Di tengah gencarnya isu yang menyudutkan syiah sebagai mazhab sesat dan dinilai bukan bagian dari Islam, Ketua Majelis Ulama Indonesia menyebut syiah sebagai mazhab yang sah dan benar dalam Islam. Di hadapan lebih dari seratus pelajar Indonesia yang belajar di Iran, Ketua MUI, Prof.Dr. KH. Umar Shihab mengatakan, "Sunni dan Syiah bersaudara, sama-sama umat Islam, itulah prinsip yang dipegang oleh MUI. Jika ada yang memperselisihkan dan menabrakkan keduanya, mereka adalah penghasut dan pemecah belah umat, mereka berhadapan dengan Allah swt yang menghendaki umat ini bersatu."
Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita ABNA, dalam kunjungannya ke Iran atas undangan Forum Internasional Pendekatan Mazhab Islam, Umar Shihab beserta beberapa anggota rombongan menyempatkan mengadakan tatap muka dan pertemuan dengan pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota suci Qom, Iran.
Rombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut. "Dalam kunjungan ini kami telah melakukan beberapa hal, diantaranya, atas nama ketua MUI. KH. Prof. DR. Umar Shihab dan atas nama Majma Taghrib bainal Mazahib Ayatullah Ali Tashkiri, telah dilakukan penandatanganan MOU kesepakatan bersama. Di antara poinnya adalah kesepakatan untuk melakukan kerjasama antara MUI dengan Majma Taghrib bainal Mazahib dan pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab yang sah dan benar dalam Islam. " Jelas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah, DR. Khalid Walid.
Lebih lanjut beliau menjelaskan,"Diantara bentuk kerjasama yang disepakati adalah pengiriman para peneliti dan ulama Indonesia ke Iran untuk mengikuti pertemuan dan pendidikan khusus mengenai beberapa hal yang beragam di Iran begitu juga sebaliknya, ulama-ulama dan peneliti Iran akan berkunjung ke Indonesia. Di samping itu juga kita telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Departemen Pengurusan Haji dan juga berkunjung ke Kamar Dagang Industri Iran untuk bekerjasama dalam produk halal. Insya Allah, jalinan kerjasama ini diharapkan dengan tujuan mengeratkan hubungan antara Republik Islam Iran dengan masyarakat muslim Indonesia."
"Semoga dengan adanya kesepakatan dan kerjasama tersebut ukhuwah Islamiyah dapat terjalin dengan baik dan kedua belah pihak bisa saling memahami." Harapnya.
Perpecahan dan Kebodohan, Ujian bagi Umat Islam
KH. Prof. DR. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya di hadapan seratus lebih pelajar Indonesia yang hadir. Beliau menyatakan bahwa hidup di dunia ini penuh dengan tantangan, ujian dan kesulitan-kesulitan. Lebih lanjut menjelaskan, "Masyarakat Indonesia saat ini diuji dengan perpecahan. Dalam internal umat Islam sendiri terdapat berbagai macam kelompok yang mengarah kepada perpecahan, ada yang menyatakan diri sebagai kelompok liberal, kelompok anti agama, kelompok anti Syiah dan lain-lain. Keberadaan kelompok-kelompok ini sangat mengancam persatuan umat Islam."
Menurut beliau ada dua kelompok pemecah umat Islam. Pertama kelompok pemecah dari luar umat Islam, yakni dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur'an keduanya tidak akan senang sampai umat Islam mengikuti agama dan kelompok mereka. Mereka melakukan berbagai macam cara dengan giat utuk memecah belah umat, melalui buku-buku, selebaran dan memanfaatkan tekhnologi yang mereka miliki. Mereka menipu dan menghasut umat misalnya melalui pemahaman pluralisme yang menyatakan semua agama sama. Ini adalah pemahaman yang sesat bahkan mengarah kepada kekafiran. Karena itu MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa pernyataan dan keyakinan semua agama sama adalah pernyataan yang tidak bisa dibenarkan dan MUI telah mengharamkannya.
Kedua, kelompok pemecah dari kalangan umat Islam sendiri. Tidak sedikit dari kelompok umat Islam yang justru memecah belah umat. Mereka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang memicu perpecahan umat, mereka misalnya menyebut maulid itu bid'ah, mengucapkan shalawat di setiap kegiatan itu bid'ah sehingga dengan pemahaman yang seperti itu mereka menyesatkan dan memusuhi kelompok Islam yang mengamalkannya.
