Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?
(07 Nov 2007, 1172 x , Komentar)
Ismail Amin, Mahasiswa Institute for Language and Islamic Studies, Republik Islam Iran
MEMBACA tulisan Prof Achmad Ali lewat kolom Hukum dan 1001 Masalah Kemasyarakatan di koran ini edisi 31 Oktober lalu yang menyoal benar tidaknya Nabi Muhammad saw buta huruf, memancing saya untuk menuliskan juga unek-unek saya tentang salah satu mitos yang masih dipegang kukuh oleh sebagian besar umat Islam ini. Suatu hal yang disadari atau tidak, mitos tersebut justru menjadikan musuh-musuh Islam punya dalih menjelek-jelekkan agama Islam dan umatnya dengan menyebutkan bahwa nabinya saja bodoh, tidak tahu membaca dan menulis, apalagi umatnya.
Karena itu, bukanlah suatu keanehan kalau umat Islam justru mengalami evolusi regresif, yakni berkembang ke arah keburukan, bukannya evolusi progresif, yakni makin lama makin baik, makin cerdas, makin berilmu. Ironisnya lagi, kebutahurufan nabi seakan menjadi kenyataan yang patut dibanggakan dan bisa membangun kepercayaan diri umat Islam.
Sebagai contoh, anak-anak kita ajari membaca dan menulis dan pada saat yang sama kita suguhkan cerita tentang nabi yang tidak tahu membaca dan menulis. Kebutahurufan Nabi Muhammad sepertinya sengaja dibangun untuk mengetengahkan sebuah argumen tentang betapa hebatnya mukjizat Alquran yang bersumber dari sesuatu yang Ilahi. Dengan teori “nabi yang buta huruf”, mukjizat terkesan semakin mencengangkan. Celakanya lagi, kebutahurufan dijadikan dalil untuk keabsahan risalah kenabian Nabi Muhammad, sesuatu yang tidak menjadi syarat keabsahan nabi-nabi sebelumnya.
Pertanyaannya, benarkah ajaran itu? Atas dasar apa nabi dianggap sebagai sosok yang buta huruf? Apakah ia pernah menyatakan dirinya betul-betul tidak mampu membaca dan menulis sejak kecil hingga akhir hayatnya? Lalu, jika ada anggapan ia mampu membaca dan menulis, apakah itu akan mengurangi keabsahannya sebagai utusan Allah?
Makna Ummi
Oleh beberapa yang disebut ulama Islam sejak dahulu, makna perkataan ummi dalam beberapa surah Alquran, misalnya Surah Al-A’raf 157 “nabi yang ummi” diartikan buta huruf, tidak pandai membaca dan menulis. Dan ajaran mereka diterima tanpa ragu
oleh hampir seluruh umat Islam sejak dari zaman dahulu hingga ke hari ini. Bahkan oleh ulama-ulama kemudian berusaha membenarkan dan mempertahankan mitos ini, termasuk yang dilakukan Prof Achmad Ali, yang sesungguhnya sejak awal telah menjadi polemik dalam diri beliau, karena sesungguhnya bagi siapapun, pendapat bahwa Nabi Muhammad buta huruf, tidak tahu membaca dan menulis adalah suatu kenyataan menyakitkan dan sangat sulit diterima.
Tidak ada larangan untuk meninjau kembali pandangan tersebut, apalagi itu hanyalah pendapat beberapa ulama. Pendapat ulama bukanlah sesuatu yang sakral. Kita bisa membandingkannya dengan pandangan Alquran dalam hal ini ayat-ayat Alquran yang mengandung kalimat “ummi” yang akan membuktikan bahwa pandangan Nabi Muhammad buta huruf bukan saja tidak sesuai kenyataan, tetapi juga berbau fitnah yang amat besar dalam Islam. Antara lain ayat yang dimaksudkan berbunyi; “Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang “ummi” dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah, meskipun sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata” (Qs. Al-Jumuah : 2).
