&gt;al-Hasan berkata, saya mendengar bahwa menjelang wafatnya, Amr bin Ash memanggil para pengawalnya, lalu berkata, "Lindungilah aku dari kematian!" Mereka bertanya, "Kami tidak menyangka engkau berkata seperti itu!" Amr berkata, Aku mengatakannya dengan kesadaran penuh. Wahai berbahagialah putera Abu Thalib, ketika ia berkata, Seseorang itu dikawal oleh ajalnya.&lt;br /&gt;Kemudian ia berkata, Ya Allah, aku tidak bisa beralasan untuk melepaskan diri dari kesalahan, tidak ada satu pun yang perkasa untuk kumintai pertolongan. dan jika rahmat-Mu tidak Kau limpahkan kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang celaka.&lt;br /&gt;Amr bin Ash berkata kepada puteranya, jika aku mati, mandikanlah aku dengan air, lalu keringkan tubuhku. Kemudian mandikanlah aku yang kedua kali dengan air yang dicampur dengan kapur barus, kemudian keringkanlah. bungkuslah aku dengan beberapa kafan, lalu ikatkanlah. sebab aku akan dimintai pertanggungjawaban! Bila engkau telah menaruhku di atas keranda, bawalah aku berjalan di antara dua orang. Ambil posisi di belakang jenazah, karena bagian mukanya untuk malaikat dan bagian belakangnya adalah untuk anak Adam. Jika engkau telah meletakkanku di atas kubur, taburilah aku dengan tanah!&lt;br /&gt;Kemudian ia berkata, Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintah kami, tapi kami melalaikannya, Engkau telah melarang kami, tapi kami melanggarnya, maka tidak ada alasan bagiku untuk membela diri dan tidak ada yang perkasa yang bisa kumintai pertolongan, dan tidak ada Tuhan melainkan Allah. Ia terus menerus mengucapkannya hingga wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: Tokoh-tokoh di Ranjang Kematian, karya Yusuf Ali Budawi; The Crisis of Muslim History, karya Mahmoud M. Ayoub; http://www.jalal-center.com; Khulafa' rasyidin di antara Nas dan ijtihad.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2761755726089306765-1100595142494788653?l=sunnisyiah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/feeds/1100595142494788653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/para-sahabat-di-ambang-kematian.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1100595142494788653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2761755726089306765/posts/default/1100595142494788653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sunnisyiah.blogspot.com/2008/09/para-sahabat-di-ambang-kematian.html' title='Para Sahabat di Ambang Kematian'/><author><name>Adam</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01269522601662820351</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='05363877662863833528'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry></feed>