Di bagian lain ceramahnya, Ketua MUI Pusat ini menyebut ujian kedua Umat islam adalah kebodohan. "Pelajari dan tuntutlah ilmu agama ini dengan benar dan dari sumbernya yang asli. Al-Qur'an menyebutkan, yang manakah lebih layak kamu ikuti, orang yang memiliki pengetahuan atau orang yang tidak memiliki pengetahuan?. Dan Nabi Muhammad saww dalam haditsnya menyebutkan, Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Dari riwayat Nabi ini, jelas disebutkan bahwa Sayyidina Ali lebih layak diikuti setelah Nabi. Karenanya tuntutlah ilmu yang berasal langsung dari sumbernya. Sayangnya kebanyakan kaum muslimin menyingkirkan dan melupakan hadits-hadits yang bersumber dari Sayyidina Ali, keluarga, sahabat utama dan terdekat dengan Nabi, dan lebih banyak mengamalkan dan menerima hadits dari selain beliau,"tegas Umar Shihab.
Di penghujung ceramah beliau, Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab kembali mempertegas pesan Al-Qur'an, Innamal mu'minuna ikhwa, orang-orang yang beriman itu bersaudara. "Saudara-saudara belajarlah yang bersungguh-sungguh, dan ketika kembali ke tanah air, sampaikanlah ajaran Islam yang benar. Saya tidak menyatakan yang benar itu Syiah atau Sunni, tetapi keduanya."tegas beliau.
Prinsip MUI: Sunni dan Syiah Bersaudara
Setelah Prof. Umar Shihab menyampaikan nasehatnya, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Beberapa pelajar kemudian mengajukan pertanyaan. Diantara pertanyaan yang diajukan, bisakah MUI wilayah di daerah mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Pusat?.
Prof Umar Shihab memberikan jawaban, MUI wilayah jika berkaitan khusus dengan persoalan umat di daerahnya dibenarkan untuk mengeluarkan fatwa sendiri, namun jika berkaitan dengan kepentingan nasional, maka yang berhak mengeluarkan fatwa hanya MUI Pusat yang harus diikuti oleh MUI-MUI di daerah. Dan MUI di daerah tidak memiliki wewenang untuk menganulir fatwa yang telah dikeluarkan MUI Pusat.
"Misalnya ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa Syiah itu sesat -namun Alhamdulillah syukurnya belum ada MUI Daerah yang mengeluarkan fatwa seperti itu- maka fatwa tersebut tidak sah secara konstitusi, sebab MUI Pusat menyatakan Syiah itu sah sebagai mazhab Islam dan tidak sesat. Jika ada petinggi MUI yang mengatakan seperti itu, itu adalah pendapat pribadi dan bukan keputusan MUI sebagai sebuah organisasi." Jelas beliau.
Ketika ditanyakan langkah-langkah MUI Pusat yang akan dilakukan untuk mewujudkan persatuan umat dan menyelesaikan perselisihan Sunni-Syiah, Prof. Umar Shihab menjelaskan bahwa MUI akan menjadi penyelenggara seminar Internasional Persaudaraan umat Islam di bulan Desember akhir tahun ini. "MUI akan mengundang ulama-ulama dari berbagai Negara, dari Mesir, Iran bahkan dari Arab Saudi termasuk Syaikh Yusuf Qhardawi untuk hadir sebagai pembicara. Indonesia insya Allah akan menjadi perintis persatuan umat Islam khususnya antara Sunni dan Syiah, semoga Allah membantu usaha-usaha kita." Jelas beliau.
Setelah memasuki waktu maghrib, dilakukan shalat maghrib berjama'ah yang diimami oleh Sayyid Faris, dan Prof. Umar Shihab menjadi jama'ah di shaf pertama.
Acara pertemuan tersebut diakhiri dengan makan malam bersama, dan do'a bersama dipenghujung acara dipimpin oleh KH. Prof. DR. Umar Shihab. Pertemuan Ketua MUI Pusat Prof. DR. Umar Shihab dengan pelajar Indonesia yang sedang berada di Qom Iran ini adalah pertemuan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya dua tahun lalu diadakan pertemuan di tempat yang sama. (IRIB/ABNA)
Menteri Luar Negeri Iran Dr. Salehi bertemu dengan delegasi MUI
Perbedaan Paham Keagamaan Tak Menghalangi Indonesia dan Iran Bekerja Sama
Laporan: Zul Hidayat Siregar
Indonesia dan Iran diharapkan dapat kembali membangkitkan kejayaan Islam. Karena itu, hubungan persahabatan dan kerjasama antara kedua negara berpenduduk mayoritas Islam itu harus terus ditingkatkan untuk mengejar berbagai ketertinggalan dari negara-negara lain.