Kaum yang “ummi” yang disebut dalam ayat tersebut adalah kaum Arab. Orang-orang Arab pada zaman Nabi Muhammad diceritakan dalam buku sejarah, berada pada tahap tinggi dalam kesusasteraan dengan karya-karya sastera yang berkualitas dipamer dan ditempelkan di dinding Kakbah. Tentu itu tidak menggambarkan orang Arab jahiliah ketika itu berada dalam keadaan buta huruf. Mereka dikatakan jahiliah hanya dalam
persoalan aqidah dan kepercayaan, bukan dalam pelbagai bidang lain.
Kata “ummi”, menurut Alquran adalah orang-orang yang tidak, atau belum diberi satupun Kitab oleh Allah. Kaum Yahudi telah diberi tiga buah kitab melalui beberapa orang nabi mereka. Karenanya, mereka di sebut ahli kitab. Sedangkan orang-orang Arab, belum diberi satupun kitab sebelum Alquran diturunkan kepada Nabi Muhammad yang orang Arab. Hal ini dijelaskan-Nya dalam Firman-Nya: “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab, dan orang-orang “ummi” (yang tidak diberi kitab), sudahkah kamu tunduk patuh?” (Qs Ali Imran: 20).
Maka jelaslah, tidak seluruhnya kata “ummi” itu bermakna buta huruf. Lantas, apakah Rasulullah buta huruf? Alquran membantah pendapat ini secara terang-terangan dan
berkali-kali. Banyak ayat di dalam Alquran yang mengisahkan nabi diperintahkan supaya membaca ayat-ayat-Nya kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya. Hal ini menunjukkan nabi pandai membaca.
Contoh ayat dimaksud antara lain; “Katakanlah (Muhammad), 'Marilah, aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu....” (QS 6:151). Atau, “Demikianlah Kami mengutus kamu (Muhammad) kepada satu umat yang sebelumnya beberapa umat telah berlalu, agar engkau bacakan kepada mereka (Alquran) yang Kami wahyukan kepadamu.…” (QS 13:30). Atau, : “Dia yang mengutus kepada kaum yang ummi (orang Arab) seorang rasul (Muhammad) di kalangan mereka untuk membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,” (QS 62:2). Baca juga dalam QS 5:27, QS 17:106, 27:91-92, QS 33:33-34, QS 39:71.
Tambahan pula, sulit menerima hakikat bahwa seorang Nabi pilihan-Nya tidak tahu membaca padahal ayat yang diturunkan pertama kali adalah perintah membaca, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS 96:1). Ayat Alquran yang pertama sudah menyiratkan bahwa bahwa Nabi Muhammad tidak buta huruf. Sebab, sebuah kesia-siaan saja bila Allah menyapa Nabi Muhammad dengan perintah untuk membaca (kalau beliau dianggap buta-huruf). Karenanya, bagi Syekh Al-Maqdisi, penulis buku Nabi Muhammad, Buta Huruf atau Genius? (Mengungkap Misteri “Keummian” Rasulullah) jawabannya jelas: Ada tafsir sejarah yang keliru terhadap kapasitas Rasulullah, khususnya dalam soal baca-tulis. Dan semua itu, bersumber dari kekeliruan kita dalam menerjamahkan kata “ummi” dalam Alquran maupun Hadis, yang oleh sebagian besar umat Islam diartikan “buta huruf”.
Menurut Al-Maqdisi, “ummi” memang bisa berarti “buta huruf”, tapi ketika menyangkut Nabi Muhammad, “ummi” di situ lebih berarti orang yang bukan dari golongan Yahudi dan Nasrani. Pada masa itu, kaum Yahudi dan Nasrani sering kali menyebut umat di luar dirinya sebagai orang-orang “ummi” atau “non-Yahudi dan non-Nasrani”, atau orang-orang yang tidak diberi kitab. Termasuk Rasulullah dan orang Arab lainnya.
Alquran tidak hanya menjelaskan nabi pandai membaca, tetapi pandai menulis. Dalam
Alquran dijelaskan orang-orang kafir menuduh Rasul menulis dongeng-dongeng orang terdahulu dan disebutnya firman-firman Tuhan: “Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (QS Al-Furqan : 5).
Dan terakhir, terdapat sebuah ayat lagi yang insya Allah dapat menepis sama sekali keraguan terhadap Nabi yang dikatakan tidak pandai membaca dan menulis. Firman-Nya: “Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca suatu kitab sebelum (Alquran) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu, sekiranya engkau pernah membaca dan menulis niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.” (QS Al-Ankabut : 48).