Salah satu bentuk kerjasama yang paling dibutuhkan adalah kerjasama antara para ulama Indonesia dan para ulama Iran. Melalui forum para ulama inilah diharapkan tercipta kesalingpahaman (al-tafahum) dan saling mencintai (al-mahabbah) antara masyarakat Muslim di kedua negara.
Demikian ditakan Ayatollah Muhammad Ali Tashkiri pada saat menyambut rombongan Majelis Ulama Indonesia di kantor pusat organisasi internasional Majma’ al-‘alami li al-taqrib bain al-mazahib al-Islamiyyah (Forum Internasional Pendekatan Antar Mazhab Islam), Teheran, Minggu (24/4).
"Paham keagamaan yang berbeda antara masyarakat Muslim Indonesia (sunni) dan Muslim Iran (syiah) sudah sepatutnya tidak menjadi penghalang. Perbedaan itu harus dijadikan sebagai rahmat dalam menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam dunia," imbaunya.
Umat Islam di seluruh penjuru dunia, katanya menekankan, tidak boleh saling memusuhi. Karena umat Islam telah diikat dengan satu aqidah yang sama.
"Kini saatnya umat Islam mewarnai peradaban dunia dengan peningkatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial budaya. Andaikata umat Islam bersatu, maka Islam akan menjadi satu kekuatan baru yang diperhitungkan di pentas global,” Tashkiri menambahkan.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Komisi Hubungan dan Kerjasama Luar Negeri MUI, Saleh Partaonan Daulay, menyebutkan bahwa ungkapan tulus Ayotallah Tashkiri itu perlu mendapat apresiasi dari seluruh umat Islam. Umat Islam diminta untuk segera meningkatkan komunikasi dan silaturrahim antara semua komponen umat Islam dari seluruh penjuru dunia.
"Perpecahan dan saling curiga di antara umat Islam kadang-kadang dipicu oleh ketidakpahaman di antara sesama mereka. Banyak kelompok umat Islam yang tidak mau membuka diri untuk mempelajari dan memahami ajaran kelompok umat Islam yang lain," terang Saleh.
Dalam konteks itulah, Saleh melanjutkan, MUI merasa perlu melaksanakan muhibbah dan silaturrahim ke Iran untuk melihat lebih dekat praktik keagamaan di tengah-tengah masyarakat Muslim Iran.
Kunjungan ini dilaksanakan selama sepekan mulai dari 21-27 April. Kunjungan ini diisi dengan berbagai kegiatan antara lain MUI bertemu Menlu Iran, Menteri Urusan Haji, Penasehat Presiden Ahmad Dinejad, Penasehat Wali al-Faqih, Lembaga-lembaga pendidikan Islam Iran, berkunjung ke Mashhad dan Qom, serta bertemu dengan para ulama-ulama senior Iran.
Delegasi Indonesia berjumlah delapan orang yang dipimpin Ketua MUI Pusat, Prof. Dr. Umar Syihab.
Menlu Iran Sedih Banyak Umat Tak Paham dengan Mazhab-mazhab Islam
Kunjungan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ke Iran sebagai ketua Delegasi MUI Pusat
RMOL. Selain berbicara tentang pentingnya menjalin kerjasama bilateral antara Indonesia dan Iran, Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, juga menegaskan pentingnya merajut kerjasama dalam bidang kesepahaman antarpengikut mazhab di antara umat Islam di kedua negara.
Di sela-sela acara penerimaan tamu delegasi Majelis Ulama Indonesia, Salehi menceritakan kisah sedih terkait perbedaan mazhab yang menimpanya ketika berkunjung ke Mesir.
Diceritakannya, suatu hari dia berkunjung ke salah satu masjid di kota Kairo. Pada saat itu, sayup-sayup terdengar kumandang syair-syair yang biasa dilantunkan para ulama Iran. Oleh karena suara dan cara membaca yang cukup bagus, Salehi mendekati sumber suara.
Setelah bertemu dan bertatap muka, ia lalu memuji bacaan yang bagus dan suara yang indah dari sang pembaca syair. Mendapat pujian tersebut, sang pembaca syair bertanya, "Darimana Anda?" Dengan tidak ragu-ragu Salehi pun menjawab, "Saya dari Iran." Tiba-tiba orang tersebut tersentak seraya berteriak, "Anda sesat, Anda Kafir, Anda bukan Muslim."
Mendengar itu, Salehi mengucapkan istighfar serta mengucapkan mohon maaf bila dia dianggap mengganggu. Hal itu terjadi kebanyakan Mesir beraliran Sunni.
Kepada para delegasi MUI, Menlu Iran mengatakan, apa yang dialaminya itu adalah merupakan kisah yang kerap dijumpai, meski dengan model berbeda, di tengah-tengah umat Islam.
"Bayangkan, syair-syair yang dibaca adalah syair-syair para ulama Iran. Namun oleh karena ketidaktahuannya, sang pembaca syair menganggap saya bukan orang Islam karena saya dari Iran. Saya yakin bahwa mereka yang juga mengeritik mazhab Ja’fari (mayoritas mazhab Syiah) bukan karena tidak suka, tetapi mungkin karena tidak tahu dan belum paham. Itulah sebabnya mengapa kita perlu bertukar informasi dan bertukar pengetahuan soal faham keagamaan yang ada di tengah-tengah kita," demikian Salehi mengakhiri ceritanya.
MUI yang terdiri dari delapan orang berkunjung ke Iran mulai Kamis (21/4) hingga Rabu (27/4). Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Saleh Partonan Daulay, seorang dari delapan delegasi MUI, menceritakan apa yang disampaikan Menlu Iran itu kepada Rakyat Merdeka Online melalui surat elektronik kemarin. [zul/rakyatmerdekaonline]
http://www.taghrib.ir/indonesia/index.php?option=com_content&view=article&id=761:ketua-mui-syiah-sah-sebagai-mazhab-islam&catid=42:gozaresh&Itemid=98
???
- Admin
- Ha... ha... ha...
Komentar Baru
- Syi'ah itu TDK di ajarkan di Hadramaut.. padah... - 8/13/2019 - 1324
- Kelompok yg anti Syiah dan Sunni adalah kelompok t... - 4/6/2019 - Anonymous
- Kelompok yg anti Syiah dan Sunni adalah kelompok t... - 4/6/2019 - Anonymous
- Admin . ngaji dulu sebelum nulis - 3/13/2019 - Cipta Pranata
- Wahai musuh Allah, pembenci sahabat nabi, pembenci... - 1/21/2019 - Rizal Muhammadi
Hakekat Syiah 12
Tentang Semua
Kisah-kisah Pencerahan
- Pamela Kara: Minat Mempelajari Islam Berasal dari Keinginan Mendidik Anak
- Phillip: Saya Membaca Al-Quran untuk Mengetahui Apa yang Diyakini Umat Islam
- Raphael: Kini Saya Sadar Segala Sesuatunya Telah Direncanakan Tuhan
- Rasheed: Bersihkan Niat Anda dan Lakukan Apa Saja Demi Allah!
- Steven Byers: Islam Sejak Awal Bersama Anda dan Itulah Fitrah!
Free Portable Application
Analisis Pencari Kebenaran
Menjawab Tuduhan Salafy-Wahabi
Cahyono Adi's Blog
Blog Misteri Enigma
- Bola Api Misterius di Malam Pergantian Tahun Baru 2016 - Penjelasan
- Apakah kita memiliki "kembaran" di dunia ini?
- Crop Circle menurut Ahli Fisika Richard Taylor - Pergerakan seni yang paling berorientasi sains dalam sejarah
- Apakah mayat berjalan Toraja tertangkap kamera?
- Kasus Bocah Bertelur dari Gowa - Penjelasan Ilmiah
22 comments
Comment by Anonim on 8 Mei 2011 pukul 08.52
Kalau Mu'tazilah apakah juga diakui sebagai mazhab ? Bila tidak, maka sungguh kasihan umat islam yg diantaranya mungkin saja ada yg menganut mazhab ini di indonesia.
Comment by Anonim on 9 Juli 2011 pukul 22.14
Yahudi memang jago rekayasa....
Comment by Aisyah on 27 Oktober 2011 pukul 10.02
MANA mungkin ada tambahan lagi satu mazhab??
bukan kah islam hanya berpegang pada 4 mazhab sahaja,
mazhab MALIKIYY,HAMBALIYY, SHAFI'IYY, HANAFIYY ,
mazhab syiah? guru mana yang ajar ade mazhab syiah?
anda harus bertaubat! Allahu akbar!
Comment by Anonim on 25 November 2011 pukul 13.35
aku ga mau ikut syafi'i... gw ikut aliran metal aja ya... xixixi.