Ayat ini menegaskan, Nabi tidak pernah membaca dan menulis satupun Kitab sebelum menerima Alquran. Maksudnya, setelah menerima Alquran, Rasul membaca dan menulis Kitab dengan tangan kanannya. Ayat ini pun menunjukkan, dengan tidak pernahnya Rasullullah membaca atau menulis satu kitab pun semisal Alquran, bukan berarti Rasulullah tidak tahu membaca dan menulis. Misalnya membaca dan menulis dalam urusan perdagangannya. Nabi adalah seorang pedagang yang terkenal. Dan para ahli sejarah sepakat, pada zaman Nabi tidak menggunakan angka-angka; huruf huruf abjad telah digunakan sebagai angka-angka. Sebagai seorang pedagang yang berurusan dengan nomor-nomor atau angka-angka setiap hari, Nabi tentunya tahu tentang abjad, dari satu sampai keseribu. Karenanya, tidak ada dalih yang kuat apalagi untuk mempertahankan pendapat Nabi Muhammad buta huruf.
Ini bukan persoalan sederhana, manusia adalah makhluk yang suka bercerita dan membangun hidupnya berdasarkan cerita yang dipercayainya. Dengan cerita, kita menyusun dan menghimpun pernik-pernik hidup kita yang berserakan. Naratif, kata filusuf Jerman Dilthey, adalah pengorganisasian hidup (Zusammenhang des Lebens).
Apa pun yang membantu kita memberikan makna –pendapat, aliran pemikiran, mazhab, agama- selau didasarkan pada cerita-cerita besar, grand narratives. Cerita yang kita dapat tentang Nabi buta huruf yang wajib diteladani akan berpengaruh terhadap bagaimana kita menjalani dan melakukan pengorganisasian hidup.
Dr Muhammad Syahrur, Penulis Al-Kitab wal Quran tidak mau menerima cerita tentang buta hurufnya Nabi. Karenanya ia mengatakan, “Nabi memang ummi, tetapi beliau mampu membaca dan menulis.” Kalau keraguan masih ada, izinkan saya meminta untuk kembali membaca, surat pertama Tuhan kepada kekasih-Nya, “Bacalah (Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.!” Wallahu ‘alam.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=393115826888&id=1341564441
???
Archives
-
▼
2010
(34)
-
▼
April
(19)
- Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?
- Manaqib Ali a.s.
- Perintah Allah untuk membayar Upah Risalah Rasulul...
- Menghidupkan Mayit Dengan Keutamaan Ahli Bait as
- Khazanah Hikmah Ahlul Bayt Nabi
- 14 hadits Keutamaan Amirul Mukminin dan Zuriatnya ...
- Kesaksian Para Sahabat atas Perubahan Sunnah Nabi
- Pujian Nabi SAW kepada Syi'ah Ali dan Ahlu Baitnya...
- Murka Allah Bagi Pembunuh Hujr bin Adi, dkk
- Nabi saw Menangisi Ali as
- Hujjah Imam Mujtaba Al Hasan as
- IMAM MAHDI as dalam QUR'AN dan KEPERCAYAAN ZOROAST...
- HUJJAH IMAM ALI RIDHA (sa) di hadapan AL MAKMUN
- Ijtihad Sahabat?: Membunuh Cucu Nabi SAW, Imam Has...
- Asal Usul Kata Syiah
- Mengapa Redaksi “Al-Qurba” Di Ayat 23 Surat Asy-Sy...
- Rosul saww bermuka manis bukan bermuka masam!
- Seruan Aidh Al-Qarniy (pengarang buku LA Tahzan)
- Umar Tidak Menikahi Ummu Kulthum Binta Ali As.
-
▼
April
(19)












11 comments
Comment by Anonim on 21 Oktober 2010 02:35
Nabi Muhammad pandai membaca.... saya kata pada lebai keldai... mereka semua tak percaya. Kalau kenyataan ini mereka terima... cara beragama yang kita lakukan hari ini akan terlihat terpesong jauh dari apa yang Allah nyatakan dalam Al-quran. Muhammad itu seorang yang pandai menulis dan membaca. MAksud menduakan Allah itu ialah apabila kita menerima al-quran disamping yang lainnya. adakah Al-quran itu tidak sempurna, lengkap dan terperinci?? Al-quran adalah Hadist terbesar...