Comment by Anonim on 7 Desember 2011 pukul 22.46
Aisyah, saya bertanya: siapakah yang menentukan bahwa dalam Islam hanya ada empat mazhab?
Comment by Anonim on 8 Desember 2011 pukul 10.02
Salah satu contoh propaganda yang mau menghancurkan islam. Tidak akan pernah Syiah dan Sunni bersatu.
Comment by Anonim on 2 Januari 2012 pukul 09.43
Apakah Rasulullah Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa Islam itu bermahzab? Mahzab itu lahir setelah Rasulullah SAW wafat. jadi tidak benar kalau islam hanya berpegang pada 4 mazhab. baca sejarah & berita aktual terkini & jangan hanya membabi buta.
Universitas Al-Ahzar Kairo (yang diakui sebagai Universitas Islam tertua saja melalui imam besarnya mengakui bahwa Syiah adalah ssalah satu Mahzab dalam Islam)
So, marilah pererat ukhuwah islamiyah, jangan mau diadu-domba
Comment by Anonim on 2 Januari 2012 pukul 13.23
Yusuf Qordowi Awalnya melihat bahwa Syiah termasuk bagian dari islam ,tapi setelah beliau tahu sendiri bahwa syiah menyimpang ,lalu beliau mencabut statementnya mengenai pembelaan thd syiah,
Tolong dikoreksi lagi mengenai pemahamannya yang menyimpang.
Comment by Anonim on 3 Januari 2012 pukul 15.47
Saya kira bagi yang suka sedikit2 Yahudi sedikit2 Yahudi lupa bahwa nabi Isa , nabi Musa dan banyak nabi2 yang lain adalah dari ras Yahudi?? ataukan mungkin kerena emosi dan kecetekan ilmu sehingga tidak tahu maksud dari kata2 Yahudi tsb? maksudnya apa? rasnya? apa agamanya? apa aliran politik zionisme?
Comment by Anonim on 8 Januari 2012 pukul 21.03
kalu syiah tu betul dalam islam kenapa ajaran mazhab syiah menhalalkan pembunuhan umat islam dari mazhab sunni.
Comment by Anonim on 12 Januari 2012 pukul 05.42
pernyataan umar syihab itu udah di bantah lg oleh anggota mui lain, bahwa itu bukan pernyataan resmi mui, tp pernyataan perorangan umar shihab sendiri.
Comment by Anonim on 12 Januari 2012 pukul 23.06
syiah sudah jelas sesat . tlg dicari kebenarannya jgn kata ulama universitas al azhar yg jadi patokann . syiah itu sngat benci dengan sahabat inti rosululloh seperti abu bakr , umar , utsman. bahkan mereka melaknatnya. berpendapat tentang agama harus pakai ilmu jagn akal. menyatukan umat islam harus diatas tauhid bukan hawa nafsu.
Comment by Anonim on 13 Januari 2012 pukul 11.07
emng klo melaknat itu bs menyebabkan kesesatan.. apa sih arti laknat...?? kok diQur'an kata2 laknat amat banyak, ada yg penafsirannya trhadap sahabat.. itu tafsir sunni loh.. berpendapat tentang agama harus pakai ilmu n akal.. gmn mngkin orng yg gak berakal punya ilmu, ya kan..,xixixixixi... dalil aqli dulu kan.. hadeehh gmn sih bapak ne...
Comment by Kia on 19 Januari 2012 pukul 16.12
Sejak kapan memuliakan sahabat jadi bagian dr rukun Islam? Org mereka manusia biasa kok. Org2 Wahabi mengatakan Rasulullah berdosa, bermuka masam sampai Allah turunkan teguran dalam al Quran, tp bela habis2an sahabat yg merampas hak waris dr seorg muslim -putri nabi lagi- sampai tega mengkafirkan muslim2 lainnya yg sangat mencintai sahabat lainnya yg sudah sperti anak bagi Rasul, yg rela mempertaruhkan jiwanya utk rasul tatkala hijrah. Logika mana yg dipakai?