Comment by Anonim on 26 Oktober 2010 06:51
pelik....buta huruf tapi boleh berniaga....fikirkan lah wahai saudaraku
Comment by sgray on 26 Oktober 2010 14:39
Apa masalahnya kalau nabi tidak boleh membaca dan menulis....sehingga umat2nya ada yang merasakan dirinya terhina dan segala macam..
Nabi sendiri tidak mempertikaiakannya malah tidak merasakan kekeurangannya walau sedikit demi menjalankan amanah yang di berikan Allah kepadanya.
Buktinya Islam berkembang dan kukoh sehingga hari ini.
Apa yang dipertikaikan sudah jelas di AQ..hikmah disebalik ke 'ummiyan' nya harus di syukuri.Janganlah terperangkap dengan bisikan iblis..apa yang cuba di perkatakan telah diucapkan oleh kaum2 musyrik semata menantang kesahihan AQ..fikirkan lah sejarah berulang dan hanya yang mengamatinya akan melihat ..wallahu wa'lam
Comment by Anonim on 27 Oktober 2010 18:18
Orang buta pun pandai baca..
Orang Islam sendiri yang menghina nabi
Comment by pensilpotret on 31 Oktober 2010 00:08
Comment by Anonim on 3 November 2010 18:57
Bila malaikat menyuruh Nabi mambaca, Nabi menjawab, " Aku tidak tahu membaca ,"
Comment by Anonim on 7 April 2011 20:07
apakah tdk bs baca itu suatu kehinaan ? bukankah itu suatu kehebatan yang perlu dibanggakan. tdk bs baca saja hebatnya luar biasa gmana kalo bsa?
Comment by M on 22 Mei 2011 00:57
“Bacalah (Muhammad) dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.!” Wallahu ‘alam. <----- last sentence of the article. tidak payah wallahu 'alam, terang terang ayat ini dalam al quran. allah pasti tahu.. i go straight to the point. habiskan ayat nya. Rasullulah menjawab "aku tidak tahu membaca" x3. Muhammad s.a.w is special. and al quran for the last prophet. bisa saja dia mengaku Tuhan. tapi dia messenger of Allah. jangan sebarangan kupas al quran macam history of the World okay. Kata Kata Allah jangan di tambah-buang. Allah Maha Agung, see u soon daaa...
Comment by M on 22 Mei 2011 01:06
ya by the way hadith is the application (practik) of a physical human being towards the words of Allah. and that special human being is Muhammad S.A.W. a template as a guide. jangan nanti sembarangan duduk tunging berdiri lima waktu sembahyangnya.<---- ini contoh. mesti ada seorang kita teladani. Seorang itu ialah penghulu Muhammad S.A.W.
Hadith ialah himpunan pengalaman dari orang yang paling dekat dengan Nabi.
Mahu bikin surat cari kerja pakai template. Kita tidak pandai kalau Allah tidak izinkan.
Cari ilmu biar yg benar. Jangan sembarangan kupas ayat alQuran ya okay. Darjat kamu sama dengan Allah? tambah-buang ayat-ayatnya.
Ismail Amin, Mahasiswa Institute for Language and Islamic Studies, Republik Islam Iran <---- should try belajar dengan ulama'
academic is world papers. Islam is bigger than that.
udah... bye
Comment by Anonim on 21 Juli 2011 23:49
nabi muhammad punya sikap "fathonah" yang artinya "cerdas". orang cerdas mana yang buta huruf??
Comment by ibnu on 18 Januari 2012 02:18
krn kt tdk atau sj,org buta sj diarab yg tdak pernah melihat tdk bs menulis,bs hafal alqur'an ribuan hadis,puluhan ribu syair,memberikan khutbah jum'at bahkan fatwa,tdk ada kekurangan sedikitpun kalau rasul tdk bs baca tulis,karena yg dia sampaikan itu adalah wahyu..