Comment by Kia on 19 Januari 2012 pukul 16.16
Melaknat tidak dilarang, toh kalo melaknat sahabat itu doasa juga ditanggung sendiri. yg dikarang adl mencaci-maki di depan umum sampai menimbulkan salah paham dr org lain sehingga menimbulkan perpecahan. Hanya menceritakan fakta politik yg benar , itu tidak sama dengan melaknat. dr fakta2 itulah (yg sebenarnya jg ada dlm hadits riwayat sunni, termasuk Bukhari, Musliam, Mustadrak al Hakim dll) tp entah kenapa kok org Sunni awam banyak ndak tahu pdhal kalo mau cari bisa) dpt dinilai kronologis awal dr prpecahan
Comment by Dony Indrawan on 25 Januari 2012 pukul 14.51
Lihatlah dalam sejarah bagaimana terbentuknya Syi'ah vs Sunni. Yang sebenar-benarnya mengikuti ISLAM adalah 1. Bersyahadat "Asyhadu Alla Illah Ha illalah Wa Asyhadu Anna Muhammadarosullulah" bilamana Kalimah Syahadatnya beda maka mereka adalah Kafir, setahu saya hingga kini Syiah Ataupun Sunni bersyahadat SAMA. 2. Memegang Teguh Al-Qur'an sebagai Kitab tertinggi dan sampai sekarang hingga kiamat, dan sepengetahuan saya Syiah dengan kontroversinya hingga sekarang masih memegang Al-Quranul Karim yang disusun oleh Khalifah Utsman bin Affan hingga sekarang. Dan Ingatlah "DILARANG MENGKAFIRKAN SEORANG MUSLIM BILAMANA DIA MASIH MEMEGANG SYAHADATNYA DAN MASIH BERPEGANG PADA ALQUR'ANUL KARIM". Sebagai seorang Sunni ada Hadits dari Rasullulah SAW sebagai pegangan anda ya orang-orang Sunni " “Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan atau kekafiran, kecuali akan kembali kepada si penuduh jika orang yang dijuluki itu tidak demikian adanya” dan satu lagi “Siapa saja seorang yang mengatakan kepada saudaranya, “hei kafir” maka julukan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya. Jika orang yang dituduh itu benar, maka sesuai dengan apa yang dituduhkannya, tapi jika tidak, maka tuduhan itu akan kembali kepada orang yang menuduhnya”. Berbeda pendapat dalam hadits dalam pemikiran janganlah lantas menghujat seseorang/sekelompok menjadi KAFIR. Ingatlah kita umat muslim berpegang teguh atas 2 hal Syahadat kita dan Alkitab kita. Bilamana nanti Syi'ah membuat Kitab sendiri maka KAFIRLAH mereka bila belum janganlah anda mengada-ada mengkafirkan mereka. Ya Allah Ya Tuhanku Ampunilah Hambamu yang masih sanggup Berpikir, Ampunilah juga Hamba-hambamu yang rusak cara berpikir.
Comment by Anonim on 27 Januari 2012 pukul 09.55
kok sama2 sama emosi ya, silakan dilanjut biar puassssssssssss, dasar hanya lebih mengedepankan madzab dari pada kepentingan islam
Comment by Anonim on 11 Maret 2012 pukul 22.23
ingatlah saudaraku,,akan sejarah terbunuhnya para sahabat???tewasnya ribuan muslim sunni di irak, iran, suriah dll,,serta peringatan ALLAH SWT tentang kelompok yang gigih memusuhi umat islam yakni YAHUDI & ORANG MUSRIK!!!
Comment by Debitur Kata Tuhan on 10 Agustus 2012 pukul 03.04
klo kita berbicara masalah golongan,pecahkan dulu arogansinya kalian semua...islam memandang sesuatu secara kaffah...
islam menurut saya adalah sebuah pembuktian yg melahirkan keyakinan..
cara pandangnya kalian saja sudah beda..jangan merasa paling benar..jalankan sesuai dengan analisisnya kalian...
Comment by Rachmat on 31 Januari 2013 pukul 09.58
kembali pada islam yg satu, kita sebagai umat islam telah terpecah oleh sekte, madzhab, dan berbagai macam aliran. Itu akan menjadikan pola fikir kita menjadi tidak bersatu.
Sebagai umat islam yg baik hargailah pendapat dari manapun asalkan tidak menyimpang dr rukun islam, dan jangan mengkafirkan satu dgn yg lainnya.
Kalau mau lebih jelas tentang islam tuh harusnya seperti apa, coba dengarkan radio streaming di.
radiosilaturahim.com
am 720
Comment by Habiburrahman Said on 14 Agustus 2013 pukul 23.57
kok di blog ini komentatornya terutama yg pro dgn artikel2 blog ini banyak yg anonim ya? apa demit kali ya?!
Comment by Anonim on 9 September 2013 pukul 20.00
Ajaran mut'ah belum disinggung di tulisan ini. sebab ajaran ini membuat kontra di kalangan muslim pada umumnya.